
Tibanya wanita seksi, berpakaian dress berwarna merah bagian belakang terbuka sampai pinggang, belahan dada terlihat garisnya sedikit.
Rambut panjang berwarna hitam yang di gerai ke samping kiri. Memegang bahu Mas Abyan.
"Sha, itu Siska ya?" melihat wanita yang kemarin bersama Mas Abyan di dalam kantor.
Falisha melihat pada wanita yang gue tunjuk. "Iya Ra, hati-hati kucing liar." ucapnya sedikit geli.
"Maksud lu apa?"
"Mas Abyan sering di godain dia, melempar tubuhnya langsung. Lu ingat nggak dengan ucapan Oma waktu lu baru datang."
"Yang mana?"
"Oma bilang Mas Abyan itu banyak sekali menggodanya sampai-sampai para wanita itu melemparkan dirinya ke tubuh Mas Abyan agar bisa mendapatkannya, sedangkan elu malah minta pisah." jelas Falisha mengingati.
"Oh yang itu, ingat gue." berarti Mas Abyan nggak bohong penjelasannya kemarin.
Ternyata gitar spanyol nyari masalah.
"Banyak kali Ra, tapi si Siska termasuk yang paling ganas."
"Ih benaran lu, peran antagonis banyak dong di sekeliling gue."
"Iya hati-hati aja lu, dia termasuk berwajah dua bisa memainkan akting berkualitas." Falisha menakuti.
"Gue menyerah boleh nggak?"
"Jangan takut, ada gue di sini. Gimana kita buat jebakan mau nggak? Singkirkan secepatnya ratu iblis itu."
"Tapikan itu anak teman baik Ibu elu, Sha."
"Biarin, gue nggak takut. Geram gue lihatnya kegatelan, minta di garut sikat WC kali."
"Ishana nggak ada apa?"
"Tunggu! Elu tau itu Siska, pernah bertemu dimana?" penasaran Falisha.
Mau nggak mau akhirnya cerita nih, dari pada bikin gue penasaran nggak jawab pertanyaan Falisha.
"Sebelum gue ke hotel temuin elu, gue ke kantor pusat buat anterin bekal makanan yang di suruh Ibu. Udah masuk naik, di depan pintu nggak ada siapa-siapa, gue telepon Mas Abyan juga nggak di angkat. Gue langsung masuk aja, pas lihat Mas Abyan tidur di kursi sofa di atasnya tuh Siska sumpah seksi banget. Pakaian bawahnya hampir terbuka semua, jasnya terbuka sampai bahu, dalaman putih satu garis. Mas Abyan juga kancing atasnya terbuka dua kancing buah semangka tepat banget di dekat wajah Mas Abyan tangannya juga megang tuh semangka satunya lagi megang pinggang, pas 'kan gue lihatnya."
"Gila Ra, Mamas gue terhasut kali ya. Terus?"
"Gue pelan-pelan masuk meletakkan wadah makanan, tibanya gue lari. Nggak enak ganggu orang lagi senam erotis."
"Lu nggak marah?"
"Enggak!" jujurku.
__ADS_1
"Gila gue ingin nabrak tuh Siska." hampirnya jalan, langsung memegang tangan Falisha. "Tunggu belum selesai gue cerita." ucapku menarik Falisha ke tempat semula.
"Terus gimana?" Falisha yang emosi.
"Pas gue pulang kerumah, Mas Abyan ngejelasin sama aku Sha, bahwa itu nggak di sengaja. Kata Mas Abyan kejadiannya itu sih Siska kakinya nabrak meja, mau jatuh Mamas langsung nolongin, nggak taunya jatuh ke atas kursi." jelasku pada cerita dari Mas Abyan.
"Lu percaya?"
"Iya masih lima puluh perbandin lima puluh sih, kira-kira gimana menurut elu?"
"Sepertinya Mamas jujur, kalau nggak, ngapain sampai saat ini lu masih bersegel."
"Iya juga sih! Tapikan bisa aja Mas Abyan nggak tertarik lihat gue, maunya seperti Siska seksinya menarik jiwa dan raga. Bentuknya aja mirip gitar spanyol."
"Nggak mungkin, Mas Abyan nggak tertarik sama elu. Bagi gue tubuh elu tuh lebih menarik dari pada Siska, buah semangka dia bagi gue buah jeruk. Lah elu semangka aja lewat." jelasnya memujiku. "Hanya tertutup kain yang serba longgar jadi kelihatannya lurus aja."
"Iya apa?" nggak percaya, jelas-jelas gue kalah saingan dari segi bentuk dan rupa.
"Iya Ra, Mamas gue itu laki-laki normal pasti di tahannya atau ada hal lain. Gue kalau jadi Mas Abyan udah ngap elu dari awal bertemu terus sekamar lalu serumah. Habis elu gue hantam terus."
"Ih serem lu Sha, untung elu bukan Mas Abyan."
"Masih untung lu." Falisha tersenyum.
"Udah bahas yang lain aja, ngeri bahasan elu kalau udah kesana. Oh ya, elu belum jawab soal Ishana."
Falisha menarik nafas dalam-dalam kemudian di keluarkan mengatur emosinya pada Siska. "Itu lagi sibuk syuting, nggak bisa datang syukurnya."
"Iya, makanya bisa memainkan peran sebagus dan serapi mungkin."
"Ih, takut gue masuk keluarga elu."
"Kenapa harus takut? Gue yang akan paling depan membunuh orang yang gangguin elu."
"Elu sama Mas Abyan, bikin naik turun emosi gue."
"Namanya juga adik dan kakak. Harap maklum agak-agak kurang hahaha..." tawanya menghibur. "Oh ya entar malam tuh Siska tidur disini, hati-hati elu."
"Kenapa harus hati-hati?"
"Gue sering lihat dia mengintip kamar Mas Abyan."
"Emang sering dia tidur di sini?" kepo gue jadinya, mungkin Siska ratu dari segala ratu pelakor deh.
"Sering, apalagi ada Mamas ih ampun gue."
"Emang elu nggak laporin apa sama Ibu, Ayah, atau Oma."
"Udah mereka nggak percaya, malah aktingnya Siska bagus banget. Tau nggak alasannya hanya lewat aja, terus alasan lainnya yang bikin gue darah tinggi."
__ADS_1
"Terus gue harus apa?"
"Ikutin aja permainan gue nanti."
"Ngeri gue, kalau lu mulai beraksi."
"Demi elu tau! Mau lu di fitnah duluan."
"Nggak mau."
"Makanya ikutin gue. Katakan setuju, tanda tangan kita." mengangkat telapak tangan.
Kami berdua kalau setuju dengan sesuatu tanda tangan di telapak tangan, di tulis dengan jari.
"Okelah kalau begitu, awas ya lu malah bikin masalah." menggerakkan telunjuk di telapak tangan Falisha seperti menulis tanda tangan. Cap gue setuju dengan usulannya.
"Tenang aja." senyumnya licik membuat gue teringat dengan kelakuan Mas Abyan, jelas sama banget. "Entar kalau semuanya udah masuk ke kamar, elu keluar bilang aja ambil pakaian elu di kamar gue, jangan sampai Mas Abyan ikut." sambung Falisha.
"Emang biasanya tidur jam berapa di sini?" mau tau aja rutinitas sehari-hari di rumah ini.
"Jam sepuluh! Elu nggak di kasih tau apa sama Oma?"
"Nggak di kasih tau."
"Lupa mungkin."
"Mbak..." pekik Hanum mendekati.
"Elu manggil gue atau Mbak Zahra?" tanya Falisha.
"Mbak Zahra!" jawab Hanum setelah berdiri di hadapan kami berdua.
"Kenapa, Num?" langsung bertanya ada apa dirinya memanggil.
"Itu boleh nggak aku nitip Tama dan Amel di kamar, mereka mau bertemu Mbak, lagi nggak mau sama Bi Tuti, sedangkan aku dan Mas Darman lagi sibuk banget di suruh Oma nyambut tamu, Mbak mau nggak?" pintanya.
"Hmmm, boleh."
"Gue ikut ya?" ucap Falisha.
"Mbak disuruh Oma temuin cowok ganteng lagi, katanya kalau nolak, turun jabatan." jelas Hanum nakutin.
"Biarlah gue turun jabatan nggak pusing hidup gue."
"Serius lu, dengan ancaman Oma. Nikah paksa lu kalau nggak kerja." tambah di takuti Hanum.
"Iya udah deh gue ikut." Falisha melihatku. "Lu di kamar aja, lebih baik gitu dari pada di sini bikin panas." liriknya ke Mas Abyan dan Siska.
"Hmmm, iya Sha." jawabku.
__ADS_1
Bersambung...