
"Ra, kenapa kamu berbuat begini?" tanya Oma yang terlihat kesal.
"Hmmm, itu-itu." gugupku.
"Santai aja, Mbak." Falisha memegang bahuku, memberikan kode bahwa ini semua akan baik-baik saja.
"Aku nggak mau, Oma dan Falisha di marah Mas Abyan. Cukup aku aja Oma, karena bagiku, kalian berdua adalah orang yang aku sayangi." aktingku terlihat sedih, tapi memang benar adanya.
Oma langsung saja memelukku. "Maafkan Oma ya Zahra, seharusnya Oma menyukai kamu dari awal, kamu orang yang baik sekali, pantas Abyan mau menikahi kamu." mengusap pundakku, ucapan Oma terdengar sedih.
Entah kenapa rasanya nyaman banget, membalas peluk 'kan Oma. "Hmmm, iya Oma." hanya itu yang bisa ku ucapkan.
Oma melepaskan pelukan. "Kamu jangan pikirkan masalah perkataan Oma tentang Zahra simalakama itu." jelas Oma menyakini.
"Emang siapa dia, Oma?" puraku nggak tau apa-apa.
"Udah Ra, jangan bohong lagi. Oma udah tau." ucap Falisha.
Gue mau marah rasanya. Melihat Falisha kurang nyaman.
"Jangan marah ke Falisha, Zahra." ucap Oma memegang bahuku.
Oh pantas saja Oma berubah seratus delapan puluh derajat gini, ini semua gara-gara elu.
Melihat Falisha bagaikan tanah yang ingin sekali menelan dirinya hidup-hidup.
Falisha membuang nafas kasar, seperti dirinya tau gue mau marah. "Mbak, aku juga terpaksa. Kalau nggak di kasih tau Oma bakal minum obat yang tingginya dua puluh centi meter." jelas Falisha, terlihat kurang nyaman melihat Oma Farra.
"Betul Zahra apa kata Falisha. Oma benar-benar sangat frustasi kenapa kamu merahasiakan sesuatu yang berharga bagi kami yang menyukai film yang di buat itu. Oma sampai bermimpi-mimpi tau nggak, sampai sekarang." Oma terlihat sedih, sedangkanku merasa kurang nyaman.
"Ishana juga tau ya Oma?" ingatku pada peran antagonis yang satunya lagi.
"Nggak gue kasih tau, awas aja Oma nyebarin identitas elu." ancam Falisha terlihat kesal melihat Oma.
"Oma janji!" Oma yang gue lihat seperti nenek sihir itu, ternyata berhati malaikat.
"Oma meminta maaf sama kamu Ra, malu Oma mengingat kejadian saat Oma menghukum kamu memasak daging sebanyak itu, di tambah ucapan pedas Oma." mata Oma terlihat menahan air yang keluar dari kelompok matanya.
Ah Oma tambah bikin gue kurang nyaman aja.
Ting!
Ibu Sari datang. "Kalian udah belum bicaranya, Pak haji Nurdin udah datang untuk berdoa." Bu Sari mendekat.
__ADS_1
Oma menghapus matanya.
"Oma kenapa nangis?" ucap Bu Sari terlihat khawatir.
"Nggak apa-apa, mata Oma tadi hanya di masukin debu." bohongnya.
"Oma, mana ada debu di sini? Lihat bersih gini." ucap Falisha ketus.
"Udah-udah nanti aja sambung lagi, kita ke bawah dulu nggak enak sama Pak haji Nurdin." ucap Bu Sari.
"Hmmm, iya ayo." jawab Oma yang terdengar menahan sesak di dada berjalan ke arah lift.
Nanti gue jelasin aja ke Oma, agar dirinya nggak kepikiran. Bahaya usianya yang sudah senja itu harus memikul beban atas kesalahannya sendiri.
***
Duduk di tengah-tengah Oma dan Falisha, sepertinya mereka berdua nggak mau gue ini terpisahkan.
Tangan kami semua menadah mendengar doa yang di lantunkan oleh Pak haji Nurdin, dengan bacaannya membuat hati gue tenang sekali mendengar irama nahawand yang di ucapkannya.
Semoga doa bersama yang kami semua panjatkan menjadi rumah ini tentram dan damai, selalu dalam lindungan Tuhan yang maha esa.
"Aamiin..." kami semua mengaminkan setelah selesai berdoa.
"Alhamdulillah acara sudah selesai, mari semuanya kita makan bersama." ucap Ayah Dameer.
Semuanya menganggukkan kepala dengan tersenyum, mulanya mereka mengambil makanan yang telah di sajikan di tengah-tengah kami semua.
Ya Allah kenapa hati gue bahagia banget melihat keluarga besar kumpul begini, makan-makan bersama. Hmmm rasanya pengen banget mereka tinggal di rumah ini, sayang kamar hanya ada tiga.
"Nggak makan, Ra?" tegur Oma.
"Ah iya Oma." melihat Mas Abyan, yang sudah mengambil piring sendiri serta lauknya.
Laper sepertinya suami gue.
Melihat Mika dan Dokter Idris duduk berdekatan terus apalagi terlihat romantis, membuat gue semakin tenang. Semoga mereka di berikan rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan warahmah, aamiin ya rabbal alamin.
"Oh iya semua keluarga besar, malam besok kita semua menginap di hotel kemarin waktu Abyan dan Zahra mengadakan resepsi." ucap Oma.
"Emang ada acara apa, Bu?" tanya Uwa Sani.
"Oh itu Pak, itu Idris dan Falisha." tunjuk Oma pada Falisha dan Dokter Idris. "Melangsungkan resepsi pernikahan." jelas Oma.
__ADS_1
"Semoga Idris dan Falisha menjalankan rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan warahmah. Maaf kami semua baru tau." ucap Uwa Sani menunjuk keluarga besarku.
Jelas kami semua tertawa atas perkataan Uwa Sani yang mendoakan Falisha dan Dokter Idris, mungkin dirinya berpikir mereka berdua yang suami istri.
"Maaf Pak Sani, Idris dan Falisha itu saudara."
ucap Oma menjelaskan.
"Loh jadi?" Uwa Sani telihat terkejut.
"Itu istri Idris bernama Mika." ucap Oma menunjuk Mika. "Nah itu Aziz suami Falisha." Oma menunjuk Pak Aziz yang duduk di samping Mas Abyan.
"Oh walah, kiraku saudara menikah." Uwa Sani tersenyum-senyum salahnya menduga, kami semua juga begitu.
"Jadi mereka resepsinya satu gedung ya Bu?" tanya Bi Nur.
"Hmmm, iya sekalian. Biar bulan madunya juga sekalian." jawab Oma Farra santai.
"Oh Zahra dan Abyan udah pergi bulan madu ya?"
melihat Mas Abyan.
Bingung mau di jawab apa?
Mas Abyan tibanya tersenyum. "Insyaallah kalau nggak ada halangan kami berangkat bulan madunya berenam." jawab Mas Abyan membuat Dokter Idris, Pak Aziz, Mika, Falisha termasuk gue terdiam.
"Kita mau bulan madu atau liburan?" Dokter Idris bersuara.
Semua orang mengulum tawa.
"Sama aja." jawab Mas Abyan santai.
Dokter Idris terlihat aneh, melihat Mas Abyan. Dirinya menggelengkan kepala, mungkin nggak maunya berdebat dengan Mas Abyan.
"Sekalianlah Hanum dan Mas Darman ikut." ucap Hanum menambahi melihat kami semua.
Gue, Mika, Falisha, Mas Abyan, Dokter Idris dan Pak Aziz berhenti mengunyah makanan melihat Hanum. Entah kenapa rasanya aneh ya?
"Udah-udah jangan di bahas, di depan anak kecil dan keluarga malu. Itu urusan kalian aja." Ibu Sari menengahi.
Kami berenam lanjut fokus makan lagi.
Entah kenapa rasanya malam ini, gue begitu bahagia melihat dekatnya keluarga gue dan Mas Abyan. Terimakasih ya Tuhan, atas hadiah yang engkau berikan untukku hari ini.
__ADS_1
Bersambung...