Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 2 Nikah Paksa


__ADS_3

Motor kesayangan gue hentikan di depan rumah tetangga dulu. Bingung mau masuk dari mana? Banyak mobil kelas mahal, berbaris di depan rumah, sampai ujung lorong.


Ada acara apa ya? Nggak biasa orang kaya parkir di sini, masih duduk di atas motor dengan helm bogo berwarna hitam dengan kaca datar.


Melihat jam di tangan kiri, gue tunggu sampai beberapa menit siapa tau mereka keluar. Nggak susah-susah pindahin motor ke dalam pagar rumah, sekali jalan. Tubuh gue juga lagi capek banget, dari pada malas langsung tertidur lupa ni motor, bisa gawat hilang, cari kemana gue.


"Ra ngapain di sini?" tanya Afifah tetanggaku, merasa aneh melihatku berhenti di depan rumahnya.


"Nggak bisa lewat ramai, ada acara apa ya, Fah?" siapa tau, Afifah tau.


Dirinya sempat diam, beberapa detik. "Hmmm, nggak tau Ra, gue aja baru pulang." jelasnya.


"Lu baru pulang?"


"Iya di PT kapas tempat gue kerja, minta lembur, banyak pesanan." jelasnya. "Udah dulu ya, Ra. Gue mau mandi." sambungnya lagi.


"Oh iya, Fah." cepat banget bicaranya, biasa berjam-jam ngajak ngegosip laki-laki idamannya di sambung idol K-Pop.


Rombongan orang keluar dari dalam rumah, siapa mereka? Masuk satu persatu ke dalam mobil.


Dari jauh kurang terlihat jelas siapa wajah-wajah yang keluar, ada di dekat, masuk ke dalam mobil, tapi nggak kenal.


Mendorong motor kesayangan secara perlahan, setelah mobil mewah itu pergi. Sisa beberapa motor berbaris di depan rumah.


Melepaskan helm, mengambil tas di kaitkan di motor, masuk ke dalam rumah melepas sepatu dan kaos kaki.


"Zahra sudah pulang." ucap Yayu Zainisa menghampiri, memberitahukan dengan yang lain.


"Masuk Ra." sambung Bi Rosida.


Gue merasa bingung, ada apa mereka semua begini? Berkumpul beramai-ramai duduk di atas karpet merah seperti habis menyelesaikan hajatan.


Wajah-wajah aneh terlihat di keluarga besarku. Membuat perasaan tidak begitu menyenangkan.


Gue yatim piatu, orang tua telah meninggal di akibatkan kecelakaan lalu lintas sewaktu lulus kuliah sebagai perawat. Hanya gue yang selamat dari insiden kecelakaan itu. Duduk di atas karpet inilah keluargaku.


"Assalamu'alaikum." ucapku saat masuk ke dalam rumah.


"Waalaikumussalam." mereka serentak menjawab.


Perlahan penglihatanku tertuju dengan laki-laki ganteng sedang duduk di sudut ruangan.


Ya Allah gantengnya, ingin berkata salanghae oppa dengan mengangkat tangan berbentuk love.


"Duduk dulu, Nak." perintah Uwa Sani memecahkan lamunanku.


Gue duduk mengikuti ucapan Uwa Sani. "Ada apa Uwa?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Ra, ini Abyan." tunjuknya ke arah laki-laki tadi. "Sekarang telah sah menjadi suami kamu." sambungnya lagi.


Jeder!


Bagaikan kilat menyambarku secepat itu. "Maksud Uwa, apa?" masih bingung dengan situasi.


Yayu Zainisa duduk di sebelahku. "Abyan datang menikahin kamu hari ini."


"Nikah!" terkejutku melihat laki-laki tadi.


"Masa nggak tau sih, Ra. Itu Abyan Bos kamu di tempat kerja." sambung Yayu Diyah.


Melihat secara teliti, sepertinya iya deh, Pak Bos. Kenapa sedikit berbeda dengan foto yang di pajang di ruangan HRD? Ini lebih sempurna, seperti kayu di ukir dengan teliti, nikahin gue lagi, berarti suami gue dong, ah gue bermimpi nih. Cubit sedikit di tangan, aduh sakit. Nyata ini mah, jangan-jangan bohong mereka semua.


"Kalian semua pasti berbohong, kan?" belum percaya dengan keadaan.


"Enggak Zahra! Udah ganti pakaian kamu, Abyan mau bawa kamu ke rumahnya." perintah Bi Maryam.


"Apa?" hanya satu kata saja yang keluar dari mulutku, lidah rasanya keluh untuk bertanya.


Plak!


"Lama banget sih, cepetan." pukul pelan Yayu Diyah di bahu, sambil ngajak berdiri.


"Tunggu! Kalian lagi mainin drama apa sih?" siapa tau mereka benar berbohong.


"Siapa yang main drama, kamu memang udah nikah Ra, itu sih Abyan barusan mengucap ijab qobul." ketus Bi Nur.


"Kamu di suruh nikah lambat, pakai acara nolak Abyan segala." ucap Bi Rosida ketus.


Nolak! Kapan gue bertemu dan berucap? Udah tau nolak aja. Mimpi atau halusinasi mereka semua.


"Kaliankan yang menghalangin gue buat nikah." ketusku berucap.


"Itu dulu, sekarang enggak lagi. Elu udah sah menjadi istrinya Abyan." jelas Bi Rosida.


"Kenapa nggak ngasih tau aku dulu, Bi?"


"Lukan dinas lembur tuh di rumah sakit, mana bisa."


"lewat handphonekan bisa ngasih kabar. Gue nggak mau nikah seperti ini, Bi." tolakku.


"Tapi ini sudah terjadi, Zahra." pekik Bi Rosida.


Dada gue terasa sesak, jalan langsung ke arah kamar, berhenti sebentar. "Kalian semua sudah keterlaluan." ucapku dengan air mata yang luruh dan bibir bergetar.


"Tunggu Ra." panggil Uwa Sani.

__ADS_1


Brak!


Menutup pintu yang suram, dengan paduan cat abu-abu muda hampir luntur. Mengunci pintu dari dalam, tanpa menjawab panggilan.


Air mataku mengalir hebat, tega kalian menikahin gue tanpa musyawarah. Kenapa semua ini terjadi? Apa salah gue pada kalian? Cukup sudah kalian buat aku begini? Merasa tinggal di rumah kalian, menjadi bahan tuntutan semuanya harus di turutin?


Brak!


Jatuh kelantai.


Sesak banget Tuhan, mulutku terkunci. Hanyalah air mata yang mengalir deras. Jeritan hati berteriak, apa salah diri ini?


Gue tidak mau menikah gara-gara kalian, segala upaya telah gue lakukan, tetap saja kalian menentukan. Haruskah dengan nikah paksa seperti ini, tidak ada jalan keluarnya.


Tok tok tok.


"Ra udah belum, Abyan udah lama menunggu." terdengar suara Yayu Diyah memanggil.


Baiklah jika itu mau kalian, gue turutin. dengan tenaga yang masih ada, menggantikan pakaian, tubuh belum mandi hanya sempat semprot parfum. Jangan sampai bau tubuhku menambah banyaknya masalah.


Rasa malas di rumah ini, lebih baik pindah saja. Mengajak Pak Bos musyawarah.


Cukup bertemu dengannya dan selesaikan semuanya.


Menghirup dalam-dalam oksigen yang hilang entah kemana? Rasa sesak itu harus di singkirkan dengan kepala dingin.


Keluar dari dalam kamar, menutup pedal pintu.


Yayu Diyah tersenyum. "Ikutlah sama Abyan, pakaian kamu nanti aja di ambil."


"Yu, tapi aku nggak mau nikah. Kalian semua taukan." jelasku lagi.


Bi Rosida dan lainnya datang saatku keluar kamar. "Ini demi kamu, Zahra."


"Lebih baik, kamu ikutin Abyan dulu. Semua sudah terjadi, Zahra." sambung Uwa Sani mendekat.


Baiklah jika itu keputusan kalian. Diamku tanpa berkata lagi.


"Udah siap Abyan, Zahranya." Yayu Diyah tersenyum.


Mataku hanya melihat kelantai, malas melihat wajah Pak Bos.


"Zahra kamu nggak makan dulu?" Yayu Zainisa bertanya.


Menggelengkan kepala, tandaku enggak. Udah kenyang tadi di rumah Mika. Sekarang tuh ngantuk banget, ingin tidur tapi masalah gue belum selesai.


"Iya udah kalau begitu, kami berdua permisi Pak, Bu." ucap Pak Bos salamnya satu persatu, sedangkanku di belakang Pak Bos mengikutin.

__ADS_1


Gue sekarang di posisi nggak tau harus apa? Otak gue butuh istirahat, lelah untuk berpikir. Hanya diam saja yang bisa di lakukan, berteriak atau membela diri juga hasilnya akan tetap sama.


Bersambung...


__ADS_2