
"Ay, bangun." Mas Abyan mengelus kepalaku dengan lembut.
"Hmmm," seperti biasa menarik tubuh, membuka mata secara perlahan.
"Udah sampai, ya Mas?"
"Iya, Ay. Ayo turun."
"Iya Mas, hoam!" tertidur di bahu Mas Abyan, perjalanan yang panjang membuatku terasa penat. Untung saja yang membawa mobil Pak Aman, jadi Mas Abyan juga bisa istirahat.
Membuka pintu mobil, menghirup napas panjang, "Aaaah..." segarnya udara di sini, melihat sekeliling di penuhi dengan sawah yang mulai berdaun hijau. Masya Allah, bagus banget pandangan di sini.
"Ayo Ay, masuk." ajak Mas Abyan, yang berdiri di depan rumah minimalis terbuat dari kayu yang di susun rapi.
"Iya Mas." jalan pelan melihat alam sekitar, enak banget di sini.
Mas Abyan membuka pintu rumah. "Pak Aman nggak di ajak masuk, Mas?" tanyaku saat kami di dalam rumah, penglihatanku benar-benar di buat Mas Abyan terkejut. Tempat ternyaman gue sebut begitu.
"Mamas mau lanjut ke cabang perusahaan dulu, Ay. Kamu istirahat di sini aja dulu, kalau jenuh boleh jalan-jalan sekitar. Awas! Jangan sampai lupa jalan pulang. Kalau ada apa-apa, telepon Mamas." peringatan Mas Abyan.
"Iya Mas." langsung memeluk Mas Abyan.
Cup!
Mas Abyan mencium keningku. "Mamas berangkat dulu ya?"
Tersenyum. "Hmmm, iya sayang. Hati-hati di jalan."
Mas Abyan tersenyum. "Bentar nggak lama." bisiknya di telingaku.
"Iya Mas."
Cup!
Cup!
Cup!
"Udah berangkat sana." menjauhi Mas Abyan.
"Hmmm." peluknya erat. "Rasanya nggak mau." Mas Abyan bermanja denganku.
"Maaf, Tuan." Pak Aman masuk.
"Iya Pak." jawab Mas Abyan masihnya memelukku.
"Ini tasnya, Nona." Pak Aman membawa tasku.
"Iya Pak, letakkan saja di situ." tunjuk Mas Abyan di atas meja.
"Ah iya, Tuan." Pak Aman meletakkan tasku sesuai perintah Mas Abyan.
"Mas, malu." melepaskan pelukan Mas Abyan, dirinya malah semakin mengeratkan pelukan.
Cup!
Kembali Mas Abyan mencium bibirku sekilas. "Mamas berangkat dulu ya, Ay."
__ADS_1
"Iya Mas,"
Cup!
Mas Abyan menciumku lagi, sambilnya melepaskan pelukan, jalan keluar rumah.
Melihat Mas Abyan menaikin mobil, dirinya melambaikan tangan, membalas lambaian Mas Abyan.
Mobil perlahan pergi menjauh, berjalan masuk, melihat ruangan yang terbilang cukup bagus untuk tinggal di sini.
Membuka pintu kamar, melihat ruangan berdesain kayu, di dinding terdapat fotoku dan Mas Abyan. "Bisa begini ya, hidup gue. Menikah dengan sesosok laki-laki yang sempurna." mulai rebahan di atas ranjang dekat jendela. Rasanya nggak mau pulang dari sini.
Duduk lagi, melihat di luar jendela terdengar suara seseorang, mendekati jendela, ternyata banyak Ibu-ibu dan Bapak-bapak sedang bersantai di tengah sawah, sepertinya mereka sedang istirahat.
Turun dari ranjang, ingin menghampiri mereka, seperti seru ikut ngerumpi, dari pada melamun di kamar.
"Eh ada neng geulis," ucap salah satu Ibu-ibu yang berkumpul melihatku jalan ke arah mereka.
Tersenyum melihat mereka semua. "Lagi ngapain Bu, Pak?" duduk di dekat mereka yang santai duduk di atas pondok kayu.
"Sini neng geulis, naik duduk dekat Ibu." ajaknya.
"Ah iya Bu," naik mendekati mereka yang ternyata sedang makan-makan.
"Maaf Pak Bu, saya ganggu kalian." ucapku merasa nggak nyaman mengganggu mereka yang sedang berbicara hebo tadinya.
"Ah nggak apa-apa. Neng orang baru di sini?" tanyanya.
"Oh kenalkan Pak, Bu. Saya Zahra Aneska." mengajak mereka salaman.
"Oh walah, yang punya sawa ini toh. Kenalkan saya tukiyem." dirinya membalas salaman.
"Saya, Inem." bersalaman dengan Bu Inem.
"Saya Paijo." bersalaman dengan Pak Paijo.
"Saya, Ninik." bersalaman dengan Bu Ninik.
"Saya Boby, Bu." bersalaman dengan Boby yang usianya terlihat masih mudah.
"Boby masih sekolah ya?" tanyaku penasaran.
"Udah nggak lagi neng," jawab Bu Tukiyem. "Boby anak saya dan Pak Paijo."
"Hmmm, udah tamat sekolah ya Bu?" tanyaku kepo.
Senyum Bu Tukiyem. "Kami belum ada dana untuk menyekolahkan, Boby lagi. Ini aja baru lima bulan kerja di sini, dan baru gajian." jelas Bu Tukiyem membuatku ingin menangis, melihat kondisi mereka.
"Boby mau sekolah lagi nggak?" kalau Boby mau, entar gue yang bilang sama Mas Abyan, siapa tau dirinya setuju.
"Mau atuh Bu. Tapi-" Boby terdiam melihat lantai kayu, terlihat sedih.
"Insyaallah nanti saya diskusikan sama suami saya, untuk bantu kamu sekolah lagi." jelasku melihat Boby.
"Duh ndak usah repot-repot, neng. Nanti kalau uangnya cukup untuk sekolah Boby, pasti Ibu sekolahin dia." tolak Bu Tukiyem, mungkin dirinya nggak mau nyusahinku dan Mas Abyan.
"Oh iya neng, ke sini sendirian ya?" tanya Bu Inem mengalihkan ke pembahasan lainnya.
__ADS_1
"Ah tadi sama Mas Abyan, Bu, suami saya. Tapi sekarang lagi ke cabang perusahaannya di daerah sini." jelasku.
"Pak Abyan yang ganteng itu ya, neng?" tanya Bu Ninik.
"Ibu kenal?" tanyaku mulai kepo.
"Yah kenal atuh, kemarin, kan sempat hebo di kampung sini, akibat kedatangan dua laki-laki yang seper duper guanteng pisan, ey." ucap Bu Ninik terlihat bahagia, membanggakan Mas Abyan.
"Terus, Bu." semakin kepo.
"Banyak gadis-gadis kampung mendekatin daerah sini. Sampai-sampai Pak Abyan susah masuk ke dalam mobil." jelasnya lagi, membuatku teringat waktu kejadian Mas Abyan di serbu para fansnya. Kalau itu terjadi lagi, gue suruh Mas Abyan pulang sendiri ke Jakarta dari pada buat gue nggak bisa menikmati pemandangan di sini.
"Tapi tenang aja Neng, semenjak Pak Abyan udah menyatakan dirinya udah mempunyai istri dan sebentar lagi punya anak, banyak gadis-gadis kampung patah hati, dan nggak mau lagi mendekati Pak Abyan, kecuali gadis-gadis yang nggak tau sopan santun." jelas Bu Inem bercerita.
Kembali di buat terkejut, oleh ucapan Mas Abyan yang sebentar lagi akan mempunyai anak. Apa dirinya ingin gue secepat itu hamil dan mempunyai keturunan dari keluarga angkasa earld group?
"Apa neng, sudah melahirkan?" tanya Pak Agung.
Buka segel aja baru beberapa hari yang lalu, udah melahirkan tuh gimana ceritanya Pak?
"Hmmm, belum hamil Pak." ucapku malu, nyata adanya sih.
"Oh, berati masih pengantin baru ya neng?" tanyanya lagi.
"Sekitar jalan setengah tahun Pak." jawabku.
"Wah, masih pengantin baru. Bapak doakan cepat di beri keturunan sesuai maunya Pak Abyan." ucap Pak Paijo.
"Aamiin..." mengaminkan ucapan Pak Paijo.
"Neng, Ibu ada ramuan herbal untuk mempercepat kehamilan." tawar Bu Inem.
"Ada ya Bu?" kepoku.
"Ada, kalau mau dan nggak capek, ayo kerumah, sekalian main ke pondok saya." ajak Bu Inem, antusiasnya agar gue cepat hamil dan bermain kerumahnya.
Mau-mau aja gue, biar nggak kesepian di rumah.
"Boleh ya Bu?" tanyaku.
"Ya boleh atuh, di sana juga ada air terjun dekat sama rumah saya." jelas Bu Inem, semakin buatku bersemangat, apalagi ada air terjun.
"Ayo Bu, berangkat." ajakku, tanpa basa-basi lagi.
"Serius neng?"
"Iya Bu."
"Ayo-ayo." turun Bu Inem dari atas pondok. "Aku duluan ya, ngajak neng Zahra." ucap Bu Inem melihat Pak Paijo, Bu Tukiyem, Pak Agung, Boby, dan Bu Ninik.
"Kami juga mau pulang, entar besok lagi." ucap Bu Tukiyem, mengikuti turun dari atas pondok.
"Ayo kita pulang kerumah masing-masing." ucap Pak Agung.
"Iya, ayo." jawab Bu Ninik.
"Ayo Neng Zahra, ikut Ibu." ajak Bu Inem, mulai berjalan.
__ADS_1
"Iya Bu." mengikuti jalannya.
Bersambung...