Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 52 Menyatakan Perasaan


__ADS_3

Setelah beberapa hari semenjak ke jadian itu kami berdua terlihat canggung satu sama lain.


Melihatnya merasa ada yang aneh, seperti nggak di masuk akal secepat ini membuka hati.


Mas Abyan juga terlihat menghindari, mungkin dirinya malu dengan kejadian itu atau ada hal lainnya yang gue sama sekali tidak mengetahuinya.


Menyender di pinggir ranjang, berpikir sejenak, apa mungkin gue ini sebenarnya nggak cinta? Bisa jadi jantung gue yang bermasalah, semenjak menikah dengan Mas Abyan, besok lebih baik cek kesehatan siapa tau dengan bertambahnya usia, gue ada penyakit jantung atau penyakit lainnya.


Tok tok tok.


Berdiri perlahan, ada apa ya Mas Abyan mengetuk pintu?


Ceklek!


Melihat wajah Mas Abyan, jantung gue di buat robanahan lagi.


"Ay, keluar sebentar Mamas mau bicara." ajaknya.


"Hmmm, iya Mas." mengikuti jalan Mas Abyan ke arah kursi sofa.


Duduk menghadap ke arah telivisi, sambil melihat film yang di tayangkan.


"Sebentar Mamas ambil minum dulu." berdirinya lagi ke arah dapur.


"Hmmm." sekilas melihat Mas Abyan, merasa malu, jantung berdegupnya kencang banget. Perasaan dulu gue sama Abang Doni nggak seperti ini, ini rasa cinta atau memang gue punya penyakit jantung.


Di lihat wajah gue biasa-biasa aja, tapi dalamnya gugup banget berdekatan dengan Mas Abyan.


"Ini Ay, jus jeruk buat kamu." menyerahkan secangkir jus.


Mengambil. "Hmmm, iya Mas, makasih."


"Hmmm." minumnya jus dengan santai, Mas Abyan kembali duduk di sampingku.


Meminum jus yang di berikan. "Hmmm, Mas mau bicara apa?" usai minum dan meletakkan cangkir di atas meja.


"Hari Minggu ada waktu nggak kita mau melihat rumah?"


"Hmmm, sebenarnya hari minggu ada acara Mas."


Ingatku pada Mika yang meminta di temani ke acara mantan kekasihnya yang menikah kemarin. lebih tepatnya menghadiri pernikahan tetangganya, Falisha juga ikut.


"Acara apa, Ay?"


"Itu temanku bernama Mika yang kemarin ulang tahun, minta di temani ke acara pernikahan mantannya." jelasku jujur.


"Hmmm, datang ke pernikahan mantan?" terkejutnya Mas Abyan.


"Iya Mas, emang kenapa?"


"Nggak apa-apa hanya saja, teman kamu baik-baik ajakan menghadiri acara pernikahan mantannya?"


"Hmmm sepertinya baik-baik aja Mas, soalnya sudah ada pengganti."


"Hmmm, secepat itu."


"Iya Mas! Mas taukan sama Chef Angga?"


"Chef Angga, oh yang kamu minta nomor teleponnya."


"Hmmm iya Mas, dia orang yang aku jodohkan sama Mika."


"Kok bisa, Ay?"


"Bisalah Mas, aku yang minta Chef Angga mendekati Mika, secara statusnya juga sigle."


"Tunggu, Ay! Berarti selama ini kamu sering bertemu dengan Chef Angga ya?"


Mas Abyan mikir apa sih? Jangan bilang dia cemburu.


"Hmmm, iya Mas. Kenapa?" sengaja mau melihat reaksinya.


"Ay, jangan bilang sebenarnya Chef Angga-"


"Enggak ada apa-apa di antara kami." putusku langsung, saat ini kalau di pikir-pikir jangan dulu ada masalah di antara kita, capek gue berpikir.


"Hmmm syukurlah kalau ada-"


"Nggak juga di kubur hidup-hidupkan Mas?" memutuskan ucapan Mas Abyan.


"Nggak di kubur Ay, di sayat kulitnya sampai lepas." ucap Mas Abyan menakuti. "Mas bercanda, Ay." senyumnya.


Huuuf!


Jantung gue hampir berhenti tau nggak Mas, bercandaan lu nggak lucu.


"Terus, temanmu dan Chef Angga berpacaran?" sambung Mas Abyan, sepertinya tertarik dengan cerita mereka.


"Hmmm belum ada kabar selanjutnya, tapi Mika cerita mereka memulai berteman dulu."


"Seperti kita."

__ADS_1


Deg!


"Hmmm, iya Mas."


"Kita kapan pacaran Ay?"


Deg!


Mengambil cangkir berisi jus, minum dulu jujur jantung gue nggak bisa di ajak kompromi.


Menghabiskan jus sekali teguk. "Ay, pelan-pelan."


"Maaf Mas, aku haus." meletakkan cangkir di atas meja.


"Hmmm, iya Ay. Oh ya, jadi besok kita nggak jadi melihat rumah?" mengalihkan ke pembahasan lainnya, sepertinya Mas Abyan melihat gue tadi merasa kurang nyaman.


"Tunggu, Mas! Aku jawab pertanyaan satu-satu." inginku tau dengan perasaan Mas Abyan.


"Yang mana, Ay?" puranya lupa.


"Mas punya riwayat penyakit amnesia ya?" jangan bisa dirimu aja yang suka ngatain gue begitu.


"Enggak, Ay!"


"Terus kenapa pertanyaan tadi lupa?"


Diam Mas Abyan sebentar seperti memikirkan sesuatu, tibanya tersenyum.


Ya ampun Mas, jawab jangan senyum aja, tau nggak jantung gue butuh ke pastian kalau tidak ini jantung terus bergoyang hebo di dalam sana.


"Pertanyaan kapan kita pacaran?"


"Hmmm!" menganggukkan kepala pelan nyataku iya.


"Terus jawabannya apa, Ay?"


"Tunggu sebelum aku menjawab, Mamas emang mencintai aku?" ayo Mas jawab gue butuh kepastian.


"Menurut kamu?" balik tanyanya lagi.


Ah sudah disinilah gue kesal.


"Nggak!" begitu aja langsung.


"Kamu tau enggak dari mananya?"


Yah jelaslah elu, bilang sayang aja waktu elu terjebak mesum.


"Mas lihat aja selama kita bertemu, datar sedatar kertas." jelasku benar.


"Emang kalau cinta nggak sedatar kertas ya Ay?"


Ah pusing gue, sudahlah lebih baik kita begini aja Mas, sudah terbukti dirimu sama sekali nggak mencintaiku.


"Bahas rumah ajalah Mas, toh kita nggak saling cinta, buat apa pacaran." kesalku melihat televisi.


Mas Abyan mengambil ke-dua tanganku. "Ay, lihat sini." ajaknya.


"Nggak Mas!" tolakku. "Bicara aja seperti biasa." melepaskan tangan Mas Abyan.


"Ay, kamu cinta nggak sama Mamas?"


Deg deg deg.


Tolonglah semakin kencang jantung gue berdegup kencangnya. "Lihat Mamas Ay." memegang tanganku lagi.


Mataku perlahan melihat mata Mas Abyan. "Kalau iya kenapa? Kalau enggak kenapa?" tanyaku ingin tau jawabannya apa?


"Mamas tanya serius, Ay." melihat ke-dua mataku dengan datar.


"Gini kalau misal-"


"Nggak ada kata misal." memotong pembicaraanku.


"Mamas aja nggak cinta, apalagi aku." jawabku bohong, mungkin benar, cinta dalam diam aja sudah cukup. Melihat ke lantai tak mampu lagi melihat Mas Abyan.


"Mamas mencintaimu, Ay."


Jeder!


Suara petir diluar begitu tepat, menyambar langit malam, saat Mas Abyan menyatakan perasaannya. Melihat langsung wajah Mas Abyan, apa benar itu perasaannya.


"Mas bohong ‘kan?" masih nggak percaya


Senyumnya. "Kalau bohong kenapa? Kalau enggak kenapa?" tanyanya yang mengikuti.


"Mamas nggak cinta, hanya bercanda aja." jelasku begitu.


Mas Abyan mengusap kepalaku. "Nggak sayang, Mamas serius."


Mas elu seperti ini lagi ngucapin cinta sebagai lawan jenis atau cinta sebagai sahabat.

__ADS_1


"Hmmm, iya Mas." sudah cukup Mas Abyan nggak mencintaiku.


"Kamu nggak percaya, Ay?" kembalinya memegang ke-dua tanganku.


"Mas, kamu tuh cinta sebagai apa? Cinta sebagai lawan jenis atau cinta sebagai teman." ingin kepastian.


"Cinta sebagai lawan jenis." jawab santai.


"Serius, Mas?"


Mas Abyan menganggukkan kepala. "Hmmm, serius."


Apa? Mas Abyan mencintaiku.


"Sejak kapan, Mas?" ingin tau gue.


"Sejak kita menikah."


"Bohong!"


"Serius."


"Serius." tanyaku lagi, masih belum percaya.


"Bohong!" baliknya lagi.


"Udahlah Mas bercandanya jangan keterlaluan."


Cup!


Mas Abyan mencium bibirku sekilas. "Serius, Ay. Mari kita pacaran." ajaknya.


Aaaaaa... Sungguh Mas Abyan mencintai gue selama ini, dan gue baru dua hari merasakan cinta itu benar-benar tumbuh.


Eh tunggu sebentar! Sepertinya gue harus memastikan dulu deh ini hati, benar adanya telah berdiri lagi di daratan setelah tenggelamnya ke dasar lautan atau hanya sekedar mimpi belakang.


"Mas, boleh nggak beri aku beberapa hari lagi untuk menjawabnya."


"Boleh, satu hari Mamas beri waktu."


"Terlalu cepat Mas."


"Iya udah sekarang."


"Oke besok malam aku beri jawabannya."


"Cium Mamas dulu." tanda nego menunjuk pipinya.


"Mas kok gitu."


"Atau." ngantungnya mengancam.


"Atau apa?"


Mas Abyan berdiri. "Ayo ke kamar." ajaknya.


"Ngapain?" melepaskan tangan Mas Abyan yang di pegang erat.


"Kamu nggak mau mencium Mamas."


"Iya-ya aku cium Mamas." menarik tangan Mas Abyan menyuruhnya duduk.


Mas Abyan mengikuti. "Di sini aja, Ay." menunjuk bibir yang berwarna merah jambu. "Kok pindah, Mas?"


"Mau nggak?" ancamnya.


"Iya iya, awas kemana-mana."


"Janji." Mas Abyan mengangkat jari kelingking.


Hanya bisa mengulum senyum, sebenarnya mau-mau aja di ajak ke kamar, tapi gue mau memastikan dulu nih hati, merasakan pacaran dulu sebagai sepasang kekasih, entar kalau gue hamil melahirkan mana bisa merasakan indahnya masa-masa pacaran secara halal, bukan haram seperti dulu, mau dekat-dekat atau pegangan tangan aja ingat dosa, jadinya pacarannya jauh-jauhan.


Inikan halal, enak gitu romantisnya berasa.


Dengan mengaitkan kelingking Mas Abyan tandaku setuju.


"Tutup mata Mamas." pintaku.


"Hmmm." langsungnya mendekati wajahnya agar kami berdua sama rata.


Cup!


"Kurang Ay, lama sedikit." pintanya.


Mas elu nggak tau apa gue malu nyosor gini.


"Ayo, Ay jangan melamun." masihnya memejamkan mata.


"Iya ya." lagian gue juga ketagihan.


Perlahan mendekat lagi. "Eeeeeemmmuach." lepasku telah mencium Mas Abyan.

__ADS_1


"Makasih, Ay." kembali ke semula dengan tersenyum-senyum.


Bersambung...


__ADS_2