Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 38 Gitar Spanyol


__ADS_3

"Terimakasih ya sayang, sudah masakin semuanya." ucap Ibu Sari saat kami telah selesai makan. Sebenarnya gue nggak semuanya masak, di bantuin Bi Tanti sama Ibu Sari.


Oma Farra belum juga keluar dari dalam kamar untuk makan, mungkin masih ada gue di sini.


"Iya Bu, sama-sama. Oh ya, Falisha nggak pulang ya Bu?" puraku nggak tau apa-apa.


Sepertinya bentar lagi gue daftar jadi selebritis deh ke perusahaan.


"Abyan, Falisha dan Ayah memang nggak pulang. Mereka makan di tempat kerja." jelas Ibu Sari.


Ingin sekali gue bertanya, kenapa Mas Abyan bisa tidur di apartemen nggak di rumah bersama kalian? Tapi nggak enak nanya sama Ibu, ke Falisha aja deh.


"Ibu hanya di rumah aja?"


Senyumnya. "Ibu di rumah aja, Ayah nggak boleh Ibu kerja, sama seperti Abyan yang beberapa bulan menyuruh kamu berhenti. Nanti sering-sering ke sininya, kalau mau pindah sekalian." jelas Ibu.


"Iya Bu, aku ikut Mamas aja." soalnya dimana dia, di situlah gue berada.


Melihat jam dinding sudah setengah dua belas, takutku terlambat menemui Falisha, belum macet di jalan. "Bu, aku berangkat dulu ya." berdiri.


"Mau kemana, Ra?" ikutnya berdiri.


"Jam dua aku ada acara di hotel merayakan ulang tahun sahabatku Mika. Takut macet di jalan." jawabku jujur, hanya Falisha yang tidakku ucap, bahaya kalau Ibu dan lainnya tau.


"Oh, sebentar." Ibu Sari berjalan ke arah dapur menyiapkan sesuatu. Tak lama membawa wadah seperti bekal.


"Nak, bisa 'kan kamu membawa ini." memberikan padaku. "Mampirlah ke kantor Abyan, sebentar. Kamukan belum pernah ke sana."


"Emang aku boleh ya Bu, ke kantor Mas Abyan mengantar ini?" angkatku wadah tadi.


"Siapa yang nggak boleh, Ibu marahin mereka?" senyumnya.


"Malu Bu." di lihat pegawai lainnya. Pasti nanti gue masuk jadi bahan sorotan penglihatan mereka. Oh iya pakai masker lupa gue, oke deh. Kapan lagi lihat suami gue bekerja dengan sempurnanya.


"Nggak perlu malu, Ibu juga pertama begitu. Sekarang biasa aja, nanti yang mengantar kamu Pak Aman supir pribadi di sini, dia yang akan berbicara pada scurity di sana untuk menunjukkan ruangan Abyan, sekalian antarin kamu ke hotel." jelasnya.


"Iya Bu." jawabku mau.


Berjalan mengambil paper bag, yang di letakkan di atas meja ruang tamu, sedangkan Ibu Sari berbicara pada asisten rumah tangga, mungkin menyiapkan mobil untuk mengantarku ke kantor Mas Abyan.


"Ayo Nak, sudah siap di depan." ucapnya membawaku keluar rumah.


Bersalaman pada Ibu. "Salam untuk Oma, maaf aku sudah membuat Oma marah." jelasku yang berbaik hati duluan meminta maaf, walaupun orang lain yang berbuat salah.


"Iya sayang." jawabnya memelukku.


Bisa nggak sih, di rumah Ibu aja sama gue. Mas Abyan pindah ke sini.


Huuuf!


"Aku pergi dulu, Bu. Assalamualaikum."


"Iya, Nak. Waalaikumussalam."

__ADS_1


Berjalan ke arah mobil, pintu di buka oleh Pak Sopir.


Gue seperti orang kaya, di layani gini. Kapan lagi coba nyobain jadi orang beruang, walau yang kaya suami gue.


"Dada Ibu." melambaikan tangan pada Ibu Sari yang masih berdiri di depan teras.


"Dada..." balasnya melambaikan tangan.


Bekal dan paper bag, ku letakkan di samping.


"Pak siapa namanya?" tegurku pada Pak Sopir.


"Aman Sunarto, Non." jawabnya ramah.


"Sudah berapa lama Pak Aman kerja sebagai supir di sini?" ingin tauku sambil mengakrabkan diri. Siapa tau kalau di pecat jadi mantu dan cucu, berubah bekerja jadi asisten rumah tangga, jadilah kalau di terima tawaku dalam hati.


"Jalan sepuluh tahun Non! Cukup lama saya kerja disini." jelasnya.


"Bapak sudah punya istri dan anak?" tanyaku lagi yang senang mendengar cerita Pak Aman.


"Oh sudah Non, tiga orang anak! Laki-laki satu, duanya perempuan. Sekarang yang laki-laki mau kuliah, adik-adiknya masih sekolah menengah atas." jelas Pak Aman yang bercerita bahagia menjelaskan keluarga kecilnya.


Mobil ternyata telah sampai di depan perusahaan, tingginya gedung melihat ke atas, ternyata dekat dengan rumah.


"Sebentar ya Non, saya keluar duluan."


"Iya Pak."


Pak Aman keluar dari mobil, berbicara pada scurity sebentar, tibanya membuka pintu. Gue memakai masker sebentar baru turun. Jujur jantungku ngajak cek up kerumah sakit, detaknya nggak tau arah.


"Iya Pak, mohon bantuannya." ucapku ramah.


Melihat Pak Aman. "Bapak tunggu sebentar ya, aku masuk hanya nganterin ini aja." mengangkat bekal makanan.


"Baik, Non." jawabnya langsung.


Mengikuti Pak scurity masuk, melihat sana sini begitu ramai sekali. Pandanganku pada wanita yang bekerja, rata-rata aduhai pakaiannya. Berhijab bisa di hitung pakai jari.


"Pak tunjukkin aja di mana lantainya, saya bisa sendirian ke sana." ucapku pada Pak scurity.


"Oh Ibu naik lift, nomor paling atas. Naiknya lift sebelah sana." tunjuknya lift di ujung lorong.


"Oh iya Pak, terima kasih banyak."


"Iya Bu sama-sama." ucapnya tersenyum.


Berjalan pelan ke arah lift, menekan tombol yang di arahkan tadi. Pintu tertutup, lift naik.


Ting!


Keluar dari dalam lift, melihat hanya ada satu ruangan, tertulis President director yang gue baca.


Di luar nggak ada siapa-siapa sepi, biasanya kalau di film-film tuh asistennya di luar.

__ADS_1


Mungkin makan siang atau beristirahat sebentar kali ya? Ini 'kan jam-jam karyawan istirahat juga.


Coba telepon Mas Abyan dulu deh.


Membuka tas, mengambil handphone, menekan layar tertera nomor Mas Abyan gue tulis.


Meletakkan handphone di telinga. Nggak di angkat, sekali lagilah, masih nggak di angkat.


Sudahlah gue masuk aja, palingan gue di anggap lancang, di ceramah, di marah dan lainnya.


Pelan membuka pintu, pandangan pertama, melihat dua orang yang sedang bercinta di atas kursi berwarna coklat tua, sungguh nggak percaya gue.


Orang itu Mas Abyan, sedang tidur di sana, dengan jas dan kancing bagian atas telah terbuka sekitar dua kancing pakaian.


Di atasnya wanita cantik berambut panjang, dengan bawahan rok pendek berwarna hitam hampir bokongnya terlihat. Jas yang terbuka batas bahu, dalaman berwarna putih dengan tali lebarnya sejari, buah semangka tepat di wajah Mas Abyan.


Tangan Mas Abyan memegang buah tersebut, satunya lagi memegang pinggang si cewek.


Sumpah gue seperti nonton film biru deh secara live streaming.


Pelan santai gue berjalan ke dalam seperti maling, masih melihat ke arah mereka.


Mas Abyan dan perempuan itu juga melihat ke arahku, tanpa bergerak sedikitpun.


Meletakkan secara perlahan wadah makanan di atas meja, senyum ku persembahkan. "Mas ini makanannya." langsung saja mengangkat pakaian dress panjang sedikit, untung legging gue menutupin kaki secara sempurna, dengan sepatu kets yang mempermudah gue bergerak.


Lari sekuat yang gue bisa. Di mana-mana kalau istri melihat suami selingkuh pasti marah, bentak-bentak, bahkan sih pelakor di ajak berantem, sedangkan gue seperti orang yang sedang ketahuan maling data perusahaan.


Menutup pintu cepatnya menekan tombol lift, jantung gue mau lepas melihat Mas Abyan melakukan hal itu. Gitar spanyol rupanya mainan Mas Abyan, bukan gitar dalam negeri. Lift terbuka lari kembali sekuat gue bisa, orang yang gue tabrak, hanya bisa berucap maaf pada mereka. Banyak yang melihatku, dengan wajah bingung.


Mobil Pak Aman, segera ku buka. "Pak cepat pergi, aku telat." alasanku ingin pergi secepat mungkin. Kalau ada pintu doraemon bisa langsung pindah tempat, pakai itu aja.


"Iya Non!" jalannya pergi meninggalkan perusahaan.


Melihat kebelakang, ternyata scurity mengejar gue. Sumpah gue membuat keributan tadi, ya Allah nggak nyangka Mas Abyan sama seperti yang lain.


Tibanya handphone berdering hebat. Melihat ternyata Mas Abyan yang menelepon.


Angkat nggak ya? Terus saja berdering, jantungku berdegup kencang banget. Tanganku aja gemetar, megang nih handphone.


Akhirnya gue memutuskan angkat telepon Mas Abyan, dengan tarikan nafas. "Halo Mas." ucapku santai.


"Ay, kenapa pergi?"


Iya iyalah gue pergi, masa harus melihat kalian sampai selesai goyang zumba.


"Itu Mas, aku terlambat. Maaf tadi ganggu, soalnya aku udah nelepon Mamas nggak di angkat, hanya antarin makanan dari Ibu aja kok, nggak bermaksud lainnya."


"Ay-"


"Udah dulu ya Mas, aku ada kerjaan." ucapku langsung memotong pembicaraan Mas Abyan dan mematikan telepon.


Nafasku nggak beraturan, mungkin Pak Aman bingung dengan sikapku yang berubah.

__ADS_1


Pantas Mas Abyan biasa aja di dekatin wanita, ternyata di luar terpuaskan rupanya oleh gitar spanyol.


Bersambung...


__ADS_2