Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 42 Pilihan


__ADS_3

"Ra, Sha." teriakan Mika yang tibanya masuk ke dalam kamar, sedikit berlarian ke arah kami.


"Lu mau minta di ruqyah, Mik?" ucap Falisha.


"Panggil Chef Angga aja, Sha." sambungku.


Mika ikut duduk. "Gila banget hari ini, Abang Angga bikin hari ulang tahun gue lebih spesial." ucap Mika kegirangan.


"Cie cie, udah manggil Abang aja nih." sindirku.


Mengibaskan rambutnya. "Iya, dong."


"Oh, Chef Angga aja." lihat Falisha ke Mika lalu berdiri, memegang tanganku. "Yuk pulang, kita berdua nggak di anggap." candanya.


"Yuk..." tambahku ikut bercanda.


Mika berdiri. "Eh tentu kalian juga." berdiri mencegahku dan Falisha.


"Katanya Chef Angga aja." ucap Falisha.


"Kalian yang utama." merayu memegang tanganku dan Falisha.


"Serius?" tanyaku.


"Serius." jawab Mika.


"Bohong kali?" sambungku.


"Seriusan, ini yang gue ingin 'kan selama ini tau. Sini duduk gue mau cerita." ajak Mika.


Kami ikut duduk, penasaran gimana kelanjutan perjodohannya? "Gue tadikan jalan tuh ke lantai atas." mulai Mika kegirangan lagi.


"Terus?" tanyaku dan Falisha serentak.


"Gue pas keluar, mendengar lagu happy birthday pakai biola."


"Terus?" tanya kami lagi, merasa bahagia.


"Yang memainkannya, Abang Angga." Mika begitu bahagia.


"Wah-wah, dapat duren runtuh, lu." ucap Falisha.


"Gue juga mau." sambungku, ingin seperti itu.


"Lu minta aja sama Mamas." perintah Falisha.


"Gila lu, ngajak dia makan tiap hari aja gue merinding, ni bulu kuduk sampai berdiri. Apalagi nyuruh dia begitu, pingsan gue." jawabku jujur.


"Masa segitunya?" tanya Mika.


"Lu dengarin nama Pak bos, gimana perasaan lu?" tantangku ke Mika.


"Ya takut." balasnya.


"Nah, begitulah gue."


"Tapikan lu istrinya, beda."


"Sama aja."


"Lu belum cinta apa?"


"Belum tau."


"Ih gila lu, jangan-jangan sekarang penyuka sesama jenis lu ya?"


Gue langsung memukul pelan bahu Mika. "Enak aja, gue gini-gini masih waras tau."


"Udah jangan berantem napa?" Falisha menengahi.


"Elu yang buat dari awal." ucapku.


"Iya salah!" jawab Falisha padaku. "Terus gimana lagi?" tanya Falisha ke Mika.


"Sudah bermain biola sampai habis, Abang Angga ngajakin gue duduk di meja yang sudah di sediakan makanan, katanya dia sendiri yang buat." jelas Mika bercerita dengan tersenyum-senyum.


"Orang Chef Angkasa Earld Group." ucapku.


"Apa?" Mika terkejut, seperti biasa gue dan Falisha ikut terkejut.


"Lu ya, coba perbaikin dulu, penyakit lu yang suka jantungan." Falisha menunjuk Mika.


"Gue 'kan syok tau, bukan jantungan. Abang Angga juga nggak cerita tadi, dia bilang kerjanya emang Chef, tapi nggak ngejelasinnya di mana?"

__ADS_1


"Nah lu, kurang pendekatan." ucapku.


"Lu juga sama, jangan gue aja." langsung di jawab Mika.


"Gue mau dekatin apa coba? Kalau nggak tau, orang dalam ada." melihat ke Falisha dengan tersenyum.


"Ih nggak seru." balas Mika.


Falisha hanya tersenyum-senyum, mendengar ucapanku.


"Tapi enak yang ini 'kan dari pada kacang hijau sama kacang tanah, yang dulu-dulu." ucap Falisha mengingatkan mantan Mika.


"Eh kacang mete juga enak." ucapku.


"Kacang kedelai juga enak." sambung Mika.


"Iya dimasak langsung semuanya oleh Chef Angga." ucapku.


"Enak ya, kalau kalian jadi terus nikah, di masakin sama ayang." ucap Falisha.


"Ih manisnya, hidup lu Mik." ucapku.


"Terus kelanjutannya gimana?" tanya Falisha ke Mika.


"Iya singkatnya, kami berdua memutuskan untuk berteman dulu." jelasnya tersenyum.


"Nggak langsung pacaran gitu?" tanya Falisha.


"Lu tau 'kan gue baru putus." jawab Mika.


"Putus sama mantan, lihat yang bening kesurupan." balas Falisha.


"Bagus dong, Sha." jawabku.


"Iya sih tapi lambat tau, kalian kalau punya pasangan temanan dulu, langsung gitu cus."


"Elu jangan hanya bicara aja. Lu aja nggak jelas." jawabku.


"Ya nih, di jodohin udah berpuluh-puluh. Masih aja belum nikah. Tua lu dari kami berdua." ucap Mika.


"Ada yang lagi kasmaran." ucapku.


"Ih benaran, kenapa nggak cerita coba? Masa gue belakangan terus dapat berita." Mika terlihat kesal.


"Nggak sayang." rayunya. "Terus sama siapa elu cinta?"


"Ayang Aziz." jawabku langsung.


"Aziz seperti pernah dengar tu nama, tapi yang mana ya? Coba lu jelasin."


"Asisten suami gue." jawabku lagi.


"Serius, Sha?" tanya Mika ke Falisha lalu melihatku. "Lu jangan bicara, gue mau dengarin langsung dari orangnya."


"Habis lama ngejawab, lihat wajah aja dah jadi cabe merah, bentar lagi layu."


"Jangan gitu lu berkata, sedih mendengar ujungnya layu." balas Falisha.


"Gimana nggak layu, kelewat masak." jawabku tersenyum.


"Gue gugup tau."


"Lebay lu." ucap Mika.


"Lu kira di sini lagi wawancara?" ucapku.


"Lagi syuting!" jawab Falisha.


Hahahaha, kami tertawa bersama.


"Dah serius, coba cerita gue ingin tau." Mika ke mode serius.


"Gue tuh, setiap dinner ngajak Mas Aziz, kesal gue lihat wajah mereka yang terlihat manfaatin gue aja."


"Manfaatin gimana? Orang pilihan Oma nggak mungkin salah, Sha." bingung gue salahnya dimana?


"Lu udah nerima Oma ya?" Falisha menyelidiki.


"Bukan gitu Sha maksud gue. lu taukan pilihan Oma tuh, bukan orang sembarangan pasti sederajat atau yang lebihlah di mata beliau." ucapku nggak mau kalah.


"Iya Ra, tapi penglihatan gue berbeda, dari awal sampai akhir bertemu yang di tanya apa?"


"Apa?"penasaranku.

__ADS_1


"Kerja sama kalau sudah menikah."


"Nggak waras banget tu laki-laki." ucap Mika langsung. "Terus bisa nyangkut Pak Aziz gimana? Eh tunggu-tunggu, gue belum tau wajah-wajah Pak Bos sama Pak Aziz."


"Lah lu kerja di rumah sakit, masa nggak tau?" tanyaku merasa aneh.


"Di foto berbeda Ra, siapa tau editan. Lagian sudah lama banget lupa gue. Elu ada nggak fotonya?"


Di pikir-pikir gue punya nomor kontaknya aja sih. "Enggak ada, Mik." jawabku jujur.


"Gila lu, suami aja nggak ada foto satu pun di handphone."


"Gue nggak gila, untuk apa coba?"


"Orang aslinya lebih enak di pandang." jawab Falisha.


"Lu jawab benar lagi." ucapku ke Falisha.


"Iya dong!" mengibas rambutnya yang di bawah bahu, kemudian menekan handphone yang dari tadi di letakkan di atas meja. "Nih foto Mas Aziz." tunjuk Falisha ke Mika.


"Ganteng banget Sha, sebelahnya lagi siapa?" tunjuk Mika yang foto itu terdapat Mas Abyan memegang bahu Pak Aziz seperti sahabat dekat.


"Ini Mamas gue." jawab Falisha santai menunjuk layar.


"Ya Allah Ra suami lu ganteng maximal. Wajar Bu Hasya, Bu Ima, Bu Ika, sama Bu Tuti mau jadi istri ke-dua atau ke-tiga, gue aja mau." ucap Mika.


"Nggak waras lu." ucap Falisha langsung.


"Lu mau nggak apa-apa." candaku.


"Kalian berdua nggak waras, sepertinya." Falisha terlihat kesal.


"Gue waras Sha hanya bingung aja, Nih Pak Bos kurang apa coba? Ganteng maximal." ucap Mika


"Lu belum tau aja, dingin dan bekunya ruangan saat berdua." jelasku.


"Minta peluk, kalau gitu." ucap Mika.


"Lu gatel bilang." ucapku.


"Minta garuk, terus belai."


"Udah nggak waras lu."


"Lu nggak ada apa niat buat buka hati lu buat sang suami?" tanya Mika.


"Nah benar, pertanyaan elu. Gue setuju." ucap Falisha.


"Saat ini belum, nggak tau nanti." ucapku lantang.


"Lu sebelum buka hati lu ke Pak Bos, ke rumah sakit dulu, di cek ada nggak gangguan di otak elu." ucap Mika.


"Ada katanya, gue bentar lagi di ungsikan."


"Dah bicara masalah lu nggak selesai kita. Terus lu sama Pak Aziz gimana?" tanya Mika ke Falisha.


"Iya gue minta tolong sama Mas Aziz, sebagai orang yang bisa di andalkan. Ketika bertemu tuh sama cowok yang di janjikan untuk kencan. Mas Aziz, gue bawa. Kami berdua memainkan peran seperti pasangan kekasih, gue sosor aja Mas Aziz dengan ciuman di pipinya."


"Aaaaa, gila lu." jeritanku dan Mika.


"Terus tu Pak Aziz mau-mau aja gitu?" tanya Mika.


"Maulah, kalau enggak gue bilang sama Oma, kalau dia menghamili gue ngajak tidur di hotel bergulat mesrah."


"Nggak waras lu Sha, makan batin tu Pak Aziz di buat oleh lu." ucapku.


"Biarin, gue juga suka. Hanya aja dia belum ngeh jadi laki." ucap Falisha jujur.


"Mungkin, Sha. Bisa jadi Pak Aziz suka sama elu. Kalau nggak, mana mungkin dia mengikuti ancaman elu. Orang terkenal pintar gitu, gosip di rumah sakit. Gue dan Mika dengar." ucapku.


"Jangan-jangan dia suka, tapi lihat keluarga elu dia perlahan mundur." pikir Mika.


"Nah benar banget." ucapku sama pemikiran dengan Mika.


"Iya ya, gue nggak ke situ mikirnya." balas Falisha.


"Nah, elu harus tanya sama Pak Aziz atau cari tau dulu dengan orang terdekat, lu pastiin juga perasan elu. Udah selesai pilihan kita, sekarang tinggal lu Ra." Mika melihatku. "Gue harap buka hati buat suami elu." nasehat Mika.


"Nah benar, kita berdua udah ada lampu kuning tinggal hijau. Sekarang lu pikirkan kedepannya sama Mamas, jangan sampai ada kata pisah maupun cerai. Buka hati lu secara perlahan. Siapa tau Mamas gue juga gitu nantinya."


"Hmmm, kita lihat aja nanti, doain aja." mungkin benar ucapan mereka, tapi lihat adegan tadi siang, mikir-mikir dululah gue.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2