
"Ra... " Mika memanggil saat gue baru keluar dari kamar mandi.
"Hmmm, kenapa Mik?" mendekati Mika.
"Handphone lu bunyi terus di dalam loker."
"Oh iya Mik." berjalan ke dalam ruang keperawatan.
Siapa ya nelepon? Sepertinya penting banget, gue yang dinas pagi di lanjutkan dengan dinas sore akibat Bu Eri nggak bisa masuk.
Mengambil handphone di dalam tas, Mas Abyan nelepon melihat layar, terdapat lima kali panggilan di lanjuti dengan pesan.
"Ay, capek nggak?"
Aneh kenapa Mas Abyan ngirim pesan dan nelepon hanya untuk menanyakan gue capek apa enggaknya?
Ah coba gue telepon aja mungkin ada sesuatu penting lainnya.
Mulai menelepon, menunggu jawaban Mas Abyan.
"Halo, Ay." terdengar suara Mas Abyan memanggil.
"Ada apa Mas, nelepon?"
"Hmmm, kamu capek nggak?"
"Enggak capek Mas, kenapa?"
Hari ini banyak pasien yang pulang, jadi gue banyak duduk-duduk aja.
"Entar pulang langsung ke hotel, Mamas tunggu di sana, alamatnya Mamas kirim lewat pesan."
"Emang ada acara apa, Mas?" penasaran gue.
"Hmmm, makan aja."
"Cie cie cie, hayo teleponan sama siapa Bu?" Fadel mendekat.
Melihat Fadel. "Sama suami gue, udah elu kesana ganggu aja."
"Serius Bu, kapan nikahnya?"
"Elu mau pergi dari sini atau-"
"Ay, kamu bicara sama siapa?" Mas Abyan langsung memotong ucapanku.
"Ah, nyamuk Mas." melihat ke arah Fadel tersenyum-senyum menguping.
Langsung mendorong Fadel keluar ruangan. "Awas lu menguping!" tunjuk Fadel dengan menjauhi handphone.
"Elu ganggu aja." ucap Mika.
Jalan lagi ke dalam. "Iya Mas kenapa? Maaf tadi iklan." candaku.
"Siapa Ay yang sponsor di sana?"
Udah panjang ceritanya, kalau bicara sama Mas Abyan.
"Lupakan soal itu, Mamas tadi bilang apa?"
"Ke hotel Ay."
"Oh iya Mas, entar aku kesana."
"Hmmm, iya udah hati-hati di jalan, Mamas tunggu."
"Hmmm, iya sayang." ucapku malu.
"Apa?"
__ADS_1
"Udah dulu ya Mas, aku mau pulang."
"Ay, bicara dulu tadi bilang apa?"
Langsung matikan handphone, baru aja di panggil gitu Mas Abyan jadi nggak dengar apa-apa, bikin hati gue robanahan lagi. Ternyata benar gue mencintai Mas Abyan, ya Allah deg deg deg ‘kan banget.
Oh iya kenapa Mas Abyan ngajak gue ke hotel? Hmmm ada acara apa ya? Gue ‘kan nggak bawa pakaian ganti. Ah sudahlah palingan Mas Abyan seperti biasa bawa pakaian gue.
***
Motor gue letakkan di parkiran, jalan masuk ke dalam hotel.
"Ibu bernama Zahra Aneska?" tanya pegawai yang menghampiri.
"Iya, ada apa?" melihat ke arahnya.
"Ibu sudah di tunggu Pak Abyan di lantai paling atas."
"Ada acara apa ya Pak, di sana?"
Pegawai diam beberapa detik. "Maaf Bu, saya tidak tau."
"Ah, nggak apa-apa." mungkin sesuatu yang penting, sampai pegawai saja tidak tau.
"Hmmm, iya sudah aku kesana dulu."
"Iya Bu."
Jalan cepat menaiki lift, kenapa ya Mas Abyan?
Ting!
Lift terbuka tibalah mainan piano berjudul janji suci yang dimainkan Mas Abyan di sana. Dirinya memakai pakaian putih berlengan panjang, rompi dan celana dasar berwarna hitam dengan rambut bergaya fringe haircut.
Nuansa di sana di hiasi berbagai kembang putih dengan meja makan minimalis dan dua kursi yang telah tersaji makanan serta minuman.
"Dengarkanlah, wanita pujaanku, malam ini akanku sampaikan, hasrat suci kepadamu dewiku... Dengarkanlah ke sungguhan ini." melihat ke arahku. "Aku ingin, mempersuntingmu... Tuk yang pertama... Dan terakhir... Jangan kau tolak dan buatku hancurku tak akan mengulang tuk meminta, satu keyakinan hatiku ini, akulah yang terbaik untukmu...
Dengarkanlah, wanita impianku... Malam ini akanku sampaikan... Janji suci, satu untuk selamanya... Dengarkanlah kesungguhan ini... Aku ingin... Mempersuntingmu... Tuk yang pertama.... Dan terakhir... Jangan kau tolak dan buatku hancur, ku tak akan mengulang tuk meminta, satu keyakinan hatiku ini, akulah yang terbaik untukmu..." fokusnya memainkan musik.
Jangan kau tolak dan buatku hancur, ku tak akan mengulang tuk meminta, satu keyakinan hatiku ini, akulah yang terbaik untukmu...
Jangan kau tolak dan buatku hancur, ku tak akan mengulang tuk meminta, satu keyakinan hatiku ini, akulah yang terbaik untukmu....
Akulah yang terbaik untukmu...
Oh-oh-oh, oh-oh"
Mas Abyan berdiri, dan berjalan pelan ke arahku. "Ay..." mengambil tanganku. "Mau nggak jadi pacar Mamas?" senyumnya.
Nggak tau harus apa? Sungguh terharu kejutan yang di buat Mas Abyan, di mana orang lain akan mengajak menikah, dirinya yang menunggu jawaban dariku hanya untuk mengajakku berpacaran.
Mataku berembun, tibalah air mataku mengalir deras anggukku iya. "Aku mau Mas jadi pacar kamu." memeluk Mas Abyan.
Tangan Mas Abyan memelukku dengan erat. "Makasih ya, Ay." nada bicaranya terdengar ikut menangis.
"Mas udah makan belum?" melepas pelukan Mas Abyan, kami berdua saling mengusap air mata.
Cup!
Mencium bibirku sekilas. "Kamu sibuk memikirkan makan."
Mengulum tawa. "Aku laper?" jujurku memang adanya.
Angguk Mas Abyan. "Hmmm, ayo kita makan." menarik tanganku.
"Hmmm."
__ADS_1
Mas Abyan menarik kursi. "Duduklah!"
"Ah iya Mas terimakasih." senyumku malu, dengan jantung yang bergoyang hebo melihat romantisnya malam ini.
"Mas aku belum mandi, nggak apa-apa?" ingatku melihat warna pakaian senada dengan warna telapak meja berwarna putih.
"Udah dinner baru kamu mandi." jelasnya tersenyum.
Hmmm, romantisnya.
"Ayo makan."
"Iya Mas."
Kami menikmati makan malam, yang terlihat mahal ini.
"Alhamdulillah." ucapku selesai makan.
Mas Abyan melihatku dengan tersenyum, tanganku sebelah kanan di letakkan di atas meja. "Mas kenapa tersenyum?" anehku.
Mas Abyan memegang tanganku dengan lembut. "Makasih ya, Ay?"
"Buat apa?"
"Udah mau jadi pacar Mamas." senyumnya yang nggak berhenti-henti.
Senyumku merasa malu. "Hmmm, iya Mas, Tapi-" putusku ragu berkata.
"Hmmm, apa Ay?" penasarannya.
"Mas sebelumnya aku mau minta maaf sebagai istri."
"Udah di maafkan, kenapa Ay?"
"Maaf selama ini dan selama kita berpacaran belum bisa memberi hakmu sebagai suami."
"Hak yang mana?"
Mas jangan bikin malu kenapa? Masa lu nggak tau sih. Sering banget elu bilang gitu?
Mengeluarkan nafas kasar. "Mamas masa nggak tau sih, hal sensitif begitu?" tanyaku penuh arti, masa gue harus menjelaskan.
Mas Abyan tersenyum. "Apa alasannya?"
"Aku mau menikmati masa-masa pacaran Mas. Selama delapan tahun saat aku putus dari Abang Doni mantanku dulu, aku nggak pernah lagi menikmati yang namanya masa pacaran seperti orang-orang masa kini."
"Hmmm, tapi banyak loh Ay, yang pacaran zaman sekarang sukanya ke sana."
"Tapi Mas, aku nggak mau hamil dulu, bukan berarti aku menundanya tapi aku ingin menikmati masa-masa itu."
"Kamu ‘kan orang kesehatan, Ay. Kamu paham ‘kan tentang hal semacam itu, agar tidak terjadinya kehamilan."
"Tapi Mas, ayolah mengerti. Aku nggak mau membuang calon anak kita."
"Kamu mau kita punya anak?
"Iya tapi nanti, setelah puas pacaran." paksaku agar Mas Abyan mau.
Senyum Mas Abyan mencium tanganku. "Hmmm, baiklah. Kapan pun kamu siap."
"Dosa nggak Mas?"
"Enggak! Mamas ikhlas."
"Alhamdulillah, terimakasih ya Mas."
Senyumnya. "Hmmm, sama-sama."
Bersambung...
__ADS_1