
8 tahun silam.
Gue dan Abang Doni telah berpacaran hampir dua tahun, duduk di kursi taman alun-alun kota berjarak satu meter kami lakukan. Gue tipe wanita yang penjagaannya sangat kuat, jangankan di pegang, jalan aja kalau bisa bermeter-meter.
Abang Doni pun tau akan hal itu, kami yang juga jarang bertemu di akibatkan Abang Doni kerja sebagai scurity dan gue kuliah tinggalnya juga di asrama dengan penjagaan ketat.
Selama itu gue dan Abang pacaran hanya lewat via telepon dan video call, dengan Bang Doni berusaha menabung untuk menikahi gue setelah lulus kuliah.
Akibat kecelakaan orang tua gue, Abang Doni menunda cukup lama sekitar lima bulan setelah lulus.
"Sayang, uang yang di tabung udah banyak. Besok Abang mau kerumah ngelamar kamu?" ucapnya malu-malu pada gue, akhirnya perjalanan cinta kami akan di bawa ke jenjang yang lebih serius.
"Iya, Bang." setujuku.
***
"Assalamu'alaikum." Bang Doni datang kerumah, dengan pakaian rapi dan gagahnya, wajah yang standar itu bisa memikat hati gue sedalam lautan.
"Waalaikumussalam." jawab keluarga yang telah hadir menunggu kedatangan Bang Doni, setelah gue beri tau kalau dirinya akan datang melamar.
"Masuk, Abang." ucapku malu, dengan jantung yang bergoyang hebo di dalam sana. Saat-saat inilah yang gue nantikan sebagai kekasih, menyerahkan semuanya pada sang pujaan, saat setelah akad nikah berlangsung nantinya. Semua yang gue jaga selama ini dengan mengikat janji suci yang romantis pikiranku melayang ke ujung sana.
Abang Doni duduk, di karpet biru yang sudah di siapkan oleh sanak keluarga.
"Uwa, Bibi, Yayu, Paman. Abang Doni ke sini mau melamar aku." ucapku yang duduk di samping berdekatan dengan Abang Doni. Selama ini jarak kami satu meter, ini pertama kali dekatnya hanya lima puluh sentimeter.
"Nggak bisa Zahra." suara lantang Bi Rosida menolak mentah-mentah, menentang maksud baik dari Abang Doni.
"Kenapa Bi?" tanya Abang Doni.
"Zahra baru lulus kuliah Doni, kerja dulu, mencoba gaji sendiri." jawab Bi Nur.
"Benar Nak Doni, kami ingin Zahra mempunyai pegangan sendiri." sambung Uwa Sani memberi pendapat.
"Iya Zahra, jangan seperti Yayu tamat sekolah langsung nikah. Jadinya begini, suami di ambil pelakor." ucap Yayu Dina terang-terangan menyindir Abang Doni takutnya sama seperti mantan suaminya dulu.
Abang Doni melihatku. "Benar adanya Zah, apa kata Bibi, Uwa dan Yayu." ngalahnya di depan keluargaku, agar di pandang penurut dan masuk katagori suami yang baik di masa depan.
Padahal dirinya selalu memaksa gue untuk menikah.
__ADS_1
"Iya Bang." jawabku mengikuti arahan, supaya niat baik ini berjalan dengan lancar.
***
1 tahun berlalu.
Bekerja di sebuah klinik dekat rumah, dengan penghasilan lima ratus ribu perbulan, cukup sudah bagiku membuktikan ini hasil kerja kerasku. Padahal tabungan gue terbilang banyak dari hasil nulis film. Guenya aja nggak bilang pada mereka, bahwa gue juga bekerja sebagai penulis di perusahaan terkenal.
Mereka duluan yang menentang cita-cita gue, sudah cukup gue dan sahabat aja yang tau.
Abang Doni akhirnya datang kembali dengan penantian tiga tahun lamanya, kembali dirinya datang.
"Saya datang kembali, untuk menikah dengan Zahra." ucap Bang Doni gugup.
"Enggak bisa." tolak Bi Rosida kembali.
Gue terkejut, perasaan kemarin-kemarin mereka memperbolehkan kenapa sekarang nolak lagi? Apa maunya mereka? Usia gue juga udah masuk dua puluh satu tahun, cukup untuk menikah.
"Kenapa, Bi?" gue langsung bertanya.
"Zahra kamu nggak pantas nikah sama yang nggak setara sama kamu." ucap pedas Bi Nur.
"Setidaknya Zahra, kalau orang kesehatan nikahnya sama kacang tanah (Polisi) atau kacang hijau (TNI)." ucap Bi Rosida terang-terangan tanpa memikirkan perasaan Bang Doni.
"Salahnya di mana, Bi?" masih bingung dengan pikiran primitif mereka.
"Aku mengerti Ra, lebih baik aku pulang." ucap Bang Doni berdiri dengan wajah lesu tak berdaya. "Kalau begitu, aku pamit Uwa, Bi." izinnya pulang tanpa berkata apapun lagi padaku.
"Maksud, kalian apa?" tanyaku selepas Bang Doni pulang.
"Zahra kamu itu harusnya sadar diri, dengan status kamu sekarang." ucap Bi Rosida.
"Bi status bagiku bukalah hal yang penting, tapi setia, Bi." jelasku.
"Cukup Zahra, kami semua dari awal tidak setuju dengan pacarmu itu." teriak Bi Nur, yang ternyata tidak setuju dengan Abang Doni.
"Kenapa, Bi? Masalahnya dimana? Uang bisa kita cari tapi hati manusia susah." belaku.
"Stop Zahra! Jika kamu masih dengan pikiran kamu menikah dengan Doni. Lihatlah apa yang kami perbuat padanya." ancam Bi Rosida.
__ADS_1
Gue terdiam, menahan sesak di dada. Tega kalian, sama gue.
Dua hari setelahnya Abang Doni mengajakku bertemu di tempat biasa alun-alun kota.
"Ra, cukup sampai disini kita bersama." ajaknya berpisah.
"Tapi Bang, kita bisa berusaha dulu." merayu Abang Doni agar tidak mudah menyerah.
"Penantianku sudah terlalu lama Ra, percuma kita bersama tapi tidak ada titik terang untuk kita menyatu satu sama lain." jelas Bang Doni dengan mata yang berkaca-kaca. "Lebih baik kamu mencari sesuai dengan keinginan keluargamu." berdirinya. "Abang permisi, cukup sampai di sini hubungan kita." perginya meninggalkan gue sendiri.
"Abang..." panggilku menyusul.
Abang Doni berhenti tanpa melihatku. "Menunggu, tidak ada kepastian lebih baik berpisah, aku menyerah Ra, di tambah pekerjaan yang di anggap halal menjadi bahan tuntutan, aku pasrah. Cukup sampai di sini jangan lagi mengejar dan berharap." perginya Bang Doni setelah berucap.
Dengan tubuh yang mematung di tempat, ingin menjerit tapi tida bisa, tega banget keluarga gue menghalangi semuanya.
***
5 tahun berlalu.
Dengan segala usaha gue lakukan untuk mendapatkan cinta Bang Doni dan restu keluarga tetap sia-sia. Melihat Bang Doni yang bergonta-ganti pasangan di media sosial miliknya membuatku yakin dirinya masih mencintai gue, dengan status pekerjaan Bang Doni yang berubah menjadi kacang tanah, dengan sombongnya gue menanti cukup lama selalu menghubungi Bang Doni walaupun tidak pernah di respon balik.
Beberapa hari terlewati, Bang Doni mengirim kertas undangan yang dirinya kirim lewat pos, gue begitu hancur saat itu juga menerima undangan tertera namanya dan nama wanita lain.
Pulang kerumah dengan tubuh yang lemah tak berdaya.
"Ra, kamu kenapa?" Yayu Zainisa bertanya memegang bahuku dengan mata gue yang merah habis menangis saat melihat undangan yang gue terima.
"Ada apa, Zah?" tanya Bi Maryam.
Keluarga besar yang ternyata kumpul habis makan-makan bersama, melihatku.
"Apa Doni melakukan sesuatu sama kamu?" tanya Bi Rosida.
"Cukup semuanya, jangan lagi berucap. Gara-gara kalian Bang Doni menikah dengan orang lain." bentakku melempar kertas undangan.
"Iya syukurlah, jodohnya sudah datang." ucap Bi Nur dengan senang hati.
"Kalian bahagia ya, melihat gue begini, ingat! Mulai detik ini, saya Zahra Aneska nggak akan pernah menikah seumur hidup, biar kalian mau berkata gadis tua, yang penting gue bahagia." marahku meluap, masuk ke dalam kamar, dengan keputusan benar-benar bulat, sakit hati yang teramat menyiksa membuat ku terjun ke dasar lautan paling dalam.
__ADS_1
Bersambung...