Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 88 Mulai Terbuka


__ADS_3

"Allahuakbar, Allahuakbar." suara azan terdengar jelas di dekat rumah.


Secara perlahan membuka mata yang terbilang masih ngantuk, untung saja tidak kesiangan lagi, Mas Abyan ngajak mainnya nggak tanggung-tanggung, istirahat aja sebentar di larang.


"Mamas, bangun. Shalat dulu yuk." ucapku yang masih di pelukan Mas Abyan, dengan wajah menempel di dada bidangnya.


"Hmmm..." Mas Abyan bergerak, tibanya berhenti, sepertinya masih dalam mimpi.


"Sayang bangun, mandi yuk, shalat subuh. Entar tidur lagi, kalau masih ngantuk." ajakku melihat wajah Mas Abyan sedikit ke atas.


"Hmmm!" jawab Mas Abyan, tanpa bergerak sedikitpun.


"Jangan hmmm aja, ayo bangun." tanganku mengusap punggungnya, membangunkan Mas Abyan secara perlahan.


"Hmmm, iya sayang." Mas Abyan melepaskan pelukannya, perlahan duduk. Mengusap wajahnya, melihatku. "Sakit nggak, Ay?" khawatirnya seperti kejadian kemarin.


"Hanya encok sedikit." candaku.


Mas Abyan tersenyum-senyum. "Entar Mamas pijitin."


Perlahan duduk. "Mas pijitin, ujung-ujungnya ngajak berantem lagi." jelasku, apa adanya.


"Sekalian, Ay." senyumnya.


"Udah ah, aku hanya bercanda jangan mancing-mancing lagi, sekarang mandi shalat."


"Mau Mamas gendong?" tawarnya.


"Nggak Mas, aku bisa jalan sendiri. Udah ah aku mau mandi." mengambil handuk kimono di lantai, memakainya turun dari ranjang.


"Ay, ikut." cepatnya menyusul ke kamar mandi.


Mamas-Mamas, ada-ada aja.


Mas Abyan kembali mencium bahuku, saat semua terbuka. "Ay, sekali lagi, udah itu baru mandi." tangannya kemana-mana.


"Sekali ya, mau nyambung habis shalat subuh." ingatku jangan sampai menunda waktu shalat.


"Hmmm, iya Ay."


-


-


-


"Mas, kamu ingat nggak, siapa aja pegawai yang kerja melihara sawah di sini?" tanyaku saat melipat mukena dan sajadah.


"Hmmm, iya tau, Ay. Kenapa?" tanya Mas Abyan sambil melipat kain sarungnya.


"Kemarin aku banyak cerita sama mereka, sedih Mas, melihat Boby anak bu Tukiyem dan pak Paijo, nggak sekolah kerena terhambat biaya. Di tambah bu Inem kemarin rumahnya bocor, kurang layak sih Mas untuk di tempati, dia juga jadi kepala keluarga saat suaminya meninggal." menjelaskan sambil meletakkan mukena di atas meja, Mas Abyan juga meletakkan kainnya.


Mas Abyan jalan ke luar kamar, gue mengikuti. "Hmmm... Jadi maksud kamu, mau bantu mereka?" tanya Mas Abyan memasang celemek inginnya membuat sarapan.


"Iya Mas, kamu mau nggak?" ucapku membuka kulkas mengeluarkan bahan masakan.


"Ay, mau masak apa? Mamaskan yang mau masak." Mas Abyan kebingungan.


"Emang Mamas mau masak apa?" baru sadar mengeluarkan banyak bahan masakan, terlalu fokus sama pembahasan.


Mas Abyan tersenyum. "Masak yang simpel aja sayang." Mas Abyan kembali memasukkan bahan masakan ke dalam kulkas.


"Apa Mas?" entah kenapa di panggil sayang sama Mas Abyan hati ini di buat lumer terus.


"Masak sandwich aja, Ay. Bagus untuk program hamil." senyum Mas Abyan, memberi kode, mungkin melihatku ingin segera memiliki keturunan, jadinya gini.


"Saya serahkan saja pada profesor Doktor Abyan Angkasa. Gelarnya saya tidak tau."

__ADS_1


Mas Abyan tersenyum-senyum, sambilnya mengambil daging sapi, meletakkan di dalam wadah.


"Mas kamu belum jawab pertanyaan aku tadi."


"Hmmm, yang masalah pegawai?"


"Iya."


"Hmmm, entar Mamas bilang ke Aziz untuk membatu mereka."


"Ah serius Mas?" bahagiaku Mas Abyan setuju.


"Iya sayang."


Langsung memeluk Mas Abyan dari belakang. "Terimakasih sayang."


"Ay, jangan di sini. Mamas mau masak." pintanya.


"Nggak boleh ya?"


"Mamas yang khilaf, nggak jadi sarapan kita." jelasnya.


Hanya bisa tersenyum-senyum melepaskan pelukan.


"Mamas nggak mau tidur lagi, kalau capek, biar aku aja buat sarapan, entar kalau udah selesai aku bangunin."


"Nggak kebalik yang capek siapa?"


"Bersama berarti."


"Bukan mau tidur lagi, entar, Ay."


"Terus?"


Mas Abyan mendekat ke telingaku. "Buat juniornya Abyan." bisiknya.


"Hmmm Bu Lala kenapa emangnya, Ay?" tanyanya kembali memanggang daging.


"Katanya kalau mau cepat hamil, nggak boleh terlalu sering-sering." ingatku pada ucapan Bu Lala saat gue di hukum Oma, sebelum masak daging.


"Oh yang itu."


"Ingatkan, Mas?"


"Hmmm, iya Mamas ingat."


"Nah itu jadikan pelajaran, Mas."


Mas Abyan tersenyum-senyum. "Iya, Ay. Oh iya, Ay. Maaf ya sebelumnya Mamas mau izin, sampai di Jakarta, mungkin Mamas akan sibuk. Maaf Mamas nggak terlalu fokus sama kamu, Mamas mau bulan madu sudah selesai pekerjaan, ambil cuti."


"Hmmm iya Mas."


"Kamu hati-hati jaga diri, kalau ada apa-apa tetap hubungin Mamas, nanti Mamas minta Falisha aja tidur di rumah, atau kamu tidur di tempat Oma." jelas Mas Abyan memberi solusi, agar dirinya tidak kepikiran.


"Hmmm, iya Mas. Kamu jaga kesehatan juga, kalau capek istirahat. Kita bukan robot yang harus kerja selama dua puluh emnpat jam penuh." khawatirku takut Mas Abyan jatuh sakit lagi.


"Hmmm iya, Ay."


Melihat Mas Abyan memasak begitu hebatnya.


"Mamas bisa masak sejak kapan?" kepoku.


Mas Abyan tersenyum-senyum. "Jujur atau bohong?" tanyanya membuatku merasa gimana gitu.


"Jujur, Mas?"


"Jujurnya waktu sebelum menikah sama kamu, Ay." jawaban Mas Abyan buat gue penasaran.

__ADS_1


"Maksud Mamas?" semakin gue ingin tau.


"Hmmm, agar bisa menjadi suami idaman." jawab Mas Abyan tersenyum-senyum.


Bisa ya Mamas buat ku ingin terbang.


"Bohong kali, jawaban Mamas." mungkin saja begitu.


"Hahaha..." tawanya yang puas.


"Mamas sehat?"


"Sehat sayang, kalau enggak, ngapain kita main sampai subuh." jawaban Mas Abyan buat gue panas aja, lagi serius gini. Nggak Falisha nggak Mas Abyan suka banget berpikaran mesum, kesal gue jadinya.


"Seriuslah Mas?"


"Mamas serius,"


"Jawab yang jujur, jangan bohong."


"Iya-iya Mamas jujur. Mamas bisa masak semenjak di ajarkan Cherly."


Deg!


Hati gue kok makin panas.


"Jangan cemburu, Ay." peka Mas Abyan mungkin melihat gue tiba-tiba diam.


"Nggak Mas!" bohong ku. "Emang Mamas sesering itu ya, masak sama matan Mamas?"


"Hmmm," Mas Abyan menganggukkan kepalanya. "Bisa di bilang setiap minggu, dirinya ke apartemen." jawab Mas Abyan santai.


Jangan bilang Mas Abyan dengan Mbak Cherly.


"Jangan berpikiran mesum, Ay." Mas Abyan lagi-lagi menebak pikiran gue, jangan bilang Mas Abyan punya indra ke 6, bisa tau apa yang gue pikirkan.


"Mamaskan tau, jika perempuan dan laki-lak-"


"Ada Aziz da-"


"Hmmm dan siapa Mas?" gue penasaran siapa lagi.


"Dan Haikal, teman Mamas." jawabnya tersenyum.


"Aku pernah bertemu dengannya nggak Mas?"


"Hmmm, belum. Dirinya di Amerika, semenjak Cherly meninggal, karena Haikal manager Cherly dulunya."


"Emang Mbak Cherly kerja apa, Mas?" gue bukannya cemburu, kenapa jadi penasaran dengan mantan Mas Abyan.


Mas Abyan tersenyum. "Cherly artis bollywood yang lagi naik daun masa itu di Amerika, saat Mamas lulus kami hampir hilang kontak, karena kesibukan kami masing-masing. Pulang ke Indonesia saat Mamas ingin serius dengannya." Mas Abyan mulai terbuka.


"Mamas udah kenal dengannya sejak kapan?"


"Semenjak sekolah menengah pertama, dirinya sering mengejar-ngejar Mamas agar berpacaran dengannya, walaupun banyak yang mengejar-ngejar Mamas masa itu. Tapi Cherly orang yang tak pantang menyerah, sebab itulah Mamas berjanji setelah sukses akan menikahinya saja tanpa berpacaran." Mas Abyan melihat ke arah ku. "Jangan cemburu, Ay."


"Santai aja Mas, aku ingin tau aja masa lalu Mamas gimana? Jangan aku aja yang Mamas tau hidup ku begini." jelas ku memang benar.


"Hmmm jadi intinya, hanya kamu pacar dan istri Mamas."


Cup!


Sempatnya mencium kening ku.


Mamas bisa aja, bikin hati yang panas jadi dingin.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2