
Setelah shalat subuh, berjalan ke arah dapur, seperti biasa pagi-pagi membuat sarapan.
Hari ini masak sandwich daging ayam, dengan dua cangkir susu rasa vanila.
"Masak apa, Ay?" Mas Abyan duduk di kursi untuk sarapan.
Masih menyiapkan susu, mengaduk sebentar udah jadi.
"Sandwich daging ayam dan susu rasa vanila, Mas." meletakkan di atas meja.
Memperhatikan Mas Abyan sedikit berbeda, dirinya terlihat pucat.
"Mamas sakit ya?"
Senyumnya. "Hmmm, enggak, Ay. Hanya capek aja akibat lembur kemarin." ucapnya memotong makanan.
Mungkin pekerjaannya tertunda gara-gara masalah kemarin.
"Hari ini terakhir kamu kerja, Ay. Pulangnya Mamas jemput ya?" tawarnya.
"Tapi Mamas terlihat kurang sehat. Lebih baik istirahat aja di rumah."
"Bentar lagi sehat, nih!" mengangkat secangkir susu, meminumnya. "Udah minum susu, semuanya akan baik-baik aja, di tambah sarapan yang kamu buat, Ay." senyumnya.
Bisa ya Mas Abyan pagi-pagi udah buat jantung senam aerobik.
"Hmmm, iya udah entar Mamas boleh jemput aku. Tapi-" masa Mas Abyan jemput, percuma dong selama ini di rahasiakan.
"Hmmm, apa, Ay?"
"Entar ada yang lihat gimana Mas?"
"Nggak apa-apa, Ay. Semuanya pasti akan terungkap, jadi sekalian aja Mamas keruang kamu, memperkenalkan Mamas ini suami kamu, jangan sampai kesalah pahaman kemarin menyebabkan nama kamu tercoreng, Oma dan yang lainnya tau, bisa-bisa Mamas di ceramah dua puluh empat jam." jelas Mas Abyan memang benar adanya.
"Hmmm iya Mas, entar aku tunggu Mamas di ruangan." lagian hari ini memang terakhir bekerja, jadi penasaran dengan teman kerja di ruangan dan ruangan-ruangan lainnya, gimana pendapat mereka?
***
Hari ini gue bersemangat bekerja, tak terasa waktu berlalu begitu cepat.
Keluar kamar pasien berjalan menuju meja keperawatan, terlihat semua teman kerja hadir.
"Zahra..." peluk Bu Ika saat berdiri di dekat mereka, membalasnya tak lama kami berdua melepaskan pelukan.
"Iya Bu." jawabku setelah melepas pelukannya.
"Hiks hiks hiks" mereka satu persatu menangis.
"Nasib elu Ra nggak bagus banget." ucap Bu Eri mengelus bahuku.
Kelopak mataku membendung melihat mereka menangis.
"Gara-gara masalah itu, elu di pecat." Bu Sarah menyambung. "Elu kerja bukan sebentar, udah bertahun-tahun elu di sini dengan kami semua. Ibaratnya ini tempat udah jadi rumah kita."
"Tega banget ya Pak Bos! Tapi di sisi lain beliau juga bersikap adil, mengeluarkan kamu Ra, nggak membawa masalah kemarin pengadilan." ucap Bu Hasya.
__ADS_1
"Jadi pelajaran aja buat kalian, jangan di turutin tingkah laku gue." menghapus air mata.
"Tapi Ra sebagai manusia, siapa sih yang nggak bersikap begitu demi membela diri yang di fitnah." sambung Bu Risma.
"Kalau Fadel kemarin di sini, udah membela Bu Zahra sebagai kekasih Fadel." ucapannya membuat orang berpikir aneh melihat Fadel.
"Kalian berdua ada hubungan ya?" tanya Bu karu menyelidiki sebagai mata-mata Mas Abyan.
"Fadel udah nggak waras Bu, otaknya bergeser." ucap Bu Hasya emosi.
"Biasa Bu Fadel, sepertinya butuh berobat." ucap Mika terlihat kesal.
"Bu Zahra menikahlah dengan Fadel." candanya yang membuat semua pegawai melihatnya semakin aneh.
"Serius lu Del?" tanyaku menyipitkan mata.
"Ibu jangan lihat Fadel gitu! Fadel ‘kan merasa malu."
"Elu gila ya, Del?" ucap Bu Eri.
"Halusinasinya makin parah." sambung Mika.
"Bu karu, bisa nggak Fadel di pecat juga, bikin kami semua ikut gila berjamaah olehnya." ucap Bu Hasya semakin kesal.
"Ah jangan Bu, Fadel bercanda." melasnya melihat Bu Hasya.
"Hiks hiks hiks" kembali mereka menangis. "Zahra elu yang sabar ya?" ucap Bu Risma.
Entar kalau ada loker buat elu, gue kasih tau." ucap Bu Eri. "Sedih dengar kabar elu begini." sambungnya menghapus air mata.
"Iya Bu, terimakasih! Oh ya, terimakasih untuk kalian semua selama kerja di sini banyak banget membantuku."
"Nggak kebalik Ra, elu yang sering bantu kami." ucap Bu Ima.
"Iya Ra, gara-gara elu kami bisa mengatur urusan rumah maupun di tempat kerja." ucap Bu Hasya menghapus air matanya dengan tisu.
"Ada Fadel sekarang." ucapku menepuk pelan bahu Fadel.
"Iya Bu, Fadel siap menggantikan Bu Zahra." semangatnya dalam bekerja.
"Del dan semuanya, gue hiks hiks hiks, gue hiks hiks hiks." nggak bisa lagi menahan sesak di dada berpisah dengan mereka.
Bu Hasya, Bu Eri, Bu Ika, mengelus bahuku. "Sabar Ra, kami semua mengerti, kondisi elu." ucap Bu Hasya.
"Hmmm, maaf kalau selama ini gue berbuat salah pada kalian semua."
Mika memberikan tisu, gue mengambil.
"Ra gue yakin elu kuat, elu bisa, semangat!" ucap Mika.
"Elu kalau nikah ngundang gue ya?" melihat Mika.
"Elu, bahas begituan di sini. Masih dalam proses juga." ucap pelan Mika.
"Jangan lama-lama prosesnya." puraku yang tak tau apa-apa.
__ADS_1
"Jangan bisa bilangin Mika aja, elu tuh kawin juga, tapi jangan sama Fadel." ucap Bu Hasya.
"Nikah dulu Bu." ucap Fadel.
"Iya maksudnya gitu, tapi ku mohon jangan sama Fadel, jangan tambah hidup elu yang susah tambah susah." jelasnya yang suka bercandain Fadel.
"Begitu bencinya Ibu sama Fadel, hiks hiks hiks." puranya menangis.
"Iya-iya gue beri restu kalian berdua kalau mau menikah. Gue seperti Ibunya Zahra ya menolak pernikahan kalian, tapi cocok nggak kalau gue jadi Ibunya Zahra?"
"Enggak!" jawab kami serentak.
"Hmmm!" terlihat kesal Bu Hasya.
"Bu Zahra, Bu Hasya udah memberi restu." senyumnya. "Yuk ke KUA." ajak Fadel padaku.
"Oke! Udah ke KUA elu di mutilasi suami gue."
"Apa?" ucap Bu Eri, Bu Ika dan Bu Risma terkejut.
"Elu udah nikah, Ra?" tanya Bu Ika percaya dengan ucapanku.
"Zahra elu percaya, gila berjamaah kalian." ucap Bu Hasya masih juga nggak percaya.
"Hmmm, Zahra memang sudah menikah." ucap Mika jujur.
Mereka semua melihatku dan Mika. "Sepertinya mereka kelamaan jomblo deh." ucap pelan Bu Ima.
"Iya, jadi ya halusinasinya mereka meningkat." ucap Bu Ika.
"Kalian nggak percaya?" tanyaku.
"Enggak! Kalau percaya kita semua yang ada di sini di pindahkan ke sebelah." ucap Bu Risma.
"Gila berjamaah dong." ucap Fadel.
"Nah begitulah kira-kira." jawab Bu Hasya.
"Iya udah kalau kalian nggak percaya, tapi bentar lagi gue di jemput langsung ke ruangan oleh suami gue, sekalian bertemu kalian." ucapku jujur.
"Serius, lu?" tanya Bu Eri.
"Serius." jawabku langsung.
"Mana?" tanya Bu Risma.
"Tunggu aja bentar lagi."
"Oke! Kita tunggu, jangan aja elu buat kami semua gila berjamaah." ucap Bu Ima.
"Paling juga sepupu, atau keluarganya." ucap Bu Hasya.
Gue hanya tersenyum, nggak sabar melihat reaksi mereka melihat Mas Abyan datang ke sini.
Bersambung...
__ADS_1