
"Makan buah terus, Mbak?" Falisha melihat piring di pangkuanku.
"Selama hamil emang bagus makan buah, Sha." ucap Oma.
Falisha tersenyum. "Tau, Oma. Hanya saja aku mau minta." mengambil buah.
"Aku juga mau dong." Mika mengikuti.
"Kalau semuanya mau, Mamas ambilkan." tawar Mas Abyan.
"Nggak usah, Mas. Lagian ini hari juga udah malam. Sepertinya kami semua harus pulang." ucap Falisha melihat jam di tangannya.
"Sebentar lagilah." pintaku.
"Ra, kamu harus banyak-banyak istirahat." jelas Ibu membuatku merasa nyaman dengan perhatiannya.
"Besok kita juga harus berangkat pagi-pagi." sambung Oma. "Biar bisa menyiapkan tempat dan makanan untuk para warga yang hadir."
"Emang berapa orang yang hadir, Oma?" Mas Abyan terlihat ingin tau, gue pun sama.
"Kalau di perhatikan bisa saja satu kampung yang hadir." jelas Oma.
"Kita udang yang penting-penting aja, Oma." solusi Ibu.
"Lagian kalau mereka datang semua. Kasihan Zahra entar capek menemui mereka." jelas Mas Abyan.
"Kita lihat aja nanti. Kalau Zahra capek, langsung masuk kamar Istirahat." jelas Oma. "Udah yuk, kita pulang." Oma berdiri.
Falisha, Mika, Ibu berdiri, gue ikut juga.
"Duh bumil kalau berdiri susah gue lihatnya." ucap Falisha.
"Ah biasa aja. Lagian nggak sesusah yang kalian lihat. Gue masih bisa goyang dumang." candaku.
"Hayo, Abyan. Sering-sering di lihat untunnya agar mudah melahirkan." jelas Oma.
Mas Abyan hanya diam saja tanpa ekspresi, biasanya kalau bahas ke sana dirinya senyum-senyum. Ah sudahlah ngapain gue berpikiran negatif.
"Jangan terlalu capek." sambung Ibu.
"Iya Bu." jawab Mas Abyan tersenyum.
Entah apa yang dirinya pikirkan tadi.
Kami semua berjalan ke lantai bawah.
"Besok kita bertemu di rumah Oma." jelas Oma.
"Iya, Oma." jawabku dengan tersenyum sambil menyalami Oma, Ibu, Mika, dan Falisha.
Mereka berempat mengelus perutku, merasa gemas.
"Dada..." ucap Mika dan Falisha menaikin mobil.
Gue melambaikan tangan saat mereka melaju perlahan.
"Ayo, Ay. Masuk." ajak Mas Abyan.
"Iya, Mas." mengikuti jalan Mas Abyan ke dalam rumah.
Mas Abyan menutup pintu.
Berjalan ke kamar utama, langsung saja masuk ke dalam kamar mandi. Seperti biasa, mencuci wajah, sikat gigi sebelum tidur. Gue nggak mau sebelum tidur tidak bersih semua. Tidur suka nggak nyaman kalau nggak bersih.
__ADS_1
Setelah selesai jalan keluar kamar, seperti biasa Mas Abyan kembali duduk melihat laptopnya.
Sibuk banget Mas Abyan.
Jalan lagi ke ruang pakaian mengganti pakaian tidur. Malam ini gue mau pakai yang terlihat seksi. Gimana penglihatan Mas Abyan?
Sat set, pakaian dress dengan belahan tengah dada sedikit terlihat. Perut gue terlihat banget bulatnya. Ini isi perut gue ada berapa sih? Ah sudahlah yang penting anak gue sehat.
Mengurai rambut yang sekarang sudah panjang batas punggung.
Mau potong rambut, Oma selalu mencegah dengan alasan yang tidak tau pasti letak kebenarannya.
Keluar ruangan pakaian.
Naik ke atas ranjang, terserah Mas Abyan, tertarik atau enggak. Gue jadi teringat dengan tubuh Mbak Cherly yang wow itu. Ah gue jadi sedih, tapi setelah gue lahiran siap-siap aja ke tempat fitness. Tersaingi tuh pelakor.
"Ay..."
Melihat Mas Abyan. "Kenapa, Mas?" Mas Abyan berdiri berjalan mendekat.
Tibanya membuka pakaian atas.
"Mancing ya, Ay?"
Jantungku bergoyang hebo di dalam sana, melihat tubuh Mas Abyan yang benar-benar menarik perhatian. Rajin banget suami gue olahraga, sampai-sampai bisa membentuk begitu indah begini.
"Nggak, aku di sini. Nggak mancing ikan." Mas Abyan menaikin ranjang, semakin mendekat.
"Mamas berusaha menahan, Ay. Lihat kamu begini-"
"Kenapa Mamas tahan?"
Mas Abyan duduk di sampingku. "Demi ini." memegang perutku.
"Takut kenapa-napa, Ay."
"Bukan karena melihat wanita lain yang terlihat menar-"
Cup!
Mas Abyan mencium bibirku sekilas.
"Kenapa kamu berpikiran begitu?"
"Karena aku terlihat seperti ikan buntal." jujurku.
"Hahaha... Hahaha..." Mas Abyan tertawa sambil tertidur di ranjang.
Lucunya di mana sih?
"Ay, ikan buntal. Hahaha... Haha..."
"Mamas nih, ngetawain aku. Berarti benarkan." malasku melihat wajah Mas Abyan seperti menyepelekanku.
Mas Abyan mulai duduk, merapatkan tubuhnya.
"Ay." menarik wajahku agar melihatnya.
Cup!
Mencium kembali bibirku sekilas.
"Secantik wanita diluar sana. Melihat kamu lebih cantik, Ay. Apalagi dengan perut begini, sangat menarik." ucapnya mencium bahuku.
__ADS_1
"Mamas bercandakan?" siapa tau bohong.
"Nggak, Ay. Mamas serius." belanya.
"Kenapa aku nggak percaya, ya?" rasanya begitu.
Tangan Mas Abyan mulai memainkan buah-buahan di dalam sana. "Mamas nggak bisa menahannya lagi, Ay." bisiknya di telingaku.
"Mamas begitu menginginkan anak yang aku kandung?" sampai-sampai dirinya menahan.
Mas Abyan tersenyum menganggukkan kepala. "Usia Mamas sudah terbilang masuk kepala tiga bahkan empat." jujurnya. "Lebih baik Mamas menahannya, dari pada kamu dan anak kita kenapa-napa."
Hmmm! jujur banget Mas Abyan.
"Iya udah Mamas puasa sampai lahiran." candaku.
"Nggak bisa, Ay."
"Tuhkan, katanya takut aku sama anak kita kenapa-napa. Mamas nggak komitmen deh." jahilku.
"Pelan-pelan, Ay. Lagian kata Oma tadi aga-"
"Lahirannya lancar." memutuskan ucapan Mas Abyan.
"Selain itu, bagus untuk kesehatan jiwa dan raga." ucap Mas Abyan dengan tersenyum-tersenyum.
Bisa ya Mamas, kalau mencari alasan yang membuatku tidak bisa berkata-kata lagi.
"Lakukanlan, Mas. Jangan di tahan lagi." Itulah yang bisa ku katakan. Jangan sampai Mas Abyan terus menahan. Akibatnya mencari wanita lain untuk meluapkan semua yang di tahan.
Mas Abyan mulai menciumku dengan lembut. Permainannya selalu membuatku ketagihan.
Mas Abyan mengarahkanku untuk tidur. Melepaskan ciuman beralih ke leher seperti biasa dirinya selalu mengapsen setiap inci kulitku. Tangan Mas Abyan mulai memegang pakaian ku. "Mas." mencegah agar tidak di robek. Sudah cukup pakaianku habis di robek Mas Abyan.
"Jangan di robek lagi. Biar aku yang melepaskannya."
Mas Abyan tersenyum-senyum.
Mulaiku melepaskan pakaian. Mas Abyan mengambil selimut dan menutupi tubuh kami.
"Untun yang tenang ya, Nak. Ayah lagi olahraga sebentar." ucap Mas Abyan di atas perutku yang terlihat jelas gerakan bayi mungil di dalam sana, seperti mendengar ucapan Mas Abyan. Gue hanya bisa tersenyum-senyum, melihat Mas Abyan mencium perutku. Tibanya Mas Abyan ke bawah. "Mas." cegahku.
Suka banget Mas Abyan ke sana.
"Lihat untun, Ay." alasannya.
"Mana bisa, Mas."
"Bisa sayang." ucapnya sambil memainkan area sensitifku.
Mulai tubuhku meremang. "Mash..." menikmati permainan Mas Abyan.
Semakin bermain tubuhku tidak bisa terkendali seperti biasanya. Mas Abyan bisa membuatku tidak berdaya jika di ajak bermain erotis.
"Aaah... Mas..." ucapku semakin menikmati.
Mas Abyan melepaskan dan membuka semua pakaiannya.
"Siap ya, Ay?" Mas Abyan telah berada di atas.
Dengan tersenyum menganggukan kepala tandaku iya.
Bersambung...
__ADS_1