Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Chapter 91 Gombal


__ADS_3

"Yang, pakai pakaian ini." Mas Abyan memberikanku pakaian berwarna putih, saat setelah mandi.


"Hmmm, kenapa warnanya sama, Mas?" melihat Mas Abyan udah rapi memakai pakaian warna senada dengan yang di berikan, dengan bawahan berwarna hitam.


Ingin tertawa gue.


"Kenapa, Ay?" heran Mas Abyan melihatku.


"Kita ini mau pergi acara ulang tahun, atau mau daftar jadi pegawai negri sipil, Mas?"


Mas Abyan ikut tersenyum. "Mas hanya ikutin yang tertulis di undangan, Ay."


"Mana undangannya?"


"Bentar, Mamas ambil tablet dulu." jalannya cepat ke arah kamar.


Gue mulai memakai pakaian.


"Benar, Ay. Nih lihat." Mas Abyan memberikanku tablet.


Gue baca sebentar. "Di hotel ya, Mas?"


"Iya, Ay."


"Iya udah aku pakai pakaian dulu."


"Hmmm, Mamas ngerjain pekerjaan dulu, sambil nunggu kamu selesai." Mas Abyan berjalan keluar ruangan.


Mamas-Mamas, sibuk masih aja mau pergi acara ulang tahun.


Gue akan berhias secantik mungkin. Sampai semuanya wanita di sana tersaingi. Apalagi gue udah mencium bau-bau pelakor dimana-mana.


Mulaiku mengerikan rambut, goyang sedikit selesai, lanjut di kuncir biasa. Bagian wajah, memakai foundation, bedak tabur, sedikit warna pick di kelopak mata, eyeliner, maskara, liptin berwarna oranye sedikit di dalam bibir.


Lanjut hijab dan dalaman berwarna putih, sat set set, selesai. Melihat di kaca, gue cocok deh untuk interview ke perusahaan buat kerja lagi, hehehe... Geli gue melihat penampilan begini.


Jalan keluar melihat Mas Abyan, duduk santai memainkan tabletnya.


"Mamas aku udah siapa." senyumku menebarkan pesona.


"Kamu berhias, Ay?" Mas Abyan meletakkan tablet di atas ranjang, dirinya turun dan berjalan mendekati gue.


"Iya, Mas. Ada yang salah?" bingungku.


"Hapus..." perintahnya yang membuat gue terkejut.


Perasaan hiasan gue nggak menor.


"Kenapa di hapus, Mas?"


Susah-susah gue mengukir wajah.


"Mamas nggak mau, nanti kamu di lihatin laki-laki lain." jujurnya membuat gue ngerti dengan cemburunya, Mas Abyan."


"Mamas nggak sadar diri. Setiap kali aku jalan dengan Mamas, yang di lihat, di kelilingi, terus di foto, dan video semuanya hanya Mamas." jelasku yang setiap jalan bersama Mas Abyan. "Sedangkan aku aja nggak ada foto Mamas di handphoneku." jujurku benar adanya.


"Iya apa, Ay?"


"Mamas tuh pura-pura nggak tau, atau benaran nggak tau?"


"Mamas pura-pura nggak tau. Untuk apa memperhatikan mereka? Kalau di hati Mamas hanya ada kamu." jawab Mas Abyan bikin gue cair. "Mana handphone kamu, Ay?" pintanya.


"Buat apa, Mas?"


"Cepetan sini."


Gue berjalan menuju meja, mengambil handphone di dalam tas. "Nih, Mas." menyerahkan handphone.


Mas Abyan mengambil mulai menekan layar. "Sini, Ay." Mas Abyan menarikku untuk mendekatinya. Layar handphone ada gambar kami berdua. Mas Abyan mulai memposisikan tubuhnya agar sama rata dengan gue. "Senyum, Ay."


Oh Mas Abyan ngajak gue selfie. Jadi malu gue. Senyum manis gue persembahan.


Cekrek!


Cekrek!

__ADS_1


Mas Abyan mencium pipiku.


Cekrek!


Kami berdua memejamkan mata dan tersenyum.


Cekrek!


Tak tinggal jari berbentuk angka 2, kami lakukan.


Cekrek!


Mas Abyan melihat hasilnya. "Udah bagus, Ay." menyerahkan handphoneku lagi, yang ternyata sudah di pasang wallpaper oleh Mas Abyan.


Hmmm, suami gue, gemes banget sih.


"Mamas mau foto kita berdua nggak? Entar aku kirim." mulaiku mengirim foto kami tadi. Jangan sampai Mas Abyan nggak ada foto gue di handphonenya.


"Ada, Ay." jawab Mas Abyan, dengan handphone yang sudah gue kirim dan berbunyi dentingan.


"Mamas pasang wallpaper, nggak?" biar adil gitu.


Mas Abyan berjalan ke arah ranjang, mengambil handphone. Setelahnya kembali lagi mendekati gue. "Ni, Ay." Mas Abyan memperlihatkan foto kami berdua saat melangsungkan resepsi pernikahan.


Gue bisa apalagi coba? Di buat Mas Abyan tambah lumer, begini.


"Berantem yuk, Mas?" candaku gemas melihat Mas Abyan.


"Ayo, Ay." maunya.


Sudahlah kalau kucing di kasih ikan mana nolak.


"Aku hanya bercanda, Mas."


"Mamas nggak bercanda."


"Tapi aku bercanda, Mas. Udah cantik, pakaian udah rapi, jam aja udah lewat waktunya. Entar nggak jadi lagi." jelasku.


Mas Abyan tersenyum. "Sebentar!" dirinya langsung ke ruangan pakaian.


Mas Abyan keluar membawa tisu basah.


"Hapus makeup kamu, Ay." mengambil tisu basah.


"Mamas nih, nggak bisa apa Istrinya cantik sedikit?" jelasku menahan tangan, Mas Abyan.


"Ay, kamu itu istri Mamas."


"Iya emang aku istri, Mamas. Emang kenapa?"


"Mamas nggak mau berbagi." Mas Abyan mengelap wajahku. Bisa apa gue, kalau suami udah ngelarang begini. Semakin ke sini, semakin posesif dirinya.


"Lipstiknya jangan di hapus, Mas. Entar aku di duga orang sakit lagi."


"Bagian ini."


Cup!


Mas Abyan menciumku.


"Nggak, Ay."


"Mas, tambah jeleklah aku nggak pakai apa-apa. Entar teman Mamas, ngatain aku gimana? Lagian Mamas semalam bilang, kalau aku juga perawatan bakal cantik. Tapi Mamas sendiri yang ngelarang aku pakai makeup." kesalku pada Mas Abyan.


Mas Abyan berenti mengelap. "Ay, di mata Mamas, hanya kamu wanita yang paling cantik. Jadi, apapun yang mereka bicarakan tentang kejelekan fisik kamu, Mamas nggak perduli." jelasnya kembali mengelap wajah gue dengan lembut.


"Tapi, Mas. Aku peduli sebagai istri. Apalagi setiap jalan sama kamu, banyak tuh pelakor berdatangan." jelasku juga merasa cemburu.


"Tapi Mamas nggak tertarik."


"Nggak percaya aku."


"Serius, Ay. Kalau Mamas mau, tinggal pilih." sombongnya.


"Nggak percaya aku." memang begitu semua laki-laki kalau berucap. Ujung-ujungnya selingkuh.

__ADS_1


"Kenapa Mamas pilih aku?"


"Kamu yang ngajak Mamas nikah."


"Itukan hanya candaan. Lagian ya, pasti sebelum aku, banyak di luar sana yang ngajak Mamas nikah." pikiranku yang memang adanya, Mas Abyan kesambet di rumah sakit jiwa. Jadinya begini.


"Hanya Cherly." jujurnya.


"Terus jika Mbak Cherly ada. Berarti aku nggak nikah sama Mamas dong? Bisa jadi, aku selamanya berstatus sigle." ingatku pada kebodohan yang gue perbuat.


"Ay..." Mas Abyan memegang kedua pipiku untuk melihatnya. "Kalau kamu nggak ngajak Mamas nikah. Mamas juga akan berstatus sigle selamanya." wajah Mas Abyan terlihat sedih.


Gue tersenyum. "Karena di hati Mamas hanya ada Mbak Cherly." itulah yang gue rasa sampai sekarang.


Mas Abyan mengangguk. "Dulu, sebelum ada kamu, mungkin iya. Ada kamu, Ay. Hidup Mamas berubah." jelasnya.


"Berubah jadi apa?" ajakku bercanda, jangan terlalu serius.


"Permaisuri."


"Kenapa jadi permaisuri, Mas? Mamaskan laki-laki."


"Karena kamu raja di hati, Mamas."


Aaaaaaaa.... Inginku berteriak.


"Bisa ya, Mamas gombal. Siapa sih yang ngajarin?" gue yang mengulum senyum.


"Kamu, Ay?"


"Kapan aku ngajarin Mamas?"


"Ini sekarang?"


"Nggak ada."


"Tapi serius, Ay. Kamu raja di hati Mamas." semakin Mas Abyan gombal.


"Udah, ah. Entar aku terbang lagi." melepas tangan Mas Abyan. "Ayo berangkat."


"Terbang, Ay. Kita ke hotel?" ucap Mas Abyan yang masihnya bercanda.


"Mas, jangan bikin aku pingsan deh."


"Kenapa gitu, Ay?"


"Jantung aku tumpengan di dalam sana. Gara-gara Mamas gombal." jujurku benar adanya.


Mas Abyan tersenyum-senyum melihatku.


Entah siapa yang ngajarin Mamas Abyan gini.


"Eh, Mas. Dulunya suka gombalin Mbak Cherly ya?" mulai ku kepo.


"Jujur, nggak pernah."


"Serius, Mas?" nggak percaya gue.


"Sumpah demi apapun." jawab Mas Abyan lantang.


Dah kalau dirinya udah bilang gitu, percayalah gue. Ternyata Mas Abyan, diam-diam bisa juga gombal. "Awas ya, Mas! Gombal sama wanita lain." ancamku cemburu, takut Mas Abyan di ambil pelakor.


Hah, gue baru sadar. Mencintai Mas Abyan begini besarnya.


"Iya sayang..." Mas Abyan memelukku.


"Awas aja ingkar! Khitanan dua kali loh, Mas." ancamku.


"Jangan, Ay." takutnya.


"Awas, aja!" masihku mengancam.


"Mamas janji, enggak."


"Hmmm!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2