Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 56 Akibat Alkohol


__ADS_3

Tok tok tok.


Ceklek!


"Masuk, Ra." Falisha menyambut dengan wajahnya meringis kesakitan, sedangkan ku menutup.


"Assalamu'alaikum dulu, kebiasaan deh elu."


"Iya maaf lupa, Waalaikumussalam." jawab Falisha, dengan kembali berjalan pelan-pelan.


"Elu kenapa, Sha?" membantunya berjalan dan duduk di atas ranjang berdekatan dengan Mika, melihat Mika juga seperti menahan sesuatu. "Kalian berdua kenapa?" rasa penasaran gue semakin meningkat. "Kalian habis kecelakaan? Kenapa nggak kerumah sakit aja?" masih berdiri di hadapan mereka berdua.


"Lebih baik elu duduk dulu." perintah Mika.


Langsung duduk di kursi menghadap mereka berdua.


"Kami berdua habis buka segel." jawab Falisha.


"Apa?" terkejutku dengan berdiri langsung. "Kenapa bisa terjadi? Kalian diam-diam menyimpan gigolo ya?"


"Aduh Ra, elu duduk dulu dengarin gue selesai bicara." ucap Falisha.


"Syok tau gue." duduk kembali.


"Semalam kami berdua ngedate bersama tapi posisinya beda tempat gitu, gue dan Mika beda meja. Kami berdua yang enggak sabaran menunggu kepastian hubungan, berencana untuk langsung aja mengungkapkan isi hati."


"Terus?"


"Terus mereka berdua menolak."


"Apa? Jangan bilang."


"Duh elu bisa nggak sih diam dulu, dengar penjelasan Falisha." Mika bersuara.


"Ah iya, terus?"


"Kemarin malam kami berdua benar-benar merasakan patah hati sedunia, Mas Aziz beralasan nggak menerima karena posisi kami berbeda derajat. Semua yang kalian pikirkan benar adanya, tapi soal perasaan dirinya mengakui tidak mempunyai itu, sedangkan Mika di tolak gara-gara Chef Angga masih mencintai kekasihnya."


"Terus?" semakin penasaran.


"Terus kami berdua ke club' malam minum alkohol."


"Gila kalian berdua, patah hati itu shalat minta sama yang maha kuasa agar di bukakan jalannya. Bukan ke bioskop mabuk-mabukan, terus elu berdua di perkosa gitu setelah mabuk, akibat alkohol?" kesal banget melihat Falisha dan Mika nyari masalah aja.


"Maaf, kami berdua benar-benar khilaf."


"Bukan sama gue, sama Tuhan shalat taubat kalian lepas ini." hipertensi gue dengar beginian. "Jadi laki-laki yang buka segel kalian gimana tanggung jawab nggak atau ninggalin kalian di kamar?"


"Mereka tanggung jawab kok." jawab Mika.


"Siapa? Mana orangnya?"


"Lu diam dulu, gue jelasin secara detail. Oke!" ucap Falisha.


Membuang nafas kasar. "Hmmm!" terpaksa mengikutin arahan, gue nggak sabaran mendengar penjelasan Falisha.


"Saat gue dan Mika mabuk, gue masih bisa melihat layar handphone rencananya mau nelepon elu, tapi kepala gue yang berputar-putar meminta pelayan yang berdiri di Bar, menelepon nomor yang ada di situ. Sisanya gue nggak sadar lagi, saat bangun udah merasakan perih di bawah sana di tambah kepala gue masih pusing akibat alkohol." Falisha menarik nafas kemudian di buang, terlihat dirinya merasa tertekan.


"Setelah bangun gue baru sadar di peluk laki-laki, dengan tubuh gue yang hanya tertutup selimut, gue langsung melihat siapa laki-laki itu ternyata Mas Aziz." senyumnya.


"Berarti Elu Mik, buka segel dengan Chef Angga?" menunjuk Mika.


"Bukan?" teriak Mika menahan sesak di dada.


"Apa? Siapa?" berdiri, terkejut.


"Mas Idris." jawab Falisha.


"Apa?" memegang kepala rasanya di dalam otak gue berdenyut-denyut hebat di dalam sana.


"Terus mereka tanggung jawab nggak?"


"Hmmm, mereka akan menikahi kami berdua secepatnya." jawab Falisha.


"Elu enak sama sang pujaan hati, sedangkan gue sama orang yang menyukai sahabat gue hiks hiks hiks." tangis Mika pecah.


Berjalan langsung duduk di samping Mika. "Tapi Dokter Idris udah tau Mik, kalau gue istri Mas Abyan."


Mika berhenti menangis. "Kok bisa?"

__ADS_1


"Mas Idris bisa di katakan keluarga dekat gue. Gini ibarat dari silsilah keluarga Oma gue tuh punya adik laki-laki kami memanggilnya Paman Andrean dan Bibi Dasmira, anaknya itulah Mas Idris ada lagi adiknya juga cowok Mas-" berhenti Falisha.


"Kenapa elu berhenti?" kepoku.


"Udah gue pusing mikirnya, itu entar aja sekarang ini gue harus apa? hiks hiks hiks. Pasti Dokter Idris masih mencintai elu, Ra."


"Katanya udah move on." jawabku.


"Apa? Tapikan bisa aja itu hanya settingan agar terlihat nggak apa-apa di hadapan elu."


"Iya juga ya! Tapi elu jangan pesimis gue juga berada di posisi itu saat ini."


"Maksud elu?"


"Lebih baik elu tanya sama Falisha aja lain kali, sekarang ini lebih baik pikirkan kalian dulu."


"Kami berdua udah diskusi jalan keluarnya menikah." jawab Falisha.


"Kalian lucu ya buka segel baru bisa nikah." sempatku canda.


"Iya sih kenapa nggak dari dulu?" balas Falisha.


"Gila lu Sha, enak di elu guenya enggak." berdiri Mika. "Aw..." kembali duduk meringis kesakitan.


"Sakit banget ya Mik?" kepo gue.


"Elu belum juga buka segel?" tanya Mika.


"Belum!"


"Bohong kali?" sambung Falisha.


"Kalau kalian nggak percaya, ayo kita ke dokteran kandungan melihat gue masih virgin nggak."


"Kalau begitu elu udah nggak waras." ucap Mika.


"Benar banget, lu ke Dokter dulu di lihat ada gejala phobia nggak sama laki-laki." ucap Falisha.


"Ih bukan gue phobia, kalian ‘kan tau gue ini menjomblo delapan tahun lamanya, pacaran aja hanya sama Abang Doni."


"Sekarang lu sama Mamas gue masih teman?" tanya Falisha.


"Terus, kalian nggak lanjut mesrah gitu di kamar, udah pacaran."


"Gue yang bilang sama Mas Abyan ingin pacaran dulu belum mau mengandung."


"Iya ‘kan bisa di tunda kehamilannya dengan berbagai cara." ucap Mika.


"Kalian berdua kelewat mesum, jadinya begini nih buka segel duluan." jelasku balik menceramahi. "Benarkan doa kalian waktu ngatain gue agar cepat unboxin ternyata, balik ke kalian. Makanya jangan pernah berdoa yang enggak-enggak, semuanya sudah ada jalannya."


"Iya ustadzah." jawab serentak Mika dan Falisha.


"Tapi Ra, kenapa gue berpikir elu sepertinya masih meragukan Mas Abyan ya?" ucap Falisha.


"Iya ya, di mana orang udah bersuami istri apalagi berpacaran seperti kalian berdua pastilah luapan emosi ingin menghabiskan waktu bersama dengan berbagai macam begituan." sambung Mika.


Sepertinya benar apa kata Mika dan Falisha, gue masih meragukan Mas Abyan.


"Lu masih ragu ‘kan, Ra?" tanya Falisha.


"Hmmm, mungkin."


"Saran gue, elu coba cari kebenaran dengan cara tanya matan Pak Abyan gitu, secara kaliankan udah nikah, pasti kalian masing-masing punya mantan di masa lalu." jelas Mika memberi solusi.


"Hmmm benar Ra, apa kata Mika. Di coba aja dulu." ucap Falisha.


"Hmmm, entar gue coba. Oh ya, gue jadi ke ingat dengan Mas Abyan waktu sama Siska." mengalihkan ke pembahasan lainnya.


"Siapakah itu Siska, gue kok nggak tau?" penasaran Mika.


"Elu bukan keluarga besar Angkasa Earld Group, jadi kalau elu udah nikah, elu bakalan tau silsilah keluarga gue, entar gue jelasin kalau udah nikah sama Mas Idris." jelas Falisha.


"Oh gitu ya."


"Hmmm, benar banget." sambungku. "Eh kalau di pikir-pikir benar ya kata pepatah."


"Apa?" tanya Falisha.


"Kucing nggak akan pernah nolak kalau di kasih ikan."

__ADS_1


"Maksudnya?" tanya Mika mungkin bingung dengan ucapanku.


"Coba kalian perhatikan Mas Abyan, Pak Aziz dan Dokter Idris, mereka ‘kan laki-laki terlihat cool, killer, dingin. Di kasih yang begituan lupa kacang dengan kulitnya."


"Itu namanya normal kali, Ra." ucap Falisha.


"Iya sih! Oh iya kalian kalau nikah, jangan hari yang sama ya, susah mau berbagi, kalau bisa satu gedung aja."


"Menurut elu gimana Mik?" tanya Falisha.


"Entar gue diskusi dulu sama keluarga gue."


"Hmmm, diskusilah kalian berdua. Eh baru ingat, elu hari minggu jadi menghadiri acara pernikahan mantan lu."


"Haruslah Mik, ajak Mas Idris aja." sambung Falisha.


"Iya hadir tapi sama kalian, bukan sama Pak Dokter. Gue nggak sedekat itu juga kali, hanya khilaf aja semalam, sisanya masih belum tau."


"Itukan calon suami elu." ucapku.


"Iya calon suami dadakan, itu pun nggak tau kami berdua bertahan selamanya atau berpisah nantinya."


"Elu lupa keluarga gue menentang perceraian dan beristri lagi." ucap Falisha terlihat kesal.


"Udah resiko kita berdua." ucapku.


Mika menghembuskan nafas kasar. "Terserahlah gue pasrah aja, yang penting entar ke acara tetangga gue lu berdua yang temani gue titik."


"Mik gimana kita ke acara mantan elu pakai helikopter, gue pernah lihat di film si cewek datang menghadiri acaranya mantannya pakai itu balas dendam. Kita juga yuk, datangin mantan elu pakai helikopter, biar hancur semua seperti hati elu yang di hancurkan berkeping-keping." Falisha memberi solusi.


"Ah solusi yang bagus itu Sha, biar semua tak tersisa, balas tuh cowok yang suka banget nyakitin hati elu."


"Kalian gila ya, itu tetangga gue dekat rumah yang di nikahinya. Nanti bisa-bisa keluarga gue di demo."


"Masa bodoh mau tetangga elu, yang penting balas dendam lu Mik, jangan menganggap elu mudah di permainkan. Elu jugakan sama gue dan Zahra datangnya, kalau mereka berani datangin elu, bilang ke gue. Kapan lagi balas dendam sama mantan." ucap Falisha. "Setuju tanda tangan di telapak tangan gue." merentangkan telapak tangan.


"Gue setuju." ucapku.


"Okelah, gue juga setuju."


"Oke kita bertemu pagi-pagi habis shalat subuh di apartemen gue tempat biasa, kita siap-siap di sana. Udahnya kita pergi ke tempat yang entar gue siapkan untuk naik helikopternya."


"Tapi Sha, kalau gue pagi-pagi ke luar Mas Abyan entar-"


"Udah jujur aja, dia bakal ngerti."


"Serius lu, jangan aja gue tambah nggak boleh."


"Serius, gue adiknya tau sama sifat Mamas gue."


"Okelah kalau gitu, kalau nggak boleh, resiko kalian."


"Sip!" balas Falisha.


"Dah sekarang gue mau balik ke kamar, belum makan. Oh iya, bekas tidur kalian gimana?" ingatku pada noda.


"Udah nelepon pelayan langsung! Elu tau ‘kan hotel ini punya siapa? Gue ancam mereka, kalau menyebarkan gosip keluar, habis mereka sampai tujuh keturunan." ucap Falisha.


"Serem banget elu?"


"Biarin Ra, itu privasi kita. Awas aja mereka gosip." sambung Mika. "Oh ya, elu gantiin masuk sore ya, malam baru gue masuk. Mau istirahat dulu ngilangin sakitnya, biar enak jalan."


"Sesakit itu ya Mik?"


"Tapi nikmat, coba aja kalau nggak percaya." sambung Falisha.


"Entar tunggu ada kepastian."


"Lama."


"Terserah gue, mau lama enggaknya."


"Udah terserah elu aja, sekarang elu mau nggak gantiin gue?" Mika menengahi.


"Iya mau! Kalian minum obat pereda nyeri aja dulu, minta sama pelayan beliin. Gue balik ke kamar dulu, entar raja hutan marah."


"Hmmm!" mereka menjawab serentak.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2