Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 19 Benalu


__ADS_3

"Mas, nggak kerja?" tanyaku saat kami berdua di dalam mobil, menuju rumah bibiku.


"Belum Ay, mungkin satu sampai dua minggu lagi. Kenapa, Ay?" tanyanya sambil mengendarai mobil.


"Cuti lama, nggak banyak apa Mas kerjanya?" melihat Mas Abyan.


"Mamas kerja dari rumah, di kantor Aziz yang handle."


"Oh gitu! Katanya dengar-dengar Mamas bulan madu ke Amerika?"


"Nanti nunggu kamu sudah berhenti kerja, kita jalan-jalan ke sana." ucap santai Mas Abyan.


"Bukan itu Mas, maksudku! Kenapa berita itu di buat? Lucu aja suami di mana istri di mana, atau Mamas mau bulan madu sendirian di Amerika?" tanyaku yang sekarang sok akrab, padahal takut Mas Abyan berpikiran selama gue kerja ternyata suka ngegosip. Nggak fokus ke pekerjaan, padahal sambilan hehe...


Senyum Mas Abyan. "Rencana Mamas memang kita ke Amerika atau Paris, tapi nunggu kamu, Ay. Kalau sendiri nggak mungkin, Ay. Itu Oma Farra yang nyebarin gosipnya."


"Hmmm, iya Mas."


Mobil kami tiba di lokasi.


Malam tadi gue sudah menghubungi bibi bahwa hari ini ke sana, di luar dugaan saat gue dan Mas Abyan keluar dari mobil.


Semua keluarga berkumpul menyambut kami.


Rasanya aneh, seperti ada maksud tertentu gue rasakan.


"Assalamualaikum." ucapku dan Mas Abyan masuk ke dalam rumah.


Mereka semua membalasnya.


"Waalaikumussalam." jawab serentak.


"Capek nggak? Istirahat dulu di kamar." ucap Bi Maryam.


"Nggak Bi kami hanya sebentar." gue yang berjalan menuju kamar, sedangkan Mas Abyan duduk di kursi bersama yang lain.


"Tante, Ini laptop buat aku aja ya?" ucap sepupuku bernama Gea duduk di atas ranjang.


"Nggak bisa Gea, itu berkas kantor semua." ambilku saat berada di kamar.


"Kan, bisa di pindahin di flashdisk." inginnya Gea sampai memegang laptop.


"Nggak bisa, banyak juga aplikasi di sana." mengambil laptop di tangan Gea.


Banyaknya tulisan dan aplikasi, membuat gue susah memberikan laptop yang harganya di bilang murah. Kalau tidak ada isi, udah gue kasih.

__ADS_1


"Kasih aja, pelit banget jadi orang." ketus Bi Rosida.


"Kaliankan banyak uang dari hasil mahar kemarin. Belilah harga nggak seberapa." ketusku.


Padahal hasil ngejual gue ke Mas Abyan.


"Eh mulut jangan asal bicara, di dengar Abyan tuh malu-maluin keluarga aja lu." ketus Bi Rosida.


Tanpa menjawab gue keluar dengan mata yang berembun, sakit hati dengan ucapannya. Emang benar, apa yang ku bicarakan, tapi di anggap salah. Memang ya kalau orang sudah benci sama kita, sebaik apapun kita lakukan, masih di anggap salah. Kesalku membawa laptop dan barang lainnya yang ternyata sudah tersusun rapi.


"Main pergi aja, duduk dulu." Bi Nur menarikku duduk di kursi.


Semua keluarga berkumpul.


"Kamu kenapa sih Ra, ingin cepat-cepat pergi? Bicara dulu, Abyan juga baru datang ke sini sama kamu. Biar akrab sama keluarga besar kita." ucap yayu Diyah.


"Aku ada kerjaan Yu." alasanku.


"Sebentar aja, ada yang ingin kami bicarakan sama Nak Abyan." ucap Bi Rosida.


"Oh silahkan, Bu." jawab Mas Abyan dengan ramah.


"Itu, Nak Abyan. Kira-kira ada lowongan pekerjaan nggak di tempat kamu? Kalau bisa sedikit tinggi jabatannya." ucap Bi Rosida.


Jujur gue dengarin Bi Rosida bicara begitu, rasanya hati gue panas.


"Iya, Ra. Itu liat sepupu kamu banyak, kasihan mereka." ucap Bi Nur.


Uwa Sani dan tiga saudariku diam saja, menganggap mereka mengikuti arahan ke-dua Bibiku.


"Kenapa nggak lamar sendiri? Usaha nyari kerja, seperti aku dulu. Lama-lama kalau kerja baik pasti naik gaji, walau bukan jabatan." ketusku yang tidak setuju.


Lihat langsung ke arah Mas Abyan yang duduk di sampingku. "Mas, masuk ke mobil duluan. Ada yang ingin aku bicarakan sama mereka sebentar." pintaku.


Gue benar-benar merasa malu, mempunyai keluarga yang hanya mau memanfaatkan orang lain sebagai mata pencarian.


"Tapi, Ra. Kami butuh, Nak Abyan." ucap Uwa Sani.


Gue benar-benar nggak menduga, Uwa Sani bisa bicara begitu. Dirinya yang gue kenal sebagai tetua paling bijak di keluarga kami, mengikuti ke-dua sundel bolong itu. Gue akui Bibi Rosidah sebagai istrinya, dan Bibi Nur adik mamaku. Mereka memang baik di depan, tapi di belakang nusuk. Selama ini bertahan karena mereka keluargaku.


"Mas Abyan, ku mohon." dengan melas ke arahnya tanpa menghiraukan Uwa Sani.


"Tapi, A-"


"Mohon." pintaku melas, memutuskan ucapan Mas Abyan.

__ADS_1


"Iya, Ay." jawabnya mengikuti.


"Bentar aja, Nak Abyan. Kami bicara nggak lama. Nggak usah dengarin Zahra." Bi Nur menghalangin Mas Abyan berdiri.


"Bi, kalian mau apa lagi sih?" gue sungguh kesal.


"Kami hanya meminta bantuan Nak Abyan, Ra. Gitu aja kamu sewot sih." ucap Bi Rosida.


"Kalian anggap aku ni apa? Benalu! Cukuplah sekarang usaha kalian." berdiri, gue merasa kesal.


Mereka semua diam, mungkin merasa malu di depan Mas Abyan.


"Mas ke mobil sekarang, nanti aku kesana. Nih sekalian nitip barangku." memberikan barang ke Mas Abyan tanpa beretikat sopan meminta bantuan.


Mas Abyan hanya diam tak menjawab perkataanku, dirinya terlihat berpikir sejenak. "Kalau begitu saya permisi dulu Pak, Bu."


"Tunggu Abyan, jangan bilang kamu suami takut istri? Zahra mah nggak usah di dengarin, lagian kami hanya minta bantuan sedikit saja." ucap Bi Rosida.


"Mas..." pekikku merasa malu sudah tingkat dewa, punya keluarga toxin.


"Maaf, Bu. Saya permisi." Mas Abyan pergi ke luar rumah.


Uwa Sani mengikuti.


"Kamu nih, Ra. Nggak tau berterimakasih banget tau nggak?" menunjuk ke arahku.


"Iya, Bi. Dan semua yang di sini. Gue Zahra berterima kasih sama kalian. Mahar kemarin sudah membayar kalian, kita tidak ada lagi hutang piutang, cukup sampai di sini. Jangan jadi benalu di rumah tangga gue." kesalku melunjak.


"Alah merasa elu di nikahi sama orang kaya, elu jadi sombong." nada Bi Nur menaik.


"Bi, sudah jangan seperti itu." bela Yayu Diyah.


"Bibi keterlaluan tau nggak?" bela lagi Yayu Zainisa.


"Cukup! Sudah cukup." air mataku luruh. "Dari dulu kalian yang ngelarang gue nikah. Ngelarang gue buat memilih hidup sendiri, sekarang kalian yang main nikah. Apa aku ini budak kalian atau babu yang suka di atur-atur? Sedangkan kalian tutup kuping kalau keluarga yang lain membicarakanku, dengan ucapan takut mengambil suami kalian. Puas kalian." tangisku pecah.


Yayu Dina, Yayu Zainisa, dan Yayu Diyah mengusap bahuku. "Sabar, Ra. Sabar." ucap ke tiga saudariku.


"Kesabaranku sudah habis, Yu. Tolong ya Bi Rosida dan Bi Nur, cukup sampai di sini. Aku sudah muak." gue yang kesal pergi meninggalkan mereka.


"Merasa Lu kaya sekarang, nggak tau diri." teriak Bi Rosida yang masih berbicara menang sendiri di belakang gue.


Gue nggak sanggup lagi dengarin ucapan mereka main pergi ke dalam mobil Mas Abyan, tanpa ucap salam dan berpamitan dengan Mas Abyan yang masih berbicara bersama Uwa Sani.


Perasaan gue yang sakit hati di pendam dalam-dalam, pada akhirnya meledak juga.

__ADS_1


Ibarat gunung berapi tuh, larvanya yang berhamburan kemana-mana.


Bersambung...


__ADS_2