Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 35 Dugaku Mafia


__ADS_3

"Ini, istri Abang?" tanyaku sekilas melihat wanita cantik dan baik hati di rangkulannya.


"Oh ini, perempuan yang bernama Zahra itu." tibanya ketus perempuan baik tadi, seperti kucing berubah menjadi macan tutul, semua orang di restoran melihat ke arah kami. "Perempuan yang tega ninggalin kamu demi keluarga." ucapnya semakin ketus.


Apa? Bang Doni bilang, gue ninggalin dia demi keluarga. Bukannya Bang Doni saat itu menyerah, dengan alasan tidak ada kepastian. Saat itu masih menunggu loh, berjuang mendapatkan cintanya lagi dan merayu keluarga gue untuk merestui hubungan kami. Mungkin jika saat itu di bawa nikah lari juga, mau-mau aja kali ya.


Tapi untungnya nggak jadi nikah sama Bang Doni, pantas saja orang selalu berkata cinta tak selamanya indah. Mungkin kebusukan lainnya tersimpan rapi, yang nggak gue ketahui selama berpacaran.


Kalau keluarga atau pasien beda lagi ceritanya, maksudnya orang lain yang mendekatin gue dengan maksud tertentu.


Ini aja di pegang tangan, di cium pipi, di peluk, suami gue Mas Abyan. Entahlah hanya sebatas itu atau lebih yang di ambil olehnya.


"Sudahlah sayang, malu di lihat orang lain, itu semua sudah menjadi masa lalu." ucap Bang Doni memeluk istrinya.


"Dia pantas Mas di ucapin begitu. Aku sedih Mas lihat kamu dulu, berusaha melamar di tolak. Untung ada aku." sindirannya memang benar.


Gue yang salah, tolong berhenti, rasa sesakku pada dada tak tertahan lagi. Menahan bendungan di kelopak mata, mengambil boneka tadi, tibanya wanita cantik itu menarik hijab.


Plak!!


Sungguh keras tamparannya, kenapa gue yang jadi bahan kekerasan di sini?


"Dasar Pel***r, nggak tau diri. Jangan-jangan elu sudah nggak bersegel lagi. Percuma hijab lu." ucapnya kasar.


Kenapa wanita ini begitu marahnya? Salah gue apa?


"Berhenti..." pekik Mas Abyan datang dan memelukku.


Perempuan itu melebarkan mata dan mulutnya, entah kenapa?


"Itu Kak, saya tidak suka dengan wanita itu." mendekati Mas Abyan, memegang tangannya secara spontan.


Ini perempuan kenapa jadi gatel gini? Itu laki lu masih di belakang, nggak kemana-mana.


"Lepas..." ucap Mas Abyan dingin.


"Kak, kenapa anda membela perempuan yang nggak ada harga dirinya lagi?" melepas tangan Mas Abyan.


Plak!!


Tamparan tepat di wajah perempuan itu, Bang Doni yang melakukannya.


"Cukup malu, kita di lihat banyak orang." tariknya perempuan itu keluar.


Memegang pipi yang terasa bengkak, salahnya gue dimana? Kenapa dia menampar gue begitu kuat?


"Mas kita pulang aja." ajakku yang tak tahan, dengan perihnya tamparan.


Mas Abyan seperti murka dengan tatapan tajam, diam tanpa menjawab ucapanku.


Mengambil boneka. "Nih ambil." menyerahkan ke Mas Abyan.


Mas Abyan melihatku, mengambil boneka yang gue kasih. "Mas, Ayo." ajakku menarik tangannya.

__ADS_1


Mas Abyan mengikuti jalanku dari belakang menuju luar ruangan, berhentinya tiba-tiba. Menarik Mas Abyan nggak bisa membawanya.


Mas Abyan melepaskan tanganku, memberi kode tunggu dengan tangan tanpa berbicara, dirinya menjauh sekitar lima meter. Mas Abyan mengeluarkan handphone dalam saku, menekan layar seperti menelepon seseorang.


Mas Abyan berbicara dengan siapa? Wajahnya terlihat marah.


Selesai menelepon, Mas Abyan jalan mendekati, langsungnya menarik tangan tanpa ucapan.


Di jalan pun, Mas Abyan tidak sama sekali berbicara seperti biasanya, ada apa ini?


Sampailah kami berdua di dalam rumah.


Mas Abyan memegangin tanganku, berjalan ke arah kursi sofa.


"Duduk." perintahnya dingin, tidak ada ayang-ayangan lagi seperti biasa.


Apa Mas Abyan marah, cemburu atau akan melakukan hal yang lainnya? Takutku menjalar, seharusnya gue nggak buat masalah seperti ini, tapi ini juga bukan maunya gue.


Mas Abyan datang membawa wadah berisi es batu dan kain kecil.


Tangannya dengan cepat membungkus es batu membalut kain kecil tadi. Meletakkan di pipiku, pelannya mengompres. "Sakit nggak?" tanyanya masih dingin.


"Enggak, Mas." sakitnya memang nggak terlalu, hanya merahnya masih terlihat. Tadi saat turun sempat melihat wajah di kaca mobil ketika turun.


"Mamas marah?" tanyaku yang ingin tau, kenapa Mas Abyan berubah.


"Iya." jawabnya jujur.


"Maaf, Mas!" hanya itu yang bisa gue ucapkan.


"Sama perempuan tadi?" tebakku langsung.


Mas Abyan hanya mengangguk.


"Marah kenapa Mas?" puraku polos.


Nafas kasar keluar. "Ay, salah kamu itu apa? Sampai-sampai kamu di pukul, siapa dia?" tanya Mas Abyan kesal.


"Dia istri mantanku, Mas." jawabku jujur.


"Laki-laki tadi, itu mantanmu?"


Menganggukkan kepala. "Iya Mas, mantanku delapan tahun yang lalu." melihat lantai, ingat pada kejadian tadi, membuat air mata seketika luruh.


Mas Abyan langsung memeluk.


"Menangislah sepuasnya, setelah itu jangan di ingat. Mamas pastikan mereka nggak akan bertemu denganmu lagi."


Jelaslah gue langsung melepas pelukan Mas Abyan. "Maksud Mamas apa? Jangan bilang Mamas mau melakukan tindakan kriminal." takutku pada orang yang berpengaruh termasuk Mas Abyan.


"Kenapa? Apa kamu masih mencintai mantanmu?" tanyanya dingin.


Menggelengkan kepala dengan cepat, jangan sampai Mas Abyan salah paham lagi. "Nggak Mas, bukan itu. Aku nggak mau jadi janda secepat ini, jika kamu melakukan tindakan kriminal." ucapku jujur, siapa tau Mas Abyan melakukan tindakan pembunuhan kemudian di bunuh balik.

__ADS_1


Mas Abyan malah mengulum tawa, melihatku.


"Nggak, Ay." ambilnya kompres tadi, menempelkan di pipiku lagi. "Nggak akan kamu jadi janda secepatnya." yakinnya.


"Lalu Mamas mau apa?" tanyaku yang takut terjadi hal lain.


"Mamas akan buat wanita itu meminta maaf padamu, itu saja. Sisanya jangan lagi melakukannya."


"Jika masih, Mas?"


Mas Abyan mendekat ke telingaku. "Mati." bisiknya dengan dingin.


Bulu halus langsung berdiri, takut dengan ucapan Mas Abyan.


"Istirahatlah di kamar, Mamas mau nyelesain pekerjaan." meletakkan kain di dalam wadah, lanjutnya berdiri berjalan masuk ke dalam kamar.


Baru bisa menelan saliva dengan mudah saat Mas Abyan tidak terlihat lagi.


Jangan bilang Mas Abyan seorang mafia.


Berdiri mengambil tas yang di letakkan di sampingku. Langsung berjalan ke dalam kamar menutup pintu dengan cepat, tak lupa menguncinya.


Jika itu benar, kenapa Falisha nggak cerita? Apa mereka semua merahasiakan sesuatu dari gue, atau mereka juga nggak tau? Bisa juga Mas Abyan berkata begitu hanya bercanda.


Meletakkan tas di meja hias, naik ke atas ranjang, memeluk ke-dua kaki.


Ah bisa gila gue, seperti ini terus


Ting ting ting.


Handphone berdering di dalam tas, berdiri lagi mengambilnya.


Membuka layar handphone, ternyata Falisha. "Ra besok malam, jadikan kita menginap di hotel untuk acara Mika?"


Gue balas. "Iya Sha jadi, entar gue izin sama Mas Abyan." bertemunya lagi aja takut.


"Oke! Kita bertemu di restoran ya, sekitar jam dua siang."


"Iya Sha." balasku.


Buka lagi ada chat masuk dari Ibu Sari.


Di handphoneku ini, sudah berisi nomor keluarga besar Mas Abyan, serta chat group mereka.


Mereka sendiri yang meminta, katanya untuk keperluan, ketika ingin menghubungi nggak perlu susah-susah.


Gue mah ikut aja.


"Ra, besok pagi kerumah ya, Ibu mau masak sama kamu, ketagihan sama daging kemarin." ajak Ibu Sari.


Membalas. "Iya Bu, insyaallah sekitar jam sembilan ke sana."


Alhamdulillah Ibu menyukai masakanku. Mungkin jika orang tua masih hidup, setiap hari akan masak untuk mereka. Air mata kembali luruh, rindu itu tak terbendung.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2