
"Hmmm..." mencari posisi ternyaman, tangan kiri mencari apa yang bisa di peluk.
Ah dapat, memegang perut Mika atau Falisha merapatkan tubuh menyender.
Merasa ada yang berbeda, kenapa pinggangnya sedikit kekar. Mulai memasukkan tangan ke dalam pakaiannya, memastikan sesuatu, kenapa ini perut berotot ya? Naik ke bagian dada, kenapa nggak ada buah-buahan di sini? berhenti sebentar, jangan-jangan-
Membuka mata perlahan. "Aaaaaa...." teriakku menjauh. "Mamas..." pekikku saat melihat Mas Abyan tidur santai menopang kepalanya dengan tangan kiri, tersenyum-senyum melihatku.
"Udah meraba-rabanya?" tanya Mas Abyan.
"Mamas ngapain di sini?" melihat isi ruangan, sama seperti semalam, buktinya ada bekas sisa makanan kami.
"Lihatin istri tidur, yang tangannya kemana-mana. Kamu kangen sama Mamas, Ay?"
"Apaan sih, Mas!" melihat Mas Abyan malu di sindir gini. "Falisha dan Mika mana Mas?" membahas ke lain.
"Lagi berhias di kamar lain, habis sholat subuh tadi." jelas Mas Abyan santai.
"Kenapa nggak bangunin aku?"
"Katanya kamu di banguni nggak juga bangun?"
Masa gue nggak bangun, nggak mungkin deh.
"Ini jam berapa?"
Mas Abyan mengeluarkan handphonenya dalam saku celana. "Setengah enam, Ay."
"Astaghfirullah. Aku belum shalat subuh Mas." cepat turun dari atas ranjang berlarian ke dalam kamar mandi mengambil wudhu.
Selesai langsung keluar kamar mandi, ngambil alat shalat, mulai melaksanakan shalat subuh.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," melihat ke kiri. "assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah." berdiri melihat Mas Abyan duduk di atas ranjang memainkan handphone. "Mamas nggak siap-siap?" melepaskan mukena dan melipatnya.
"Belum Ay, Mamas nunggu kamu." jawab Mas Abyan masih fokus ke layar handphone.
"Kenapa nunggu aku Mas, entar terlambat gimana?" meletakkan alat shalat di lemari.
"Santai aja, Ay. lagian masih antri di hias." jawab Mas Abyan meletakkan handphone di atas ranjang.
"Oh, Mamas udah mandi?"
"Nunggu kamu, Ay."
"Mas bukan aku mau menolak, lebih baik Mamas duluan mandinya, entar kalau kita mandi bersama di takutkan tidak bisa hadir ke acara Falisha dan Mika." ucapku memberikan solusi dan kode etik di dalamnya.
Mas Abyan tersenyum-senyum. "Bentar nggak lama." ngeyelnya.
"Nggak! Lebih baik aku duluan." cepat ku jalan ke dalam kamar mandi. Sebelum benar-benar tidak menghadiri acara resepsi Mika dan Falisha yang sekali dalam seumur hidup, kalau Mas Abyan bisa kapan aja masih banyak waktu.
***
Kami semua sudah berdiri di belakang Falisha yang berpegang dengan Pak Aziz, di depan sekali Mika dan Dokter Idris.
Menggunakan pakaian kebaya berwarna coklat tua meramaikan suasana acara.
__ADS_1
Pintu di buka musik mulai terdengar berjudul pagar pengantin dari daerah sumatera selatan.
Perlahan kami semua masuk ke dalam gedung utama di mana dulunya mengadakan resepsi di sini. Ingatanku masih jelas terbayang saat Mas Abyan menyiapkan resepsi kami di sini. Memegang tangan Mas Abyan sedikit gemetar, akibat sorotan kameramen sibuk mengambil gambar kami yang berjalan masuk.
"Jangan gugup Ay, yang resepsi mereka, kita udah selesai." bisik Mas Abyan di telingaku, mungkin taunya dengan tangan gue yang gemetar.
Melihat Mas Abyan dengan tersenyum, malunya ketahuan gugup.
Mika dan Pak Aziz menaiki panggung di sebelah kiri, sedangkan Mika dan Dokter Idris di panggung sebelah kanan.
Mas Abyan, Oma Farra, Hanum, Mas Darman, Amel dan Tama, kami duduk di kursi bermeja bundar di lapisi kain berwarna putih. Pihak keluarga duduk di kursi di sebelah kami.
Melihat ke-dua sahabatku telah duduk di atas pelaminan, membuatku ingin meneteskan air mata, akhirnya kami semua melepaskan masa lajang di usia yang tidak mudah lagi.
"Ay, kenapa nangis?" Mas Abyan terlihat khawatir.
"Aku terharu Mas melihat Mika dan Falisha duduk di sana." tunjukku dua pelaminan di hadapan kami.
"Oh ini, lap dulu air matanya." Mas Abyan memberikanku tisu.
Mengambil. "Iya Mas, terimakasih."
"Aunty..." Amel dan Tama memelukku yang duduk di dekat Oma Farra.
"Hmmm iya." mengelap air mata dengan tisu.
"Aunty jangan nangis, nanti dedeknya bangun." Amel dan Tama mengelus perutku.
Melihat Mas Abyan, Oma Farra, Mas Darman, dan Hanum yang tersenyum-senyum melihat ke arahku.
Baru juga tiga hari masa gue langsung hamil. "Hmmm, iya." jawabku mengiyakan saja, siapa tau berudu memang sudah berkembang biak di dalam sana.
"Hmmm, nggak sabarnya. Ingin memamerkan sama teman-teman di sekolah." ucap Amel bahagia mengelus perutku.
Melihat Mas Abyan meminta bantuan.
"Sini duduk di pangkuan Ayah aja." Mas Abyan ngerti dengan kodeku.
"Ayah..." Amel dan Tama langsung mendekati Mas Abyan dan duduk di pangkuannya.
Hanya bisa tersenyum-senyum melihat Mas Abyan yang sangat menyukai Tama dan Amel.
Kalau gue benar hamil, gimana ya reaksi Mas Abyan?
"Halo semua..." suara yang gue kenal, langsung melihat siapa yang datang.
Ishana ternyata telah memegang bahu Mas Abyan memeluk dari belakang. "Mamas aku kangen."
Mas Abyan melihatku.
"Ishana jaga tingkah lakumu." ucap Oma menegur, melihat Oma yang sekarang berbeda, kemarin ikut memanasi, tau gue idolanya semua itu sirna.
"Lepas Ishana." perintah Mas Abyan.
"Iya nih aunty, nggak malu apa?" ucap Amel membuatku terkejut, anak kecil itu bisa berkata demikian.
__ADS_1
Tama juga melepas tangan Ishana yang melingkar di leher Mas Abyan.
Panas banget melihat tingkah Ishana.
"Kalian kenapa sih? Aku ‘kan kangen." kembali Ishana memeluk leher Mas Abyan.
"Ishana lepas, sebelum Mamas marah." perintah kembali Mas Abyan dengan tegas terhadap Ishana.
Melihat ke arah lain ajalah, mau marah entar di sorot kamera viral gue, walau dalam hati ingin sekali ngajak nih ular derik berantem, kesal gue.
"Ih Mamas." ucapnya manja.
"Ishana lebih baik elu pergi cari tempat duduk lain, sebelum gue juga marah." usir Hanum terlihat emosi.
Nafas kasar Ishana terdengar. "Oma..." Ishana mendekati Oma Farra, mungkin minta di bela.
"Ishana kamu itu sekarang artis terkenal, jangan membuat nama kamu jelek di depan para fansmu, duduklah acara mau di mulai, jangan juga mancing Oma marah." ucap Oma saat Ishana memeluk leher Oma Farra.
"Hmmm." Ishana melepaskan pelukannya, langsung ke arah belakang, entah kemana terlihat wajahnya kesal.
Sesi salaman dan potong kue sudah di laksanakan, tibalah pihak WO memberikan mix pada Mika dan Falisha, musik di mulai dengan lagu yang berjudul jaran goyang.
Sungguh terkejut, mendengar musik yang terbilang cukup hebo itu menggemparkan isi ruangan.
Tamu undangan satu persatu ikut berdiri, bergoyang.
"Eeeee, ah." ucap Falisha.
"Heeee, ah." sambung Mika.
Kenapa teman gue jadi begini?
Mika dan Falisha bergoyang hebo di atas sana di ikuti Pak Aziz dan Dokter Idris serta keluarga yang duduk bersama mereka, termasuk Ayah Dameer dan Ibu Sari.
"Apa salah dan dosaku, Sayang? Cinta suciku kau buang-buang, lihat jurus yang ‘kan ku berikan jaran goyang, jaran goyang. Sayang, janganlah kau waton serem, hubungan kita semula adem, tapi sekarang kecut, bagaikan asem, semar mesem, semar mesem." ucap Falisha.
"Jurus yang sangat ampuh, teruji, terpercaya, tanpa anjuran Dokter, tanpa harus muter-muter, cukup siji solusinya, pergi ke Mbah Dukun saja langsung sambat, "Mbah, saya putus cinta!" ucap Mika.
"Kalau tidak berhasil, pakai jurus yang kedua semar mesem namanya, jaran goyang jodohnya." ucap Falisha
"Cen rada ndagel syarate, penting dilakoni wae, ndang di coba, mesthi hasil terbukti kasiate gejrot." ucap Mika.
Falisha melihat Pak Aziz yang berdiri di sampingnya. "Dam, du-di-dam, aku padamu i love you, I can't stop loving you oh, darling, jaran goyang menunggumu."
Mika melihat Dokter Idris yang berada di sampingnya. "Apa salah dan dosaku, Sayang? Cinta suciku kau buang-buang lihat jurus yang ‘kan ku berikan jaran goyang, jaran goyang. Sayang, janganlah kau waton serem hubungan kita semula adem tapi sekarang kecut, bagaikan asem semar mesem, semar mesem."
Semua tamu undangan, keluarga besar, Oma Farra, Hanum, Mas Darman berdiri ikut bergoyang.
"Mamas nggak ikut?" bisikku di telinga Mas Abyan.
"Ayo, Ay." Mas Abyan berdiri, mulainya bergoyang pelan.
Hmmm, Mamas bisa juga ikut goyang ternyata.
"Ayo, Ay. Kenapa Malu, kemarin goyang di kamar biasa-biasa aja." sindir Mas Abyan melihatku pernah bergoyang di apartemen kemarin menggunakan handset di telinga.
__ADS_1
"Kalau di rumah nggak apa-apa, Mas. Di sini malu aku." apalagi ada kamu Mas, kalau nggak ada, gue udah naik ke pelaminan ikut gila berjamaah.
Bersambung...