
POV Abyan
Malaikat baik yang sedang berjalan di atas karpet merah.
Dialah istriku Zahra Aneska.
Malaikat baik yang datang, sebelum malaikat Izrail menjemput.
2 tahun di rumah sakit jiwa, bukanlah waktu sebentar untukku lalui.
Selama itu, gue bisa di katakan mayat hidup yang hanya tenggelam bersama kenangan pahit. Rasa bersalah dengan kematian mantan tunangan, tepat di hadapanku saat setelah gue mengajaknya menikah.
Kecelakaan maut yang merenggut kebahagiaanku dalam beberapa jam.
Perempuan cantik yang ingin ku nikahi, sebagai tanda terimakasih, telah berjuang dengan waktu yang cukup lama mengejar dan mendapatkan cintaku.
Saat itulah aku yakin, dengan menikahinya, semua perjuangan Cherly terbayarkan.
Akibat kecelakaan itu gue merasa bersalah telah menyia-nyiakan cinta tulus dari seseorang wanita. Perasaan berdosa itu, selalu merenggut setiap menit hidup yang gue lalui.
Setiap hari, hanya bisa merasa mati, tapi hidup.
Di saat gue tidak bisa lagi menerima kenyataan. Gue berpikir untuk mati. Dengan pikiran, mungkin setelah gue mati, akan hidup kembali dan bertemu Cherly. Membalas semua cintanya dan berjanji akan mencintainya juga, semua akan terbayarkan.
Keras kepalaku yang tidak menyukai Cherly, berunjung menyakitkan.
Flashback
Setiap hari gue selalu duduk di taman, mencari cara untuk mengakhiri hidup. Tapi penjagaan selalu ketat oleh keluargaku.
Pagi menjelang siang, tepat di jam makan.
Perawatan yang selalu menjagaku tibanya merasa gelisah. "Pak Abyan, saya permisi ke toilet, sebentar. Perut saya benar-benar sakit." ucap perawat laki-laki yang sering di panggil Seno.
Gue hanya diam, tanpa menjawab. Inilah waktunya gue harus mati.
Melihat Seno telah pergi gue langsung berlari mencari sesuatu benda atau barang yang bisa membunuh diriku.
Dengan melihat segala arah, takutku melihat perawat lainnya.
Akhirnya gue masuk ke lorong yang terbilang sepi, melihat sana sini mencari sesuatu yang tak kunjung gue temui.
Gue tidak bisa berhenti saat melihat perawat cantik yang terbilang jalannya menunduk dengan raut wajah datar, seperti dirinya banyak sekali pikiran.
Brak!
__ADS_1
Sempatnya gue menarik tangannya.
Brak!
Ah... sakitnya.
Sebentar saja gue memejamkan mata menahan sakit akibat terhempas kelantai. Mataku terbuka melihat perawat cantik itu, di atas tubuh gue, dengan masihnya memejamkan mata.
Cantik! Itulah yang ku ucapakan pertama kali bertemu Zahra.
Perlahan matanya terbuka, melihat gue. Sempat beberapa detik kami saling bertatapan.
"Ah maaf." Zahra begitu cepat berdiri. "Maaf, Pak." dirinya segera membantu gue berdiri.
Perlahan gue berdiri atas bantuan Zahra.
"Maaf-maaf, hiks hiks hiks. Maaf Hiks hiks hiks." dirinya menangis.
Seharusnya gue yang meminta maaf, tapi kenapa dirinya meminta maaf sambil menangis?
"Maaf." ucapnya kembali. "Saya rela mati kok, Pak! Jika sampai anda kenapa-napa hiks hiks hiks." ucapannya membuatku merasa geli.
"Hahaha... Hahaha..." gue nggak bisa menahannya lagi. Saat mendengar kata-kata Zahra. Begitu cintanya pada pekerjaan, sampai-sampai rela mati, dengan masalah sekecil ini.
"Bapak sehat?" tanya Zahra yang semakin membuat perutku semakin geli. "Hahaha... Hahaha..." entah kenapa ucapannya membuat gue ingin tertawa puas?
Seumur hidup, bisa di katakan baru kali ini gue tertawa senyaman ini.
"Bapak kalau sudah tertawa, boleh saya curhat."
Perempuan yang unik, itu yang gue nilai.
Curhat pada waktu yang kurang tepat. Gue ini mau mati, bukan tempat curhatan. Ingin gue berkata begitu.
Entah kenapa, gue tertarik dengan yang ingin dirinya ceritakan.
Gue mengikuti Zahra duduk di pinggir lorong yang tak satu pun ada orang lain di sana.
Duduk bersila kami lakukan.
"Hiks hiks hiks." Zahra menangis lagi. Ingin sekali gue menghapus air matanya yang semakin deras mengalir.
"Gue nggak tau harus bercerita pada siapa lagi. Sebenarnya gue capek dengan kehidupan gue sekarang ini. Hiks hiks hiks. Jalan hidup yang selalu di atur, selalu di manfaatkan. Gue bagai hidup di jeruji besi yang nggak bisa terbang kemana pun."
Deg!
__ADS_1
Entah kenapa hati gue gelisah dan ikut sedih.
"Cinta pertama saya meninggalkan saya begitu saja. Dirinya pergi meninggalkan gue yang sekarang ini berharap penuh. Itu semua gara-gara keluarga gue yang tidak merestui. Padahal gue tidak memandang apa pekerjaan serta fisik dari seseorang. Tapi kenapa selalu dan selalu gue di siksa? Hiks hiks hiks. Gue ingin mati tapi takut dengan dosa."
Deg!
Rasanya gue tertampar dengan ucapan Zahra.
"Gue hidup, tapi rasanya mati. Gue benar-benar tenggelam ke dasar lautan. Gue bingung harus apa? Orang tua gue telah meninggal 7 tahun yang lalu. Cita-cita gue menjadi penulis terkenal juga terhalang oleh waktu. Walaupun perusahaan selalu mendukung, membatu dalam menggapai mimpi, tapi semua itu tidak bisa berharap penuh. Falisha dan Mika adalah sahabat yang selalu membantu, menguatkanku. Tapi aku nggak bisa bohong dengan keadaan yang selalu menghantam, di tambah mantanku telah menikah. Hiks hiks hiks."
Entah kenapa rasanya gue di pukul berkali-kali lipat dengan semua keadaan yang berbanding terbalik.
"Hidup gue terbilang pas-pasan, tapi cukup untuk memenuhi hidupku."
Ingin gue bertanya kenapa dirinya tidak gila seperti gue? Malahan, tetap bertahan dengan keadaan yang terbilang sulit di lalui.
Gue hanya di tinggal mati, sedangkan Zahra memikul beban yang lebih berat, tapi dirinya tetap kuat dan hanya menangis di samping gue.
"Gue harap, hidup anda jangan seperti saya. Tetaplah semangat walaupun beban yang kita rasakan begitu berat." ucap Zahra berdiri. "Terimakasih telah mendengarkan curhatan saya." dirinya menghapuskan air mata yang banyak di wajahnya. "Semoga kita sama-sama di jalan yang baik, huuuf!" buangnya napas kasar.
"Saya permisi." dengan tersenyum dirinya pergi begitu saja, meninggalkan gue sendirian.
Gue merasa geli, dengan jalan pikiran yang gue sebut bodoh ini.
Gue melupakan keluarga besar yang selama ini selalu mendukung, memberi kebahagiaan setiap harinya, terkadang sampai juga menangis meminta maaf tanpa gue tau apa yang mereka salahkan.
Hanya kematian Cherly gue membuang semuanya.
Rasanya gue benar-benar bodoh. Seharusnya gue menikmati sisa hidup gue ini, bukan mati yang tak tau hidup kembali atau masuk ke dalam neraka.
Gue melupakan syariat agama yang selalu mengajarkan gue tentang kematian seseorang yang telah di tentukan. Bodoh-bodoh dan bodoh...
Percuma gue sekolah tinggi-tinggi, tapi gue malah menghancurkan hati semua orang.
Sebenarnya gue ini hanya kasihan pada Cherly atau cinta. Tapi kenapa gue bisa merasa bersalah? Apa selama ini yang gue rasa itu rasa bersalah atau benar cinta?
Tapi gue bingung, cinta itu seperti apa?
"Astaghfirullah. Ampuni aku ya Allah."
Hiks hiks hiks.
Terimakasih malaikat baik, telah membuka jalan pikiranku.
Bersambung...
__ADS_1