Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 29 Tatapan Mematikan


__ADS_3

Dua hari berada di rumah sakit, Bu karu meminta untuk lanjut dinas sampai besok. Mereka yang masih libur, belum bisa masuk terpaksa gue, Fadel dan Mika, di suruh menginap di rumah sakit lagi. Gantinya libur tiga hari juga.


"Bu makan dulu yuk, di kantin." ajak Fadel padaku.


"Iya Ra, kalian berdua aja duluan makan siang. Gue tunggu di sini." perintah Mika, sedangkan Bu Hasya sedang di kamar pasien ganti infus.


"Ok!" jawabku menyetujui. "Yuk Del." ajakku.


Gue dan Fadel jalan bersama menuju kantin.


"Bu kenapa belum juga nikah?" tanya fadel yang mungkin penasaran. Umur udah mau masuk dua puluh sembilan tahun masih single, padahal udah bersuami hanya saja masih bersegel.


Kalau di ingat-ingat, sudah dua hari Mas Abyan nggak menelepon atau memberi kabar, sebenarnya gue juga, mungkin kami berdua sibuk masing-masing.


Beruntung dua hari ini gue tidur dalam sehari enam jam akibat bantuan Fadel pegawai baru yang masih semangat mencari uang. Entah dirinya juga lelah di tutupin atau dirinya memang benar-benar semangat empat puluh lima sampai tidur di lupakan.


Fadel juga tidur, tapi nggak banyak seperti gue dan Mika.


Handphone, hanya berdering saat Falisha membahas ulang tahun Mika dua hari lagi, beruntung saat itu kami berdua sedang libur.


"Gue ‘kan, udah bilang sama kalian, sudah nikah sama Pak Bos." ucapku jujur yang masih tidak di percayai terus-menerus.


"Ibu, bukan Fadel mau lancang sama senior. Sepertinya benar deh kata Bu Hasya, Ibu harus ke ruang sebelah buat di obati, halusinasinya." canda Fadel.


"Sama-sama aja kita kesana." ajakku.


"Nggak ah, Ibu jangan ngajak Fadel gila berjamaah." tolaknya sambil tertawa.


Gue juga ikut tertawa. "Nggak apa-apa, lu ‘kan nawarin kemarin. Lu masih jomblo, butuh teman." godaku.


"Nggak jadilah Bu, angkat bendera saya." balik canda Fadel.


Gue menepuk pelan bahu Fadel. "Ayolah sama-sama kita terapinya." tawaku lepas.


Fadel melambaikan ke-dua tangan di depan dada. "Enggak Bu, ampun."


Kami berdua yang telah sampai berdiri di meja kantin, sambil mengantri masih bergurau.


Entah kenapa saat berhenti menggoda Fadel, ada aura panas di belakangku.


Berputarlah melihat hawa tersebut, benar adanya Mas Abyan duduk di kursi belakang letaknya di sudut dekat jendela, dengan tiga orang yang membelakangiku satu, menghadap ke arahku satu, tapi mereka lagi fokus makan.


Mas Abyan melihatku, dengan datar. Dirinya yang memakai topi, pakaian berwarna hitam dengan celana jeans berwarna biru tua. Sepertinya benar ucapan Bu Ima, Mas Abyan sering melakukan sidak kerja secara diam-diam.


Mas Abyan memegang sendok garpu sembilan puluh derajat, ujung sendok yang lancip menekan daging, kemudian ambil pisau mengirisnya dengan cepat. Masih melihat ke arahku, lalu daging itu masuk ke dalam mulutnya, menguyah dengan dua gigi graham yang mencolok dari luar kulitnya.


Entah itu bisa di bilang cemburu atau marah denganku yang tak tau apa sebabnya.


"Del-Del." memanggil Fadel dengan mata masih melihat Mas Abyan.

__ADS_1


"Iya Bu." tanpa sadar gue melihat ke arah Fadel penglihatan kami sangat dekat, wajah kami berdua hampir saja berciuman.


Mas Abyan mengeluarkan suara, seperti keselek biji kedondong. Temannya sibuk menepuk punggung Mas Abyan. Sampai-sampai menarik perhatian orang sekitar yang sedang makan.


"Del lu dekat banget sih?" terkejut gue melihat wajah Fadel yang bisa di bilang ganteng itu.


"Habis Ibu yang dekat, suka ya?" sempatnya bercanda, sehabis melihat Mas Abyan terbatuk.


Gue melirik Mas Abyan dengan tatapan tajam, melihatku.


"Del, perut gue tiba-tiba sakit. Entar tolong ambilkan nasi sama lauknya keruangan ya. Gue mau ke kamar mandi dulu." alasanku memegang perut, ingin menjauh dari tatapan mematikan Mas Abyan.


"Oh iya Bu." senyumnya.


Gue lari, kembali ke ruangan.


"Ra..." panggil Mika.


"Bentar gue ke kamar mandi dulu." jawabku lari, takut Mas Abyan mengejar.


Masuk ke kamar mandi, dengan nafas yang tidak beraturan, jantung gue hebo. Mengingat Fadel tepat di hadapanku, dan melihat tatapan tajam Mas Abyan.


Mas Abyan kenapa ya? Marahnya tuh kenapa gitu? Masa cemburu gue sama Fadel di kantin tadi.


Nggak mungkin juga!


Mencoba menempelkan telinga di pintu. Takutnya Mas Abyan nyari gue. Beberapa menit di dalam kamar mandi, tidak mendengar suara orang mencari gue.


Legah gue, aman.


Jalan gue keluar. "Ra," panggil Mika lagi.


"Kenapa Mik? Maaf tadi kebelet banget." alasanku.


"Bu karu nyuruh lu ke lantai atas, anterin tasnya, penting." memberi tas Bu karu padaku.


"Lu aja, Mik." kembali memberi pada Mika. Takut gue, lantai atas ‘kan tempat orang-orang penting. Termasuk Mas Abyan berada di sana, walaupun Mas Abyan tempatnya di kantor pusat, tapi ada ruang khusus di sini tempat berkunjung.


"Ih nggak ah." tolak Mika tau sesuatu.


"Eh, katanya ada Pak Bos." ucap Bu Hasya sedang duduk, pantas saja Mika nggak mau, dia udah tau rupanya.


"Serius Bu?" puraku terkejut.


"Iya, kunjungan katanya. Gue aja di sini gugup. Takutkan sidak kerja tiba-tiba." sambung Bu Hasya.


"Ibu aja ke sana, Ibu ‘kan karyawan lama. Ibu juga sudah tau wajah Pak Bos, kalau gue ke sana takut salah bertindak, di pecat Bu." takutku beralasan.


"Ih lu yang di suruh." tolak Bu Hasya.

__ADS_1


"Udah lu aja." kedipan maut Mika.


"Kemarin lu yang ngotot, Itu suami lu, temui sana." ucap Bu Hasya.


"Nah, benar. Temui suami kesayangan elu." sambung Mika.


Fadel akhirnya datang membawa piring berisi nasi dan lauk, tertutup kertas. "Mau kemana Bu, ni nasinya?" Fadel menyerahkan piring.


"Tuhkan Mik, gue mau makan, elu aja." takut gue sama wajah Mas Abyan tadi.


"Entar lu makannya, anterin dulu tas Bu karu, penting." ucap Bu Hasya.


Senyumku ke Fadel. "lu baikkan Del, rajin menabung, ikhlas, tabah, dan menolong sesama." merayu Fadel.


"Eh elu-" ucapan Bu Hasya terputus oleh suara telepon.


Bu Hasya mengangkatnya. "Iya hallo, keperawatan cempaka satu. Ada apa?" suara pelan, kami semua diam. "Oh iya Bu, sebentar lagi sampai." menutup telepon.


"Lu pergi cepatan, Bu karu udah nunggu di ruangan HRD." jelas Bu Hasya seperti mengusir gue.


"Tapi 'kan Bu." masih berusaha merayu. "Fadel aja ya." melihat ke Fadel. "lu anterin tas Bu karu." ngototku yang masih nggak mau bertemu Mas Abyan, walaupun sebenarnya hanya mengantar tas saja.


"Eh entar Fadel salah tempat, cepatan lu aja. Bu karu udah nungguin." ucap Bu Hasya.


"Ini tasnya, lu pergi." Mika memberi tas Bu karu padaku lagi.


"Mik..." panggilku yang di dorong Mika berjalan keluar ruangan.


"Siapa tau suami lu kangen, minta di belai." canda Mika setelah menjauh dari Bu Hasya dan Fadel.


"Gila lu, jangan buat gue panik napa?"


"Masa, udah serumah lama, masih belum pecah ketuban lu?" tanyanya penasaran.


"Masih terbalut rapih, dengan selaput." jelasku.


"Ih gila lu, dah pergi sana. Siapa tau bukan Pak Abyan. Bu karu benaran minta tasnya."


"Masalahnya Mas Abyan bertemu gue di kantin, gue lagi asyik bercanda sama Fadel. Eh dia duduk di kursi, melihat gue dengan tatapan mematikan." jelasku dengan kejadian tadi.


"Nah suami lu cemburu." Mika nakuti


"Masa sih?" nggak percaya gue.


"Lu masih di sini, Bu karu nelepon lagi. Cepatan." Bu Hasya menghampirin.


"Iya iya Bu." terpaksa gue.


Tarik nafas dalam-dalam, semoga nggak bertemu. Belum siap dengan khutbahnya lagi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2