Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 65 Rumah Baru


__ADS_3

"Ay, udah siap?" Mas Abyan baru keluar dari dalam kamar, sedangkan gue sudah duduk di kursi sofa menunggunya.


"Iya Mas."


"Iya udah, ayo." ajaknya.


"Hmmm!" mengikuti jalan Mas Abyan, keluar apartemen.


Melihat sebentar ruangan apartemen, mengingat kenangan pertama kali gue masuk ke sini, sekarang tempat itu hanyalah kenangan, menutup pintu mengikuti jalan Mas Abyan.


Apa kami berdua akan pisah kamar lagi saat di sana, atau satu kamar?


Hmmm, sudahlah ikuti Mas Abyan aja, maunya gimana.


"Mas motor aku, gimana?" saat kami telah berada di parkiran.


"Nanti ada yang ambil."


"Mas, gimana kita naik motor aja?" solusiku.


"Hmmm, boleh! Tapi helm bukannya ada satu, Ay?"


"Di bagasi motor ada Mas helm cadangan."


"Oh, iya udah kita naik motor." mengikuti.


Kami berjalan ke parkiran khusus motor. "Sebentar ya, Ay."


"Hmmm!"


Mas Abyan jalan menuju pos scurity yang berjaga, di sana letak titipan kunci motor serta helm.


Tak butuh waktu lama, Mas Abyan menemuiku lagi. "Ini, Ay." memberi helm.


Mengambil, Mas Abyan membuka tempat duduk dan mengambil helm, menutupnya dan memakainya. Pertama kali melihat Mas Abyan memakai helm bogo kaca datar sama sepertiku. Mas, elu pakai helm aja terlihat banget gantengnya.


"Kenapa, Ay?" membuka kaca helm, sadarnya gue memperhatikannya.


"Mamas ganteng, pakai helm begitu." jujurku.


Senyumnya mungkin merasa senang gue puji, mendekat. "Boleh cium nggak, Ay?"


"Enggak, entar di lihat orang, malu Mas." tolakku yang langsung memakai helm menutup kaca, lagian banyak yang keluar apartemen.


Mas Abyan tersenyum duduk di atas motor. Mengikuti duduk di belakang Mas Abyan. "Pegangan, Ay."


"Hmmm, iya Mas." tanganku melingkar di perut Mas Abyan.


"Bismillahirrahmanirrahim." ucapnya menghidupkan motor dan mulanya berjalan.


Rasanya begini membawa motor dengan pasangan halal, berbeda jika membawa mobil, mungkin kalau motor bisa berdekatan, kalau mobil susah.


Kendaraan berhenti di lampu merah.


"Kak, boleh kenalan nggak?" ucap perempuan cantik di sebelah kami.


Mas Abyan hanya diam, nggak merespon.


"Kak jangan terlalu sombong entar nggak laku." ucapnya yang nggak sadar gue di belakang di bonceng Mas Abyan.


Mas Abyan tetap diam puranya melihat ke arah lain.


"Mas kamu nggak jawab, ada perempuan di sebelah kita ngajak kenalan." ucapku di telinga Mas Abyan.

__ADS_1


"Nggak, Ay. Satu aja belum resmi, mau dua." jawabnya ambigu.


"Maksud, Mamas apa?" nggak ngerti.


"Mamas baru punya pacar, Ay. Belum istri." ucapnya semakin buat gue bingung.


"Maksudnya aku bukan istri Mamas?"


"Gelar istri itu kalau udah paket komplit."


"Mas, ayo kenalan atuh." memegang tangan Mas Abyan sebentar.


Membuka kaca helm. "Mbak, bisa nggak, jangan ngerayu suami orang." kesalku.


"Ih, nggak cocok Mbak jadi istri Kakak ganteng, cocoknya kalian itu adik sama Kakak."


"Mas..." mencubit perut Mas Abyan meminta di bela.


"Aw, sakit Ay." bohongnya, padahal gue mencubit nggak terlalu kuat.


"Bela aku kenapa?" puraku manja.


Membuka kaca helm. "Maaf Mbak, jangan ganggu, kalau pacar saya marah bisa-bisa jadi pengangguran." menutup kaca helm.


"Tuh ‘kan, baru pacar. Halusinasi dirinya." ucap perempuan tadi berbicara dengan temannya.


"Mas turun di pinggir jalan aja." ucapku kesal, masa gue nggak di anggap istri.


Lampu berubah menjadi hijau, kembali Mas Abyan berjalan.


"Kenapa gitu, Ay?" berhenti di pinggir jalan.


Gue turun. "Katanya, aku bukan istri Mamas."


"Udah males aku berdebat sama Mamas, ayo turun."


"Ay, Mamas serius?"


"Aku lebih serius, jangan bilang Mamas kemarin berbohong saat ijab kobul?" siapa tau begitu.


Senyumnya. "Jangan berpikiran negatif, Ay. Kita memang pacaran dulu, kalau suami-istri udah mainnya kesana. Punya anak hidup bahagia." jelasnya membuatku terdiam, paham maksud Mas Abyan.


"Hmmm!"


"Iya udah duduk, sebentar lagi sampai." ajaknya.


Mengikuti arahan, duduk di atas motor. "Ay pegangan." mengambil tangan gue melingkarkan di perutnya.


Malu rasanya dengan ucapan tadi.


Berjalan kembali, tak butuh waktu lama, kami berdua berhenti di depan pagar yang menjulang tinggi.


Terlihat rumah yang sederhana, tapi megah. Ini rumah gue, besar banget.


Tin!


Mas Abyan memberi kode, agar di bukakan pintu pagar, scurity yang duduk melihat kami langsungnya berlarian kecil membuka pagar.


"Maaf Pak, saya kira orang lain. Biasanya Bapak naik mobil."


"Nggak apa-apa, istri saya lagi ngidam naik motor." candanya.


"Mas, jangan bilang gara-gara sakit kemarin, Mamas berhalusinasi." ucapku kesal, jangan sampai menimbulkan masalah baru.

__ADS_1


"Saya bercanda, Pak." langsungnya berbicara pada Pak Scurity.


"Ah iya, Pak."


"Saya masuk dulu." ramah Mas Abyan berbicara.


"Iya, Pak."


Motor di bawa masuk, berhenti di depan teras.


Kami berdua turun, melepas helm. "Mas ini rumah kita?"


"Hmmm, ayo masuk." ajaknya.


Ceklek!


"Assalamu'alaikum." ucapku dan Mas Abyan masuk.


"Waalaikumussalam." ucap wanita paruh baya berlarian kecil menemui kami.


"Ay, ini Bi Ning." Mas Abyan melihat Bi Ning. "Bi, ini pacar saya, Zahra."


Melihat Mas Abyan, menyipitkan ke-dua mata.


"Istri kali, Tuan." jawab Bi Ning santai, seperti mereka berdua telah akrab.


"Pacar Bi, kami belum menikah." ucapku menambahi.


"Kawin kali, Non." jawab Bi Ning membuatku terkejut.


Wajar sih Bi Ning berpikiran begitu, melihat kami berdua pisah kamar.


Mas Abyan hanya mengulum senyum. "Bibi hanya bercanda, Non." sambungnya santai. "Bibi ke dapur dulu masih masak, Tuan mudah nyuruh Bibi menyiapkan makanan karena hari ini pertama kali mau makan bersama karyawan di sini." jelasnya.


"Iya Bi! Eh tunggu, Bi." cegahku. "Mas aku bantu Bibi masak ya?" terkejutku ada aja Mas Abyan membuat gue kurang nyaman dengan tingkahnya, bilang dari pagi gitu, hari ini ada acara makan-makan.


"Nggak perlu, Ay. Kita mau melihat rumah." cegah Mas Abyan.


"Iya, Non. Masakan juga bentar lagi selesai, udah itu kita makan bersama." santainya berbicara.


"Yuk..." ajak Mas Abyan.


"Ah iya, makasih ya Bi." ucapku malu.


Bi Ning hanya tersenyum-senyum.


Melihat sekeliling dalam ruangan berwarna cat putih sedangkan semua pintu dan jendela berwarna hitam. Terlihat aesthetic membuat gue nyaman.


"Mas, disini ada Bi Ning dan ada berapa karyawan?"


"Bi Ning di sini hanya untuk bersih-bersih aja, Ay. Seperti biasa. Kalau karyawan hanya Pak Scurity di depan."


"Mas, aku ‘kan pengangguran sekarang, masa Bi Ning masih ada."


"Rumah ini besar, Ay. Nanti berbagi aja."


Hmmm, iya sih.


Jalan mengikuti Mas Abyan. "Ini kamar kamu, itu kamar Mamas." tunjuknya dua kamar yang berhadapan dengan jarak kurang lebih tiga meter.


Hmmm, kita masih pisah kamar ternyata. Mau gimana lagi ikut ajalah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2