
Membuka mata secara perlahan, silaunya cahaya mentari pagi mengintip dari belakang kain putih yang bertiup angin.
Seperti biasa menarik tubuh. "Aaaah..." legahnya tubuh gue di tarik begini.
Ah ingatku pada Mas Abyan, mencari ke samping kiri tidak menemukannya, sadar yang sudah di atas ranjang dan tertutup selimut.
Apa Mas Abyan yang memindahkan ke sini? Mana dirinya, mencari sekeliling ruangan tidak terlihat Mas Abyan.
Apa jangan-jangan sudah berangkat kerja ya?
Turun dari atas ranjang, berjalan keluar kamar.
Membuka pintu, mencari Mas Abyan. Ternyata dirinya sedang memasak santai di dapur.
Berjalan mendekati. "Mamas sudah sembuh?"
Senyumnya. "Hmmm, makasih ya, Ay." tangannya fokus mengiris sayur.
"Mamas duduk aja, biar aku yang masak."
"Udah kamu mandi sana! Sudah itu kita sarapan. Hari ini kita kerumah yang kamu inginkan."
"Tunggu! Mamas ‘kan masih sakit, terus hari ini nggak kerja?"
"Mamas baik-baik aja, nih pegang." mendekatin kepalanya, langsung tanganku memegang, iya sih udah dingin melihat Mas Abyan juga udah seperti biasanya.
"Gimana udah sembuh ‘kan?"
Menganggukan kepala. "Hmmm!"
"Hari ini Mamas nggak kerja, mau lihat rumah, di kantor ada Aziz yang handle."
"Hmmm, iya Mas. Kalau begitu aku mandi dulu."
Senyumnya. "Hmmm!"
Berjalan ke kamar.
Membuka pintu, dan menutupnya.
Berjalan ke arah kamar mandi, gue harus cepat mandi, menjelaskan pada Mas Abyan soal gue membuka semua pakaiannya. Gue benar-benar ceroboh, seharusnya memasangkan kembali bukan tertidur. Selesai mandi, dengan cepat memakai pakaian dan mengeringkan rambut.
Tess!
Seperti ada yang mengalir di bawah selangkanganku, astaghfirullah hari ini jadwal gue datang bulan. Berlari lagi ke kamar mandi melihat, ah benar adanya.
Kembali ke kamar mencari pembalut, kenapa nggak ada? Dimana ya gue letakkan, apa habis ya?
Mencari ke sana kemari, sepertinya benar sudah habis. Masa gue keluar nggak pakai pembalut, apa minta tolong Mas Abyan?
Aduh terpaksa nih, jalan ke arah pintu.
Ceklek!
Melihat Mas Abyan sudah duduk di kursi meja makan.
"Hmmm, udah Ay? Kenapa rambut kamu nggak di rapihin?"
Aduh lupa. "Maaf Mas, sebelumnya."
"Hmmm sudah Mamas maafkan. Kenapa, Ay?"
"Hmmm, itu." aduh malu gue.
Mas Abyan berdiri. "Kenapa, Ay?"
Memejamkan mata.
Tess! Ah keluar lagi.
"Mas boleh minta beliin pembalut nggak?" malu banget gue.
Senyumnya. "Berapa, Ay?"
__ADS_1
"Satu bungkus aja ukuran tiga puluh centimeter, biasanya isi dua belas sampai dua puluh empat." jelasku secara teliti jangan sampai Mas Abyan salah beli.
"Hmmm!" Mas Abyan menganggukkan kepala. "Biasanya datang bulan sampai berapa hari, Ay?"
"Hmmm, nggak tentu, Mas. Biasanya lima sampai sepuluh hari."
"Ini udah hari ke berapa datang bulan?"
Mas Abyan kenapa sih tanya beginian? Gue jadinya nggak bisa berbohong.
"Sebenarnya hari ini Mas, kemarin aku berbohong." memejamkan mata takut Mas Abyan marah.
"Hmmm! Siklusnya teratur nggak, Ay?"
Membuka mata, Ah Mas Abyan nggak marah. "Teratur Mas, hanya harinya aja nggak tentu."
"Ada sakit di area perut nggak?"
Gue nih mau minta di beliin pembalut atau kontrol ke Dokter Obgyn sih, di tanya beginian keburu rembes yang di bawah.
"Hmmm, kemarin sih Mas, sakit sedikit. Tapi itu memang sudah biasa saat pertama mau datang bulan."
"Kira-kira satu sampai sepuluh, angka mana yang menurut kamu, Ay. Ukuran sakitnya?"
Udah Mas Abyan keponya ngalahin Dokter kandungan.
"Hanya tiga."
"Hmmm, jika sakitnya mendekati angka sepuluh periksa, Ay. Takutnya gejala penyakit, seperti miom, kangker, dan lainnya. Bahaya untuk kesehatan, apalagi usia kamu dua puluh delapan tahun. Kalau bisa ke rumah sakit di lihat adakah penyakit itu di rahim kamu." jelasnya panjang kali lebar.
"Hmmm, iya Mas. Nanti ada waktu aku ke rumah sakit cek kesehatan."
"Hmmm, kalau begitu Mamas keluar dulu."
"Mas..." melihat makanan belum di sentuh sama sekali nggak enak kalau udah dingin.
"Kenapa, Ay?"
"Makan dulu aja, sudah itu baru keluar."
"Nggak apa-apa Mas, entar di cuci aja."
"Hmmm, iya udah kalau gitu."
Berjalan kemeja makan duduk. "Mas sebelumnya aku minta maaf."
"Hmmm, udah Mamas maafkan. Kenapa, Ay?"
"Maaf, semalam membuka pakaian Mamas soalnya-"
"Mamas paham, kamu mau melakukan apa saja Mamas terima." jelasnya santai memotong pembicaraanku.
"Mamas jangan berpikiran negatif."
"Enggak, Ay. Mamas berbicara jujur, kalau kamu mau mengambil kesempatan juga nggak apa-apa."
Mas elu pasrah aja gitu. "Ekhem! Nggak, Mas. Semalam itu kamu demam tinggi banget sampai empat puluh derajat celcius."
"Panas juga, Ay." terkejutnya.
"Makanya aku buka semua pakaian kamu, Mas."
Senyum Mas Abyan. "Terimakasih, Ay."
"Iya Mas, sama-sama. Tapi boleh nggak aku marah?"
"Kenapa?"
"Mamas lain kali kalau sakit bilang ya, jangan buat aku cemas di tambah panik."
"Mamas kira hanya capek aja, Ay."
"Pokoknya bilang, awas!" ancamku.
__ADS_1
"Kalau masih nggak bilang?"
"Aku makan Mamas." candaku.
"Sekarang juga Mamas mau di makan kamu." senyumnya dengan mengedipkan mata.
"Nggak jadi kalau begitu."
"Kenapa? Lagi datang bulan." candanya balik.
"Matahari, Mas."
"Oh..." menyuap makanan ke dalam mulut.
"Mas, besok habis sholat subuh, aku boleh nggak ke tempat Mika."
"Hmmm, acara kemarin ya, Ay?"
"Iya Mas, mau siap-siap gitu."
"Pagi banget, Ay."
"Hmmm, sahabatku yang satunya lagi mengajak naik helikopter ke sananya."
"Jauh ya, Ay?"
"Hmmm, kurang tau Mas, aku ikut aja."
"Mamas antar ya, Ay?"
"Nggak usah, Mas. Aku naik motor aja, lagian takutnya macet di jalan." tolakku.
"Mamas yang bawa motor kamu, entar Mamas jemput lagi."
Senyumku "Mas, bukan mau tolak! Tapi ‘kan, Mamas biasanya naik mobil, terus Mamas juga harus kerja."
"Kamu lupa hari minggu kantor tutup." mengingati.
"Lupa, Mas. Maklum udah jadi pengangguran." alasaku.
"Baru hari ini jadi pengangguran, Ay."
Senyumku yang ke habisan kata-kata, berdebat dengan Mas Abyan, gue pasti kalah terus.
"Ay, Bi Ning udah di rumah kita di sana bersih-bersih."
"Hmmm, rumah kita udah jadi ya, Mas?"
"Iya, Ay. Sesuai apa yang kamu inginkan. Isinya juga udah lengkap, tinggal kamu pindahnya kapan?"
"Hmmm, kalau begitu hari ini aja, Mas."
"Hmmm, boleh. Entar Mamas suruh orang untuk memindahkan pakaian kita."
"Kenapa nggak kita aja Mas yang bawa?"
"Hmmm, banyak sayang."
Mas elu panggil gini, jantung gue bertabu gendang di dalam sana.
"Kalau begitu bawa yang mau di pakai aja sebelum semuanya pindah." solusiku.
"Nggak perlu, Ay. Nanti kita keluar membeli keperluan yang kamu inginkan atau jalan-jalan. Pulang ke rumah semua sudah rapi dan bersih tinggal pakai."
Enak ya jadi orang kaya, tinggal sat set selesai.
"Hmmm, iya Mas."
Mas Abyan meneguk air putih, sesudah makan. "Ay, Mamas keluar dulu, beli pesanan kamu." berdirinya.
"Hmmm, iya Mas. Makasih."
"Iya sayang." senyumnya berjalan keluar ruangan.
__ADS_1
Alhamdulillah semuanya baik-baik aja, jangan sampai Mas Abyan berpikiran yang negatif mendengar kebohonganku, serta kejadian semalam.
Bersambung...