
Acara telah selesai tepat jam sepuluh malam, Oma yang membatasi dengan alasan dirinya tidak bisa tidur terlalu malam. Acara berhenti tepat pada waktunya, melihat ruangan ternyata sudah rapi dan bersih, serta kosong tanpa satu orang pun, melihat jam dinding tenyata sudah pukul sebelas malam.
Kami menaiki tangga kelantai atas.
Ceklek!
Mas Abyan membuka pintu. "Masuklah, Ay." ajaknya dengan tersenyum.
"Hmmm, iya Mas." masuk ke dalam kamar, melihat ruangan itu, seperti penuh dengan banyaknya kenangan. Bagaimana dengan kamar Mas Abyan yang berada di apartemen? Apakah warnanya juga sama hijau di campur cream? Ada apa juga di sana?
Kapan-kapan kalau Mas Abyan tidak berada di rumah rasanya mau maling-maling di lihat sedikit saja, banyak juga nggak masalah sih sebenarnya. Mas Abyan juga menyuruh ke kamarnya jika perlu sesuatu.
"Ay, kamu mau ganti pakaian dulu." menyadarkan dari lamunanku.
"Oh Mas duluan aja, aku mau ke kamar Falisha ambil barangku tadi di letakkan di kamarnya, lupa mau ambil." padahal Falisha menyuruh gue ambilnya ketika semua orang telah masuk ke dalam kamar masing-masing.
Posisi kamar Mas Abyan di lantai atas bersama dengan kamar tamu lainnya jika menginap.
Lantai bawah kamar Falisha, Hanum dan Mas Darman, Oma, Ibu dan Ayah Dameer. Kamar asisten rumah tangga di belakang khusus mereka. Pisah rumah gitu kalau melihat dari petanya.
Kebetulan gitar spanyol tidur di lantai yang sama dengan kami.
"Iya, Ay." masuk ke dalam kamar mandi.
Ceklek!
Keluar kamar, kemudian menutupnya berjalan pelan ke lantai bawah.
Ceklek!
Entah kenapa rasanya gue mendengar pintu kamar di atas terbuka. Apa Mas Abyan turun kebawah nyusul gue? Menunggu dulu sebentar, beberapa detik tidak juga melihat Mas Abyan keluar.
Apa benar kata Falisha tentang Siska yang suka mengintip kamar Mas Abyan?
Gue kok meragukan Falisha, kira-kira apa sih yang di rencanakan olehnya?
"Mbak..." suara Falisha berbisik menarik langsung ke bawah tangga. "Ini barangmu, Mbak." serahnya paper bag.
Melihat kebelakang seperti ada suara, astaghfirullahal'azim, gue di kejutkan adanya ke-dua mertua, Oma, Hanum, Mas Darman dan beberapa asisten rumah tangga.
Ingin gue berteriak tadinya melihat mereka berkumpul di sini bersama, mereka juga ngapain kumpul di sini?
Apa sih rencana Falisha? Kenapa mereka juga ikut?
Kita nih seperti mau nangkap maling atau buat kejutan sih?
Jelas sekali wajah Oma terlihat kurang bersahabat.
Rasanya gue yang terjebak di sini deh,
Ceklek!
Suara pintu terdengar jelas, lampu tibanya padam. Falisha menghidupkan lampu senter handphone, di ikutin asisten rumah tangga.
Falisha berjalan pelan, memberikan instruksi dengan tangan agar mengikutinya, kami semua berjalan perlahan ke lantai atas saling berpegangan. Jangan sampai kita jatuh bersama dari tangga.
Gue kok ingin tertawa ya? Kita nih lagi ngejalanin drama apaan sih? Seperti drama horor gitu.
Sumpah Falisha bikin gue gila benaran deh.
Syuuut!
Falisha memberi kode,
"Aaaaah."
Kenapa terdengar jelas suara teriakan seseorang seperti sedang melakukan hubungan intim di dalam kamar? Bukannya kedap suara ya kata Hanum? Jantung gue yang gila oleh keluarga Falisha kini dibuat gila dengan pikiran Mas Abyan melakukan hubungan intim bersama wanita lain.
Ayah Dameer yang tidak sabaran lagi langsung membuka pintu.
Ceklek!
Masuk ke dalam kamar, kami yang di belakang mengikutin.
__ADS_1
Lampu langsung hidup.
Kami semua di kejutkan dengan Mas Abyan bertelanjang dada menutupin dirinya di atas Siska mereka berdua sudah berada di atas ranjang.
Kami seperti warga yang menggerebek warga lainnya yang sedang berbuat mesum.
Mas Abyan dan Siska melihat ke arah kami semua, saat pintu di buka oleh Ayah Dameer.
Jujur gue bingung harus menanggapinya bagaimana?
Mas Abyan kembali melihat ke bawahnya saat melihat gue berada di dekat Falisha, Mas Abyan langsung berdiri. "Aaaaa..." teriaknya terkejut, untung dirinya masih menggunakan celana boxer berwarna hitam. Turun cepat dari atas ranjang.
"Yah, Ibu, Oma, Ay," langsung mendekatin kami. "Sumpah ini bukan yang kalian pikirkan." tanganya gemetar hebat.
Oma langsung maju mendekatin Mas Abyan.
Plak!
Menampar wajah Mas Abyan dengan nafas Oma Farra yang terlihat sesak.
"Oma ini bukan salah Mas Abyan." Siska langsung turun ke bawah dengan pakai yang terlihat seksi.
Ayah Dameer dan Mas Darman langsung menutup mata, berjalan keluar kamar. Asisten rumah tangga mengikutin.
"Keluar dan kumpul di bawah." teriak Ayah Dameer penuh amarah. "Para pegawai kembali ketempat kalian masing-masing, awas! Menyebar gosip keluar. Tutup mulut kalian." ancamnya, setelah berucap dirinya langsung pergi turun ke bawah.
"Ay, ini bukan yang kamu pikirkan." Mas Abyan memegang tanganku.
"Pakai pakaian kamu Mas turun ke bawah." jawabku ketus.
"Kamu Siska, gantilah dengan yang lebih sopan." Falisha menambahi.
"Murahan banget kalian." ucap pedas Hanum.
"Ay..." Mas Abyan masih memegang tanganku.
"Lepas Mas." bentakku tanpa sengaja, sungguh kesal diri ini.
Berjalan cepat mengikutin yang lain, saat Mas Abyan melepaskan tangannya.
"Panas dada gue." langsung menjawab.
"Cemburu lu?"
"Gue tidur di kamar elu aja malam ini. Mau tau kenapa ini semua bisa terjadi cepat?"
"Izin dulu sama Mamas, Ra."
"Gue males berdebat sama dia, ujung-ujungnya ngancem gue. Semoga dia sadar diri jadi suami. Maunya di dekati banyak wanita, tapi gue di marah walau hanya bercanda tak sengaja. Geli gue punya suami seperti itu."
"Sabar Ra, kita tunggu jawaban apa yang Mas Abyan keluarkan?"
"Rasanya gue nggak mau dengarin dia bicara."
"Jangan seuzon percuma elu berhijab, tapi tak bisa mengatur emosi." nyindirku.
"Merasa elu nggak berhijab bisa menceramahi gue, coba elu berada di posisi gue." ucapku masih berbisik.
"Iya maksud gue bukan gitu Ra, gue ingin elu dengerin Mas Abyan dulu. Jangan terjebak dengan amarah, mengakibatkan elu salah paham." jelasnya.
"Iya gue tau."
***
"Ini nggak seperti yang kalian pikirkan." Mas Abyan membela. "Aku kira itu Zahra tadi." tegas Mas Abyan.
Mas lu berpikir mesum selama ini.
"Siska kenapa kamu di kamar Abyan?" Oma terlihat marah, wajahnya yang cantik berubah memerah akibat menahan amarah.
"Ibu nggak menyangka kamu seperti ini Siska. Kamu sudah Ibu anggap sebagai anakku sendiri." Ibu terlihat tidak percaya dengan semua ini.
Gue merasa belum puas ya, melihat tabiat wanita ini dengan cepat. Seharusnya lihat dulu permainannya, gue ingin lihat perannya yang di ucapkan Falisha.
__ADS_1
Nggak seru ah.
"Ibu ini, ini salah." ambigu ucapan Siska.
"Maaf Pak, Bu. Di luar ada tamu." ucapan Siska terpotong oleh scurity yang datang.
"Suruh masuk." perintah Ayah Dameer.
"Iya Pak." Scurity langsung ke luar.
Wanita seusia Ibu Sari datang dengan begitu cepat.
Plak!
Menampar Siska. "Nggak sangka Ibu sama kamu Siska." ucapnya penuh amarah.
"Ibu ‘kan tau aku sangat mencintai Mas Abyan." meluk kaki yang di sebut Ibunya. "Aku mau di jadikan istri ke-dua, Bu." melihat ke arah Ibu Sari. "Ibu..."
"Gila kamu, Siska." Oma Farra terlihat sangat marah. "Kamu sudah ku anggap sebagai cucu kesayanganku, begitu hinanya menjadi perempuan."
"Gue harus apa?" bisik di telinga Falisha.
"Urusan elu sama Mas Abyan, dikamar. Keluarin apa yang di pikiran, elu?"
"Jadi gue berdiri aja di sini lihat peran antagonis, tersakiti."
"Lu boleh kok, pura-pura menangis, suruh Mas Abyan nikah lagi."
"Serius lu?"
"Kalau nggak mau juga nggak apa-apa?"
"Jika Mas Abyan mau gimana?"
"Gue siksa tuh Siska."
"Gila lu."
"Emang gila, enak aja dia nyari masalah sama gue selama ini."
"Terus kalau setelah ini dia nyari masalah sama gue gimana? Balas dendam gitu."
"Laporin sama gue."
"Ngeri gue sama elu."
Melihat Oma begitu marah. Apa beliau tidak mempunyai penyakit gitu? Biasanya kalau orang sudah usia lanjut marah-marah gitu, langsung kena penyakit jantung. Fisik Oma begitu kuat ternyata. Gue harus seperti Oma, nggak gampang sakit.
"Kamu Abyan, nggak bisa apa membedakan mana istri kamu, mana yang bukan?" Oma terlihat kesal.
Iya juga ya, kalau di pikir-pikir Mas Abyan nggak bisa apa membedakan mana gue mana wanita lain?
"Suasana benar-benar gelap Oma saat aku keluar kamar mandi masih menggunakan handuk. Aku kira itu Zahra di belakangku Oma, memeluk dari belakang." melihat mendekatinku. "Ay, Mamas bisa ngejelasin ini semua, mari kita ke kamar." ajaknya.
"Jelaskan pada istrimu." ucap Ayah Dameer. "Urusan Siska biar kami."
"Mas, kamu nggak ada apa niat menikahi aku, kamu sudah menodai aku Mas, hiks hiks hiks." tangis Siska penuh sesak.
Nggak tau itu benaran sakit atau permainan Siska.
"Cukup Siska, gue jijik sama elu. Beraninya elu ngerayu gue." Mas Abyan terlihat benar-benar marah.
"Mas, kamu harus bertanggung jawab."
"Gue nggak akan pernah mau bertanggung jawab, itu semua salah elu. Lagian gue nggak ngapa-ngapain elu, hanya-" Mas Abyan melihatku.
Melihat Mas Abyan menaikkan alis, ayo Mas hanya apa?
"Ay, ke kamar!" tariknya kuat membawaku naik ke kamar.
Falisha memberi kode dengan tangan di depan dada, berucap semangat.
Menganggukkan kepala pelan tandaku iya.
__ADS_1
Bersambung...