Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Chapter 92 Surprise


__ADS_3

"Yuk, Ay. Turun." ajak Mas Abyan sambil melepaskan sabuk pengaman.


"Iya, Mas." cepatku melepas sabuk pengaman sambil membawa tas.


Ceklek!


"Selamat siang, Pak Abyan." sapa pegawai di sana. Saat gue dan Mas Abyan berjalan masuk ke dalam hotel.


Mas Abyan tersenyum. "Siang, Pak."


Kami berdua masuk ke dalam hotel.


"Mas, kenapa sepi banget?" melihat lorong pada nggak ada orang.


"Mungkin di dalam gedung, Ay." pikir Mas Abyan.


"Iya juga, sih. Privasi ya, Mas?" siapa tau aja gitu.


"Kamu baca nggak, di undangan tadi?" Mas Abyan melihatku.


Gue baca nggak ada tertulis privasi. Tapikan undangan di kirim lewat media sosial.


"Mungkin iya deh, Mas." jawabku begitu.


"Iya udah kita masuk." ajak Mas Abyan saat kami di depan pintu.


"Iya, Mas."


Tok tok tok.


Mas Abyan mengetuk pintu.


"Mas, kita ini lagi ngapain sih? Baru pertama kali aku masuk gedung aja ketuk pintu." anehku pada acara ulang tahunnya istri teman Mas Abyan.


Mas Abyan hanya tersenyum.


Tibalah pintu besar itu terbuka secara perlahan.


Duar!


Ledakan yang menghamburkan banyak kertas di udara.


Lagu jambrut selamat ulang tahun bergemang.


Gue melihat banyak orang pada menyanyi.


Astaghfirullah gue baru baru ingat, kalau hari ini gue ulang tahun.


Mas Abyan langsung memelukku. "Selamat ulang tahun, Sayang."


Jujur air mataku membendung sungguh gue terharu. Wajar Mas Abyan rela menyingkirkan kerjaannya, hanya membuat pesta untukku. Nggak taunya gue yang ulang tahun.


Terimakasih ya Tuhan.


Mas Abyan melepaskan pelukan, tibalah Oma memelukku. "Selamat ulang tahun, cucukku."


"Hmmm." gue nggak bisa berkata apa-apa.


Oma melepaskan pelukan. Di sambung Ibu Sari. "Selamat ulang tahun, anakku." memelukku.


"Iya Bu."


Melepaskan pelukan, satu persatu keluarga mengucapkan selamat. Termasuk, keluarga besar gue hadir. Yayu Zainisa, Yayu Diyah, Yayu Dina mengucapkan selamat. Tidak lupa Bi Rosida, Bi Nur, Bi Maryam.


Gue benar-benar rindu pada mereka.


Terakhir Mika dan Falisha memelukku. "Selamat ulang tahun, Zahra." ucap mereka berdua serentak.


Hiks hiks hiks, air mataku akhirnya tumpah. Hari ini gue benar-benar terasa bahagia. Wajar Mas Abyan menghapus makeupku, takutnya hiasan gue kemana-mana akibat air mata.


Hmmm, suami gue perhatian banget.


"Doa kami berdua terbaik untukmu. Semoga elu cepat di berikan keturunan." ucap Mika.


Falisha dan Mika melepaskan pelukan.


Gue hanya bisa mengangguk.


Doa yang gue dengar dari semua orang.

__ADS_1


Semoga doa kalian terijabahkan.


"Udah jangan nangis lagi." Falisha dan Mika mengelap air mataku yang memenuhi wajah.


"Ayo kita potong kue dulu." ajak Oma Farra.


Gue di bawa ke depan meja yang isinya nasi tumpeng, kue ulang tahun, dan makanan lainnya.


Lagu Jamrud sudah selesai di nyanyikan. Kembali lagi lagu happy birthday yang gue dengar Mas Abyan yang menyanyikan.


"Happy birthday to you.... Happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday, My honey..." kembali gue memeluk Mas Abyan.


Tepuk tangan bergemang di seluruh ballroom.


"Terimakasih ya, Mas." hanya itu yang bisa gue ucapkan. Nggak tau harus di balas pakai apa?


"Hmmm iya, Ay. Ayo iris nasinya." perintah Mas Abyan.


Melepaskan pelukan. "Iya, Mas."


Gue memegang pisau.


"Ayo para hadirin semuanya. Kita hitung sama-sama. 1, 2, 3." ucap pemandu acara.


Gue mengiris nasi tumpeng.


"Alhamdulillah." ucap pemandu acara saat gue meletakkan nasi di piring. "Satu lagi, Bu Zahra. Iris kue ulang tahunnya." perintah pemandu acara.


Gue mengikuti.


"Mari kita hitung lagi sama-sama. 1, 2, 3." ucap pemandu acara.


Gue mengiris kue, secara perlahan. Meletakkan kue di atas piring.


"Alhamdulillah." ucap pemandu acara. "Sekarang suapan pertama, di berikan pada siapa?" tanya pemandu acara agar acara terlihat hidup.


"Abyan..." pekik semua orang.


Gue hanya bisa tersenyum, melihat Mas Abyan.


Mulaiku mengambil piring mengikuti nitizen menyuapi Mas Abyan.


Dengan wajah yang tersenyum-senyum sambil menguyah makanan.


Cup!


Tidak malu Mas Abyan mencium keningku.


"Nasinya di berikan pada siapa?" tanya pemandu acara lagi.


"Abyan..." pekik semua orang.


"Nggak papa, Mas. Kamu makan kue campur nasi?" tanyaku dulu sebelum menyuapi Mas Abyan.


"Nggak apa-apa, Ay." jawab Mas Abyan setelah menelan kue.


Hmmm, suami gue kenapa semakin gemas sih?


"Nih, Mas." mulaiku menyuapi Mas Abyan lagi.


Mas Abyan memakannya.


"Alhamdulillah... Selamat Ibu Zahra, atas hari spesialnya. Semoga usia yang genap 29 tahun ini, anda di berikan kesehatan, rezeki yang berlimpah, panjang umur, apalagi lagi?" tanya pemandu acara.


"Segera di beri momongan." teriak lagi semua orang.


"Iya begitulah netizen kalau berdoa." ucap pemandu acara sambil tertawa. "Mari kita ucapakan, Aamiin ya rabbal alamin. Acara inti telah selesai, mari kita makan-makan, yang mau nyanyi silahkan." sambung pemandu acara.


"Ay, Mamas ke sana dulu." Mas Abyan menujuk meja makan. "Kamu mau makan nggak? Sekalian Mamas ambilkan." tawarnya.


"Nggak usah, Mas. Aku nanti aja." tolakku.


"Hmmm!"


Mas Abyan jalan meninggalkanku, termasuk yang lain pada makan.


Mika dan Falisha yang masih setia berdiri di sampingku.


"Bisa ya, kalian berdua buat beginian?" dugaku.

__ADS_1


Siapa lagi kalau bukan mereka yang merencanakan ini semua.


Iya dong!" jawab Mika yang membenarkan dugaan gue.


"Kalau nggak surprise, nggak serulah." sambung Falisha.


"Kasihan tapi Mas Abyan. Banyak kerjaan di kantor, elu paksain ikutan begini." kurang nyaman gue.


"Eh tenang dulu. Awalnya kami itu hanya minta Mas Abyan buat nyanyi aja gitu. Seperti Chef Angga kemarin untuk Mika." jelas Falisha. "Tapi, Mas Abyan nggak mau. Malahan sewa 1 hotel buat kita berkumpul." sambungnya lagi.


Jelaslah gue terkejut.


"Satu hotel ini, Mas Abyan sewa?" tanyaku yang tak percaya.


"Iya-iyalah. Ini mah kecil bagi kami." jawab Falisha santai dengan menjentikkan jarinya.


"Bagi elu kecil. Bagi gue besar banget tau nggak? Wajar aja dari depan sampai belakang sepi. Ramainya di sini. Itupun keluarga semua yang terlihat, tanpa orang lain."


"Udahlah jangan elu pikirkan. Nikmati aja hari bahagia elu." jelas Mika.


"Kado gue mana?" pintaku.


"Nah itu dia gue sama Mika bingung. Elu punya semuanya, kecuali keturunan. Masa kami kasih anak, nggak mungkinkan." Sempatnya Falisha bercanda. "Minta sama Mas Abyan aja." sambungnya.


"Minta apa?" tanyaku menantang.


"Minta di belai tiap hari." jawaban Mika yang sudah gue tebak.


"Mik, Sha. Gue tau kalian berdua udah pada nikah. Bisa nggak bahasan kalian diluar itu?" pintaku yang geram kalau sudah berkumpul dengan Mika dan Falisha pasti gue di ajak sesat.


"Terus elu mau kado apa?" tanya Falisha.


Gue berpikir sebentar. "Ah, gimana kita ke pulau Bali berempat. Ajak Hanum juga." solusiku. "Tapi, Mas Abyan pasti nggak kasih." sedihku.


"Kalau gue sih, setuju-setuju aja." ucap Mika.


"Gue juga. Lagian Mas Abyan, Mas Aziz, Mas Idris sibuk. Entar gue coba bilang sama Mas Abyan." ucap Falisha


"Serius, Sha?" tanyaku.


"Seriuslah." jawabnya lantang.


"Oke! Kalau misal nih jadi perginya. Aku mau habis acara nominasi nanti. Saat itu jugakan pasti Mas Abyan, Pak Aziz, Mas Darman sibuk."


"Hmmm, boleh juga. Entar kita bahas lagi." ucap Falisha


"Hmmm."


"Eh, gimana elu sama Pak Abyan, saat pulang kemarin malam?" kepo Mika.


"Biasa-biasa aja sih. Hanya di ancam aja. Kalau gue nggak izin sekali lagi, akan di pasang bodyguard di depan pintu rumah." jelasku.


"Apa?" terkejut Mika dan Falisha.


"Emang kenapa sih?"


"Gila, Mamas gue cinta banget sama elu." ucap Falisha.


"Kalau kalian berdua gimana?" tanyaku pada Mika dan Falisha.


"Jelaslah gue di marah. Tapi hanya sebentar, udah gue cium terus." ucap Mika.


"Gue juga, tapi udah di kasih jatah. Diam." ucap Falisha.


"Nggak di pasang bodyguard gitu?"


"Enggak!" jawab Falisha dan Mika serentak.


"Ah nggak lucu." ucapku merasa malu sebenarnya. Mas Abyan ternyata posesif banget sama gue.


"Emang kami bercanda, serius kali. Intinya, Mas Abyan tuh, masih takut sama kejadian kemarin. Makanya terlalu ketat dalam menjaga elu." ucap Falisha yang memang benar adanya.


"Hmmm iya sih. Mas Abyan juga berkata gitu." jelasku mengingat ucapan Mas Abyan.


"Dah yuk makan." ajak Falisha.


"Hmmm, ayo." jawab Mika.


"Hmmm!" gue mengikuti.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2