Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 8 Rayuan


__ADS_3

"Mas, mau lauknya apa?" mengambil piring untuk Mas Abyan, tanda bakti gue sebagai istri secara bertahap.


"Sayur bayam, ayam gulai, sama tempe bacem, Ay." tunjuknya.


Mengisi satu persatu, atas permintaan Mas Abyan.


"Khem!"


"Biasa ambil sendiri. Lain yang udah punya istri." sindir Hanum.


"Elu nggak isiin piring, Ayang elu?" tanya Falisha.


"Udah biasa milih sendiri, puas dia mau makan apa?" balas Hanum.


"Istri emang harus melayani suami dengan benarkan, Hanum." sindir Oma Farra.


"Iya nih, elu dari awal nikah sampai sekarang, cuek banget sama Mas Darman." sindir Falisha.


"Mas, bela aku napa?" manjanya meminta pertolongan Mas Darman.


"Emang benar, Yang." balasnya lembut.


"Sini piringnya," mengambil paksa piring Mas Darman.


"Nggak Yang, Mamas isi sendiri. Sayang makan aja." romantisnya berucap.


"Tapi netizen, kalau berkata nyakitin." mengadu dengan manja.


"Siapa yang nyakitin? Ayah cium pipi Bunda." canda Mas Darman.


"Ih... Nyebelin."


Kami semua hanya bisa tersenyum-senyum, melihat Hanum dan Mas Darman begitu bahagia menjalani rumah tangganya.


"Ini Mas." memberi piring yang sudahku isi.


"Iya, Ay. Terimakasih." senyumnya.


"Cie cie cie pengantin baru, bisa berubah kulkas tiga belas pintu cair." canda Falisha.


"Emang ada, kulkas pintunya tiga belas?" tanya Oma Farra.


"Yee, Oma nggak tau apa, di rumah kita ada?" jawab Hanum ikut nimbrung.


"Mana?" tanya Oma Farra.


Falisha dan Hanum melihat Mas Abyan. "Itu!" serentak mereka ucapkan.


"Eh cucu Oma yang ganteng gitu di bilang, tiga belas pintu kulkas."


"Kebalik Oma, Kulkas tiga belas pintu." tak kalah Hanum.


"Iya itu maksudnya, cucu Oma nggak boleh di katain gitu, mau kamu Abyan jadi kulkas tiga, tiga pintu, tiga pintu ada kulkas, kulkasnya ada tiga. Dah kenapa jadi bahas tiga belas pintu kulkas sih?"


"Hahaha..." kami semua tertawa bersama.


"Salah Oma, bukan tiga belas pintu kulkas, tapi kulkas tiga belas pintu." bahagia Falisha bercandain Oma Farra.


"Hmmm!" kesal Oma Farra.


Oma ternyata lucu juga ya? Bisa gitu memainkan perannya sebagai tertua disini.


"Mas, nanti ajak Zahra istirahat di kamar. Entar sore aja kita bersama ke hotel menginap di sana. Soalnya menghias pengantin lama, harus dari pagi habis sholat subuh udah mulai di hias." jelas Ibu Sari.


"Iya Bu." jawab Mas Abyan.


"Bu, Mas. Mbak Zahra istirahat di kamar aku ya sama malam ini. Tidur sama aku aja." bujuk Falisha.


"Nggak bisa, Sha." balas Mas Abyan mencegah.

__ADS_1


"Malam ini aja Mas." mohon Falisha.


"Pengantin baru di ganggu. Gimana juga cicit Oma bisa muncul cepat, kamu larang gini?" balas Oma Farra.


"Mbak Falisha belum tau panasnya bermain goyang hot di kamar." sambung Hanum.


"Sayang, malu." Mas Darman langsung memberi kode.


"Emang benarkan Mas, kita aja bisa lembur sampai pagi." jujur Hanum berucap.


"Nggak usah di jelasin juga kali, Hanum." Falisha terlihat kesal.


"Biarin, emang iya." ngeyelnya.


"Boleh ya Mas?" Falisha kembali merayu.


"Nanti aja Sha, orang lagi musim produksi." cegah Oma Farra.


"Ih Oma, malam besok, besok, besok, besoknya lagikan bisa. Nggak juga harus malam ini memproduksinya." ngeyel Falisha.


Gue hanya bisa tersenyum, ingin sekali memberi cap jempol pada Falisha.


"Mamas ada perlu Sha dengan Zahra." jawab Mas Abyan kembali memecahkan suasana antara cucu dan nenek. Sepertinya Mas Abyan masih kepikiran tentang ucapan Oma Farra yang membuat kumannya keluar tadi.


"Mas sekali ini aja. Anggap aja kami berdua lagi masa pendekatan antara kakak ipar dan adik ipar." rayu Falisha.


"Gue nggak di ajak?" tanya Hanum.


"Mas Darman emang mau bobok sendiri?"


"Yang..." Panggil Mas Darman, memberi kode nggak boleh.


"Tuh, kan." Falisha kembali melihat Mas Abyan. "Boleh ya, Mas." terus merayu.


Gue hanya diam menghabiskan isi piring, melihat Falisha penuh harapan. Walaupun tadinya gue ingin marah, tapi di sisi lain gue ingin penjelasan darinya.


"Mas, malam ini boleh nggak aku tidur sama Falisha? Malam ini aja." cobaku bersuara meminta izin langsung.


"Nggak boleh ya?" tanya gue penuh penekanan.


"Hmmm, boleh." menguyah lagi makanan, dengan berucap terpaksa.


"Terimakasih Mas."


"Hmmm!"


"Yes, makasih Mamas ganteng." Falisha terlihat bahagia.


Mas Abyan diam saja, tanpa membalas ucapan Falisha.


***


Alhamdulillah, akhirnya bebas juga. Melepas mukena sehabis sholat Zuhur dan tidur di atas ranjang Falisha.


"Ra, elu marah ya?" tanya Falisha duduknya di sampingku, dengan tangan kananku yang di ayunkan.


"Nggak!" suara lantang melepas tangan yang di pegang Falisha.


"Ra, maaf." goyangnya lagi bahuku.


"Nggak ah!" candaku.


"Elu kok gitu sih, Ra?"


"Elu udah bohongin gue dan Mika tiga belas tahun lamanya." jawabku merasa kesal.


"Maaf! Gue nggak mau elu dan Mika tau kondisi gue, terus kalian nggak mau temanan lagi." jelasnya.


"Jika kami tau, terus manfaatin elu gimana?"

__ADS_1


"Nggak apa-apa! Bila perlu kalian mau apa gue kasih." Falisha merayu.


"Nyawa elu boleh?" tantangku.


"Kalau elu mau." balasnya pasrah.


"Aneh lu."


"Maafin gue! Gue akan janji sama elu dan Mika apapun yang elu ingin tau gue jawab." rayuan maut Falisha.


Duduklah gue. "Iya-iya gue maafin. Tapi janji, jangan lagi ada rahasia di antara kita. Kalau elu berani, tiada kata maaf untuk lu lagi. Tiga belas tahun kita bersama, bisa gue pecat dalam satu hari jadi sahabat gue." ancamku.


"Janji, nggak lagi." mengangkat jari kelingking dengan tersenyum.


Gue mengaitkan jari kelingking Falisha dengan tersenyum. "Awas lu lupa?" memberi peringatan.


Falisha menggelengkan kepala dengan cepat. "Nggak lupa."


Kami berdua melepaskan kaitan. "Gimana sekarang lu dan Mamas?" tanya Falisha dengan serius.


"Ya kita berteman dulu." jawabku jujur.


"Ih bukan itu! Gimana sama Mas Abyan semalam?" keponya mulai.


"Apaan sih? Elukan tau kita nggak ngapa-ngapain." kesal gue, nggak ada pembahasan yang lain apa?


"Hayo jujur?" masihnya ngeyel.


"Jujur Sha, lu kalau mau tau aktivitas kita di dalam kamar. Ayo ikut aja dengan senang hati." ajakku.


"Ih gila lu, masa gue di suruh nonton live streaming kalian berdua."


"Elu sih, kepo banget jadi orang. Tau gue nikah di paksa gini. Jangan-jangan elu lagi yang jodohin gue sama Mamas elu."


"Ih fitnah, lu. Gue aja baru tau pas ijab qobul kemarin. Untung keluarga elu lupa gue yang pernah main ke sana. Ada sih yang kenal, gue selipkan uang seratus ribu di kantongnya nyuruh mulutnya di lem dulu."


"Gue nggak percaya ya?"


"Terserah elu, Oma aja nggak ikut."


"Kenapa?"


"Baru pulang dari London, jalan-jalan sama bestienya. Mamas aja ngasih tau tiga hari sebelum akad nikah, nyuruh gue, Hanum dan Ibu nyiapin semua permintaan elu."


"Secepat itu?"


"Iya, elu nggak percaya tanya aja sama Hanum. Gimana sibuknya kami bertiga, di bantu asisten rumah tangga. Nyiapin semuanya."


"Gitu ya?"


"Elu udah kasih tau Mika belum, soal lu udah nikah?"


"Ya belumlah Sha, lu jugakan tau gue aja terkejut setengah hidup gini."


"Nggak setengah mati bukan?"


"Gue takut mati, makanya setengah hidup." ngeyelku.


"Ya juga sih! Gimana keadaan Mika? Gue belum ke sana lihat dia, gara-gara ikut ngurusin nikahan Mamas gue."


"Alhamdulillah baik-baik aja. Gue udah ke sana kemarin sebelum pulang ke rumah, mampir bentar. Dia hari ni udah masuk kerja. Nggak sakit lagi katanya."


"Emang yah, kalau orang kesehatan, ngurus diri sakit kecil."


"Kata lu, gini-gini orang kesehatan sakit, butuh juga kali pertolongan. Mungkin kemarin nggak parah, hanya sakit sedikit doang."


"Oh gitu."


"Hmmm!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2