
Mobil telah sampai di depan hotel. "Makasih ya, Pak?" senyumku pada Pak Aman.
"Iya Non, sama-sama." balasnya.
Membuka pintu keluar membawa paper bag, sedangkan tas kecil gue gantung di bahu dengan tali panjang.
Hatiku berasa pedih ya, masih nggak bisa berkata apa-apa gitu, melihat Mas Abyan ternyata sama dengan yang lain.
Kenapa dirinya masih tetap memilih gue? Apa mungkin, gue dulu pernah hidup nyusahin orang lalu mati di bunuh, terus terlahir kembali jadi orang yang hidup penuh penderitaan begini.
Orang tua yang meninggal dengan cepat, keluarga memanfaatkan gue, sedangkan suami, gue nggak tau harus nilai Mas Abyan seperti apa?
Berjalan masuk ke dalam hotel menuju restoran mencari Falisha, lupakan dulu urusan Mas Abyan, sekarang ini yang lebih penting hari ulang tahun Mika.
"Ra..." suara Falisha memanggil.
Mencari di mana arah suara tersebut, ternyata Falisha duduk di dekat jendela.
"Gimana Mika, udah ke sini belum?" tanyaku sambil duduk, meletakkan paper bag di lantai.
"Bentar lagi datang! Eh kata Ibu lu kerumah tadi masak ya sama mertua, cie cie."
"Kok lu tau?" curigaku.
"Taulah Ibu tadinya nyuruh gue pulang, biar masak sama-sama. Tapi gue malas ah, ada Ishana." ucapnya malas. "Mas." panggil Falisha ke pelayan.
Gue baru aja mau bicara Falisha ke lain, penasaran dengan Ishana ada hubungan apa dengan Mas Abyan?
Pelayan mendekat. "Pesan apa Mbak?" tanyanya.
"Gue pesan jus mangga satu," Falisha melihatku. "Elu pesan apa?"
"Biasalah pesan jus melon aja."
Melihat Falisha ke pelayan. "Itu aja dulu, entar kalau mau pesan kita panggil lagi."
"Iya Mbak." perginya perlahan.
"Sha..." langsung memanggilnya.
"Kenapa?" jawabnya santai.
"Gue ingin tau, tuh Mamas lu sama Ishana ada hubungan apa sih? Penasaran gue."
Senyumnya. "Oh, lu cemburu sekarang ceritanya?"
"Nggak gitu, soalnya gue bingung Ishana kenapa jadi perempuan kok murahan banget, geli gue lihatnya?"
"Oh, sebenarnya dia tuh baik orangnya, emang si ada keluarga bilang, Ishana sama Mamas kenapa nggak di nikahin aja?"
"Permisi Mbak, ini minumnya." pelayan datang meletakkan pesanan kami, kemudian pergi.
"Terus?" semakin penasaran gue.
"Berhubung Oma maunya lu jadi pasangan Mas Abyan, yah nggak jadi."
"Eh tunggu-tunggu, jangan bilang Mamas lu tau gue ini penulis yang di cari Oma, makanya dia nikahin gue." dugaku.
"Enggak mungkin, data lu gue yang pegang." jelasnya lagi.
"Terus-terus, kenapa lu seperti nggak suka sama Ishana?" kepoku.
__ADS_1
"Lu lihat aja, dari pakaian sama tingkah laku dia dekatin Mamas gimana?"
"Jangan bilang Ishana suka sama Mamas kali ya?"
"Sepertinya iya! Tapi lu jangan cemburu, Ishana itu walaupun dia suka sama Mamas dia akan memberikan pada lu, sebagai idolanya."
"Maksud lu apa?" makin penasaran gue.
"Misal nih ya, lu tuh suka banget sama siapa? Oh sama motor elu, tapi motor elu maunya sama orang lain. Lu pasti ngasih motor lu sama orang lain 'kan, yang penting bahagia dianya."
"Oh seperti itu, tapi sekarang dia ngajak gue perang sepertinya."
"Udah lu nggak usah pedulikan dia, terserah dialah, gue aja pusing. Terus lu sama Mamas, gimana sekarang?" tanya Falisha mulai kepo.
"Iya mulai berkomunikasi seperti sahabat."
Nggak mungkin gue ceritain, Mas Abyan lagi senam erotis tadi di kantor. Bisa-bisa acara Mika di batalin, terus berkelahi nggak sudah-sudah di atas lebaran idul Fitri.
"Lambat banget sih kalian, pakai acara masih teman, sahabat dulu."
"Elu tuh gimana? Jangan bisanya mikirin gue aja. Emang enak jadi gue gini?"
"Kalau gue jadi elu, langsung aja tuh Mamas gue ajak berantem di ranjang."
"Untung elu bukan gue! Jadi gimana sekarang, udah ada belum yang elu suka? Kasihan tau Ibu tadi cerita sama gue pusing mikirin elu belum juga nikah."
"Gue sih, emang lagi suka sama seseorang." ngakunya malu.
"Sama siapa?" terkejut gue, selama ini nggak cerita.
"Mas Aziz." ucapnya malu dengan jujur.
"Biasa aja, jangan lu seperti Mika suka jantungan."
"Habis gue syok, gimana ceritanya?"
"Gue,-"
"Ra, Sha." teriak Mika memanggil.
Kami melihat ke arah Mika. "Sini." ucap Falisha, memanggil dengan tangannya. "Udah kita bahas lain kali aja, fokus ke acara Mika dulu." ucap Falisha ke gue.
Menganggukkan kepala, walau pun penasaran ingin tau, nggak fokus juga kalau di ceritakan sekarang, soalnya banyak iklan mulu yang ditayangkan.
"Ada apa kalian ngajak nongkrong di sini?" ucap Mika langsung duduk.
"Lu mau pesan minum dulu nggak?" tanya Falisha.
"Mau, panas di luar." ucapnya manja.
"Mas..." panggil Falisha ke pelayan lagi yang berdiri di dekat meja kasir.
Kalau soal makan, teriak-teriak gue serahin ke Falisha atau Mika. Gue susah seperti itu, banyak ucapan aja suara gue langsung habis.
"Iya Mbak." pelayan menghampirin.
"Gue jus apel satu." ucap Mika langsung.
"Iya Mbak, di tunggu sebentar."
"Lama juga nggak apa-apa Mas, kami menginap di sini." candaku.
__ADS_1
Senyum pelayan. "Boleh kok Mbak, sekalian boking saya." candanya.
Kami semua tertawa. "Gila jangan ngajak-ngajak lu Ra. Suami lu tau, habis lu jadi ayam goreng." ucap Falisha.
"Ayam panggang aja." jawabku.
"Eh ayam gulai juga enak." sambung Mika.
"Jadi gimana keputusannya, Mbak?" tanya pelayan yang ikutan bercanda.
"Lu buatin aja pesanan, jangan nambah perkara." jawab Falisha.
"Hahaha, di tunggu ya Mbak."
"Iya." jawab kami serentak.
Wajah pelayan itu tersenyum-senyum, sambil jalan ke arah lain.
Hiks hiks hiks.
Tibanya Mika menangis, heranlah gue dan Falisha.
"Mik, elu kenapa?" tanyaku.
"Udah-udah kita kemar aja, cerita di sana. Di sini malu di lihat orang, tepatnya mereka juga ingin tau, malu sama aib." ucap Falisha.
"Gue lagi sedih, masih bercanda aja lu." ucap Mika.
"Dah ayo." berdiri Falisha. "Mas..." panggilnya pelayan tadi.
"Iya Mbak." pelayan datang dengan cepat.
"Pesanan tadi bawa ke kamar seratus lima puluh enam." ucap Falisha.
"Iya Mbak." berjalan pergi perlahan.
"Yuk cerita di kamar aja." ajak kembali Falisha.
Gue dan Mika hanya mengikuti Falisha, berdiri membawa barang masing-masing.
Sampailah kami di depan pintu kamar. "Mik, ini kuncinya." Falisha memberi kunci kamar.
"Elu kenapa?" Mika mengambil kunci.
"Dah elu aja."
"Apaan sih elu, aneh?" membuka pintu kamar.
Gue dan Falisha menghitung pelan di belakang Mika, satu, dua, tiga.
"Tadah..." ucapku dan Falisha penuh gembira, saat pintu telah di buka.
Kamar telah di rangkai dengan balon berwarna hitam putih, dan pink. Tulisan happy birthday Mika di atas ranjang, bertaburan bunga mawar merah.
Serta pernak-pernik lainnya.
"Hiks hiks hiks.Terimakasih ya sahabat baik gue." ucap Mika terlihat merasa terharu, langsung memeluk kami berdua.
Kami bertiga berpelukan dan bersama-sama menangis.
Bersambung...
__ADS_1