
Tok tok tok.
Ceklek!
"Masuk, Ra?" ucap Falisha yang sudah duluan berada di dalam kamar.
Berjalan masuk, menutup pintu.
"Baru datang Ra, biasanya elu tepat waktu? tanya Mika ternyata sudah di kamar, duduk santai di atas balkon.
"Mamas baru pulang habis isya, katanya banyak banget kerjaan." jawabku sambil meletakkan paper bag di atas meja, berjalan bersama Falisha mendekati Mika duduk di balkon.
"Emang iya sih, gue aja habis resepsi hanya di kasih cuti satu hari, besoknya masuk. Di tambah Mas Aziz lebih banyak kerjaannya, bentar lagi suami kita Ra tidurnya di perusahaan bukan di rumah." ucap Falisha terlihat kesal.
"Serius lu?" terkejut gue.
"Iya seriuslah, udah makanan mereka berdua. Sekalian aja kita nikahi Mas Abyan sama Mas Aziz biar jadi pasangan yang selalu bersama setiap suka maupun duka." Falisha terlihat semakin kesal.
"Kalau mereka nikah kita jadi apa?" candaku.
"Jandalah." ucap Falisha terang-terangan.
"Ah nggak mau gue." langsungku menolak.
"Makanya siap-siap aja elu kesiapan di rumah, tapi kalau elu bosan atau jenuh gue aja di rumah elu nginap di sana. Sekalian kita buat film." jelas Falisha.
"Lah jadi nggak bulan madu dong, kalian?" tanya Mika.
"Iya mungkin habis acara yang sebentar lagi akan di mulai." jelas Falisha terlihat sedih.
"Acara apa?" kepo Mika.
"Perusahaan sebentar lagi akan bersaing di dunia perfilman, siapa yang bisa menarik masyarakat untuk menonton film yang di tayangkan oleh perusahaan tersebut, perusahaan itu akan mendapatkan rangking tertinggi dalam hal apapun." jelasku.
"Udah mau mulai ya, Sha?" Mika terlihat kepo.
"Udah hanya saja penulis di samping gue ini, berminat atau enggak?" Falisha menyindirku.
"Emang gue di terima?" candaku.
"Gue takut aja istri CEO nggak mau. Di tambah CEO-nya nggak setuju, habis gue di khutbah setiap hari. Mamas kalau soal pekerjaan nggak padang bulu, mau rendah mau tinggi jabatannya tetap sama. Kalau dia nggak setuju dan marah udah, jadi pengangguran." jelas Falisha.
"Benar ucapan elu, Sha. Semalam gue ‘kan bercandain Mamas, soalnya dia sibuk sama laptopnya dan cerita masalah kerjaannya. Iya gue menawarkan diri untuk jadi penulis, katanya boleh, tapi gue di suruh melamar dulu jadi pegawai, terus berkas gue harus di proses dulu, belum gue di suruh interview soal pekerjaan dan banyak lagi. Percuma gue punya suami CEO, orang dalam yang paling tinggi, kalau masuk kerja harus dari nol tanpa bantuan siapapun, walaupun benar adanya ucapan dan tindakan Mas Abyan." jelasku yang meluapkan isi hati.
"Wah keren banget Pak Bos." ucap Mika memberi dua jempol tangan.
"Jadi elu di perbolehkan jadi penulis ya, Ra?" tanya Falisha yang terlihat bahagia.
"Ah ngertilah gue maksud elu, Sha." candaku.
"Iya dong, gue lagi pusing, pikirin penulis baru, mereview dari awal lagi, stres gue. Eh elu juga, kan jadi pengangguran jadi bisa santai membuat film dengan halusinasi elu yang tingkat dewa itu." jelas Falisha.
__ADS_1
"Terus?" tanyaku yang bercandain Falisha.
"Iya bantulah gue yang sedang berbahagia tapi di tunda." ucap Falisha.
"Kenapa bisa di tunda gitu, Sha?" tanya Mika.
"Iya di tunda oleh nih." Falisha menunjukku.
"Kenapa, gue?" ucapku bingung.
"Iya elu nggak mau, kalau elu mau gue nggak stres." jelas Falisha yang terus merayu.
Melepaskan napas kasar, aktingku agar terlihat kesal. "Iya gue mau." ucapku menyetujui.
"Hore..." Falisha mengangkat tangannya ke langit-langit dengan wajah bahagia. "Terimakasih ya Allah."
"Bahagia elu?" tanyaku yang bahagia melihat Falisha.
"Iya dong, pasti itu. Elu juga, kan pasti bahagia sekarang ini adalah waktunya mewujudkan cita-cita elu?" ucap Falisha, membuat gue berpikir dua kali, mungkin dulu iya, tapi semenjak menikah dengan Mas Abyan gue merasa itu tidaklah penting.
"Kenapa elu diam?" tanya Mika.
"Gue nggak tau apa benar hal itu harus di lakukan Mik, Sha. Semenjak nikah sama Mas Abyan, gue melupakan karir gue jadi penulis. Entah di pikirkan gue hanya ingin melayani Mas Abyan sebagai istrinya aja, saat kejadian waktu kita di culik, gue berdoa dalam hati untuk selalu menjalankan kewajiban gue sebagai istri." jelasku.
"Ra, jadi penulis nggak perlu tiap hari ke perusahaan juga kali. Buktinya elu sambil kerja jadi suster ngesot biasa-biasa aja." ucap Mika.
"Kalau gue jadi suster ngesot, elu suster apaan?" tanyaku ke Mika yang buat hati nih panas, lagi serius di ajak bercanda.
"Enakkan elu jadi suster terbang, nemuin pasien tinggal sat set sat set." ikut bercanda.
"Hahaha... " Mika dan Falisha tertawa membayangkan ucapanku.
"Lah gue ngesot, sambil ngepel." sambungku lagi.
"Hahaha..." tawa mereka semakin gempar.
"Elu nggak ikut, Sha?" tanyaku.
"Nggak! Cukup kalian aja jadi hantu, gue masih mau hidup, hahahaha..." jawab Falisha dengan tertawa.
"Ucapan elu enak banget." sambung Mika.
"Bercanda sayang!" ucap Falisha ke Mika, terus matanya melihatku. "Ra, genre kali ini, bukan masalah horor atau film eksen yang di tayangkan." sambung Falisha serius.
"Terus?"
"Drama romantis, elu, kan tau ini zaman lagi naik daunnya film-film gitu. Apalagi laki-lakinya CEO, dah buat hati melayang." ucap Falisha memainkan tangannya ke udara.
"Hmmm," gue berpikir sejenak, kisah romantis, apalagi CEO.
"Ah gue tau, gimana kisah hidup elu di angkat jadi film, Ra?" ucap Falisha memberi solusi.
__ADS_1
"Berarti hidup gue drama dong?" balasku.
"Bukan gitu juga, tap-"
"Udah gue ngerti, gue juga setuju." ucapku memotong pembicaraan Falisha, di pikir-pikir memang bagus sih.
"Tapi Ra, emang kisah hidup percintaan elu sama Pak Bos romantis ya?" kepo Mika.
"Iya juga ya? Apalagi elu dan Mamas masih temanan, lanjut pacaran, melakukan hubungan intim aja gue yang paksa." ucap Falisha ada benarnya.
"Kalian hanya lihat di luarnya aja, nggak tau aja di dalamnya gimana? Seperti elu, Mik." menunjuk Mika, kemudian ke Falisha. "Dan elu Sha, sama. Bedanya gue masih bersegel, kalian menikah udah buka segel." jelasku.
"Iya juga sih." ucap Mika. "Jadi Pak Bos yang wajahnya dingin itu, bisa romantis juga ya?" sambungnya lagi.
"Iya bisa atuh." jawabku lantang.
"Contohnya?" Falisha ikut penasaran.
"Gue belum cerita, soal Mamas ngajak gue pacaran kemarin gimana?" ucapku ingin pamer ke Mika dan Falisha, bahwa Mas Abyan orangnya nggak seseram yang di bayangkan.
"Ah iya elu belum cerita Ra, gara-gara fokus ke kami aja. Ayo cerita Ra, gue penasaran nih?" ucap Mika.
"Adakan Mik, waktu kita dinas sore elu ngasih tau handphone gue berbunyi terus di dalam loker."
"Ah iya, ada." jawab Mika mengingat kejadian itu.
"Nah malam itu gue di minta Mas Abyan langsung ke hotel, buat temuin dia. Iya gue ikut aja dan jelas dong gue bingung ada acara apa? Sampai gue tanya sama pegawai hotel, mereka juga nggak tau atau pura-pura nggak tau untuk kejutan gue. Semakin gue penasaran, di tambah pakaian belum ganti lagi, malukan datang ke acara pakai pakaian dinas." berhenti sejenak narik napas.
"Terus?" ucap Falisha penasaran.
"Terus gue naik lift yang di tunjukkan oleh pegawai, naik ke atas gedung hotel, keluar dari sana gue mendengar musik di mainkan oleh Mamas menggunakan piano dengan sekeliling udah di siapin meja, kursi, di atasnya makanan, bunga dan lainnya. Tibalah Mas Abyan menyanyi lagu yovie dan Nuno berjudul janji suci."
"Aaaa... So sweet." ucap Falisha dan Mika terharu.
"Sudah bernyanyi Mamas mendekat gue, bilang mau nggak jadi pacarnya?" sambungku bercerita.
"Ya ampun Ra romantis banget. Gue juga mau." ucap Falisha.
"Kalau kalian mau minta aja sama ayang beb." perintahku.
"Nggak maulah, kalau nggak kejutan gitu." ucap Mika.
"Iya juga sih." jawabku.
"Dah angkat aja jadi film cerita elu." ucap Falisha.
"Gue juga setuju." sambung Mika.
Gue hanya bisa tersenyum-senyum. "Oke!" setujuku.
Bersambung...
__ADS_1