
"Ra, elu nggak lihat handphone? Falisha kirim pesan ngajak duduk di kafe. Coba lu periksa handphone lu." ucap Mika.
"Iya apa? Gue nggak lihat soalnya." mengambil handphone di dalam tas, yang di letakin di atas bahu.
Kami berdua berdiri di pinggir jalan, menuju luar rumah sakit, untuk pulang. Jam dua siang tadi sudah gantian shift dengan yang masuk sore.
Ada du pesan ternyata masuk, pertama Mas Abyan. "Ay, kamu pulang kerja di jemput Falisha. Mamas suruh tadi jemput kamu. Entar ke apartemen kita menginap di sana sementara."
"Iya Mas," balasku.
Falisha. "Ra duduk bentar yuk di kafe depan, pulang entar gue anterin lu sama Mika, Mas Abyan nyuruh lu sama Mamas tinggal di apartemen sementara. Sekalian cerita dulu sama Mika, kalau elu udah nikah, entar di tunda Mika tau dari orang lain, elu yang susah."
"Oke," gue balas beremoji ok.
"Ada nih, yuk jalan kita." sambil masukin handphone ke dalam tas.
***
"Jus jeruk, jus melon, jus mangga. Makan kalian apa?" tanya Falisha yang mencatat pesanan kami.
"Gue makan mie ayam aja." jawab Mika.
"Lu Ra?" melihatku.
"Mie ayam juga, enak sepertinya." jawabku.
"Ok! Eh elu ngidam ya Ra?" tanya Falisha. "Mas." memanggil pelayan, pelayan yang melihat langsung datang. "Nih, terimakasih ya." nyerahin pesanan kami bertiga.
"Di tunggu sebentar ya Neng?" mengambil kertas di tangan Falisha.
"Iya." jawab Falisha. "Eh lu belum jawab pertanyaan gue?" tanya Falisha kembali, padaku.
"Lu lagi nggak waras? Nggak ada pertanyaan lainnya apa?" pertanyaan yang bikin gue emosi.
Gue tau Falisha menyuruh cerita, tapi nggak bahas hamil juga kali.
"Habis malam tadi bukannya lu brantem sama Mamas gue di dalam kamar pengantin." candanya.
"Apa?" berdiri Mika, menepuk meja dengan kuat.
Suuuuut!
Kami berdua memegang tangan Mika untuk duduk kembali.
"Lu kalau terkejut, jangan bikin sekafe juga kali, Ka." ucap Falisha.
Kami bertiga melihat sekeliling banyak yang memperhatikan.
"Maaf, gue syok." ucap Mika. "Maksud dari kalian berdua apa?"
"Gue udah bilang tadi, pas kerja. Kalau undangan itu gue yang nikah." jelasku.
Mika melihatku dan Falisha dengan menyipitkan ke-dua mata. "Kalian kalau ngehalu, nggak cocok deh."
"Gue serius." balasku langsung.
"Mana buktinya?" masih tak percaya.
__ADS_1
Falisha mengambil handphonenya di dalam tas, sambil menekan layar. "Nih foto Zahra lagi di rias pengantin, gue dapat kiriman fotonya tadi pagi oleh fotografer." memberikan pada Mika.
"Ya Allah Ra, lu beneran nikah sama Pak Bos. Kenapa hanya Falisha aja yang lu kasih tau duluan?" melihatku.
"Tuh adiknya depan lu, jelasin Sha."
"Apa?" kembali Mika terkejut.
Kami berdua hanya mengelus kening masing-masing menahan malu melihat tingkah Mika.
"Cerita nggak nih?" tanya Falisha.
"Iya dong, harus itu." jawab Mika.
Falisha menceritakan, bahwa dirinya keluarga besar angkasa earld group dan menceritakan soal pernikahan gue yang di paksa Mamasnya secara tiba-tiba, dengan alasan yang tidak dirinya ketahui.
"Jadi lu benaran istri Pak Bos?" ucap Mika yang baru angkat bicara setelah memperhatikan cerita dari Falisha.
"Lu nggak percaya, entar kapan-kapan kita ketemuan." ajakku.
"Nggak, ah." tolak Mika.
"Napa?"
"Nanti gue mau jadi istri ke-dua lagi, gara-gara ucapan Bu Hasya dan Bu Ima tadi hahaha..." tawa Mika.
"Gila lu." sahut Falisha.
"Bercanda kali, gue mana mau di duakan."
"Lu berarti yang gila hahaha..." jawab Mika tertawa lagi.
"lu nggak capek, kerja hari ni Ra?" tanya Falisha sambil minum dan makan karena pelayan sudah menghidangkannya tadi.
"Nggaklah ngapain capek, fresh gini." jawabku sambil menghisap jus melon.
"Lukan main kuda-kudaan semalam." ucap Falisha.
"Lu dengarkan semalam sama Hanum, Oma, Ibu, tiga saudari gue." ucapku sinis.
"Lo kok tau?"
"Taulah orang kami lihat kalian di cctv."
"Terus lu lihat, berarti sambil main kuda-kudaan dong." kepo Falisha.
"Yang lu dengar bukan main kuda-kudaan, tapi main suit. Siapa yang kalah saling cubit sama main lompat di atas ranjang."
"Serius lu? Ah pasti bohongkan, malu lu mau jujur sama kita." sahut Mika.
"Ih, nggak percaya. Buktinya gue jalan biasa-biasa aja, sehat lagi. Hanya capek aja dikit, gara-gara kerja lembur di tambah resepsi. Tadi gue ke farmasi aja mintak obat vitamin. Gawatkan kalau gue sakit, nggak enak mintak izin cuti lagi." jelasku.
"Jadi lu sama Mamas gue malam-malam main gituan?" tanya Falisha yang masih nggak percaya.
"Iya, gara-gara kalian mau dengar adegan hotkan. Awalnya Mas Abyan tolak tapi gue rayu sebisa mungkin. Biar mau." jelasku.
"Serius lu?" tanya Mika.
__ADS_1
"Serius lah, nggak percaya banget jadi orang." meyakinkan mereka.
"Masalahnya Ra, Mamas gue tuh orangnya seriusan, pendiam, susah di ajak kompromi dingin lagi. Jangan bilang lu bohong kali." ucap Falisha.
"Nggak percaya banget sih. Gue nih mana pernah bohong seperti elu." kesalku.
"Nah kalau benar Mas Abyan ngelakuin apa yang lu pinta, berarti benar Mamas gue udah cinta sama lu Ra." ucap Falisha.
"Masa sih kalau benar sejak kapan coba? Bisa ajakan gara-gara gue ngerayu Mas Abyan jadi dia mau."
"Iya juga sih, lucu ya kalau lu main gituan hahaha... Seperti masa kecil kalian kurang bahagia hahaha..." ucap Falisha.
"Aneh juga bayangi Pak Bos sama lu seperti itu." ucap Mika.
"Kasihan sama yang lain kalau tau lu hanya bohongan." ucap Falisha.
"Jangan juga elu beri tau, gawat gue. Di ceramahin Oma." jawabku.
"Jadi lu Ra sekarang tinggal di mana?" tanya Mika.
"Di mana Sha tadi?" tanyaku lupa.
"Apartemen dekat sini nggak jauh." jawab Falisha.
"Nah tu tempat gue sekarang." menjawab pertanyaan Mika.
"Syukurlah, kasian gue sama elu. Mudah-mudahan lu selamanya dengan Pak Bos. Dulunya lu pindah sana sini. Ngekos nggak boleh, ambil perumahan tambah lagi. Bingung gue sama hidup lu. Mau-mau aja di atur." ucap Mika.
"Gue bertahan karena mereka keluarga gue Mik, hanya mereka yang gue punya. Selain kalian." jelasku.
Huuuuu! peluk mereka padaku.
"Sekarangkan udah punya suami." sambungku lagi.
"Ya suami pajangan aja." ucap Falisha dingin.
"Doain napa, benaran." supaya Falisha merasa sedikit senang.
"Iya gue doain, yuk pulang entar Mamas gue marah lagi." berdiri Falisha.
Kami yang tadi berbicara sambil makan, udah habis semua.
"Yuk, entar suami gue ceramah lagi. Pusing gue." mengikuti Falisha berdiri.
"Lain yang udah punya suami, kita berdua bisa apa?" di ikuti Mika.
"Nikah gih, biar saingan." perintahku.
"Doain ya, kami berdua ngerambat." ucap Mika.
"Emang ubi jalar daunnya ngerambat?"
"Labu juga ngerambat daunnya." balas Mika.
"Dah pulang-pulang." ucap Falisha kesal nunggu perdebatan kami berdua.
Bersambung...
__ADS_1