
Sesampai di rumah Mas Abyan jalan masuk ke dalam kamar. Dari perjalan sampai rumah, Mas Abyan hanya diam tanpa berbicara. Gue ingin meminta maaf atas kesalahan yang gue perbuat, tapi takutku pada ceramah Mas Abyan.
Memang ini salah gue, seharusnya meminta izin dulu sebelum berpergian. Ikutin Mika dan Falisha yang menyesatkan, jadi gue ikut tersesat juga.
Sudahlah gue lebih baik makan nih rujak dan es jeruk yang dari tadi gue pegang, saat pegawai mengantarkan makanan ke dalam mobil. Urusan Mas Abyan nanti aja.
Jalan ke dapur mengambil piring dan cangkir, memasukkan makan ke dalam wadah, hmmm jadi ngalir saliva gue melihat yang beginian.
Ingat dulu sering banget makan rujak saat keluarga berkumpul, sambil ngerumpi.
Jadi kangen dengan keluarga gue.
Berjalan ke ruang tengah, menghidupkan telivisi. Kata Falisha sudah 2 hari ini film yang gue buat sudah di tayangkan, jadi penasaran gimana hasilnya?
Untung di lapangan ada orang yang mewakili gue, jadi nggak perlu repot-repot gue kesana setiap hari dan menghasilkan film terbaik.
Semoga saja terpilih, gue nggak sabar dengan hasilnya.
15 menit gue menonton melihat para pemain memainkan begitu profesional, apalagi mereka terlihat ganteng dan cantik, pas banget dengan kisah ceritanya.
Ceklek!
Mendengar pintu kamar terbuka, mungkin Mas Abyan ingin minum.
"Ay, kenapa nggak nyusul Mamas ke dalam kamar?" Mas Abyan berdiri di hadapan gue.
Oh Mas Abyan mau minta di susul, gue di suruh nangis-nangis minta maaf atau minta di belai.
"Aku lagi makan, Mas." mengangkat tangan memegang buah mangga. "Mamas mau, nggak?" tawarku yang duduk di atas karpet.
Mas Abyan duduk, memakan buah mangga di tanganku.
"Kamu makan ini malam-malam, Ay? Atau jangan-jangan."
"Aku hamil," sambungku dengan cepat. "Aku sering kali Mas, makan beginian, dari dulu sampai sekarang." kenapa sih, orang selalu menilai makan rujak itu pasti hamil? Gimana kalau laki-laki yang suka makan nih rujak? Masa hamil juga, aneh deh.
"Siapa tau aja, Ay." duganya.
"Lagian Mamas juga jarang pulang, tidur aja suka di kantor sama Pak Aziz."
"Tapikan kita melakukannya."
"Tapi belum tentu juga Mas, berudunya mampir, lewat aja tanpa permisi." benar adanya.
"Iya juga." ucap Mas Abyan pelan.
"Ay, suapin lagi." pintanya.
"Cuci tangan Mas, makan sendiri. Aku lagi fokus."
Mas Abyan memelukku. "Tangan Mamas di sini, Ay."
Bisa ya Mas, dirimu mencari alasan, maunya di manja.
"Nih," mengangkat tangan memegang mangga, nyerahku pada keadaan.
Mas Abyan memakan yang gue kasih.
"Mamas tuh, jangan suka marah-marah." sindirku, memulai pembicaraan. Sebelum dirinya marah, gue duluan.
__ADS_1
Mas Abyan melepaskan pelukan.
"Kamu Ay, yang nggak mau meminta izin, biasanya kamu izin kemana-mana sama Mamas."
"Tapikan aku bosen Mas, dan memang ini salah aku, maaf." gue benar-benar merasa bersalah.
"Mamas maafin sekali ini, cukup kamu nggak ngasih kabar saat ke rumah Bu Inem dan keluar tadi. Jika ketiga kalinya kamu masih pergi tanpa izin, di luar pintu Mamas suruh bodyguard jagain kamu." ancam Mas Abyan membuat gue bahagia.
Mas Abyan walau sibuk dirinya masih memperhatikan gue.
"Iya, Mas." melihat televisi kembali sambil makan mangga.
Cup!
Mas Abyan mencium bibirku mengambil mangga yang gue makan.
"Mamas jorok banget sih?" kesalku dengan tingkah Mas Abyan yang membuat gue jantungan terus.
"Enak, Ay." senyumnya.
"Ih," kembali gue makan mangga melihat televisi.
"Filmnya bagus ya, Ay?"
Deg!
Rasanya gue ingin terbang di puji Mas Abyan. Apa gue bilang aja ya sama Mamas, kalau gue yang nulis naskanya.
"Mamas suka dengan alur ceritanya." jujur Mas Abyan.
Ah sudahlah gue rahasiakan aja, sampai filmnya masuk nominasi kalau terpilih. Biar surprise aja gitu, istrinya berdiri di atas panggung hehehe. Hayalan gue yang tidak masuk di akal, tinggi banget.
"Tapi kalau di lihat, kenapa ceritanya seperti kisah kita ya, Ay?" peka Mas Abyan.
"Mamas kira hidup di muka bumi ini, hanya kita berdua aja ya, Mas. Lagian ya Mas, film ini mengingatkan aku waktu pertama kali bertemu kamu, Mas."
"Yang takut Mamas apa-apain?"
"Mamas kok tau? Jangan bilang Mas Abyan benar punya indra keenam ya?" jujurku.
"Hmmm, Iya."
"Ah serius, Mas?"
"Hahaha..." Mas Abyan tertawa lepas.
Suka ya Mamas bercanda pada waktu yang kurang tepat, lagi serius juga.
"Mamas bercanda, Ay." ucapnya masih tertawa
"Kenapa Mamas bisa tau aku tadi keluar?"
"Pak Amin yang ngasih tau, sengaja minta perhatikan kamu kalau keluar rumah. Mamas nggak mau kenapa-napa lagi, Ay."
Hmmm, Mas Abyan perhatiannya.
"Besok ikut Mamas, mau nggak?"
"Hmmm kemana, Mas? Bukannya kamu sibuk." penasaranku.
__ADS_1
"Iya sih, tapi teman Mamas ngundang ke acara ulang tahun istrinya."
"Hmmm, teman Mamas yang mana?"
"Kamu ingat nggak, Ay. Waktu resepsi, ada 4 orang. Di antaranya 3 laki-laki, 1 perempuan." jelas Mas Abyan mengingatiku.
Berpikirlah gue. "Oh ada teman Mamas yang perempuan nggak menyukai aku." peran antagonis yang satunya.
"Kamu tau dari mana kalau Zea nggak menyukai kamu, Ay?"
Oh Zea namanya.
"Masa Mamas nggak bisa bedain sih, sampai dia bilang gini. Jangan percaya yang tertutup itu baik." gue memperagakan sikap sombong Zea.
"Hahaha..." Mas Abyan tertawa.
"Ketawa lagi, emang aku lagi komedian, Mas?" kesal gue. Nggak Falisha, nggak Mas Abyan suka benget ketawain gue yang lagi serius.
"Kamu bisa banget, Ay. Ikutin gaya, Zea." masihnya tertawa.
"Jangan bilang dia cemburu lagi Mas, aku nikah sama kamu?" dugaku.
"Hmmm, nggak mungkin, Ay."
Mamas bisa pikir nggak itu dimana, sih?
"Jelas gitu dia nggak suka aku, Mas. Nikah sama kamu." jujurku apa adanya.
"Dia itu sudah punya anak dan suami, Ay. Malahan anaknya sudah kelas 2 SD." jelas Mas Abyan membuat gue terkejut.
"Ah serius, Mas?"
"Serius."
"Tapi kenapa tubuh dan wajahnya terlihat masih mudah banget?"
"Iya namanya juga perawatan, Ay. Kalau kamu perawatan juga cantik."
"Oh maksud Mamas, aku nih jelek gitu. Lebih baik Mamas malam ini tidur di kamar lain aja." kesal gue dengan Mas Abyan yang terlalu jujur.
Mas Abyan memelukku. "Kamu itu cantik banget loh, Ay." pujinya. "Janganlah usir Mamas tidur di kamar lainlah, udah nggak pulang, jarang di belai, apalagi di perhatikan. Sedih Mamas."
Sumpah Mas Abyan bilang begitu, geli gue.
"Nggak percaya aku, Mas?" candaku.
"Mau bukti, ayo ke kamar." kodenya.
"Nggak ah, lagi makan juga."
"Katanya mau bukti."
"Nggak jadi, perut aku lagi di isi." gue minum es jeruk.
"Mamas mau, Ay." mengambil cangkir di tanganku.
Mamas-Mamas, bisa ya, buat aku tersenyum-senyum tiap hari dengan tingkahmu.
Bersambung...
__ADS_1