Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Chapter 101 Pemandian Air Panas


__ADS_3

Tak terasa sudah satu minggu kami di Bali.


Aaaaah..


Rasanya bahagia banget gue di sini, perlahan bangun langsung melihat dari kaca suasana pantai dan alam sekitarnya.


Malas-malasan dari sini enak banget.


"Ra, mandi air panas yuk di lantai bawah." ajak Falisha yang terdengar di belakang gue.


Melihat Falisha. "Ada ya, pemandian air panasnya?" gue baru sadar di kamar hanya ada gue dan Falisha. Kami sengaja menyewa satu kamar berisi 6 orang.


Agar enak aja gitu berkumpul bersama-sama.


"Ada, Ra. Mika, Ibu, Oma, Hanum udah di sana. Melihat kamu masih tidur, jadi mereka duluan."


"Tama sama Amel mana?"


"Ada di ruang bermain sama Bi Tuti."


Gue baru ingat ada beberapa asisten rumah tangga yang juga di ajak berlibur tapi beda kamar.


"Gue siap-siap dulu."


"Pakai aja, pakaian dalam, handuk kimono lengan panjang dan hijab. Di sana hanya ada kita aja. Khusus di sewa Oma."


"Asyik..." bahagiaku. "Iya udah tunggu bentar."


Falisha sudah siap duluan.


Beberapa detik aja gue udah selesai.


"Ayo..." ajakku.


"Hmmm!"


Ceklek!


Dup!


Jalan keluar ruangan, terlihat banget banyak bule-bule ganteng.


"Boleh pilih nggak?" candaku pada Falisha.


"Boleh! Sudah pilih Mas Abyan langsung datang." jawab Falisha.


"Mas Aziz nggak?"


"Pasti itu, ikut."


"Hahaha...." kami tertawa bersama.


"Mumpung nggak di lihat siapa-siapa, Sha." goda gue.


"Iya nggak di lihat siapa-siapa. Tapi Cctv tetap menyala."


"Hah... Berarti di ruang pemandian?" takutku yang lagi seksi terlihat semua.


"Aman!" jelas Falisha tersenyum.


"Yakin ya? Dilihat orang, dosa gue di tanggung elu." candaku.


"Hitung aja." senyum Falisha.


Ceklek!


Dup!


Gue melihat ruangan begitu nyaman, di sana.


Ceklek!


Dup!


Kami masuk kedalam ruangan lagi yang sudah melihat Oma, Ibu, Mika, dan Hanum berendam menggunakan pakaian bekini.


"Ayo, Ra. Turun." ajak Oma.


Falisha udah turun aja melepaskan handuk.


"Seger, Ra. Ayo jangan melamun."


"Ah iya."


Gue melepaskan hijab dan melepaskan handuk.


Perlahan turun. Aaaahh segernya.


"Ra, gue perhatiin. Elu kok tambah gemuk ya?" ucap Mika berhadapan dengan gue.


Melihat Oma, Ibu, Falisha, Hanum melihatku juga.

__ADS_1


"Iya, Mbak. Elu yang dulu seperti gitar spanyol. Kenapa jadi piano gini?" canda Falisha benar adanya.


Gue tersenyum-senyum. "Gimana nggak bulat tubuhku. Nonton film sambil makan, Beres rumah sambil makan, nyiram tanaman sambil makan, di tambah nulis naska-"


"Makan." ucap serentak Oma, Ibu, Falisha, Mika, Hanum.


"Hahaha... hahaha.." kami semua tertawa serentak.


"Gila banget, makan terus. Nggak kenyang tuh perut?" ucap Mika.


"Gimana lagi? Orang dirumah aja." belaku yang benar adanya.


"Nggak juga makan terus kali, Mbak. Iya udah kita olahraga sudah ini." ucap Falisha.


"Nggak lucu, Mbak. Sudah makan berendam, terus olahraga." ucap Hanum.


"Iya juga sih! Besok aja kalau gitu pagi-pagi." ucap Falisha.


"Eh rencana Oma, besok malam mau bikin acara." jelas Oma membuat kami semua terkejut.


"Acara apa, Ma?" tanya Ibu Sari.


"Kalian mau nggak, kita undang boyband asal negeri ginseng kesini? Lagian mereka mau menghibur kita. Apalagi sekarang lagi naik daun musik-musik mereka." ucap Oma sambil tersenyum-senyum.


"Aaaaaa... Mau..." teriak Falisha, Mika, dan Hanum.


"Ingat pada suami yang kerja." ucap Ibu Sari.


"Biarkan, RI. Mereka kerja, lagian nggak tau juga. Kalau mereka tau, sekalian buat cemburu." jelas Oma membuat kami semua tersenyum-senyum.


"Oma terbaik. Lagian ya, kita juga cuci mata di sini. Kalau nggak ingat ada suami, udah dari tadi aku kencan buta, sama bule-bule di sini." ucap Hanum.


"Gue angkat ke-dua jempol untuk elu." ucap Falisha.


"Kenapa nggak sekarang aja?" canda Hanum.


"Ada Cctv, nggak bisa." ucap Falisha.


Gue jadi penasaran ada apa di Cctv.


"Emang kenapa sih, di Cctv?" tanyaku langsung.


"Fadel." ucap Falisha santai.


"Apa?" terkejut gue. "Ngapain?"


"Mamas udah cerita belum ke elu?" tanya Falisha.


Semuanya pada mengangguk.


"Kalian sudah tau dari awal?"


Semua mengangguk kembali.


"Tega banget kalian?" entah kenapa gue merasa kesal.


"Bukan kami semua nggak mau ngasih tau, Ra. Tapi lebih enaknya agar Abyan sendiri yang menjelaskan, agar tidak terjadi kesalahpahaman." jelas Oma ada benarnya.


"Hmmm! Iya Oma."


"Ibu harap, kamu percaya pada Abyan." ucap Ibu Sari.


"Iya, Mbak. Percaya pada Mamas, jika dirinya berani selingkuh, gue yang paling depan mukul Mas Abyan. Bila perlu kita buang drinya ke Antartika." ucap Falisha membuat gue tersenyum-senyum.


"Nanti elu nangis, kalau Mamas di sana." candaku.


"Buat apa nangis?" sambung Hanum.


"Lagian angkasa earld group, ada Ayah dan Mas Aziz yang bisa kerjakan semuanya." jelas Falisha.


"Kalian berdua, kalau buat masalah bisa ya?" ucap Ibu Sari terlihat gemas dengan Falisha dan Hanum.


"Secara, Bu. Kita ini perempuan, ya pasti membela perempuan. Apalagi suami selingkuh. Bisa gue mutilasi." ucap Hanum.


"Betul banget ucapan elu. Gue setuju banget." sambung Falisha.


"Kamu jangan sedih, jika Abyan selingkuh. Oma yang langsung mutilasi Abyan." canda Oma membuat kami semua tersenyum-senyum.


"Hmmm, baik banget kalian semua." gue sungguh terharu.


"Tenang, kami semua ada selalu untukmu, Mbak." ucap Falisha memegang bahuku.


"Terimakasih semua." hanya itu yang bisa gue ucapkan.


Semuanya menganggukkan kepala dengan tersenyum.


"Gimana kalian bertiga, sudah ada tanda-tanda belum, secara sudah lama kalian menikah?" tanya Oma.


"Ah, kalau aku gagal Oma." ucap Falisha.


"Gagal gimana?" tanya Oma.

__ADS_1


"Kemarin selesai datang bulan." jelas Falisha.


"Sama gue juga." ucap Mika.


Semuanya melihat gue.


Gue bingung mau jawab apa?


Hanya bisa tersenyum-senyum, kurang nyaman.


Gue memang sudah jalan 4 bulan belum datang bulan. Entah hamil, entah pengaruh hormon. Lagian juga nggak ada tanda-tanda juga. Paling kalau sebulan ini belum juga haid, rencana langsung ke dokter kandungan aja.


"Jadi gagal semua?" tanya Oma.


Kami semua menganggukan kepala.


"Nggak ada rencana mau progam gitu. Secara usia kalian bertiga udah masuk kepala tiga loh." ucap Oma.


"Gimana mau program, Oma? Mas Aziz aja jarang pulang." jelas Falisha terlihat sedih.


"Elu, Mik. Mas Idriskan dokter, sekalian aja program ke rumah sakit." ucap Falisha.


"Entar gue coba, tanya sama Mas Idris." jawab Mika.


Semua kembali melihat gue.


Gue hanya tersenyum-senyum.


"Udahlah gue nggak butuh penjelasanmu, Mbak." ucap Falisha yang kondisinya sama dengannya.


"Tapi beda." jawabku.


"Jangan bilang elu?" ucap Mika.


"Bedanya, kondisi gue-"


"Mbak, hamil." ucap Falisha.


"Belum selesai gue jelasinnya." gue merasa kesal.


"Bedanya apa?"


"Bedanya kondisi gue belum haid." jujurku yang benar adanya.


"Apa?" teriak mereka semua yang terkejut. Jujur jantung gue hampir lepas.


"Sejak kapan?" tanya Oma.


Gue mengangkat tangan berbentuk 4 jari, Hampir memasuki 4 bulan.


"Serius, Mbak?" tanya Falisha.


Gue hanya menganggukkan kepala.


"Ayo kita ke Dokter." Oma langsung berdiri.


"Tapi Oma, bisa ajakan ini masalah hormonal." jelasku. "Soalnya akhir-akhir ini, aku sedikit stres." jujurku apa adanya.


Oma duduk kembali. "Tapi, Ra. Perut kamu aja berbeda banget." Oma melihat perutku.


"Coba berdiri." Falisha mengangkat tanganku.


Gue ikut berdiri.


Mereka semua memperhatikan perutku dengan teliti.


Sumpah gue malu di lihatin mereka, walaupun sesama perempuan.


"Sepertinya hamil deh." ucap Hanum.


"Iya, deh." jawab Mika.


Gue langsung duduk. "Udah aku malu. Nanti kita lihat setelah habis bulan ini." putusku


"Tanda-tanda hamil, ada nggak?" tanya Oma.


"Itulah Oma yang menjadi masalahnya. Aku nggak ngerasain apa-apa. Biasa aja gitu. Nggak ada mual, pusing, apalagi muntah." jelasku memang benar adanya.


"Bisa jadi pengaruh hormon elu nggak haid." ucap Mika.


"Makanya, habis bulan ini aja. Rencana langsung ke dokter kandungan."


"Hmmm! Untuk sementara hati-hati, Ra. Siapa tau cucuku ada di situ."


"Hmmm! Iya, Oma."


Gue mengelus perut, apa gue beli alat tes kehamilan aja kali ya? Untuk jaga-jaga.


Entarlah gue, beli.


Semuanya terlihat tersenyum-senyum dan santai kembali.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2