
"Mana Zahra?" suara teriakan terdengar jelas saat gue di dalam kamar pasien.
Semua keluarga pasien juga mulai keluar melihat suara yang memenuhi ruangan.
"Sus, sepertinya ada yang mencari anda di luar." ucap salah satu keluarga pasien mendekati, mungkin dirinya melihat nama di pakaian yang gue gunakan.
"Oh ya, Bu." jawabku melihat Ibu tadi. "Bu ini besok lagi ya kita ganti perbannya." ucapku pada pasien yang terbaring di atas ranjang.
"Iya Sus, terimakasih." ucapnya masih lemah.
"Iya Bu sama-sama, cepat sembuh."
"Iya Sus."
"Permisi." berjalan ke arah pintu, rasanya kenal dengan suara wanita yang mencari gue.
"Mana Zahra?" masihnya berteriak membuat orang di sekitar melihat ke arahnya.
"Permisi." melewati orang -orang yang berkumpul.
Melihat Siska berdiri di depan meja keperawatan. "Ada apa, Sis?" mendekati Siska.
"Dasar pelakor lu ya." menunjukku.
Nggak kebalik yang pelakor siapa?
Tangan Siska gue turunin. "Lu kalau sakit jiwa bilang ya? Di sini ruang cempaka satu penyakit dalam, bukan khusus penyakit jiwa. Di sebelah ruangan psikolog khusus buat elu."
"Elu udah ambil suami gue." masihnya menunjuk.
"Suami elu yang mana? Ayo ke dalam ruangan, gue mau dengar cerita elu, di sini banyak pasien lagi sakit setidaknya pikirkan mereka."
"Gue ke sini hanya bilang jauhi suami gue."
"Udah Ra, nggak usah di dengarin." ucap Mika mendekat.
"Elu nggak usah ikut campur ya." Siska menunjuk Mika.
"Siapa dia, Ra?" penasaran Mika.
"Ini dia yang namanya Siska, orang gila yang salah alamat."
"Apa kata elu? Enak aja ngatain gue gila."
Plak!
Menampar pipi gue,
Enak banget lu ya nampar gue.
Plak!
Menampar pipi Siska.
"Elu..." menarik hijabku.
Gue tarik rambut Siska kuat-kuat.
"Lepas..." teriak Siska.
"Elu juga lepas." untung gue memakai hijab langsung.
__ADS_1
Kraak!
"Aaaaa..." teriak Siska saat rambutnya terlepas segenggam tanganku. "Zahra..." pekiknya membuat gendang telinga berdengung.
"Apa?" menggenggam rambut Siska, rasakan elu udah buat gue menderita, ini belum seberapa.
"Aaaaaa...." kembali menarik hijab, sedangkan gue kembali menarik rambutnya, kurang lu ya? Gue botakin sekalian.
Tangan Siska satunya, Gress!
Kukunya yang tajam berhasil melukai pipiku, kurang asem.
Kraak!
Gue cabut lagi rambut Siksa.
"Aaaaa..." memegangi kepalanya. "Kurang ajar aja lo." marahnya.
Kembali Siska ingin menampar gue, tangan Mika langsung memegang tangan Siska.
"Berhenti!" teriak suara laki-laki di belakang kami. Hanya langkah kaki yang terdengar, mataku mencari suara yang berteriak menengahi kami, ternyata Pak Aziz.
"Ibu Siksa dan Ibu Zahra harap keruangan Pak Abyan, sekarang." bentaknya membuat gue terkejut dan takut.
Tunggu! jangan takut Zahra. "Ini maksudnya laki-laki yang elu inginkan, sampai-sampai elu bilang gue pelakor." tunjuk gue ke Pak Aziz, mempermalukan Siska.
"Ah kok gue!" ucap Pak Aziz pelan, tapi terdengar dirinya terlihat terkejut.
"Kenapa Aziz yang elu sebut?" Siska ikut bingung.
"Habis elu bilang gue pelakor." tanganku menunjuk Siska. "Jawab?"
"Bukan dia, tapi Mas Abyan." teriaknya.
"Apa? Elu gila ya, jadi Mas Abyan elu selingkuhin?" pengakuan Siska membuat semuanya terungkap.
"Bu ini salah paham." ucap Pak Aziz kebingungan, mungkin dirinya takut dengan Mas Abyan akan berpikiran buruk terhadap gue dan dirinya, bisa di bilang selingkuh gitu. Entarlah urusan itu!
"Terbuktikan elu fitnah gue. Padahal gue nggak tau ini siapa?" tunjuk lagi ke Pak Aziz.
"Diam..." pekik Pak Aziz terlihat kesal.
"Awas lu berdua." tunjuk Siska ke arah gue dan Mika perlahan berjalan ke luar ruangan.
"Maaf Ibu Zahra anda harap mengikuti peraturan, silahkan keruangan Pak Abyan beliau telah menunggu." ucap Pak Aziz terlihat menahan emosinya.
"Sebentar lagi saya kesana, mau benerin hijab dulu."
"Hmmm, baiklah saya permisi."
"Hmmm."
Pak Aziz keluar dengan langkah kaki yang cepat, sedangkan gue membenarkan hijab.
"Zahra kamu nggak apa-apa?" Bu karu mendekati.
"Ra elu jadi pelakor ya?" tanya Bu Hasya.
"Ya Allah Ra, wajah elu terluka, duduk dulu kita bersihin lukanya." Mika berjalan cepat masuk ke dalam ruang keperawatan.
Melihat sekeliling di kerumuni keluarga pasien dan juga pasien yang mulai sembuh ikut berkumpul berjamaah, keponya mereka. Hal ini sudah biasa sebagai warga Indonesia.
__ADS_1
Terpaksa gue harus menjelaskan dulu. "Hmmm, nggak apa-apa Bu." membalas pertanyaan Bu karu. "Itu Siska pasien rumah sakit jiwa, lupa ingatan, akibat di selingkuhi mantan pacarnya. Melihat saya pernah merawat dia, pikirnya saya yang mengambil pacarannya. Saya mohon maaf pada keluarga pasien dan pasien yang di rawat." bohongku menutupi aib seseorang, sudah cukup rambut Siksa yang gue tarik membalas fitnahnya. Meletakkan rambut Siska di dalam saku pakaian, siapa tau Mas Abyan mau.
"Oh nggak apa-apa Suster, yang sabar, tugas anda tidaklah mudah." jawab keluarga pasien, mempercayaiku.
"Kalau begitu semuanya kita kembali ke ruangan masing-masing, kasian suster Zahra lagi berusaha untuk merawat kita malah harus mendapatkan kesusahan, kalian jangan begitu nantinya." ucap pasien yang duduk di kursi roda.
Semua menganggukkan kepala, perlahan pergi satu persatu.
"Semangat Bu Zahra, semoga anda mendapatkan jalan keluarnya." ucap pasien satunya lagi.
"Hmmm, terimakasih Pak." senyumku.
"Iya Sus, sama-sama." pergi kembali ke dalam ruangan.
"Duduk dulu Ra." Bu Karu membantuku duduk, bentar Ibu telepon Pak Aziz dulu memberi waktu membersihkan lukamu." ucapnya setelah gue duduk.
"Hmmm, iya Bu terimakasih."
"Ra kenapa dirinya menyebut nama Pak Abyan?" Bu Hasya kembali kepo.
"Mungkin Pak Abyan lainnya Bu, lagian nama Abyan di muka bumi ini banyak. Jika itu istri Pak Bos nggak mungkinkan pakaian begitu." jelasku.
"Tahan ya Ra." ucap Mika fokusnya membersihkan luka gue yang mengeluarkan darah.
"Iya juga Ra, aneh tuh cewek." ucap Bu Hasya.
"Aw..." menahan sakit akibat obat yang mengenai luka di pipiku.
"Tega banget, tuh perempuan. Udah gila, main fitnah aja." ucap Mika terlihat kesal.
"Tapi kasihan juga Ra, rambutnya elu cabut sebanyak itu." ucap Bu Ima
"Biarin kalau itu gue, sekalian di botakin." sambung Mika semakin kesal, meletakkan handiplast. "Semoga ini luka nggak membekas." Mika terlihat khawatir.
"Hmmm, semoga aja."
Ting ting ting.
Telepon umum berdering, Bu Hasya mengangkatnya.
"Iya hallo cempaka satu penyakit dalam. Oh iya Pak sebentar lagi ke sana." menutup telepon.
"Ra, Pak Aziz nyuruh elu ke sana sekarang." ucap Bu Hasya terlihat cemas. "Biasanya kalau ada masalah pasti di panggil ke ruang HRD, ini Pak Bos sepertinya turun tangan langsung, semangat ya Ra, semoga elu nggak di pecat gara-gara wanita tadi."
"Hmmm, gue nggak takut sama Pak Bos, awas aja berani menuduh gue." ancamku.
"Lu ikut nggak waras ya, Ra?" tanya Bu Ima.
"Gue waras Bu, hanya saja kita sebagai manusia yang punya hak untuk membela diri."
"Benar!" sambung Bu Hasya mengangkat jempolnya.
"Gue nggak takut di pecat, cari kerjaan lain banyak."
"Benar banget Ra, elu harus semangat, kami di sini akan berjuang membela elu, iya nggak?" ucap Bu Hasya pada Mika, Bu Ima, dan Bu karu, Fadel lagi ada kerjaan di tempat lain.
"Iya kita akan membela elu sebagai saksi." ucap Mika semangat empat puluh lima.
"Hmmm, iya udah gue ke atas dulu. Makasih semuanya."
"Sama-sama." jawab mereka serentak.
__ADS_1
Bersambung...