Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 53 Cek Kesehatan


__ADS_3

"Ay, bagaimana hari sabtu aja kita mencari rumah."


Kami berdua kembali ke mode biasa-biasa saja melihat ke televisi. Entah kenapa rasanya ada rasa tenang setelah mencium Mas Abyan.


"Hmmm, gimana aku ambil cuti aja besok. Kira-kira Mamas ngasih nggak?"


"Kenapa tanya di Mamas, Ay?"


"Mamaskan Bosnya." mengingati Mas Abyan.


"Tapikan kamu harus izin dulu sama kepala ruangan dan pegawai lainnya, Ay."


Mulai deh Mas Abyan ngajak berdebat, padahal gue ‘kan istrinya masak auranya CEO yang memimpin perusahaan besar nggak berkurang gitu, percuma gue ada orang dalam seperti Mas Abyan.


"Mas kamukan Bosnya bisa langsung telepon Pak Aziz minta Bu karu memberi izin." langsung aja bilang gitu, kesal gue.


"Nggak bisa Ay, kamu harus taati peraturan yang ada."


Menghembuskan nafas kasar. "Iya udah Mamas aja pergi sendiri aku sibuk." melihat televisi.


"Kamu marah ya, Ay?"


"Enggak!" hanya kesal.


"Hayo ngaku."


"Kenapa harus marah? Toh Mamaskan nggak mau membantu aku untuk izin."


"Iya udah berhenti kerja."


Langsung aja melihat Mas Abyan yang santai melihat televisi. "Mas, tinggal setengah lagi loh aku jadi karyawan. Jangan-jangan Mamas amnesia." memang benar adanya, dengan waktu yang terus berjalan.


"Iya udah kita lihat rumahnya, setelah kamu berhenti kerja." memberi solusi.


"Hmmm, itu juga jadi Mas, kita bebas mau jalan kemana aja." menyetujui solusi Mas Abyan.


"Kamu mau rumah yang seperti apa?"


"Hmmm, kalau Mamas?"


"Mamas ikut aja."


"Serius Mas?"


"Mamas lebih serius, itukan hak kamu Ay. Rumah itu milik kamu."


Ada benar juga sih. "Hmmm, aku mau rumah yang sederhana, bagian atasnya tuh penuh tanaman hias gitu Mas, jadi bisa duduk di sana nggak jenuh lihat tanaman udah bikin stres itu hilang. Benar nggak Mas?"


"Hmmm, Mamas setuju."


"Serius?"


"Serius, Ay. Coba kamu pikir lihat ruangan kita, hanya bisa lihat luar aja, nggak ada tanaman satu pun." menunjukkan sekeliling rumah.


Melihat yang di tunjuk. "Iya juga ya Mas, monoton gitu."


"Iya udah Mamas cari lokasi yang bisa rumah itu di renovasi dengan maunya kamu." senyumnya melihatku.


"Hmmm, iya Mas. Makasih ya?"


"Hmmm, sama-sama." mengelus kepalaku.


***


Jalan masuk ke ruangan keperawatan hari ini masuk pagi.


"Hai Zahra." tegur Mika dengan tersenyum.


"Hmmm, kenapa lu pagi-pagi tebar pesona gitu?"


"Malam ini gue sama Falisha mau ngedate bersama Pak Aziz dan Abang Angga di restoran, elu mau ikut nggak?"


Berpikir dulu ada jadwal nggak ya malam ini? Ah gawat malam inikan gue ada janji sama Mas Abyan, tentang hutang pernyataan kemarin.


Gue juga rencana mau cek kesehatan dulu pagi ini untuk memastikan ini jantung detaknya nggak beraturan karena penyakit jantung atau memang benar cinta sama Mas Abyan.


"Hmmm, sepertinya nggak bisa deh Mik, aku ada janji sama Mas Abyan malam ini."


"Janjian apa?"


"Hmmm entar gue kasih tau, soalnya gue mau memastikan perasaan gue dulu."


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Entar aja kita cerita, entar ada yang dengar nggak enak." bisikku di telinga Mika.


"Oh oke!" liriknya melihat langkah kaki masuk ke ruangan.


Melihat jam setengah sepuluh. "Mik, gue mau cek kesehatan dulu ya ke ruang poli."


"Lu sakit apa, Ra?" tanya Bu Hasya.


"Nggak ada sih Bu, hanya aja akhir-akhir jantungku suka berdebar-debar." jelasku.


"Yang benar lu Ra?" ucap Mika.


Melebarkan mata memberi kode pada Mika jangan sampai mulutnya keceplosan masalah Mas Abyan suami gue.


"Ah itu berdebar-debar, mungkin elu lagi kasmaran kali." ucap Bu Hasya.


"Sama Dokter Idris atau aku Bu?" sambung Fadel.


"Awas lu kalau sama Fadel." ancam Bu Ima.


"Kenapa sih, Bu? Kalau cinta udah tumbuh mau gimana lagi coba." canda Fadel yang telah akrab dengan pegawai disini.


"Lu berdua gue suntik mati." ancam Bu Hasya.


"Ya Allah Bu seremnya." Fadel menjawab.


"Sebelum Ibu, gue duluan yang suntik Fadel pakai obat bius." ikut nyambung.


"Bius cinta ya Bu?"


Plak!


Memukul bahu Fadel. "Gila lu ke ruangan sebelah jangan di sini."


"Maaf Bu, Fadel bercanda. Ampun." menempelkan ke-dua telapak tangan mengangkat ke arahku.


"Udah-udah gue ke poli dulu." melihat Mika. "Tolong handle gue selama di sana. Gue temuin Bu karu dulu."


"Iya!" balas Mika.


Jalan ke dalam ruangan keperawatan menemui Bu karu yang duduk dengan memegang handphone. "Pagi Bu." tegurku pelan ke arahnya, saat setelah berdiri di depan Bu Zabrina.


"Oh ada apa, Ra?" Bu karu melihatku dan meletakkan handphone di atas meja.


"Wah kamu hamil ya Ra?" bisik Bu karu, takut yang lain dengar.


Ibu suka banget ya pikirannya kesana. "Itu Bu, hanya mau cek kesehatan aja, untuk memberikan pada Pak Abyan. Soalnya dia mau lihat ada tidak riwayat penyakit." alasanku menjual nama Mas Abyan agar mendapatkan izin.


"Baiklah, tapi kamu sudah beri tahu yang lain?"


"Hmmm, sudah Bu."


"Iya sudah hati-hati." senyumnya.


"Iya Bu, terimakasih."


"Sama-sama."


Berjalan keluar ruangan. "Aku ke poli dulu." menegur mereka yang lagi duduk.


"Titi dj, Bu?" ucap Fadel.


Berhenti jalan, melihat Fadel. "Apa itu titi dj, Del?" sempatnya kepo.


"Hati-hati di jalan Ibu." balasnya.


"Oh, oke!" kembali jalan keluar ruangan.


"Eh Bu, ada salam dari Dokter Idris." ucap Bu Dian karyawan sebelah, disini pada tau dengan perasaan Dokter Idris pada gue, biasalah kalau gosip setitik aja lempar batu ke lautan, samudera pun ikut tau.


"Oh iya," senyumin ajalah.


"Permisi, Bu. Saya mau cek kesehatan," ucapku pada Bu Tina perawat poli.


"Sakit apa lu Ra?" keponya.


"Itu Bu, dada saya suka berdebar-debar, mudah cemas gitu." alasanku.


"Wah cek dulu, takutnya jantung. Kebetulan ada Dokter Idris di dalam, diakan ahli penyakit dalam."


"Ah nggak jadilah Bu." entar Dokter Idris tau gue hanya pura-pura akting dengan Mas Abyan kemarin.


"Udah masuk sana." dorongnya paksa ke ruangan.

__ADS_1


"Tapi, Bu."


"Periksa Ra, jangan enggak. Lagian pasien juga udah habis."


"Cepat banget biasanya ramai."


"Ya alhamdulillah Ra, berarti udah pada sembuh dan nggak sakit lagi."


"Oh iya Bu, alhamdulillah."


Ceklek!


"Siang Dok." tegur Bu Tina, gue di tarik ke dalam.


"Siang." jawabnya tersenyum. "Eh Zahra masuk, ada apa?"


"Itu Zahra mau cek kesehatan terutama jantung, katanya suka berdebar-debar dan cemas."


Menutup pintu.


Dokter Idris yang mendengar keluhan gue, malah tersenyum-senyum.


"Coba kamu bantu Zahra pasang elektrokardiogram (EKG) ke jantungnya biar saya baca hasilnya." saran Dokter Idris.


"Oh ya, Dokter tunggu sebentar."


"Hmmm, iya."


Hanya diam aja yang gue lakukan. "Ayo." tarik Bu Tina ke dalam ruangan sebelah. "Tidur di sini."


"Tapikan Bu, di sebelah ada Dokter Idris."


"Oh lupa menutup pintu, sebentar."


Bu Tina langsungnya menutup pintu tak lupa menguncinya, kembali lagi mendekatiku. "Udah cepetan lu tidur, gue pasangin alat, Dokter Idris bentar lagi mau pulang entar dia lama nunggu."


"Oh iya Bu." mengikuti arahan.


Membuka pakaian, tibalahdi pasangkan alat di dada, tidak butuh waktu yang lama hasilnya keluar berupa kertas. Mesin mati, Bu Tina langsung melepaskan alat. "Udah selesai tinggal pakai lagi tuh pakaian elu."


Dengan cepat sat set gue pasang. "Yuk ke samping temuin Dokter Idris." ajak Bu Tina setelah memakai pakaian dengan rapi seperti semula.


"Hmmm." mengikuti jalan Bu Tina.


Ceklek!


"Permisi Dok ini kertasnya." menyerahkan.


Dokter Idris mengambil. "Oh iya kamu boleh keluar, biar Zahra saja disini."


"Berdua Dok?" takutku.


"Iya Zahra, tenang aku nggak akan apa-apain. Jika itu terjadi habis gue di telan raja hutan."


"Maksudnya Dok?" kepo Bu Tina.


"Udah Ibu keluar aja, jangan kepo." ucap Dokter Idris.


"Ah iya ya." jalannya cepat keluar, menutup pintu.


Dokter Idris membaca hasil tadi. "Semua bangus Ra, irama jantung bagus, nggak ada masalah."


"Berarti saya baik-baik aja ya Dok?"


"Hmmm, mungkin lagi masa-masa jatuh cinta jadi begini."


"Serius Dok? Bukan penyakit jantung."


"Aman, ini gejala sedang jatuh cinta. Aku tau kok Ra, awalnya kamu dipaksa nikah, akhirnya jatuh cinta."


"Itu Dok."


"Jangan di pikirkan, udah move on."


"Serius Dok? Sama siapa?"


"Rahasia! Sebaiknya sekarang elu kembali ke ruangan, entar Mamas tau elu disini sama gue berdua aja, habis gue di baku hantam. Ngeri kalau Mamas udah turun kaki."


"Nggak tangan Dok?"


"Jangan kaki aja, kalau tangan biru semua gue." candanya.


"Hmmm, iya Dok."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2