Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 78 Syukuran


__ADS_3

Ding dong.


Bel pintu berbunyi.


"Hmmm, siapa yang datang, Mas?" tanyaku yang pura-pura tidak tau, bahwa keluarga besar Mas Abyan akan datang.


Kami berdua duduk santai di depan televisi, selesainya pekerjaan membuat kami berdua menguras tenaga hari ini. Bagaimana tidak? Barang yang di susun di lemari begitu banyak, di mana juga Mas Abyan yang terlihat sangat rapi itu, membuat gue pusing menyusun barang yang harus dari atas sampai bawah ukuran, lebar, tinggi harus sama. Sedangkan gue yang penting rapi aja udah selesai, ini astaghfirullah hanya Tuhan yang tau.


"Mungkin Pak Amin, bentar Mamas buka pintu dulu." berdiri dan berjalan Mas Abyan ke arah pintu.


Ceklek!


"Hmmm, Oma dan lainnya." ucap Mas Abyan terdengar bingung.


Melihat siapa yang datang, ternyata Oma, Ibu, semuanya hadir termasuk Bi Rosida, Bi Nur, Bi Maryam, Uwa Sani, Yayu Diyah, Yayu Zainisa, Yayu Dina, dan keluarga besar lainnya.


Berdiri menghampiri mereka.


"Udah, kami mau masuk. Hari ini kita makan-makan bersama, syukuran atas rumah baru kalian." ucap Oma menggeserkan tubuh Mas Abyan.


"Ah Oma selama datang." ucapku langsung bersalaman dengan Oma.


"Iya!" jawab Oma melepaskan salaman.


Lanjut lagi bersalaman dengan Bu Sari, Ayah, Hanum, Falisha, Mika, Dokter Idris, Mas Darman, Pak Aziz.


Berhenti melihat Bi Rosida menahan air matanya agar tidak mengalir.


"Zahra..." Bi Rosida memelukku. "Kamu nggak apa-apakan, Nak?" melepas pelukan memeriksa tubuhku.


Nggak tau harus apa? Mungkin benar gue melakukan kesalahan selama ini. Jika bukan mereka yang mencegahku dulu, mungkin hidup gue hancur saat ini.


"Nggak apa-apa, Bi. Maaf-"


"Suuut!" ucapanku terpotong, Bi Rosida meletakkan jari telunjuk ke bibirnya, memberi kode bahwa semua jangan di bahas lagi.


"Ayo, kita makan-makan." ucap Bi Rosida.


"Hmmm, ayo masuk semuanya, terimakasih udah mau datang, maaf aku belum sempat memberi tau, karena baru pindah dan beres-beres rumah." jelasku yang kurang nyaman pada keluarga besar.


"Iya Ra." jawab Bi Nur.


Entah kenapa mereka semua berbicara lemah, lembut begini ya? Seperti ada yang berubah gitu, apa mereka semua sedang menjaga image di depan keluarga besar Mas Abyan? Hmmm, entahlah pusing gue, yang penting mereka semua mau memaafkan kesalahan yang gue buat selama ini.


Mulai bersalaman pada mereka yang masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Abyan suruh scurity di luar bawa masuk karpet, dan lainnya." teriak Oma Farra.


"Iya Oma." Mas Abyan jalan keluar.


Berjalan masuk menghampiri keluarga besar.


"Enak juga ya Mbak, rumahnya. Sedang dan luas lagi." Falisha kepo melihat rumah, jalannya santai melihat seluruh ruangan.


"Di atas ada lantai ya Mbak?" tanya Hanum.


Senyumku merasa bahagia banget. "Di atas taman, Num. Kalian semua boleh ke sana dulu melihat."


"Mana tangganya, Ra?" tanya Bi Nur.


"Sini." mengajak mereka jalan ke arah ruang tengah, sesampainya di depan lift.


"Loh, nggak pakai tangga, tapi lift. Enak banget, Ra?" Bi Rosida terlihat kagum.


Awalnya gue juga gitu, masuk ke dalam rumah.


Ting!


Pintu lift terbuka.


"Ayo masuk." ajakku masuk ke dalam lift.


Ting!


Kami semua keluar.


"Masya Allah, Ra. Enak banget di sini. Lah kenapa atapnya nggak tertutup gini Ra. Kalau orang lain melihat gimana?" Bi Maryam terlihat bingung, dirinya sama seperti gue yang di bilang norak dalam hal beginian. Mas Abyan melihat gue kemarin pasti nilainya begini kali ya. Geli gue membayangkannya.


"Entar aku tutup dulu." berjalan ke arah ranjang yang di sampingnya terdapat tombol, menekan, tibalah atap itu bergerak. Semuanya terlihat kagum.


"Masya Allah, wes betah aku tinggal di sini." ucap Ike salah satu sepupuku.


"Kapan-kapan kita nginep ya Ra, di sini refreshing?" tanya Bi Rosida.


"Boleh, sini aja. Aku juga sekarang nggak kerja lagi." memberi tau mereka bahwa gue benar-benar menjadi pengangguran.


"Nah, begitu yang benar." ucap Bi Nur.


"Mas Abyan Bi, yang nyuruh berhenti kerja." ucap Falisha, agar gue tidak di ceramah pikirnya.


"Hmmm, itulah yang bagus." Bi Rosida menyetujui, mungkin mereka berpikir kalau gue dulunya menikah dengan Bang Doni atau lelaki lain yang nggak punya harta benda untuk menghidupi gue, mungkin gue masih di suruh kerja. Gue dapat Mas Abyan aja, mereka merasa aman gitu.

__ADS_1


Ting!


Oma dan Mas Abyan keluar dari dalam lift.


"Maaf semua boleh saya berbicara pada Zahra dan Falisha sebentar?" tanya Oma Farra dengan tersenyum, sepertinya akan ada masalah lagi.


Semoga semuanya baik-baik aja.


"Ah boleh Bu." jawab Bi Rosida, tibanya melihat ke yang lain. "Ayo turun dulu, entar naik lagi kalau mereka selesai berbicara." Bi Rosida melihatku. "Benarkan, Zahra?"


"Hmmm, iya." jawabku dengan tersenyum.


"Ayo." ucap Bi Nur mengajak yang lain masuk ke lift.


Mereka semua masuk dan turun ke bawah.


"Ra-"


"Oma nggak perlu meminta maaf, Zahra sudah menjelaskan." ucap Mas Abyan memotong pembicaraan Oma.


Oma Fara diam, dirinya terlihat bingung. "Maksudnya apa?" tanya Oma.


"Zahra sudah menjelaskan bahwa dirinya yang meminta Falisha dan Oma memberikan obat itu pada Abyan karena alasan tertentu." ucap Mas Abyan yang nggak mau bercerita, mungkin bisa jadi pikirnya alasan itu cukup dirinya yang tau.


"Apa?" Oma terlihat terkejut.


"Hmmm, kita nggak perlu bahas itu lagi yang penting Oma, Abyan dan Zahra tidak ada yang namanya terikat nikah paksa atau menulis kontrak yang seperti Oma pikirkan." tangan Mas Abyan melingkar di perutku. "Kami berdua memang masih mau berpacaran dan masih menikmati masa-masa kami sekarang ini. Oma lihat saja Hanum dan Darman gimana setelah memiliki Amel dan Tama?" Mas Abyan mencoba menyakini Oma.


Oma tersenyum. "Maaf, Oma terlalu terburu-buru dalam menilai kalian, serta mengganggu apa yang kalian inginkan. Tapi kalian adakan niat memiliki keturunan?" Oma terlihat masih menyelidiki.


Mas Abyan tersenyum. "Semua orang yang telah menikah, apalagi saling mencintai pasti Oma, hanya saja kami menundanya sebentar." jelas Mas Abyan membuat gue makin berlove-love.


Oma tersenyum-senyum. "Kalau begitu boleh kamu turun sebentar, Oma mau bicara pada Zahra sebentar saja." pinta Oma pada Mas Abyan.


"Tapi, Om-"


"Tenang, Oma nggak akan berkata kasar atau membuat keributan." ucap Oma memutuskan ucapan Mas Abyan.


Kenapa gue jadi takut begini? Mataku langsung melihat Falisha yang hanya diam dan tersenyum-senyum juga.


Apalagi sih yang elu lakuin? Buat jantungan aja.


"Hmmm, baiklah Oma." Mas Abyan melepaskan pelukan, dirinya berjalan ke lift.


Ting!

__ADS_1


Masuk dan menutup pintu turun ke lantai bawah.


Bersambung...


__ADS_2