Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 20 Mengetahui Aibku


__ADS_3

Mas Abyan masuk ke dalam mobil dengan tersenyum menganggap hal tadi tidak terjadi apa-apa.


"Ay, kamu sudah berpamitan belum?" tegur Mas Abyan duluan saat menghidupkan mesin mobil.


"Udah tadi Mas, kita lanjut aja." bohongku dengan mata masih merah.


Malu sungguh benar-benar malu yang di rasakan. Mas Abyan telah mengetahui aibku, yang ku anggap begitu.


Mas Abyan hanya tersenyum dan menekan pedal gas.


"Ay, kamu marah?" sesaat kami telah keluar gang.


"Enggak, Mas." jawabku singkat.


"Terus kenapa kamu diam?"


"Maaf, Mas. Aku bingung sekarang dan malu." ucapku jujur, jika diam semua tidak akan selesai.


"Kenapa malu?" Mas Abyan memancingku terus untuk bercerita.


"Maaf Mas, gara-gara keluargaku, kamu ikut terseret. Soal Bi Rosida dan Bi Nur jangan Mamas ikuti."


"Nggak apa-apa, Ay. Nanti Mamas coba."


"Kalau gitu, kita cerai aja Mas." ancamku.


Tiba-tiba Mas Abyan menekan pedal rem, dengan gue yang hampir terbentur ke dashboard. Bunyi klakson mobil belakang sudah begitu nyaring, akibat berhenti di tengah jalan. Mas Abyan memarkirkan mobil di depan gedung kosong.


"Maaf, Mas." jantungku bergoyang hebo, takut mati tadi, sama Mas Abyan ngeluarin taringnya.


"Ay, kenapa harus bawa-bawa cerai. Mereka hanya minta bantuan aja, Ay. Lagian kita berdua nggak bisa bercerai selamanya." jelas Mas Abyan menghadapku.


"Bisa, Mas. Kalau aku mau." ngototku.


"Nggak bisa, Ay." bersikeras Mas Abyan.


"Bisa, Mas. Kalau Mamas nggak mau cerai, ikuti mauku. Titik!" tegasku. "Jujur, Mas. Aku malu dengan semua ini. Sudah cukup mahar kemarin mereka ambil. Gimana kalau Ibu Sari, Ayah Dameer, Hanum, Mas Damar, Falisha apalagi Oma Farra tau? Aku benar-benar malu, Mas." keluar semua aibku dengan malu sampai ke ubun-ubun. Sekalian saja gue buka. Jika di pendam lagi, makin berbelit benang wol.


Mahar yang di bawa kemarin bukan sedikit jumlahnya, bisa-bisa kurang lebih satu Miliar. Gila ‘kan mereka mau ngatur gue dan memanfaatkan Mas Abyan, sebagai keluarga dan pengusaha sukses.


"Mahar bisa di beli lagi, Ay." terus membela.


Emang ya kalau orang kaya, enak banget buang uang kesalku.


"Udahlah Mas, aku capek. Sekarang kita pulang. Aku mau kerja. Cukup sampai di sini dulu kita bicara. Soal mahar, aku nggak berniat minta lagi sama Mamas, apalagi meminta di kembalikan oleh keluargaku." jelasku.


Sebenarnya ingin banget bilang, semua bukan maunya gue minta di nikahkan seperti ini, dengan meminta bawaan banyak. Akhirnya keluarga gue yang menikmati.


Candaku menambah banyak masalah, dengan rencana mau menjauhi dari laki-laki, malah mendapatkan suami.

__ADS_1


Sekarang gue nggak tau harus apa? Mas Abyan pasti ngerasa salah pilih juga yakan.


Sesudah kami berdebat, Mas Abyan mau pun gue tak saling angkat bicara sama sekali sampai pulang ke rumah.


"Ay, mau langsung kerja?" tegurnya duluan, sesaat sampai di dalam rumah.


"Iya Mas." inginku jalan ke kamar.


Mas Abyan memegang tanganku. "Ay, kamu marah?" tanyanya.


"Nggak, Mas. Ada apa?"


Mas Abyan memegang ke-dua tanganku. "Ay, bilang kalau masih marah."


Nih Mamas kenapa seperti ini sih? Lagi mau marah antara enggak, berubah jadi adem. Gini ‘kan di liat romantis, walau pegangan tangan aja.


"Aku nggak marah, Mas." melepas tangan Mas Abyan, sadar dengan aib.


"Terus?" tanyanya paksa.


Hirup oksigen dulu, atur nafas.


"Mas, kamukan udah tau, kalau aku malu, Mas."


"Kenapa malu, Ay?"


Mas Abyan masa nggak ngeh gitu loh, harus gitu gue ngejelasinnya lagi.


Mas abyan memegang tanganku kembali, dengan penglihatan yang datar. "Masih lama, Ay. Jam dua masuknya. Mamas mau bicara sebentar. Sampai kapan, kamu mau lari? Jelaskan atau." menggantung lagi ucapanya.


Lo kira gue takut, ngerti gue dengan ucapan menggantung dan di gantung gitu.


Entah, sedari gue tadi tiba-tiba meledak, takutnya gue hilang. Legah rasanya, meluapkan emosi yang di kubur dalam-dalam.


"Atau kita cerai, Mas." melepas tanganku lagi.


Mas Abyan memegang kepala, diam sebentar. "Oke kita cerai, satu syaratku." mengusap kepala dengan tatapan dingin. Garis bibir yang menarik sebelah dan mata penuh ambisi terlihat sangat jelas.


"Apa, Mas?" kerutku pada ke-dua alis dengan detak jantung terus-menerus hebo, musik dj pun kalah, tadinya gue berani kenapa sekarang minta di kubur aja.


"Layani aku sebagai suami." pintanya.


"Layani apa, Mas?" puraku yang nggak tau.


"Kitakan belum melakukan hubungan suami istri, mari kita lakukan." ajaknya.


Apa? Benarkan, dugaan gue.


"Kenapa? Nggak suka?" tekannya lagi.

__ADS_1


Hah gue kira nih laki nggak normal, ternyata ada udang di balik tepung.


"Nggak, Mas." ucapku tegas.


"Kalau nggak, jangan ucapkan kata itu lagi, Ay."


Oh Mas Abyan, hanya ngancam gue aja.


"Nggak nolak!" balikku memainkan kondisi. Baru empat hari kita tinggal bersama, tapi gue bisa membaca situasi.


"Ayang jangan gitulah." ucapnya berubah manja.


Ih geli gue, napa nih laki berputar 180⁰ derajat sih? Benarkan dugaan gue nih laki nggak mau lagi sama wanita lain. Gue mah kemarin di tinggal pacar aja nggak apa-apa, yang penting dia bahagia, apalagi di jaga Tuhan.


"Lagian udah gitu, kita pisahkan, Mas?" ancamku balik.


"Ay, serius loh." berubah ke mode menyeramkan.


Entahlah gue pusing sendiri, Mas Abyan kalau jadi peran antagonis campur non antagonis bisa kali ya. Senyumku daftar aja Mas, sekalian jadi artis.


"Kenapa senyum?" bingungnya melihat gue.


Dah benaran pusing kepala gue, mikirnya.


"Mas kalau mau, udah lanjut aja. Udah tuh aku izin cuti, kita pergi ke pengadilan agama." ancamku balik, melihat reaksi Mas Abyan.


Mas Abyan maju perlahan. "Benar loh, Ay. Kalau kita pisah, kamu hamil. Anak itu tinggal bersama Mamas selamanya. Di jamin juga kamu nggak akan dapat pekerjaan di mana pun dan kapan pun." ancamnya.


Gue berpikir panjanglah, sambil mundur pelan, serius nih? Kenapa gue nyusut di dekati Mas Abyan, dengan jantung yang main robanahan.


Mampus gue.


"Berhenti, Mas. Aku bercanda." gue seperti tikus, mau di ngap telan sama kucing.


Masa gue nikah empat hari jadi janda, terus bisa saja langsung hamil, lalu anak gue di ambil sama Bapaknya, jadi pengangguran juga. Gue seperti perempuan singgahan ya, mirip sinetron ikan duyung kalau semua itu terjadi, hidup gue bisa hancur.


"Nggak apa-apa sayang, bentar aja nggak lama. Kira-kira dua hari dua malam." ancamnya masih jalan pelan.


Mati gue kali nih, bulu halus aja sampai merinding.


Gue langsung duduk di lantai menghadap Mas Abyan, dengan menutup ke-dua telapak tangan. "Ampun Mas, nggak lagi." gue seperti di hukum ya, habis kalah dari perang dunia ke-tiga.


Mas Abyan memegang bahuku, menyuruh gue berdiri. "Jadi, jangan main-main dengan ucapanku, Ay." dinginnya Mas Abyan. "Kamu pasti taukan, berbicara cerai saja dosamu bertambah. Belum hakku dan lainnya." jelasnya berkhutbah.


"Iya Mas, maaf." rasa bersalah gue terpancarkan dengan kami saling berhadapan sangat dekat.


Mas Abyan elu juga hebat jadi ustadz, ternyata, sempat-sempatnya gue berpikir begini.


"Aku ridho, karena aku menghormatimu. Pernikahan kita akan selamanya, jangan di ubah aturanku." tegasnya lagi.

__ADS_1


Gue hanya mengangguk, Mas Abyan memeluk gue, jujur terasa hangat. Marahnya sopan, tapi gue nggak bisa tolak jugakan di peluk suami sendiri, walau ingin ngejahuin Mas Abyan biar di anggap nggak agresif. Padahal nyaman banget, di peluk laki-laki genteng dengan aroma manis di tubuhnya. Mau-mau aja gue, hati lagi panas di beri sandaran.


Bersambung...


__ADS_2