Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 76 Penasaran


__ADS_3

Kami berdua masuk ke dalam rumah.


"Mas..."


Mas Abyan berhenti. "Mamas, marah?" tanyaku penasaran.


Mas Abyan membalikkan tubuhnya, melihatku dengan wajah yang terlihat sedih.


Berjalan mendekati Mas Abyan. "Mamas kenapa?"


"Maafkan Mamas, Ay. Gara-gara obat yang di beri Falisha dan Oma, keinginan kamu nggak bisa terkabulkan." Mas Abyan terlihat merasa bersalah.


Berpikir sejenak, mencari solusi agar Mas Abyan tidak marah pada Oma dan Falisha, ah gue punya solusi.


"Mas, sebenarnya itu semua bukan salah Oma dan Falisha." bohongku berusaha agar Mas Abyan yakin.


"Maksudnya, Ay?" terlihat jelas dirinya penasaran.


"Sebenarnya, itu semua aku yang melakukannya, menyuruh Falisha memasukkan obat ke dalam minuman yang di berikan Oma pada malam tadi." biarlah gue yang di sini di salahkan, jangan sampai gara-gara masalah ini acara resepsi pernikahan Mika dan Falisha terganggu.


"Apa?" Mas Abyan terkejut.


"Hmmm, aku malu Mas, mau memberi hakmu sebagai suami. Takut Mamas menilai aku terlalu agresif ata-"


Jari Mas Abyan menutup mulutku, menyuruh berhenti berbicara.


"Ay, seharusnya kamu nggak melakukan ini." Mas Abyan terdengar marah. "Seharusnya kamu bilang, kita bisa melakukan tanpa terburu-buru. Semalam Mamas setengah sadar, Ay. Mamas nggak mau seperti itu. Jika itu bukan kamu bagaimana? Seperti yang pernah Mamas lakukan pada Siska." Mas Abyan terlihat sangat frustasi.


"Hmmm, maaf Mas, ini semua salahku." berakting sedih.


Mas Abyan memelukku. "Iya, Mamas maafkan." melepaskan pelukan. "Sekarang kamu gimana?"


"Nggak gimana-gimana Mas, begini aja?"


"Maksud Mamas, masih sakit nggak?"


"Masih sedikit nyeri, tapi nggak separah tadi pagi." jawabku jujur.


"Alhamdulillah, syukurlah. Kita makan dulu, tadi Mamas udah nyuruh Bi Ning masak, soalnya kita tadi belum sempat sarapan. Entar kamu minum obat yang kita beli di apotek tadi."


"Iya, Mas."


"Setelah sarapan, kamu istirahat di kamar kamu dulu. Mamas mau bersihin kamar utama. Nyuruh Bi Ning nggak mungkin."


"Emang kita sekarang mulai tidur di kamar utama ya, Mas?"


"Kamu maunya gimana?"


"Ikut Mamas aja."


"Hmmm, kamu setuju nggak mulai malam ini kita tidur bersama di kamar utama?"


"Kalau enggak, gimana Mas?" balikku bertanya, sukanya bercandai Mas Abyan agar tidak terlihat kaku.


"Yah nggak apa-apa." terlihat wajah Mas Abyan sedih.


"Aku mau Mas, kita pindah ke kamar utama. Aku udah janji pada diriku sendiri untuk menjadi istri yang melayani kamu Mas, semuanya."


"Hmmm, terimakasih, Ay." senyum Mas Abyan. "Entar kita pindahin barangnya, sesaat kamu udah pulih."


"Iya Mas." senyumku.


"Sekarang kita makan yuk, Mamas laper."


"Hmmm!"


***


Duduk di atas ranjang, membuka layar handphone. Inginku membantu Mas Abyan membersihkan kamar utama, tapi tubuhku bagian bawah masih nyeri, di mana banyak cap merah yang belum juga hilang, rasanya hanya Tuhanlah yang tau apa yang gue rasain.


Dreet!

__ADS_1


Handphone bergetar, tibanya Falisha video call. Menekan gambar hijau, mengangkatnya.


"Ra, elu baik-baik ajakan?" wajah Falisha dan Mika terlihat.


Senyumku. "Baik-baik aja, napa?"


"Ra maafin gue ya, ngasih kadonya terlalu cepat?"


Ah udah gue duga, benar ini perbuatan Falisha.


"Pas kok, nggak salah alamat."


"Ra jangan marah?" Falisha terlihat merasa bersalah.


"Nggak marah Sha, serius."


"Gimana sakit nggak?" tanya Mika penasaran.


"Nggak!" bohongku.


"Serius Ra?" tanya Falisha.


"Serius." jawabku.


Falisha melihat ke Mika. "Kenapa kita berdua ngerasa sakit banget?"


"Elu nggak perawan dari awal ya, Ra?" Mika menuduhku.


"Elu kalau bicara enak banget ya?" kesalku.


"Habisnya Ra, kalau udah seperti itu rasanya nano-nano." ucap Mika dirinya terlihat santai.


Apa mungkin Mika dan Dokter Idris sudah ada titik terangnya?


Semoga aja begitu.


"Gue belum selesai jawab enggak tadi."


"Enak, tapi gara-gara Oma pagi tadi. Gue kena marah sama Mas Abyan tau nggak?"


"Kenapa gitu?" tanya Mika penasaran.


"Gue bilang bahwa yang ngasih obat itu atas suruhan gue." jujurku.


"Kenapa elu bilang gitu?" tanya Falisha terlihat kesal.


"Gue nggak mau Oma dan elu di marah Mas Abyan, terus resepsi elu terganggu dengan masalah kami." jelasku.


"Ya ampun Ra, elu baik banget sih jadi orang. Mamas tau kali marahnya itu kapan dan di mana? Mas Abyan tuh bisa membedakan saat marahnya saatnya enggak." jelas Falisha.


"Tapikan Sha, gue nggak mau masalah ini nantinya membuat Mas Abyan ke elu dan Oma merasa nggak nyaman dan selalu waspada."


"Iya juga sih, maaf ya Ra, gue terlalu berlebihan."


"Iya Sha nggak apa-apa."


"Oma gimana bisa ngelakuin itu sih, Sha?" penasaran.


"Entar kapan-kapan aja kita cerita, nggak enak kita cerita di handphone kurang puas."


"Hmmm, iya Sha!" penasaranku. "Oh iya gimana malam kalian berdua?" ingin tau gue kelanjutannya, apa mereka baik-baik aja atau malah sebaliknya. Tidak mudah sih sebenarnya menjalani rumah tangga tanpa cinta.


Senyum Falisha, yang membuat gue telah membaca situasinya.


"Elu Sha, nggak usah jelaskan, gue udah tau jawabannya." ucapku.


"Syukurlah kalau elu sudah paham." jawab Falisha.


"Elu Mik, gimana?" tanyaku ke Mika.


Mika terlihat senyum-senyum juga, walau reaksi dia begitu, gue penasaran beda dengan Falisha yang menjaga image mau tapi malu, kalau Mika belum tau.

__ADS_1


"Gue dan Mas Idris-"


"Ah elu udah manggil Mamas aja sekarang." sindir Falisha.


Tadinya gue mau bicara gitu, Falisha selalu mewakili.


"Itu pinta Mas Idris kok, yah aku ikut aja." jelas Mika terlihat malu.


"Terus gimana hubungan kalian?" tanyaku penasaran.


Senyum Mika kembali. "Iya malam tadi kami sepakat untuk menjalankan rumah tangga."


"Terus?" kami serentak berbicara.


"Terus gitulah." jawab Mika.


"Gitulah, apanya?" tanya Falisha makin penasaran.


"Masa kalian nggak ngerti sih, hal yang di lakukan kalian berdua semalam." Mika memberi isyarat malunya menjelaskan.


"Aaaaa..." Kami berdua berteriak bahagia.


Alhamdulillah, akhirnya berjalan dengan lancar.


Ceklek!


"Ay, kenapa?" Mas Abyan membuka pintu kamar, mendengar teriakanku.


Melihat sekitar kamar, berarti ini ruangan nggak kedap suara ya?


"Ah aku lagi video call sama Falisha dan Mika, Mas." melihat Mas Abyan.


"Hmmm kirain ada apa, Ay." Mas Abyan menutup pintu kembali jalannya keluar.


"Kenapa, Ra?" Falisha penasaran.


"Ah Mamas, terkejut lihat gue teriak, pikirannya gue kenapa-napa."


"Oh, kirain ada apa?"


"Terus gimana kelanjutannya, Mik?" serunya mendengar cerita Mika tadi.


"Iya begitulah!" jawab Mika malu menjelaskan.


"Kalian berdua bangun siang nggak?" penasaranku.


"Nggaklah, entar Oma Farra marah lagi." jawab Falisha.


"Kalau elu, Mik?" penasaranku.


"Nggak juga, rumah gue masih ramai. Main juga sekali aja, di tunda dulu." jelas Mika terlihat malu.


"Elu Ra gimana?" tanya Falisha.


"Jam sembilan, kesiangan. Gara-gara perbuatan elu." jelasku ingin marah nggak bisa.


"Tapi, serukan."


"Begitulah! Eh Mik, jadi gimana soal elu di rumah sakit masih kerja nggak? Gimana juga reaksi geng kita melihat elu yang tiba-tiba nikah sama Dokter Idris?" penasaran gue.


"Yah elukan tau, kalau rumah sakit kita peraturannya sesama pegawai yang telah menikah, salah satunya nggak boleh kerja. Jadi gue resign, eh nggak taunya Fadel juga resign. Ya jelaslah semua yang masih kerja sedih, gara-gara kehilangan kita bertiga." jelas Mika terlihat sedih.


"Lah napa Fadel berhenti, Mik?" terkejut gue, bukannya dia baru masuk kerja.


"Katanya keluarga Fadel yang di Bogor, nyuruh ngurusin usaha keluarganya. Pengusaha teh dan kopi." jelas Mika.


"Hmmm, enak gitu! Mik, apa kabar Rio?" ingatku pada pasien yang memberikan kado kemarin, belum sempat gue buka.


Semoga dirinya cepat sembuh.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2