Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 115 Ruang Operasi


__ADS_3

POV Abyan


Duduk di kursi melihat lantai, suara dengungan yang terlintas di kupingku. Usapan bahu Ibu, Oma, Falisha, Ayah terus memberikan semangat.


Kami semua duduk di depan ruang operasi, menunggu hasil dari Idris.


Kesalahan terbesar yang gue perbuat adalah hari ini, seharusnya gue mencegah Zahra untuk tidak pergi keluar rumah.


Air mataku menetes kembali, sesak di dada yang gue rasa.


Mengingat kejadian tadi saat gue meninggalkan Zahra di seberang jalan, saat ingin melintas mobil mewah berwarna hitam pekat melewatiku dengan kaca terbuka, jelas Cherly melambaikan tangan memberi kode selamat tinggal dengan tersenyum.


Perasaanku saat itu juga tidak begitu menyenangkan, mataku terus melihat mobil yang di kendarai Cherly berbalik arah.


Tibalah dengan kecepatan penuh mendekati Zahra dan kecelakaan itu terjadi.


Mobil yang di kendarai Cherly menabrak mobil di depannya dan terjadilah tabrakan beruntun sampai beberapa orang ikut terluka.


Cherly mati di tempat, sedangkan Zahra masih bisa bertahan dengan membawa perut yang berisi anak kami.


Masihnya sempat berpesan agar gue menyelamatkan bayi yang dirinya kandung. Padahal pikiranku sebaliknya, gue ingin Zahra yang selamat kalau bisa dua-duanya.


Ya Tuhan jika memang salah satu yang harus ku pilih, maka berikan kesabaran di diri ini seluas-luasnya.


Ceklek!


Pintu ruang operasi terbuka, kami semua berdiri. Idris dengan cemas mendekatiku. "Mas, aku tidak banyak waktu lagi. Tapi semua harus di lakukan." dirinya terlihat takut berbicara.


"Katakanlah." perintahku.


"Mas, elu harus menentukan secepatnya. Kamu harus pilih, menyelamatkan Zahra atau Anakmu." jelas Idris yang sudah ku duga.


"Elu nggak bisa menyelamatkan ke-duanya?" memastikan.


"Maaf, Mas. Tingkat keberhasilannya hanya tiga puluh persen. Jika gue berusaha menyelamatkan ke-duanya dengan paksa. Maka semuanya akan." tak sanggup Idris berkata, sepertinya dirinya berat mengatakan hasilnya akan sia-sia.


"Siapkan ruang operasi untukku." perintahku pada Idris.


"Mas tunggu!" cegah Idris. "Jangan bilang elu mau turun tangan mengoperasi Zahra dan anakmu." tanyanya terlihat memastikan.


Jika Idris tidak bisa maka gue yang akan turun langsung.


Menganggukkan kepala, tandaku iya.


"Mas, kamu nggak bisa melakukan operasi dengan keadaan begini." jelas Idris terlihat khawatir.


"Ada benarnya, Abyan. Kamu harus memilih dan menerima semuanya, walau berat." ucap Oma.


"Lagian, Mas. Kondisi Zahra sudah memburuk, jika dirinya selamat. Maka selama hidup, dirinya akan mengalami kelumpuhan dan terpaksa harus tidur di atas ranjang terus-menerus." jelas Idris.


"Siapkan apa mauku, jangan membantah." perintahku lagi.


Jika memang begitu nantinya gue yang akan berusaha sekuat mungkin untuk menyembuhkan malaikatku.

__ADS_1


"Mas..." teriak Idris. "Ini semua memang sangat berat bagimu, tapi kamu harus berpikir kedepannya." Idris terlihat marah.


"Ingat, Idris!" tunjukku mengarah padanya. "Aku ini suami serta Ayah bagi anakku. Aku tau mana yang terbaik. Jika hasil satu persen pun ada untuk menyelamatkan ke-duanya maka akan aku lakukan. Jika hasilnya akan gagal, semua sudah di takdirkan." jelasku yang akan mencoba, dari pada menimbulkan sesuatu yang belum terjadi. Bagaimana pun manusia hanya berusaha, hasilnya tergantung pada sang pencipta.


Gue akan menerima apa yang telah di gariskan dan tidak akan tenggelam lagi dengan kebodohan yang pernah gue perbuat.


"Baik, jika itu keputusanmu kita bersiap sekarang." ucap Idris kembali ke ruang operasi.


Tangan Ayah memegang bahuku. "Kami serahkan padamu, Nak. Apa pun hasilnya, semua sudah di tentukan."


"Kami keluarga besar Zahra juga menyerah padamu, Nak." ucap Uwa Sani yang juga hadir mewakili keluarga besar Zahra.


"Hmmm." hanya itu yang bisa ku jawab.


Berjalan masuk ke dalam ruang operasi, suhu di sana dingin, tapi tidak dengan kondisiku yang panas.


Mulaiku mencuci tangan.


Mengganti pakaian khusus untuk operasi, memakai masker, dan penutup kepala berwarna serba hijau. Setelahnya mencuci tangan kembali, agar benar-benar steril.


Perawat memasangkan sarung tangan padaku, ke-dua tangan ku angkat. Tandaku siap melakukan operasi.


Mataku tidak bisa bohong rasa sakit yang ku rasa melihat Zahra tertidur pulas di atas ranjang dengan berbagai alat. Tubuhnya hanya tertutup kain berwarna hijau, serta penutup kepala.


Wajah cantik itu telihat pucat, dengan damai dirinya tertidur. Dua kali kondisi ini gue lihat. Tapi waktu itu dirinya berhasil di selamatkan. Sekarang, gue nggak tau apa yang akan terjadi. Pasrah dan pasrah, hanya itu yang harus di lakukan. Ay, kita bisa melewati ini semua. Kita akan hidup bahagia, Ay.


Aku berjanji akan melindungimu, maka bertahanlah untuk kali ini.


"Dokter anestesi." ucap Idris berada di sampingku.


"Dokter Anak." panggil Idris.


"Siap." jawab Dok Anak.


"Semua perawat." ucap Idris.


"Kami, siap." jawab mereka serentak.


"Periksa semua alat." perintah Idris.


Semuanya memeriksa. "Semuanya sudah siap." ucap salah satu perawat.


"Mari kita berdoa menurut ajaran masing-masing. Agar operasi yang di laksanakan berjalan dengan apa yang kita semua inginkan." ucap Idris terdengar bergetar.


Mulai kami semua diam.


Ya Allah, aku hanya bisa pasrah dengan semua ke tentukan yang telah di gariskan. Jika anak dan istriku engkau ambil, hari ini juga. Maka berikan kesabaran yang seluas-luasnya untukku menjalani hidup.


Jika bisa di gantikan, maka ambilah aku saja.


Banyak dosa yang telah ku lakukan semasa menjalani hidup. Jangan Istri dan anakku.


Tapi semua hanyalah angan-angan ku saja. Doaku hanya minta ya Allah selamatkan mereka.

__ADS_1


"Aamiin." kami semua berucap.


"Bismillahirrahmanirrahim. Mari Mas mulai." ucap Idris.


Menganggukkan kepala memberi kode pada Idris. Mulai ku fokus memeriksa semuanya, mengambil pisau mulaiku membeda tubuh Zahra.


Tin!


Tin!


Tin!


Keringatku mengalir begitu hebat, perawat dengan sigap menghapusnya jangan sampai tetesan keringatku masuk ke tubuh Zahra dan menyebabkan berbagai infeksi.


Tin!


Tin!


Tin!


Suara alat terus berbunyi nyaring memenuhi ruangan.


Tin tin tin!


Tin tin tin!


"Detak jantung Zahra melemah." ucap Idris.


Jujur jantungku semakin menggila, gue harus fokus.


"Dok, tekanan darah semakin turun." ucap perawat.


"Segera siapkan, donor darah." perintah Idris.


Gue hanya diam fokus melakukan tindakan operasi.


Idris yang mewakili semuanya, jujur kalau bisa kasih bintang lima ke Idris, gue serahkan. Peka dalam situasi, membuat gue merasa yakin semua akan berjalan dengan baik.


Walau hasilnya akan sebaliknya.


Semua sibuk dengan peran mereka masing-masing.


"Mas, walau ini berat. Yakinlah semua akan baik-baik saja." ucap Idris berusaha menenangkan pikiranku.


Sifatnya yang tenang selalu membuatku nyaman padanya.


"Mari kita keluarkan penerus generasi." ucapku agar Idris tidak kepikiran dengan apa yang ku pikirkan.


"Baik." jawab Idris, dirinya melihat ke semua orang. "Semua siap?" tanyanya.


"Siap." jawab mereka serentak.


Bismillahirrahmanirrahim. Gue siap menerima semuanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2