
"Oma, aku tidur di sini ya?" rayu Ishana pada Oma Farra saat gue dan Mas Abyan di suruh menginap semalam di rumah.
"Pulang sana, kamar di sini udah penuh." ucap Falisha tidak menyetujui.
"Masih banyak kok, Mbak." ngeyel Ishana.
"Dah pulang, kasihan sama Ibu Arum dan Papa Sofian di rumah berdua." sambung Hanum.
"Ih Ibu sama Papakan bisa berdua dulu satu malam di rumah." masih dalam pendiriannya.
"Kapan-kapan aja Ishana." jawab Oma Farra.
"Ah, Oma. Lagian di sini ada Mas Abyan, kalau lain kali nggak mau, kalau nggak ada Mas Abyan." rayunya memeluk tangan Oma Farra.
"Eh elu mau tidur sama Mamas di kamar, Mbak Zahra di kemanain?" tanya Falisha terlihat kesal.
"Eh Ishana lu nggak tau apa, pengantin baru lagi panas-panasnya di kamar, elu mau gangguin aja." sambung lagi Hanum.
"Lagian aku hanya numpang tidur disini aja kok." alasannya.
"Ishana pulang, jangan manja." ucap Ibu Arum.
"Ma, aku mau tidur disini." masih ngeyelnya.
"Ishana..." panggil Pak Sofian bersuara dingin.
"Ih dah." menghentakkan kaki, melepaskan pelukannya, berjalan keluar ruangan tanpa berpamitan.
Mirip banget sama anak kecil, nggak sesuai gitu sama umur dan sikap.
"Maaf atas sikap Ishana ya semua, dari dulu sampai sekarang nggak bisa dirubah." ucap Bu Arum kurang nyaman dengan tingkah laku Ishana.
"Nggak apa-apa, biasa kalau adik sedang manja sama Mamasnya." bela Oma Farra, melirik sebentar kearahku.
Silahkan Oma, anda mau apa? Saya persilahkan nggak perlu melirik-lirikku.
"Kalau begitu kami permisi, assalamualaikum." ucap Bu Arum.
"Waalaikumussalam." kami semua menjawab serentak.
"Kami pulang dulu ya Oma." ucap Mas Abyan berpamitan.
Saat keluarga besar sudah pulang duluan, hanya sisa gue, Mas Abyan, Oma Farra, Ibu Sari, Ayah Dameer, Hanum, Mas Darman dan Falisha.
"Kenapa nggak tidur disini aja Abyan?" tanya Oma Farra, tidak menyukai gue dan Mas Abyan memutuskan untuk pulang kerumah.
"Iya ni, Mbak Zahra bisa tidur sama aku lagi." sambung Falisha.
"Elu gangguin aja." sambung Hanum.
"Eh biarin, Mbak Zahra aja biasa-biasa aja." jawab Falisha.
"Besok Zahra kerja, Oma." jawab Mas Abyan.
"Emang masuk apa sih, Mbak?" tanya Falisha padaku.
"Dinas malam Sha." jawabku langsung.
"Tuhkan dinas malam, pulang besok juga bisa, pagi atau siang." ucap Oma Farra.
Falisha mendekat. "Tidur disini aja, sama aku Mbak." rayunya memegang tanganku.
Mas Abyan tersenyum-senyum. "Kalian mau, mendengarkan suara jeritan seseorang tengah malam? Lagian Mamas nggak bisa Sha, tidur sendirian."
Gue dan Falisha mengulum tawa mendengar Mas Abyan, aktingnya semakin baik.
"Mas..." menambahi dengan menepuk pelan bahu Mas Abyan, gayaku yang sedikit malu.
Falisha akhirnya tertawa, seperti tidak bisa menahan rasa geli di perut. Melihat drama live streaming secara langsung.
Kami semua melihat ke arah Falisha, penuh tanda tanya. Gue yang nahan tawa dari tadi aja bisa, sambil gigit lidah.
"Kamu kenapa sih, Sha?" akhirnya Oma Farra buka suara.
__ADS_1
"Nggak Oma, aku hanya membayangkan sesuatu. Sepertinya rumah kita horor malam-malam mendengar suara teriakan. Biasanya sepi, bunyi jangkrik aja terdengar, tiba-tiba ada suara itu, aku juga mau pindah deh." jawabnya masih tertawa.
"Tapikan semua kamar kedap suara." ucap Hanum.
"Beda, yang ini sepertinya lebih ganas. Sampai tembus semua dingin. Hahaha..." tawa Falisha makin gempar.
"Harusnya takut, bukan tertawa." ucap Ibu Sari, ikut berbicara merasa aneh dengan Falisha.
Lihat ke Mas Abyan, gue serahkan padamu Mas. Nggak bisa terlalu memainkan drama.
"Kami permisi Oma, Ibu, Ayah, Mas Darman, Hanum, Falisha." salamnya cepat, memutuskan pembicaraan yang akan berkembang biak dengan kuping memerah.
Malunya sampai segitu ternyata, kenapa gue bisa tau Mas Abyan malu?
Mas Abyan tuh orangnya berkulit putih susu, kalau malu pasti kupingnya tuh merah terlihat jelas.
"Iya Nak, hati-hati di jalan." ucap Ibu Sari.
"Tapi kalau Zahra sudah mengandung kalian kasih tau ya? Bila perlu tinggal di sini." Terus terang Oma Farra tanpa basa basi.
Gue mulai suka sama Oma yang marah ataupun ingin sesuatu, dirinya akan berbicara terus terang, tapi nggak tau ya kalau di hatinya.
"Mama, itu urusan mereka." sambung Ibu Sari, memegang bahu Oma Farra.
Gue hanya tersenyum aja.
"Iya Oma pasti, aku pastikan Oma nomor satu yang tahu. Doain ya." sambung Mas Abyan.
Bukannya Oma Farra nggak suka sama gue ya? Tadi bilang di suruh mundur, sekarang di suruh mengandung.
Apa Oma Farra, hanya ingin cucu tanpa Ibu? Gue masih penasaran. Gue nih mesin apa ya? Hanya untuk meneruskan generasi kalian, agar keluarga Angkasa Earld Group nggak punah.
Kami berdua bersalaman, di antar ke depan teras, mobil telah di siapkan oleh asisten rumah tangga.
"Hati-hati ya sayang." ucap Ibu Sari saat gue dan Mas Abyan sudah di dalam mobil.
"Iya Ibu, dada..." lambaian tanganku ke arah mereka.
Mereka juga melambaikan tangan, hanya Oma Farra, yang diam. Wajah malasnya melihatku, mungkin di pikirannya tidak penurut.
Rasanya tubuh gue capek banget tak berdaya, memejamkan mata sebentar bersama mimpi.
***
Bangun tidur menarik tubuh itu sangatlah enak, rasanya semua beban hilang.
Gue baru sadar saat melihat sana sini, telah berada di dalam kamar dengan selimut yang menutupin sampai dada.
Perasaan tadi malam masih di mobil jalan pulang. Gue tersenyum Mas Abyan ternyata nggak membangun ‘kan ku.
Otak gue langsung traveling, membayangkan cara Mas Abyan menggendong seperti di film-film drama romantis.
Hmmm, romantisnya.
Sayang status aja nikah, benar kata Falisha pajangan aja. Lagian kalau pacaran, Mas Abyan juga pasti ngelakuin yang sama apa bedanya?
Bisanya mengancam gue, agar tidak cerai bukan dirinya suka. Sebentar, kenapa gue pagi-pagi mikirin Mas Abyan sih?
Pusing kepala gue.
Mencari tas semalam yang di bawa ke acara, ternyata Mas Abyan meletakkannya di atas meja rias.
Berdiri mendengar azan subuh di dalam tas suara dari handphone.
Melihat chat group rumah sakit. Izin dari teman, tiga orang sekaligus. Dengan Terpaksa di suruh menggantikan mereka. Siap laksanakan balasku. Lagian Mas Abyan pasti mengizinkan, kalau enggak mau gimana lagi, terpaksa menyerahkan pada Bu karu untuk memutuskan mana yang terbaik.
Selesai shalat, membersihkan tempat tidur serta mengganti pakai dengan santai.
Seperti biasa membuat sarapan pagi.
Jalan ke arah dapur. "Mas Abyan." melihat Mas Abyan sedang memasak.
"Iya, Ay." jawabnya mengaduk masakan.
__ADS_1
"Mamas, masak?" jalan mendekatinya.
Senyum Mas Abyan. "Duduk sana, sebentar lagi selesai." menunjuk meja makan.
"Sini biar aku aja yang masak Mas." maluku, masa suami yang masak.
Mas Abyan tersenyum lagi. "Nggak perlu, semalam kamu udah masak banyak. Biar Mamas aja."
Oh Mamas masak pagi-pagi ngerayu, kesal gue ingat kejadian semalam.
Duduklah di kursi, ngeliatin Mas Abyan. Antara terpesona dan enggak, ingat pada kejadian semalam, entahlah pikiran gue negatif terus. Apa sebenarnya hubungan Mas Abyan dan Ishana?
Mas Abyan meletakkan wadah makanan, gue mengisi piring kami berdua.
"Gimana Ay, enak nggak?" tanyanya melihat gue hanya diam saja tanpa bicara.
"Iya Mas, enak." benar adanya.
Gue nggak tau seberapa banyak Mas Abyan mempunyai banyak rahasia. Dirinya terlihat sempurna, untuk saat ini.
"Sayang kamu masih marah?" tanyanya.
Ah kalau laki-laki membujuk bisa ya, kata sayang aja udah bikin gue lumer.
"Marah kenapa Mas?" tanyaku balik, berpura tidak tau.
"Mungkin semalam kamu kena hukuman, atau-" hentinya.
Penasaranlah gue, ucapan Mas Abyan yang suka banget menggantung. "Atau apa Mas?"
"Cemburu." jawabnya spontan.
Cemburunya gue dari mana Mamas ganteng?
"Nggak Mas, itukan adiknya Mamas." ucapku jujur.
Mas Abyan hanya terdiam, mengunyah makanan.
"Mas, sepertinya aku akan lembur dua hari."
"Kenapa? Apa karyawan di ruangan kamu kurang?"
"Nggak Mas, tiga temanku nggak bisa masuk."
"Alasannya?"
"Bu Eri terkena penyakit demam berdarah, Bu Ima anaknya demam tinggi, Bu Ika orang tua laki-lakinya meninggal." jelasku satu persatu.
"Mamas suruh orang aja ya, atau nambah karyawan." tawarnya.
"Nggak perlu Mas, mereka izin nggak selamanya. Lagian aku juga sudah terbiasa."
"Serius?"
"Iya Mas, bolehkan Mas?" meminta izin.
"Iya boleh." dirinya mengambil gelas berisi air putih dan meminumnya. "Pakaian kamu di bawa?" tanyanya lagi usai minum.
"Enggak Mas, paling entar ganti dalaman aja." jujur gue malu, pasti Mas Abyan berpikir pertama kali bertemu gue nggak mandi, memang benar adanya sih.
"Mamas antar mau?" tawarnya.
Allahuakbar, masa CEO perusahaan tertinggi nganterin pakaian dinas ke pegawai rendahan. Gue bisa dibilang simpanan anda, Mas.
"Mamas jangan bikin aku malu loh, Mas?"
"Kenapa malu, Ay? Emang kamu malu nikah sama Mamas?"
Salah paham ‘kan.
"Coba Mamas pikir, Mamas bawa pakaian ke ruangan aku. Apa coba pikiran karyawan lain?"
Mas Abyan tersenyum-senyum, entah apa yang dia pikirkan? Gue nggak tau.
__ADS_1
"Iya, Ay." jawabnya singkat.
Bersambung...