Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 118 Patuh


__ADS_3

Selepas shalat magrib seperti biasa Oma, Ibu, Ayah, Mas Darman, Hanum, Amel, Tama, Pak Aziz, Dokter Idris, Mas Abyan makan di lantai. Sedangkanku di tutup tirai menyusui si kembar dulu.


Jelas di bantu Mika dan Falisha. "Kalian berdua makan dulu sana." perintahku pada mereka berdua yang duduk di kursi samping dan kananku.


"Kami masih mual, entar lagi aja." jawab Mika.


"Iya, Ra. Pelan-pelan aja, dari pada di paksa keluar lagi." ucap Falisha.


Mas Abyan masuk. "Ay, makan dulu. Lagian udah dari tadi Azri dan Adam nyusu. Kamu juga butuh asupan nutrisi." jelas Mas Abyan.


Melihat si kembar memang tertidur sih. "Mas, kapan kita pulang?" nggak nyaman di sini terus, lagian si kembar udah nggak pantas tidur di box. Besar tubuh mereka sekarang benar-benar terlihat semakin imut, gembul-gembul semua.


"Besok kita melakukan pemeriksaan menyeluruh ya, Ay." jelas Mas Abyan membuatku bahagia.


"Iya, Mas."


"Sini biar Mamas bawa si kembar tidur di box." Mas Abyan mengambil Azri kemudian Adam.


Langsung saja merapikan pakaian, agar tirai bisa di buka.


Tirai di buka Mas Abyan, saat pakaiku telah rapi.


"Besok kalau Zahra sudah di nyatakan sembuh. Bawa ke rumah Oma aja, ya." pinta Oma.


Mas Abyan melihatku. "Gimana, Ay?"


"Kasihan kamu, Nak. Kalau harus mengurus si kembar sendirian." jelas Ibu Sari.


"Nanti kalau udah besar baru pindah." jelas Oma.


"Gimana, Ay?" Mas Abyan bertanya lagi padaku.


"Oma, Ibu. Sebenarnya aku ingin mencoba mengasuh Azri dan Adam di rumah kami. Lagian ada Bi Ning dirumah yang suka bantu-bantu. Aku ingin benar-benar belajar mandiri dalam mengasuh anak kami." inginku yang tidak mau merepotkan Oma dan Ibu.


"Kamu masih sakit, Ra." ucap Oma.


Senyumku. "Insyaallah, Oma. Aku udah sembuh. Yakin semuanya akan baik-baik aja. Jika aku nggak sanggup, hari itu juga aku langsung pindah ke rumah Oma." upayaku meyakinkan mereka.


"Baiklah, kalau itu maumu." ucap Ibu Sari.


Ceklek!


"Assalamualaikum." suara laki-laki masuk ke dalam ruangan, melihat siapa yang datang ternyata Fadel.


Akhirnya yang di tunggu-tunggu menunjukkan batang hidungnya.


Melihat wanita cantik, berhijab, ikut masuk ke dalam ruangan.


Eh Fadel bawa perempuan, di belakangnya. Siapa dia?


"Waalaikumussalam." jawab kami serentak.

__ADS_1


"Maaf, Mas." ucap Fadel terlihat murung melihat Mas Abyan.


"Kenapa baru sekarang elu baru datang?" Mas Abyan terlihat kesal.


"Siapa yang elu bawa?" tanya Dokter Idris terlihat juga kesal.


"Ini istri, gue." ucap Fadel melihat wanita cantik itu.


"Apa?" kami semuanya terkejut.


Hah, istri?


"Nanti gue akan jelaskan pada kalian semua, dan menjelaskan siapa Indah." ucap Fadel terlihat menengahi, dirinya melihat Mas Abyan kembali. "Maaf, Mas." ucapnya kembali meminta maaf.


Oh Indah namanya, cantik sesuai dengan orangnya.


"Nanti kita bahas, sekarang elu bawa istrimu makan dulu." perintah Mas Abyan.


Sepertinya Mas Abyan nggak mau gue mendengar sesuatu. Apa ada yang di rahasiakan oleh mereka berdua?


Sebenarnya kecelakaan itu, benar adanya terjadi di sengaja atau tidak sengaja?


Fadel terlihat bukan seperti Fadel yang dulu gue kenal, ada perbedaan di dalam sana. Sebenarnya di mana sisi Fadel sesungguhnya?


Dirinya tidak sama sekali menegurku atau berkata apa-apa, hanya mematuhi perintah Mas Abyan. Didalam matanya terlihat, banyak beban yang harus dirinya pikul.


"Mas, aku boleh nggak ke kamar mandi?" inginku buang air kecil, sekalian bertanya dengan Mas Abyan berdua. Siapa tau dirinya menjawab.


"Iya, Ay." Mas Abyan mematikan aliran selang infus, agar darahku tidak naik ke selang.


"Jalannya pelan-pelan, Ay." perintah Mas Abyan, padahal gue nggak merasa apa-apa. Pegal aja rasanya, di suruh duduk terus.


Mas Abyan membuka pintu, kami berdua masuk. Mas Abyan menutup pintu kembali.


"Mas, menghadap ke belakang." pintaku merasa malu.


"Kenapa, Ay? Setiap hari begini. Mamas nggak akan ngapa-ngapain." jelas Mas Abyan.


"Malu, Mas." jujurku.


Mas Abyan tersenyum membalikkan tubuhnya memunggunginku. "Malu apanya, Ay. Anak aja sudah dua." ucap pelan Mas Abyan.


Terserah Mamaslah, pokoknya gue masih malu. Mulaiku membuang air kecil, setelahnya ku siram.


"Mau Mamas bantu nggak, Ay?" tawar Mas Abyan seperti biasa kalau di kamar mandi.


"Mamas pegangin aja infus aku, sisanya aku bisa sendiri." jelasku merapikan pakaian.


"Udah belum?"


"Belum, Mas."

__ADS_1


"Nggak biasa Ay, lama." Mas Abyan melihatku tanpa ku pinta. "Ini sudah selesai." Mas Abyan menunjukku yang berdiri di hadapannya.


"Mamas belum menjelaskan tentang kecelakaan yang menimpahku." inginku tau.


"Ay, semua sudah terjadi-"


"Aku mau tau, Mas. Ceritakan." semoga Mas Abyan mau bercerita tentang kejadian itu. Sebenarnya kalau di pikir-pikir hal itu memang nggak perlu di bahas lagi. Tapi melihat Fadel membawa istri dan berkata maaf. Membuatku ingin tau, sebenarnya apa yang terjadi. Seharusnya bisa saja bertanya di waktu kami berdua, tapi kepoku yang nggak bisa menunggu di lain waktu, beginilah tanya langsung.


"Ay, semua hanya kebetulan."


"Aku nggak mau kamu terus berbohong, dan menutupi sesuatu dariku, Mas." pintaku penuh harapan.


Mas Abyan membuang nafas kasar, memegang bahuku. "Semua salah Mamas, Ay. Cherly dari awal memang terus mengancam Mamas, dan dirinya akan memastikan jika Mamas nggak bisa bersama dengannya. Maka kamu juga nggak bisa bersama dengan Mamas. Makanya selama kamu masih bersama Mamas, Mamas yakin bisa melindungi kamu, Ay. Tapi hari itu Mamas salah." mata Mas Abyan memerah dan mengeluarkan buliran air. "Cherly tibanya datang, saat Mamas ingin pergi beli minum. Dirinya membawa mobil dan menabrak kamu, Ay. Cherly meninggal dunia di tempat."


Apa?


"Seharusnya Mamas cerita denganmu, Ay. Maafkan Mamas." isak tangis Mas Abyan menceritakan kejadian itu.


Tanganku meraih tubuh Mas Abyan dan memeluknya. "Semua telah terjadi, seharusnya aku mendengarkan perintahmu waktu itu, Mas." ucapku merasa bersalah.


"Jika waktu itu kamu benar-benar pergi, Ay. Mamas-"


"Aku nggak akan tinggalkan kamu, Mas." putusku sebelum Mas Abyan membayangkan sesuatu yang belum terjadi.


"Jangan tinggalkan Mamas, Ay." pinta Mas Abyan masihnya menangis.


"Aku nggak akan tinggalkan kamu, Mas." mengeratkan pelukan.


Beberapa detik kami berpelukan, tibanya Mas Abyan melepaskan pelukan. "Kita mulai dari awal, Mamas harap kedepannya kamu lebih patuh atas apa yang Mamas inginkan. Ini semua demi rumah tangga kita." jelasnya menghampus air mataku.


"Iya, Mas." mengikuti arahan Mas Abyan, sambil menghapus air mata Mas Abyan.


"Soal Fadel yang tiba membawa istri itu gimana, Mas?" ingin tauku.


"Mamas nggak tau soal itu, tunggu dirinya bercerita usai makan nanti." jelas Mas Abyan.


"Iya, Mas."


Mas Abyan mencium bibirku dengan lembut. Sudah lama rasanya tidak merasakan perasaan hangat ini. Ciuman kami berasa lebih panas. Mas Abyan melepaskan ciuman.


"Cepat sembuh, Ay."


"Aku udah sembuh, Mas." jelasku meyakinkan Mas Abyan.


"Kita nggak tau hasilnya besok." jelas Mas Abyan.


"Jika aku masih sakit." ingin tau apa yang akan Mas Abyan lakukan, jangan bilang gue akan berlama-lama di rumah sakit.


"Kamu harus patuh pada ucapan Mamas."


Senyumku menganggukkan kepala.

__ADS_1


Mas Abyan kembali menciumku.


Bersambung...


__ADS_2