Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 36 Viral


__ADS_3

Tok tok tok.


Suara ketukan terdengar sesaat habis sholat isya, berdiri menghampirin pintu, ragu ingin membukanya. Takut dengan dugaan gue yang tidak tau kebenarannya. Dari pada berpikir yang tidak-tidak lebih baik gue bertanya. Apapun yang terjadi gue terima, mati secara konyol gara-gara menduga Mas Abyan seorang mafia, dari pada seuzon mendapatkan dosa lebih baik, mati sia-sia. Jangan sampai terjadi juga, masih mau menikmati hidup guenya.


Membuka pintu, yang terus di ketuk Mas Abyan. "Ada apa Mas?" tanyaku melihat dirinya berpakaian rapi, dengan gaya rambut classic fringe haircut.


Masa kalau mafia ganteng ke lugu gini sih? Tapi 'kan wujudnya mafia kalau nyamar berbeda-beda.


Pikiran gue ni, benar nggak sih?


"Bersiaplah kita makan di luar." ajaknya dengan tersenyum.


"Iya Mas, bentar lagi aku siap."


Mas Abyan jalan ke arah sofa, sedangkanku menutup pintu dan menguncinya kembali. Mengganti pakaian.


Keluar menemuin Mas Abyan.


"Yuk Mas." ajakku melihat Mas Abyan fokus ke layar televisi.


Melihat televisi juga. Perempuan cantik, yang ku temui tadi siang, tepatnya istri Bang Doni, sedang di kawal pihak berwajib memakai masker, penuh dengan cahaya lampu, sibuk mengambil foto dirinya.


"Saya Nia Daniaty, meminta maaf pada Zahra Aneska. Telah melakukan tindakan tak pantas, memukulnya dengan sangat kuat." hentinya sebentar, mengelap air mata yang mengalir. "Saya tidak akan melakukannya lagi, saya bersalah telah menuduh dan berucap kasar." muncul video cctv di restoran tadi, dengan wajah gue yang di blur tidak terlihat, di tampar kuat olehnya.


Melihat Mas Abyan, meremas remote televisi dengan kuat. Tatapan pembunuh gue sebut begitu.


"Mas, mafia ya?" tanyaku spontan.


Mas Abyan melihatku, perlahan senyum kemudian tertawa.


"Mas, aku bertanya serius." ingin gue tau tinggi, malah di tertawakan. Tau nggak Mas, butuh keberanian tinggi gue nanya, sampai-sampai mengorbankan nyawa.


"Mafia apa, Ay?" tanya Mas Abyan polos.


"Serius Mas?"


"Kamu beranggapan Mamas mafia?"


"Iya Mas, habis tadi siang kata Mamas kalau mereka masih mengganggu, akan mati." kerutan alisku yang takut salah kata.


Mas Abyan tertawa hebat, memegang perutnya, sama banget seperti Falisha kalau tertawa seperti itu.


"Mamas bercanda, Ay." ucapnya selesai tertawa.


Mengeluarkan nafas legah, ternyata salah duga.


"Maaf, Mas." merasa bersalah menuduh yang bukan-bukan dengan takut berlebihan. Percaya nggak percaya sih sebenarnya.


"Nggak apa-apa." senyumnya sambil berdiri. "Yuk berangkat." ajaknya.


"Mas." ingatku dengan rencana besok pagi.


"Kenapa, Ay?" inginnya berjalan, berhenti kembali melihatku.


"Itu Mas, besok pagi aku di suruh ke rumah Ibu masak bersama, terus siangnya ke hotel menginap di sana, soalnya sahabatku Mika ulang tahun. Mamas jangan berpikiran negatif, entar aku kirim fotonya tanda bukti, boleh nggak Mas?" takut Mas Abyan berpikiran yang tidak-tidak.


Mas Abyan hanya tersenyum, menganggukkan kepalanya.


Keluar dari apartemen Mas Abyan nyetir mobil, sedangkanku membuka handphone melihat sebuah aplikasi. Sebuah video viral, masalah tadi siang.


Lebih anehnya bukan gue dan si Mbak Nia yang viral, lihat ke Mas Abyan.


Huuuf!


Telitinya netizen, kalau lihat laki-laki ganteng dikit, apalagi banyak seperti Mas Abyan.


Komentarnya pun membahas gue dan Mbak Nia bisa di hitung dengan jari, lihat ke Mas Abyan. Kenapa yang di bahas, suami gue?


"Kenapa, Ay?" liriknya sebentar.


"Mas, viral." cemberutku.


"Jangan di pikirin, Ay. Netizen memang begitu. Perkataan mereka memang sedikit pedas, dengan perjalanan waktu semua akan hilang, sabar ya Ay." kiranya Mas Abyan gue yang jadi bahan pembicaraan.


"Yang viral bukan aku loh, Mas?" jelasku.


"Maksudnya?"


"Yang viral itu kamu, Mas?"


"Apa?" berhentinya di pinggir jalan. "Mana Mamas lihat." mengambil handphoneku tanpa permisi.


Senyumnya. "Nggak apa-apa, Ay. Jangan aja kamu." menyerahkan lagi handphoneku.


"Masalahnya, kita mau makan di luar Mas. Kita bukan makan, malah di ke rumuni para fans Mamas."


Nyetirnya kembali. "Kalau begitu, pakai masker."


"Kelihatan Mas."


"Enggak, Ay!"


"Kalau kelihatan gimana? Mamas di kerumuni fans, aku pulang ya?"

__ADS_1


"Janganlah, kamu pulang naik apa?"


"Taxi 'kan banyak, atau pesan ojek online."


"Jangan gitulah Ay, masa pergi sama suami sendiri, pulang sama suami orang." jawab Mas Abyan membuatku tersenyum, ada benarnya juga.


"Tapi Mas, kalau yang masih jomblo nggak apa-apakan." candaku.


"Udah nganterin kamu, Mamas cegat."


"Kenapa gitu?"


"Mamas bawa ke pihak berwajib."


"Kenapa?"


"Bawa kabur istri orang."


Hahahaha... Kami berdua tertawa bersama.


"Kasihan Mas, yang jadi ojolnya."


"Kenapa?"


"Pergi nggak apa-apa, pulang masuk penjara."


"Nggak Ay, Mamas bercanda. Jadi kita makan di mana?"


"Mamas mau nggak, kita makan pecel lele pinggir jalan?" ajakku.


"Katanya takut di kerumuni fans."


"Sudah aku bilang, kalau Mamas di kerumuni, aku pulang."


"Nggak kasihan sama Mamas?"


"Nggak." candaku mengulum senyum.


"Iya udah kita makan di sini." Mas Abyan memarkirkan mobil.


"Mas nggak apa-apa makan di sini?" takutnya Mas Abyan terpaksa.


"Mamas udah bilang, kamu suka Mamas suka." melepaskan sabuk pengaman.


Hanya bisa mengulum senyum terus-menerus, Mamas kalau ngerayu bisa ya, curiga gue.


Kami menunggu pesanan, Mas Abyan memakai masker. Di lirik para pengunjung sana sini.


"Kenapa sayang, pakai ini masih terlihat ya?" berbisik di telingaku.


Mas Abyan suka banget, bikin gue lumer tiap hari.


"Mas idol ya?" duduk tiga wanita cantik di hadapan kami.


Mulai 'kan, pergi ajalah dari sini. Saat berdiri, tanganku di pegang Mas Abyan.


"Mau kemana, Ay?"


Melihat tiga cabe-cabean, di hadapan kami.


"Bawa pulang aja Mas, aku mual." kesalku.


"Anak kita nggak mau makan di sini ya sayang?"


Gila banget Mas Abyan, gue mual ngeliatin tiga cabe-cabean bukan sedang mengandung anak jin.


"Iya Mas." mengikutin permainan.


"Bang, mau dong jadi istri ke-dua." kedipnya.


Kami berdua melihat ke arah mereka, dengan mengerutkan alis.


"Mas di tawarin tuh." ucapku di telinga Mas Abyan.


"Jangan, Ay. Satu m aja sulit, mau dua." jawab Mas Abyan, bikin gue hareudang aja.


Lu kira gue nyusahin gitu. Pisah nggak mau, ngajak berantem tiap hari, bikin ilfeel gue aja bisanya, mau Mas Abyan apaan sih?


"Biasanya Bang, istri sedang mengandung nggak bisa puas bermainnya." ucap wanita satunya lagi.


"Kami bertiga bisa kok Bang," sambung yang satunya lagi.


Menginjak kaki Mas Abyan. "Aw sakit Ay."


"Masuk Mas ke mobil, aku mau bungkus aja bawa pulang." tegasku, nunggu Mas Abyan lama, pakai acara dengarin tiga cabe merah.


"Iya, Ay!" berjalan ke luar dengan cepat, dirinya langsung di kejar tiga wanita tadi.


Berjalan menghampirin yang lagi masak. "Mas, yang kami tadi di bungkus ya. Nggak jadi makan di sini."


"Oh iya, Mbak." jawabnya ramah.


"Makasih ya Mas, maaf ngerepotin." balasku.

__ADS_1


"Iya Mbak nggak apa-apa?" balasnya lagi.


Mungkin mereka lihat kali ya, perseteruan istri sah dan tiga pelakor. Bagus juga, kalau gue bikin film judulnya itu.


Senyumku berjalan memegang kantong plastik hitam berisi nasi dan lauknya. Lihat ke mobil Mas Abyan, ternyata sudah di kerumuni banyak wanita. Apa yang di ucapkan tadi, ternyata benar?


"Minggir..." teriakku kesal.


"Ih Mbak ngantri dong, nggak usah main curang. Telinga kami sakit tau, main teriak aja." ucap perempuan berambut merah.


"Tau nih, hijab aja di pakai, kalau lihat yang bening, hijabut." ucap perempuan cantik berambut hitam di bawah bahu.


"Apa hijabut?" tanya perempuan di sampingnya lagi.


"Hijab di cabut, hahaha..." tawanya puas ngatain gue.


"Pergi sana, Mbak!" gue di dorong perempuan yang sebelahnya lagi.


Mau marah, nggak bisa lawan. Benar deh ucapan gue tadi, pesan ojol atau taxi aja, nggak pulang-pulang gue begini.


Masuk aja nggak bisa, ibarat tuh mobil bunga, pinggirannya lebah yang buntutnya bentar lagi gigit.


Mengambil handphone menelepon Mas Abyan.


"Minggir..." teriak Mas Abyan, keluar dengan wajah dinginnya. Di lihat bukan seram Mas, tambah memikat.


Lebah tadi sibuk memegang, melempar, menyentuh, bentar lagi buntutnya menyengat Mas Abyan.


Tibalah beberapa mobil pihak berwajib datang, menarik mereka satu persatu.


Gue masih berdiri memegangin handphone melihat Mas Abyan bagaikan bintang terkenal, emang terkenal si. Jalan ke arahku.


"Ay, masuk!" tariknya tangan gue ke dalam mobil.


Wanita yang mengerumuni Mas Abyan semua berteriak-teriak, mirip banget suara lebah yang bunyinya berdengung di telinga.


Kami berdua berhasil masuk, kemudian berjalan meninggalkan tempat.


"Kamu nggak apa-apa 'kan, Ay?" cemasnya sambil melihatku.


"Nggak apa-apa, Mas." jawabku santai.


"Benar ya, Mas. Ucapan adalah doa." senyumku.


"Kita nggak berdoa Ay, memang salah di Mamas." ucapnya bersalah.


"Salah Mamas apa?" bingungku.


Senyum manis Mas Abyan. "Terlalu ganteng."


"Kata siapa?"


"Tadi banyak yang bilang." ucapnya percaya diri.


Memang benar sih, nggak ada yang salah.


"Mas beli es tebu di sebelah sana." tunjukku, saat melihat ada tempat jualan tebu, sebelah kiri.


Mas Abyan membawa mobil berjalan pelan tibanya berhenti. "Mamas mau nggak?" tawarku.


"Enak nggak, Ay?" penasarannya.


"Rasanya seperti manis gula Mas, mau nggak?"


"Di tambah gula ya, Ay?"


"Nggak, emang dari tebunya udah manis."


"Iya Ay, Mamas mau coba."


"Oke!"


Mas Abyan membuka sabuk pengaman. "Mamas mau kemana?" gue yang mau beli.


"Mamas mau beli es tebu."


"Udah aku aja, Mamas di mobil, diam di sini." cegahku.


"Jangan Ay, tadi kamu beli makanan. Biar Mamas aja." ngototnya.


"Kalau Mamas yang keluar, mau seperti tadi? Aku langsung pulang loh Mas." jelasku.


"Jangan Ay, iya udah kamu yang beli." mengambil dompet, mengeluarkan uang lima ratus ribu di berikan padaku.


"Nggak ada uang kecil, Mas?"


"Nggak ada Ay, emang berapa?"


"Paling lima ribu, satu bungkus, bukan lima ratus ribu. Dah uang aku aja." keluar dari mobil,


"Tapi, Ay." ucap Mas Abyan nggak gue jawab, bawa uang lima ratus ribu beli es tebu, mau beli satu apartemen apa?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2