Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 81 Pengertian


__ADS_3

Selesai shalat berjamaah, Mas Abyan lanjut tidur. Gue duduk di tepi ranjang melihat handphone, melihat layar ada chat group bestie.


"Ra, semalam gue lupa bilang. Malam nanti, kita bertiga tidur bersama yuk. Sekarang kita semua udah pada menikah pasti susah untuk kumpul seperti biasanya. Nah, berhubung besok resepsi, malam ini kita merayakan hari bersama kita." ucap Falisha.


"Iya Ra, elu mau, kan?" tanya Mika.


"Gue mau aja, tapi gimana dengan suami kalian?" tanyaku.


Menunggu balasan.


"Gue dan Mika udah di izinin kok, tinggal elu aja yang belum mendapatkan kepastian." balas Falisha.


"Serius kalian? Entar ayang kesepian bobok sendirian." candaku.


"Ya elah Ra, hanya semalam doang." balas Mika.


"Iya-iya entar gue izin dulu sama Mamas. Kalau nggak di izini gimana?" apa pendapat mereka.


"Nggak di izini gue culik elu, saat Mamas tidur." canda Falisha.


"Boleh juga ide elu." jawabku dengan memasang emoji tertawa.


"Saat bangun tidur istrinya nggak ada, habis seluruh hotel di bongkar Mamas." balas Falisha dengan emoji tertawa.


"Nggak jadi resepsi kalian?" balasku.


"Jadi, tapi di tunda sampai elu ketemu." balas Falisha.


"Hanum nggak di ajak, entar dia merajuk lagi?" ingat pada Hanum yang nggak di ajak, entar dirinya curiga.


"Hanum udah gue ajak, hanya aja anak sama Mas Darman lagi kurang sehat." jawab Falisha.


"Sakit apa, Sha?" merasa khawatir gue, perasaan semalam baik-baik aja.


"Biasa meriang sedikit, mereka habis dari pantai kena angin. Semalam pas kumpul udah baikkan, hanya aja Hanum masih kepikiran." jelas Falisha.


"Oh ya udah kalau gitu, entar gue kabari." jawabku.


"Ok!" jawab Mika.


Handphone gue letakkan lagi di meja.


Melihat Mas Abyan sepertinya sudah tenggelam bersama mimpi.


Berjalan ke arah pintu, membuka dan menutupnya.


Mulai membuat sarapan pagi.


Hari ini gue masak ikan sidat saus manis, cah kangkung, nasi liwet, nggak lupa susu rasa vanilla.


Sekitar satu jam masak. "Oke udah siap!" jalan ke kamar untuk membangunkan Mas Abyan.


Membuka pintu, melihat ke ranjang Mas Abyan enggak ada, mungkin sedang mandi. Berjalan ke ruang pakaian menyiapkan keperluannya, ini pertama kali gue benar-benar melayani Mas Abyan.


Hari ini ingin melihat Mas Abyan memakai jas, celana dasar, rompi berwarna hitam, kemeja berwarna putih. Berjalan mendekati meja keramik berisi berbagai aksesoris, membuka mengambil dasi panjang berwarna hitam.


"Ay, ngapain?" suara Mas Abyan yang berjalan mendekati.

__ADS_1


Melihat Mas Abyan yang menggunakan handuk putih batas perut dengan rambut yang basah.


Masya Allah suami gue ganteng banget, rambut yang masih meneteskan air itu menambah ukirannya menjadi lebih sempurna.


Di tambah perut yang berkontak enam petak, hmmm mataku pagi-pagi di berkati terus.


"Ay, kenapa melamun?"


"Ah ini, aku nyiapin pakaian buat Mamas." memberikan pada Mas Abyan. "Pakailah dulu, entar rambutnya, aku bikin wow." inginku menghiasi Mas Abyan seperti di film-film yang berperan menjadi CEO, hmmm.


"Ay, kamu sakit?" Mas Abyan meletakkan tangannya di keningku.


"Enggak! Kenapa Mas?"


Mas Abyan melepaskan pegangannya. "Pagi-pagi udah menyiapkan ini." mulanya Mas Abyan memakai pakaian.


Langsung memunggungin Mas Abyan, malu gue, walau udah melihat semuanya masih aja belum terbiasa.


"Aku udah janji Mas, mulai sekarang melayani kamu sebagai suami." jujurku yang berniat seperti itu saat musibah kemarin.


"Ay, Mamas di sini, bukan di situ."


"Mamaskan lagi pakai pakaian."


"Emang kenapa?


"Malu, Mas."


"Apa yang di maluin?"


"Belum terbiasa." jujurku.


Melihat Mas Abyan, yang sudah rapi.


"Pas, ayo duduk aku keringkan rambut Mamas." ajakku duduk di depan cermin.


Mas Abyan mengikuti, dirinya duduk. Mulai mengambil hair dryer, mengeringkan rambut Mas Abyan. Tak lama kering mengambil minyak rambutnya, mengusap ke seluruh telapak tanganku, mulai memijit kepala Mas Abyan agar lebih rileks, setelahnya membentuk dengan gaya side bang.


Hmmm gantengnya melihat Mas Abyan di pantulkan oleh cermin. "Udah Mas."


Mas Abyan tersenyum-senyum, melihat ke arahku tangannya melingkar di perutku untuk mendekat padanya. "Sepertinya istri Mamas ini, kebanyakkan melihat film drakor deh." duga Mas Abyan benar adanya.


"Mamas suka?"


"Hmmm, suka."


"Mamas ganteng gini, awas di kantor jangan melihat sana sini." memberi peringatan.


"Kalau nggak melihat nabrak, Ay."


"Maksudnya bukan itu, Mas. Masa nggak ngerti?"


"Selingkuh gitu?"


"Siapa tau?"


"Istri aja baru sah mau selingkuh." Mas Abyan mencium perutku tandanya gemas melihat tingkahku yang di anggap cemburu.

__ADS_1


"Udah Mas, geli." melepaskan pelukan Mas Abyan. "Ayo sarapan, entar dingin lagi." berjalan meninggalkan Mas Abyan, sebelum dirinya berpikir ke lain.


Membuka pintu dan Mas Abyan menutup pintu, mengikuti gue dari belakang. Mas Abyan langsung duduk, mengisi piring serta lauknya dan meletakkan di dekatnya.


"Mas, entar malam boleh nggak aku tidurnya di kamar lain bersama Mika dan Falisha?" mulai meminta izin.


"Hmmm, emang ada acara apa, Ay?"


"Kata Falisha, dia ingin lebih akrab aja sama aku dan Mika." alasanku. "Di tambah acara Mika dan Falisha serentak di adakan, jadi ingin gitu merasakan terlepasnya masa lajang." upaya mendapatkan izin Mas Abyan.


"Hanum nggak di ajak?" tanya Mas Abyan setelah menelan makanan.


"Hanum di ajak, hanya aja Tama, Amel dan Mas Darman kurang sehat. Udah sembuh sih, hanya aja Hanumnya masih khawatir." jelasku.


"Berarti Mamas tidur sendirian malam ini?"


"Biasanya juga tidur sendirian."


"Iya itukan sebelum menjadi suami dan istri, sekarang udah sah." Mas Abyan memberi kode, pahamlah gue maksudnya.


"Jadi Mamas nggak ngizinin." siap-siap aja gue di culik Falisha.


"Mamas izinin, Ay."


"Serius?"


"Hmmm, serius."


"Mamas nggak terpaksa, kan?"


"Terpaksa,"


"Terus kenapa di izini?"


"Agar kamu sama Falisha dan Mika akrab aja, lagian hanya malam ini. Nggak setiap malam." jelas Mas Abyan membuatku bahagia, hmmm pengertian banget suami gue, demi istrinya Mas Abyan terpaksa bobok sendiri, kasihan sih. Ah apa bedanya tidur sendiri dengan bersama, toh hanya peluk sama main goyang aerobik aja.


"Hmmm, iya Mas terimakasih."


"Iya Ay, sama-sama."


"Enak nggak Mas, masakan aku hari ini?" mencoba merayu Mas Abyan agar dirinya tidak merasa kesal malam ini berjauhan dengan istrinya.


"Hmmm, enak Ay." Mas Abyan menyuap makanan lagi ke dalam mulutnya.


"Alhamdulillah."


Selesai sarapan, mengantar Mas Abyan ke depan teras rumah. Mencium punggung tangan dan Mas Abyan mencium keningku. Rasanya gue bahagia banget ya, boleh nggak sih gue begini?


"Dada sayang..." Mas Abyan melambaikan tangannya.


"Iya Mas hati-hati." melambaikan tangan melihat Mas Abyan menaikin mobil.


Tin!


Memberi kode, bahwa dirinya pergi.


Melihat Mas Abyan dengan tersenyum, semoga suami gue di jaga oleh Tuhan selamat sampai tujuan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2