
Gue mengambil dua mangkok beling di rak bawah, berjalan ke meja makan meletakkan di atas sana, membuka bungkus bakso yang masih tersimpan di dalam kantong plastik.
Membuka secara perlahan dan menumpahkan ke dalam wadah hmmm, baunya enak banget memancing perut gue agar berbunyi padahal sudah makan tadi.
Jalan Mas Abyan ke arahku, duduk berhadapan. "Kamu nggak takut, apa Ay. Misal itu bakso daging lain?" tanya Mas Abyan merasa bimbang dan takut daging lainnya. Zaman sekarangkan di luar sana banyak pelanggan yang mencampurkan dengan bahan lainnya.
"Nggak Mas, yang ini di jamin aman." jawabku menyerahkan bakso.
"Kamu tau dari mana, kalau ini aman?" tanyanya menyelidiki.
"Ini bakso di depan rumah sakit, Mas. Kami yang berkerja di rumah sakit, merasa hal yang sama seperti Mamas tadi. Mana ramai lagi. Yah, kami diam-diam bawa baksonya ke laboratorium, untuk di cek kualitasnya. Hasilnya bagus kok, Mas. Halal." jelasku.
"Oh..." jawab singkat Mas Abyan.
Jangan sampai Mas Abyan berpikir, laboratorium yang di gunakan untuk pasien, malah di gunakan untuk keperluan hal lainnya. Bisa-bisa gue kena pecat langsung.
"Mas pernah makan ini?" tanyaku mengubah ke pembahasan lainnya, semoga Mas Abyan melupakan hal tadi.
"Nggak, Ay."
Masa orang Indonesia, nggak makan ini bakso.
"Mas, nggak suka ya?" mungkin saja begitu.
"Belum di coba aja."
"Kenapa belum, Mas?"
"Nggak ada waktu aja, Ay. Setiap makan Mamas masak sendiri, seadanya di kulkas. Ibu yang menyiapkannya jika Mamas nggak di rumah."
Kasihan banget sih, malaikat gue. Pasti sibuk kerja. Lupa sama lingkungan, maupun makanan enak.
"Gimana, kapan-kapan kalau ada waktu kita jalan. Mamas mau nggak?" tawarku.
"Boleh, Ay. Nanti Mas cari waktu buat kita jalan-jalan." jawabnya langsung.
"Iya Mas kalau gitu. Silahkan di coba Mas, baksonya." ingin sekali melihat ekspresi wajah Mas Abyan, gimana mencicipi enaknya bakso akang kriting? Sebutan pelanggan bakso ini.
Perlahan Mas Abyan mencicipi kuahnya, dengan ekspresi menganggukkan kepala, di lanjuti dengan biji baksonya yang berbentuk kecil-kecil.
Gue ingin taunya kuat, dengan seksama memperhatikan, sepertinya enak.
"Gimana, Mas?" tanyaku yang lama nunggu Mas Abyan berbicara.
"Enak, Ay. Rasanya kenyal-kenyal. Rasa sapinya juga berasa." jawab Mas Abyan tersenyum.
Syukurlah, legahku Mas Abyan menyukainya.
Kami berdua diam, saat menikmati bakso yang hangat-hangat pedas, dengan berkeringat.
"Enakkan Mas, rasanya?" tanyaku lagi. Sebahagia itu gue melihat Mas Abyan makan dengan lahap.
__ADS_1
"Iya Ay, enak. Apa aja yang kamu buat, atau bawa, pasti enak." memujiku.
Gue tersenyum. "Mas, bisa aja."
Kami berdua makan secara nikmat. Setelah selesai gue membereskan bekas wadah makanan, sedangkan Mas Abyan duduk di kursi sofa sambil menonton film.
Gue mencuci piring sebentar.
"Ay, sudah selesai duduk di sini." perintah Mas Abyan sambil menepuk pelan kursi sofa.
"Iya, Mas." jawabku meletakkan wadah ke tempatnya semula.
Mengelap tangan, setelahnya berjalan menghampiri Mas Abyan.
"Ada apa, Mas?" duduk tak jauh darinya.
"Ay, ambillah." ucap Mas Abyan mengeluarkan sesuatu di dalam dompetnya. "Ini kartu buat kamu." menyerahkan kartu black card unlimited berwarna gold.
"Buat apa, Mas? Kalau mau bayar bakso, gratis, Mas." tunjukku pada kartu yang masih di tangan Mas Abyan. "Nggak perlu repot-repot bayar pakai ini." tolakku.
Rasanya aneh, Mas Abyan memberi kartu yang sering di pakai orang elit di luar sana padaku. Buat apa coba?
Mas Abyan mengulum tawa. "Bukan bayar bakso, Ay. Tapi ini buat kamu belanja." memberikan lagi.
"Kalau belanja uang kertas aja, Mas. Di pasar tradisional nggak ada bayar pakai ini. Nggak ada mesinnya juga." beratku mengambil kartu unlimited di pegang Mas Abyan.
Mas Abyan mengambil tanganku dengan paksa. "Ini buat kamu Ay, kalau ingin belanja apapun." meletakkan di telapak tangan gue.
"Ambil atau." gantungnya lagi.
Suka banget suami gue mainnya sekarang, nggak tanggung-tanggung ancamannya kalau nggak mau.
"Iya Mas, terimakasih." dengan paksa menerima pemberian Mas Abyan.
"Tapi boleh juga." bisik jin di sebelah kiri.
"Di simpan aja Ra, jangan di pakai." bisik malaikat di sebelah kanan.
"Dah pakai aja, lukan udah kaya." ucap jin sebelah kiri.
"Jangan Ra, kasian suami lu nyari uang, walau pun dia CEO perusahaan besar, ngerjain semuanya bukan hal mudah butuh waktu dan tenaga." ucap lagi malaikat.
"Pakai aja, buat apa coba di simpan. Banyak tuh uangnya." ucap jin.
"Jangan, Ra. Elukan banyak uang, jangan nyusahin suami." ucap malaikat.
"Pakai, Ra." ucap jin.
"Jangan, Ra." ucap malaikat.
Sampailah beberapa kali berdebat, buat kepala gue pusing.
__ADS_1
Gue bukan mau sombong, uang di ATM gue juga banyak, di tabung. Sengaja di kumpulkan untuk hari tua. Apapun bisa di beli yang gue mau. Mungkin keadaan darurat aja, gue belanjakan. Terganggu gue sama jin dan malaikat menghasut.
"Gue menang." ucap malaikat.
"Hmmm!" tak sukanya jin.
Mas Abyan menekan tombol remote televisi, mencari film. "Ay hari minggu, masuk apa?"
"Masuk pagi Mas, kenapa?" gengamku pada kartu tadi.
"Ibu minta kita ke rumah, memperkenalkan kamu sama keluarga besar Mamas, sambil bakar-bakar makan di taman belakang. Kamu mau nggak?" tanyanya.
Sebenarnya gue tuh belum siap, mengenal keluarga Mas Abyan lebih jauh.
Mempunyai keluarga baru lagi, yang tak tau menyukai gue atau tidak.
Sebagai istri gue bisa apa? Semuanya sekarang Mas Abyan yang mengatur.
"Mau, Mas. Jam berapa kita berangkat?"
"Habis isya aja, Ay."
"Iya Mas." anggukku setuju. "Oh iya, Mas. setiap hari, ini rumah, Mamas yang membereskan semuanya?"
Melihat ruangan yang serba bersih, padahal tadi pagi gue mau pun Mas Abyan nggak ngapa-ngapain. Hanya nyuci piring saja. Nggak sempat membersihkan rumah, akibat mengejar waktu, takut terlambat absen.
Mas Abyan sih lama meluk gue sama ngajak bicara.
Gue juga bingung lihat pakaian di kamar mandi hilang begitu aja. Gue carilah setiap sudut, mungkin gue lupa meletakkannya. Eh tenyata sudah tertata rapi di lemari. Nggak mungkinkan Mas Abyan yang melakukan semua itu.
"Oh nggak, Ay. Setiap hari kalau kita nggak di rumah ada yang membereskannya." jelas Mas Abyan.
"Aman nggak Mas, barang-barang di rumah?" takutku pada asisten rumah tangga zaman sekarang.
"Aman, beliau bernama Bi Ning asisten rumah tangga yang di pilih langsung sama Oma farra, dari awal Mas tinggal di sini."
"Sejak kapan di sini, Mas? Nggak tinggal sama keluarga?" ingin tauku kuat, sebagai orang baru disini. Falisha juga nggak cerita soal Mamasnya tinggal di sini nggak sama mereka.
"Sejak selesai kuliah." senyumnya. "Sekarang jam setengah sepuluh, istirahatlah. Kamu pasti capek, Ay." sambung Mas Abyan mengubah pembicaraan.
Entah kenapa, Mas Abyan seperti menutupi sesuatu dari gue.
Gue menganggukkan kepala, jawabku iya. Paling entar tanya ke Falisha, gue nggak perlu susah-susah ada orang dalam.
"Mas, jangan malam-malam tidurnya." memberi perhatian sebagai istri dan teman.
Mas Abyan tersenyum. "Iya, sayang. Sebentar lagi."
Lihat Mas Abyan sering-sering senyum di tambah manggil sayang, hayati rasanya nggak mau pisah. Gemas banget sih Mas.
Bersambung...
__ADS_1