Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Chapter 109 Menahan malu


__ADS_3

POV Zahra


Aaah...


Bosanku melihat langit-langit rumah, sudah dua bulan gue di sini. Ingin jalan-jalan, mengelus perut yang semakin besar. Untun ajak ayah jalan-jalan yuk.


Berdiri berjalan ke kamar utama.


Mas Abyan seperti biasa dirinya fokus ke layar laptop duduk di depan meja.


Duduk di pinggir ranjang, kira-kira kalau Mas Abyan di ajak ke Bogor mau nggak ya?


Ingin banget gue kesana, lihat sawa. Hijau-hijau gitukan enak di mata, rasanya seger banget.


"Kenapa, Ay?" Mas Abyan ternyata memulai pembicaraan, mungkin melihat gue diam aja melihat dirinya.


"Mamas, sibuk ya?" mungkin saja begitu.


"Hanya melihat data yang di kirim Aziz aja, Ay. Kenapa?" mata Mas Abyan masih fokus ke layar laptop.


"Mamas mau nggak kalau jalan ke Bogor?" ajakku siapa tau Mas Abyan mau.


Mas Abyan melihatku. "Entar kamu capek Ay, Perjalanan jauh gitu. Bawa perut aja susah."


Gue memajukan bibir bawah, merasa tertolak.


"Ngidam, Ay?"


Gue menganggukkan kepala, puraku iya.


"Kalau gitu naik pesawat pribadi aja ya, Ay. Ke sananya." solusi Mas Abyan.


"Emang di sana ada tempat mendaratnya ya, Mas?" perasaan sawa semua.


"Ada, Ay. Mamas sudah buat di sana." jelas Mas Abyan membuatku terkejut.


"Kapan, Mas? Kok aku nggak tau." Mas Abyan nggak terbuka gini.


Mas Abyan tersenyum-senyum, sambil melihat layar laptop. "Mau apa enggak?" tawarnya.


"Kalau ada, Mau aku, Mas." lebih cepat lebih baik.


Mas Abyan melihatku. "Iya sudah besok kita berangkat."


"Yah, sekaranglah, Mas." rayuku.


Mas Abyan menunjuk luar. "Hari sudah malam, Ay."


Gue melihat jendela yang masih terbuka, emang sudah gelap sih.


"Besok pagi-pagi tapi ya, Mas." melihat Mas Abyan.


Mas Abyan menganggukan kepala. "Hmmm!" dengan tersenyum.


Ah sudahlah gue ke lantai atas aja.


Berdiri perlahan. "Mau kemana, Ay?" Mas Abyan melihatku.


Mengangkat tangan. "Ke atas, Mas. Nggak boleh?"


"Kamu bosan?" Mas Abyan berdiri.


Gue menganggukkan kepala. "Hmmm!"


"Iya udah kita ke atas." Mas Abyan memegang tanganku.


"Aku bisa sendiri Mas, jalan." mengikuti jalan Mas Abyan keluar kamar.


"Bawa perut aja susah gitu." Mas Abyan selalu menyindir. Emang susah apa sih yang di maksud Mas Abyan? Bawa perut biasa aja bagi gue, nggak ada yang berat-berat banget.


Mas Abyan menekan tombol Lift.


Pintu terbuka, kami masuk.


Pintu tertutup.


Ting!

__ADS_1


Pintu terbuka kami jalan keluar.


"Mas aku lupa ngambil buah." ingin makan itu lidah gue.


"Biar Mamas aja yang ambil." sabar Mas Abyan mengikutin kemauanku.


Selama hamil, Mas Abyan begitu perhatian. Sampai aku yang bosan di perhatikan Mas Abyan.


"Buah apel, Mas." inginku.


"Tunggu!"


"Hmmm!"


Mas Abyan jalan ke lift lagi turun kebawah.


Melihat sekitar banyak sih tanaman, tapi kurang luas gitu. Berjalan ke arah ranjang.


Kalau di ingat-ingat, semejak hamil, Mas Abyan nggak pernah lagi ngajak main kuda-kudaan.


Apa dirinya takut melihat gue yang berbadan dua ini?


Atau dirinya nggak tertarik melihat tubuh gue yang seperti ikan buntal.


Ah, sudahlah ngapain otak gue jadi mesum gini.


Ting!


Mas Abyan datang. "Nih, Ay." menyerahkan piring berisi buah yang telah di kupas dan di potong beberapa bagian.


Ding ding ding.


Suara alarm pintu depan yang terdengar sampai lantai atas. Sengaja Mas Abyan pasang, katanya agar gue bisa mendengar dirinya jika pulang kerja atau ada tamu.


Mengambil. "Siapa ya, Mas?" melihat Mas Abyan.


"Mungkin Pak Amin, Ay. Tunggu sebentar." Mas Abyan turun lagi kebawah.


Gue makan buah ajalah, sepertinya enak banget. Apalagi di kupas sama Mas Abyan tambah enak nih buah. Meletakan piring, naik ke atas ranjang, duduk dengan kaki di luruskan.


Mengambil piring dan makan buah. Hmmm, rasanya manis sedikit masam.


Ting!


Melihat ke sumber suara, ternyata ada Oma, Ibu, Falisha, dan Mika datang.


Gue langsung tersenyum sambil turun dari ranjang.


"Udah di situ aja." cegah Oma mendekat.


Gue berhenti mengikuti arahan.


"Ada apa Oma, datang?" penasaranku dengan kedatang mereka. Emang sering sih mereka datang, seminggu bisa beberapa kali.


Oma, Ibu, Falisha, Mika duduk di dekat gue.


"Ra, besok kita buat acara tujuh bulanan kamu ya?" ucap Oma membuat gue terkejut.


"Acara tujuh bulan?" tanyaku bingung.


"Iya, Ra. Itu tradisi adat untuk orang yang sedang hamil. Sebagai bentuk rasa syukur yang di beri." ucap Ibu.


"Tapi Oma, Ibu. Rencana besok aku mau ke Bogor." jelasku.


Mereka terlihat terkejut.


"Ngapain, Mbak?" tanya Falisha.


"Ingin lihat sawa yang warnanya hijau-hijau." jelasku.


Ting!


Mas Abyan datang.


"Gimana kita buat acaranya di sana?" solusi Ibu.


"Nah, Oma setuju." maunya Oma.

__ADS_1


"Wah seru tuh. Aku ingin lihat sawa secara langsung, Ra. Apalagi sambil merayakan syukuran." ucap Mika sangat antusias.


"Apalagi, Ra. Daerah sana kalau merayakan acara adat syukuran tujuh bulan begini. Pasti ramai banget." ucap Ibu.


"Kasihan Zahra, Bu. Nanti kecapean gimana?" ucap Mas Abyan duduk di kursi melihat kami.


Hmmm suamiku emang tau banget.


"Kita buat acara yasinan aja. Nggak usah mandi kembang dan semacamnya." ucap Oma.


"Villakan kecil, Oma." gimana mau nampung orang sebanyak itu, tempat aja kecil.


"Pasang tenda aja, untuk para undangan." solusi Falisha.


"Baru Oma mau bilang." sambung Oma.


Gue melihat Mas Abyan. "Gimana, Mas?" meminta pendapatnya.


"Boleh aja, Ay. Asal kamunya nggak capek." Mas Abyan terlihat menyetujui.


Gue ikut ajalah. Lagian seru gitu, ngajak Bu Iyem, Bu Tukiyem dan lainnya makan-makan bersama. Pasti Bu Iyem terkejut melihat perutku membesar. Apa gara-gara obat yang dirinya racik, gue bisa tekdung gini?


"Sha, Mik. Aku baru ingat." siapa tau mereka mau dengan minuman yang di buat Bu Iyem.


"Apa, Ra?" tanya Mika.


"Ingat apa, Mbak?" ucap Falisha terlihat penasaran.


"Waktu aku dan Mamas ke Bogor. Aku sempat di ajak Bu Iyem ke rumahnya. Gara-gara dirinya mau meracik obat agar cepat hamil." jelasku.


"Jadi elu cepat hamil gara-gara racikan itu?" tanya Mika terkejut.


"Ampuh banget, Mbak?" ucap Falisha.


"Wah, kalau begitu. Kita kesana besok, sekalian minta di buatkan untuk Falisha dan Mika. Siapa tau berhasil juga." ucap Oma.


"Iya sebenarnya aku hanya mencoba aja, siapa tau benar adanya. Tapi waktu itu, bukan berminat ke obatnya." jelasku.


"Terus?" tanya Mika penasaran.


"Ada air terjun." ucapku pelan


"Aaaaa... Gue mau juga lihat air terjun." ucap Falisha dan Mika serentak.


"Tuhkan, kalian aja dengar air terjun langsung mau. Sama aku juga gitu awalnya." jelasku.


"Iya sampai Mamas berkeliling nyari kamu, Ay. Dimana posisi hujan badai di sana." jelas Mas Abyan terlihat kesal.


"Mamas main hujan?" tanya Ibu.


"Mau gimana lagi, Bu. Zahra tiba-tiba hilang tanpa kabar, di tambah handphone dan tas tinggal di vila." jelas Mas Abyan.


"Kamu kemana?" tanya Oma pada Mas Abyan.


"Aku ke proyek sebentar, melihat lokasi, Oma." jawab Mas Abyan santai.


"Kenapa kamu nggak bilang, Ra?" tanya Oma.


Gue hanya bisa tersenyum-senyum. "Lupa, Oma. Gara-gara mendengar air terjun." jelasku menahan malu.


"Jadi bertemunya dimana?" tanya Ibu.


"Iya aku bertanya sama pegawai di sana, Bu. Sekalian pinjam motor untuk menjemput Zahra. Jalannya mana sempit nggak bisa masuk mobil." jelas Mas Abyan mengingatku pada kejadian hari itu.


"Kalian berdua pulang hujan-hujanan dong." ucap Falisha.


"Hmmm! Begitulah." jawab Mas Abyan.


"Untung nggak sakit kalian berdua." ucap Oma.


Mas Abyan tersenyum-senyum. "Nggak, Oma. Pulang ke villa langsung mandi, terus minum obat yang di bawa Zahra." jelas Mas Abyan membuatku malu.


"Hayo sudahnya ngapain kalian?" Falisha mulai kepo dan jahil.


"Tuh, hasilnya." Mas Abyan tanpa malu berucap menunjuk perutku.


Melebarkan mata, merasa kesal. Jujur banget jadi manusia.

__ADS_1


"Hahaha..." semuanya tertawa, gue menahan malu.


Bersambung...


__ADS_2