
Berjalan menaiki lift kelantai nomor empat, terakhir kali melangkah ke sini, saat berkas diterima sebagai pegawai.
Jalan menyelusuri lorong yang sepi, lihat pada satu ruangan tertulis president director, di ujung ruangan. Hawa panas keluar menerpa kulit, takutku pada aura Mas Abyan. Masuk ke ruangan HRD, semua mata tertuju padaku.
"Selama siang Bu." semua berdiri, berucap dengan serentak.
Tubuhku seketika mematung, jangan-jangan mereka telah mengetahui bahwa gue istri Mas Abyan. Dengan tersenyum. "Siang Pa, Bu." melihat mereka yang masih berdiri, belum juga duduk.
Bu karu menghampirin. "Makasih ya, Ra."
"Iya Bu, ini tasnya." menyerahkan tas Bu karu.
"Ibu Zahra, Pak Abyan sudah menunggu di ruangan." ucap lelaki yang berdiri di belakang.
Melihat langsung ke belakang, dengan mata melebar sungguh lelaki ini ganteng banget.
"Perkenalkan saya Aziz, sekretaris Pak Abyan." pecahnya lamunanku, dengan Pak Aziz memperkenalkan diri.
Kenapa gue akhir-akhir ini di kelilingi malaikat? Boleh nggak yang ini aja di ganti, gila gue berpikir macam-macam.
"Oh iya." sadarku, akan muncul perang dunia ke-empat.
Melihat Bu karu sebentar, bisa ya Bu, anda memasang perangkap untuk saya.
Bu karu hanya tersenyum-senyum, mungkin pikirannya sama seperti Mika, suami gue butuh belaian. Kalian nggak tau aja, bentar lagi gue terima kajian terbaru dari ustadz di ruangan sebelah.
"Ayo Bu." ajak Pak Aziz.
"Ah iya." melihat kembali ke pegawai lainnya. "Saya permisi Pa, Bu." wajah mereka yang takut melihatku.
Begini ya, kalau jadi orang penting. Di takuti, gue gimana-gimana gitu rasanya.
"Iya Bu." jawab mereka serentak.
Berjalan keluar mengikutin jalan Pak Aziz, melihat ke arahnya. Di perhatikan memang masih ganteng suami gue sih.
"Silahkan masuk, Bu." pintu telah dibuka oleh Pak Aziz.
"Ah Iya." berjalan masuk ke dalam ruangan.
Pintu telah di tutup. Menutup mata sebentar, hawa ruangan terasa berat.
Memutar tubuh kebelakang, melihat Mas Abyan duduk menyender di kursi hitam miliknya dengan santai, memejamkan mata.
Apa dia sedang tidur? Gue bingung harus melakukan apa?
Nafas kasar Mas Abyan terdengar, membuka mata. "Mendekatlah." perintahnya dingin dengan mata masih ke arah langit-langit ruangan.
Jantung gue kembali menggila, aura CEOnya Mas Abyan berhasil mengikat seisi ruangan termasuk gue. Berjalan pelan mendekatinya, memegang ke-dua tangan yang dingin hampir membeku. "Iya Mas, ada apa?"
__ADS_1
Mas Abyan berdiri, kami berdua di sekat dengan meja berukuran sedang berkayu jati.
"Ay, kamu sudah makan belum?" tanyanya.
Aura dingin itu sekejap hilang, Mas Abyan tersenyum. Perasaan gue tadi, Mas Abyan sedang marah, kenapa dirinya berubah perhatian?
"Belum Mas, tadi Bu karu meminta tolong antarkan tasnya." mungkin saja permulaan Mas Abyan ingin marah.
"Mandilah dulu, pakaianmu di sana." tunjuknya paper bag di atas kursi sofa, berwarna hitam. "Kamu sudah dua hari, belum mandi." jelas membuat gue malu. "Semua ada di sana." sambungnya lagi.
"Iya Mas." ikutku yang hanya malu, pasti Mas Abyan berpikiran gue ini nggak pembersih orangnya, sampai mandi aja malas.
Mengambil paper bag berisi pakaian dinas, berjalan ke arah pintu ingin keluar.
"Mau kemana, Ay?"
"Kembali ke ruangan Mas." inginku segera pergi.
"Mandilah di sini, sebelah sana." tunjuknya sebelah kiri terdapat ruangan. Berkaca hitam tak terlihat dari luar.
"Iya Mas." berjalan pelan-pelan ke dalam sana, menutup dan mengunci dari dalam.
Huuuuf!
Kembali membuang nafas, setelah menghirupnya tadi.
Mas Abyan benar-benar seperti Falisha, bisa mengubah suasana.
Pak Aziz masuk, gue nggak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan? Seperti ruangan ini, kedap suara.
Kembali melihat isi ruangan, nyaman dan bersih. Hijau dan cream lagi. Sepertinya Mas Abyan menyukai ke-dua warna ini. Berjalan masuk ke dalam kamar mandi, dengan persediaan sabun, handuk, dan peralatan mandi lainnya telah ada.
Dengan cepat mandi, sebelum Mas Abyan mengetuk pintu.
Setelah mandi dan mengeringkan rambut dengan hair dryer yang juga telah di siapkan. Memakai pakaian di paper bag, Mas Abyan bawakan.
Gue nggak terkejut pakaian dalam dan kaca mata favorit gue juga di bawa. Berpikir positif aja, siapa tau Bi Ning yang menyiapkan ini semua.
Senyumku di depan kaca, sudah cantik dan bersih.
Jalan keluar kamar menemui Mas Abyan kembali.
"Sudah Mas, aku balik ke ruangan dulu, nanti teman-teman menunggu."
"Makan dulu, di atas meja sudah di siapkan oleh Aziz tadi." jelasnya menyuruh makan.
"Tapi Mas, tadi teman saya sudah membawakan piring berisi nasi." ingatku pada bawaan Fadel yang minta padanya tadi.
Mas Abyan berdiri berjalan ke arahku dengan santai.
__ADS_1
"Itu pacar kamu?" tanyanya yang nggak masuk di akal.
Gue dengan cepat menggelengkan kepala, seperti akan di mulai ceramahnya. "Bukan Mas, Fadel hanya teman biasa, dirinya baru masuk kerja sekitar tiga minggu lebih."
Mas Abyan berhenti di hadapanku. "Kamu menyukainya?" pertanyaan konyol yang keluar.
Gue menghembuskan nafas kasar. "Nggak Mas, ada apa?" berusaha santai.
"Nggak apa-apa, syukurlah." senyumnya. "Kalau iya tadi, siap-siap dia di kubur hidup-hidup." tekannya dengan wajah yang masih tersenyum.
Gue hanya bisa menunduk, takut dengan aura malaikat pencabut nyawa. Auranya aja, bukan malaikat sungguhan.
"Makanlah dulu." berjalan duduk di kursi sofa.
Mengikutin Mas Abyan, sesaat rasanya tubuh gue kaku. Mas Abyan benar-benar mengeluarkan taringnya, seperti ingin menghisap darahku hingga habis.
Drakula tepatnya.
Mas Abyan mengambil piring mengaduk dengan sendok, setelah itu mengarahkan ke mulutku.
"Buka mulutmu Ay." perintah Mas Abyan.
Tentu menolaknya, seperti anak kecil aja di suapin. "Enggak Mas, biar aku makan sendiri." mengambil piring dan sendok di tangan Mas Abyan.
"Mau makan ini, atau Mamas yang makan." berhentinya sebentar. "Kamu!" kembali mengancam dengan penglihatan yang tajam.
Saliva gue lagi-lagi susah untuk di telan, Mas Abyan saat ini memainkan peran yang sulit gue tebak, notasinya naik turun. Secepat itu dirinya berhasil berubah ekspresi, apa mungkin Mas Abyan mempunyai kepribadian ganda? Penasaran gue, dengan tingkah lakunya.
"Kenapa melamun?" tanyanya lagi.
"Iya Mas." makanku pada suapan pertama Mas Abyan berikan. "Terimakasih, Ayah." gurauku agar Mas Abyan tidak mengeluarkan gigi tajamnya.
Senyumnya kembali. "Iya Nak, makan yang banyak." canda ya sambil mengaduk nasi dan lauk.
Ingin tertawa seketika, sumpah gue susah menebak mana aslinya karakter Mas Abyan.
"Buka mulutmu lagi." menyerahkan sendok berisi nasi, saat gue sudah menelan makanan.
Saat ini hanya bisa mengikuti, jangan sampai si Ayah yang gue mulai anggap begitu, marah.
"Ayah sudah makan?"
"Sudah tadi di kantin, sambil lihat anak pacaran hampir ciuman." sindirnya.
Mati gue, Mas Abyan salah paham lagi. Kenapa coba? Gue nutup lubang, buka lagi.
"Itu nggak seperti yang di lihat kok, Yah. Nggak sengaja." jelasku.
"Buka mulutmu." menyuapiku lagi. "Ya Ayah tau, lain kali hati-hati. Awas!" tatapan dingin keluar. "Ular sanca tidak bisa diam." tekannya.
__ADS_1
Gue terbatuk-batuk, akibat hayalan yang negatif. Jelas Mas Abyan benar-benar menakutkan.
Bersambung...