Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 86 Asparagus


__ADS_3

Mengikuti jalan Bu Inem melewati rumah warga.


"Siapa atuh ambu, di sampingnya?" tanya Ibu paruh baya membawa keranjang terbuat dari rotan di rangkulannya, berisi sayuran.


"Ini neng geulis." Bu Inem memegang tanganku. "Yang punya sawah tempat saya kerja." jelas Bu Inem merasa bahagia memperkenalkan ku pada Ibu-Ibu yang bertanya tadi.


"Aduh, geulis pesan ey, Bos lagi." ucapnya memujiku.


"Udah dulu ya Nul, saya masih ada kerjaan sama neng Zahra."


"Ya mangga." senyumnya.


"Yuk, Neng." Bu Inem memegang tanganku, untuk mengikutinya berjalan kembali.


Hanya tersenyum, melihat Ibu-Ibu tadi.


"Wah Bi, siapa yang di bawa atuh." tegur lagi laki-laki ganteng terlihat seperti usianya sama dengan gue.


"Ini Bos saya. Udah dulu ya saya lagi ada kerjaan." Bu Inem menarik tanganku lagi, sampailah beberapa warga yang menanyakan ku pada Bu Inem, hanya bisa tersenyum aja, nggak mengerti bahasa mereka.


"Nah itu rumah saya, neng." tunjuk Bu Inem pada rumah kayu yang terlihat usang, namun layak pakai. Khasnya rumah di sini membuat gue semakin nyaman, andai saja Mas Abyan mau tinggal di sini, gue mau-mau aja.


"Duduk dulu di sini, neng." perintah Bu Inem menunjuk kursi kayu di bawah pohon, di sana gue bisa melihat air terjun yang tidak jauh dari rumah Bu Inem.


"Iya Bu." duduk mengikuti arahan.


"Sebentar ya neng, saya ambilkan dulu rempah-rempahnya di belakang, soalnya masih di tanam." jelasnya.


"Saya boleh ikut nggak Bu?" pintaku.


"Udah di sini aja, nanti neng tangannya kotor. lihat nih neng," Bu Inem melihatkan jari dan kukunya hitam-hitam akibat getah dan kotoran lainnya menempel di sana. Gue mah biasa-biasa aja melihatnya. "Mau neng, tangannya sama seperti saya."


"Nggak apa-apa Bu, entar saya cuci aja." ngeyelku. Lagian juga gue dulunya suka main tanah, apalagi comberan. Semenjak nikah sama Mas Abyan aja gue merawat diri, maklum jadi istri Pak Bos.


"Udah nggak usah neng, entar Pak Abyan marah lagi sama saya, gara-gara istrinya main tanah." masih Bu Inem menolakku.


"Kalau Mamas marah sama Ibu, saya yang balik marah." ngeyelku yang ingin ikut membantu Bu Inem, masa udah merepotkan dirinya masih nggak mau bantu.


"Aduh gimana ya?" Bu Inem terlihat bimbang.


Berdiri, "Ayolah Bu, aku ikut." paksaku.


"Hmmm, iya udah kalau gitu." setujunya.


Alhamdulillah.


"Sini neng, turun ke bawah." ajak Bu Inem menuruni tanjakan posisinya tanaman itu di dekat air terjun.


"Oh ya Bu, mana keluarga Ibu?" belum lihat saat berada di dekat rumahnya.

__ADS_1


"Anak saya mah paling main sama teman-temannya, kalau suami saya udah nggak ada neng." jelas Bu Inem santai.


Deg!


Hatiku merasa sedih, mendengar cerita Bu Inem, dirinya dengan usia sudah tua menjadi kepala keluarga.


"Maaf Bu, saya nggak tau." kurang nyaman, membahas almarhum suami Bu Inem, takut dirinya sedih.


"Ah santai aja neng," jawab Bu Inem tersenyum. "Lagian, suami saya meninggal sudah lama banget."


Walau sudah lama, pasti hal itu tidak bisa di lupakan. Seperti gue, yang telah di tinggalkan ke-dua orang tua, saat di mana gue harus bahagia, tapi gue di paksa menutupi itu semua.


"Hmmm, iya Bu."


"Nah itu dia tanamannya," tunjuk Bu Inem pada tanaman yang tersusun rapi, melihat derasnya air terjun mengalir dari atas bukit. Ingin rasanya lompat ke dalam air mandi di sana.


"Neng, mau mandi?" Bu Inem sepertinya peka melihatku yang mengarah ke air terjun.


"Ah nggak Bu, aku hanya lihat aja." tolakku.


"Oh iya neng, kalau begitu sini." ajak Bu Inem duduk, dirinya mulai mengais rempah-rempah.


Melipat pakaian agar tidak kotor sebelum ikut mengambil rempah-rempah yang di butuhkan Bu Inem.


"Ambil yang itu aja neng," Bu Inem menunjuk pada batang berwarna hijau berdaun panjang. "Sekitar lima batang." perinta Bu Inem, saat hampir mengais tanah.


"Oh iya Bu." mulai berjalan ke arah yang di tunjukkan.


"Itu namanya tanaman asparagus neng, sangat bagus untuk kesehatan." jelas Bu Inem yang mungkin melihatku bingung dengan bentuk nih tanaman.


Oh ini, tanaman asparagus yang terkenal khasiatnya itu.


Mengambil sesuai pinta Bu Inem.


Jeleder!


"Astaghfirullahal'azim." memegang dada terkejut mendengar suara petir yang menyambar langit-langit, secara tiba-tiba.


Awan mendung menutupi langit-langit, suara petir terdengar jelas dimana-mana.


"Aduh mau hujan nih neng, ayo cepat kita pulang kerumah, ini bahan juga udah cukup, di rumah saya masih banyak."


"Ah iya Bu, ini daun asparagusnya." menyerahkan pada Bu Inem.


Bu Inem mengambil. "Ayo jalannya sedikit cepat neng."


Jeleder!


Tepat banget di hadapanku petir menyambar pohon. "Astaghfirullah." jantung gue mau copot rasanya, melihat pukulan malaikat langit menandakan bukti kebesaran sang maha kuasa.

__ADS_1


"Ayo neng, cepat." pekik Bu Inem.


"Iya Bu." berjalan sedikit berlarian mengikuti langkah Bu Inem.


"Aduh," kakiku tergores oleh kayu kecil, di bawah sana.


"Kenapa neng?"


"Nggak apa-apa Bu."


"Astaghfirullah, neng kakimu berdarah." tunjuk Bu Inem melihat kakiku.


Melihat memang benar adanya. "Hujan mulai turun, ayo neng." ucap Bu Inem menarik tanganku.


"Ah iya Bu."


Bu Inem membuka pintu rumah.


"Ayo masuk ke dalam pondok saya neng."


Hanya menganggukkan kepala, mengikuti Bu Inem masuk. Penglihatanku terpaku pada atap dan dinding yang bocor akibat hujan yang mulai mengguyur sangat deras.


"Neng duduk dulu di situ." tunjuk Bu Inem, pada ranjang kecil terbuat dari rotan di lapisi kain yang kurang terlihat bersih.


"Iya Bu." mengikutin arahan.


"Aduh maaf yang neng, gara-gara Ibu, neng geulis jadinya begini." Bu Inem terlihat cemas melihatku.


"Santai aja Bu, nggak perlu takut." ucapku tersenyum-senyum.


"Maaf rumah saya, bocor neng. Mau benarin belum ada uangnya." jujur Bu Inem tanpa rasa malu, kalau di pikir-pikir, lebih baik gue berbicara sama Mas Abyan. Soal bantuan untuk Bu Inem, Boby, Pak Paijo, Bu Ninik, Bu Tukiyem, dan Pak Agung.


"Neng ini kain dan air, untuk membasuh luka di kaki eneng." Bu Inem menyerahkan wadah berisi kain bersih.


Mengambil. "Iya Bu terimakasih."


"Iya neng sama-sama. Ibu buat ramuan dulu ya neng sebentar."


"Iya Bu, maaf udah ngerepotin."


"Ah ndak kok neng, Ibu ikhlas membantu." jawabnya dengan tersenyum.


"Terimakasih ya Bu."


"Sama-sama." jalannya ke arah dapur, sedangkan gue mengelap kaki yang mengalir darah segar.


Jeleder!


"Astaghfirullah," terkejut lagi mendengar suara petir, biasanya di Jakarta, nggak sebesar di sini. Teringat dengan Mas Abyan, semoga dirinya di lindungi oleh Tuhan dengan cuaca ekstrem gini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2