Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 117 Manusia atau Malaikat


__ADS_3

Sesuai perkataan Dokter Idris dan Mas Abyan beberapa hari ini gue di terapi untuk menyembuhkan beberapa syarat yang masih belum optimal bekerja di tubuhku.


Nyeri sakit dimana-mana di rasakan. Namun hari ini, alhamdulillah sudah lebih ringan untuk bergerak.


Beberapa hari ini juga, belajar memberi asi pada ke-dua baby boy. Begini rasanya menjadi seorang Ibu, bahagia, terharu, tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata apapun.


Sekarang ke-dua baby boy sedang tidur pulas di box bayi.


Setiap hari banyak yang berdatangan membesukku dan melihat baby boy, kado di ujung sudut ruangan, telah menggunung entah apa yang mereka beri, belum sempat kami buka.


Hari ini Falisha, Mika gantian muntah di kamar mandi. Kasihan melihat mereka berdua.


"Udah kalian pulang aja." nggak tega melihat mereka begini.


Falisha duduk di kursi dengan menyender bersama Mika. "Nggak mau, lebih baik di sini aja. Di sini gue bisa melihat baby Azri dan Adam, dengan begitu semangatku untuk menjalankan kehamilan ini. Di rumah nggak sanggup gue. Rasanya lebih baik gue menyelesaikan setumpuk berkas dari pada begini." ucap Falisha menahan kepalanya.


"Sama gue juga." sambung Mika.


Hmmm! Kasihan mereka berdua.


"Apa benar ya, suami kita itu nggak cinta banget?" tanya Falisha ke Mika.


"Sepertinya." jawab Mika.


"Bukan begitu juga Sha, Mik. Mungkin saja cobaan gue begitu berat, jadinya Tuhan ingin Mas Abyan juga merasakan." candaku melihat Mas Abyan.


Mas Abyan melihatku sebentar, tapi dirinya sibuk menggendong salah satu anaknya, beberapa menit gantian menggedong yang satunya. Sepertinya gue sekarang nggak di perhatikan lagi deh.


"Iya juga ya." ucap Falisha.


Tok tok tok!


Mas Abyan berdiri, membuka pintu.


Terlihat jelas teman kerjaku dulu hadir, ya Allah bertemu mereka lagi.


"Maaf Pak Abyan, boleh kami melihat Bu Zahra." ucap Bu karu meminta Izin.


"Iya, boleh." Mas Abyan membuka pintu lebar.


"Terimakasih, Pak." ucap Bu karu.


Mereka masuk, ada Bu Hasya, Bu Ika, Bu Eri, dan Bu Risma. Sisanya seperti menunggu di ruangan.


Sebahagia ini ku rasakan, melihat mereka lagi.


"Bagaimana Bu, kabar anda?" tanya Bu karu sopan padaku.


Kenapa rasanya jadi canggung begini?


"Biasa aja kenapa, Bu?" santaiku berkata agar mereka seperti semula.


Bu Hasya memberi kode melihat Mas Abyan dan Falisha.

__ADS_1


"Eh, kalian datang juga." ucap Mika baru sadar.


"I-iya, Bu." jawab Bu Risma sangat terlihat canggung.


"Kalian kenapa?" Mika pun terlihat bingung dengan reaksi mereka.


"Sha..." senyumku memberi kode padanya.


Falisha masih memegang kepalanya. "Udah terserah di kalian aja, gue nggak masalah."


Melihat Mas Abyan.


Mas Abyan berdiri dengan tersenyum. "Mamas ke atas dulu."


"Aduh..." ucapku memegang dada.


"Kenapa, Ay?" langsung Mas Abyan mendekat.


Semuanya juga terlihat khawatir. "Aduh senyumanmu membuat jantungku bergetar hebat, Mas." gombalku agar Mas Abyan nggak merasa gimana gitu, saat meminta dirinya keluar sebentar.


Mas Abyan mengulum senyum.


"Aduh kena banget." ucap pelan Bu Hasya.


"Uwek... Tambah mual gue, Mik." ucap Falisha.


"Sama, gue juga. Sepertinya kelamaan tidur jadi gitu tetangga kita." sindir Mika ke gue.


Mas Abyan menggigit bibirnya, sambil jarinya menunjukku. Entah dirinya memberi kode apa? Berjalan pelan keluar ruangan, menutup pintu.


"Nah enak kalian bicara begini." ucapku pada mereka, wajah-wajah tegang itu hilang seketika.


"Gimana kondisi lu, Ra? Gue hampir jantungan lihat elu di bawa dengan kondisi." Bu Hasya terlihat tidak mampu menjelaskan kondisiku saat itu.


"Alhamdulillah udah baikan, tinggal melihat gimana keputusan Mas Abyan untuk beberapa hari ke depan." jelasku agar mereka nggak terlalu cemas campur khawatir.


"Alhamdulillah... Hebat ya, Pak Bos. Baru kali ini gue lihat benar-benar sempurna dirinya. Satu rumah sakit hebo berita tentang itu." ucap Bu Eri yang suka mendengar gosip. Entah kenapa gue benar-benar kangen dengan masa-masanya kami suka gosip hal yang nggak penting tapi berhasil bikin semua semakin kompak.


"Begitulah Mamas, Bu. Kalian belum lihat hal lainnya." jelas Falisha.


"Maksudnya, Ibu?" tanya Bu Eri langsung keponya beraksi. Gue pun sama.


"Tuh di box bisa bikin dua langsung." Falisha menunjuk Azri dan Adam.


Gue kira apa? Buat gue malu aja.


"Aah, iya benar. Kami semua hampir lupa ada si kembar." ucap Bu Hasya.


Mereka semua melihat baby boy.


"Masya Allah ganteng, Ra." ucap Bu Risma.


"Hayo, siapa kemarin yang mau daftar jadi mantu Zahra?" ucap Mika menujuk Bu Risma, Bu Hasya, Bu Ika, Bu karu, Bu Eri.

__ADS_1


"Nggak jadi deh." ucap Bu Hasya.


"Kenapa?" tanya Mika.


"Anak kami rata-rata perempuannya udah sekolah. Laki-laki aja yang masih kecil. Kalau nih perempuan bisa. Lah laki semua, mundur kita." ucap Bu Ika.


"Hahaha..." kami semua tertawa.


"Siapa nih namanya, Ra?" tanya Bu Eri.


"Azri dan Adam, Bu." jawabku merasa bahagia memperkenalkan anakku pada mereka.


"Bagus banget namanya." ucap Bu Hasya. "Hebat lu Ra buat beginian, keluar langsung dua." mulai Bu Hasya jahil. Dirinya melihat Mika. "Elu gimana, Mik? Nggak sangka ya, elu tau-tau nikah sama dokter Idris, gila kalian berdua bisa bikin kami semua hampir kena serangan jantung."


"Iya yah, diam-diam. Eh, kawin." ucap Bu Eri.


"Nikah..." ucap kami serentak membenarkan ucapan Bu Eri.


"Hahaha... Iya-iya nikah maksudnya." tawa Bu Eri.


"Jodoh sudah di atur oleh sang maha kuasa." ucap Falisha. "Gue aja nggak tau kenapa bisa nikah sama Mas Aziz?" sambungnya.


"Itu emang maunya elu." ucap Mika ke Falisha.


Falisha tersenyum. "Iya sih, elu suka benar."


"Wah, nggak sangka sahabat menjadi keluarga." ucap Bu Hasya, dirinya melihatku. "Untung elu nggak nikah sama Fadel." Bu Hasya mengingatiku pada masa-masa itu, hmmm!


"Kenapa Fadel?" tanya Falisha kepo.


"Fadel suka jahili Zahra waktu masih kerja, ngajak nikahlah, pacaranlah." ucap Bu Hasya.


"Apa?" teriak Falisha.


"Eh Ibu tau, dengan Fadel?" tanya Bu Hasya.


"Iyalah Bu, itu adiknya Mas Idris." jawab Falisha.


"Apa?" Bu Hasya, Bu Ika, Bu Eri, Bu Risma terkejut.


"Oeeek... Oeeek..."


"Kan gara-gara kalian, anak Zahra nangis." ucap Mika.


"Cup-cup, maaf ya, Nak." Bu Hasya, Bu Ika, Bu Eri, Bu Risma dan Bu karu mendiamkan anakku.


"Intinya, Fadel itu memang di perintah Pak Bos untuk menjaga Zahra." jelas Bu karu.


"Ibu tau?" tanya Bu Hasya pelan pada Bu karu.


"Iya jelas. Dirinya gimana mau masuk ke ruangan kalau saya nggak tau identitas dirinya." jelas Bu karu.


"Iya juga sih." ucap Bu Risma.

__ADS_1


Kalau di pikir-pikir, Mas Abyan begitu perhatian sama gue. Lebih lagi, Mas Abyan mempunyai banyak kejutan, ingin banget bertanya, sebenarnya gue nikah sama manusia atau malaikat sih?


Bersambung...


__ADS_2