Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 10 Hairdryer


__ADS_3

"Pak, Bu. Mari beristirahat dulu di kamar, mengganti pakaian yang lebih nyaman untuk acara silaturahmi tamu undangan maupun keluarga." ucap WO laki-laki.


"Hmmm." jawab Mas Abyan.


Kami berdua mengikuti arahan.


Tanganku di genggaman Mas Abyan, sampai ke dalam kamar, baru Mas Abyan lepas.


"Maaf Pak, Bu. MUA wanitanya masih makan, sebentar lagi datang." ucap MUA laki-laki yang gue nggak tau siapa namanya. "Ibu duduk dulu di kursi sofa. Maaf ya, Bu." sambungnya lagi merasa kurang nyaman.


"Nggak apa-apa, Mas." ucapku sambil duduk di kursi sofa.


"Mas, duluan." tegur Mas Abyan.


"Iya, Mas." jawabku merasa malu, melihat Mas Abyan mulai melepaskan pakaiannya.


Mas Abyan mulai melepaskan penutup kepala, jas, rompi, pakaian lengan panjang, dan terlihatlah kaos putih. Di akhiri dengan kain kebet yang di lepas, hanya menggunakan celana pendek boxer warna hitam.


Penglihatanku langsung ke arah lain, merasa malu. Di kira Mas Abyan pasti gue nafsu atau agresif saat lihat tubuhnya yang terbuka.


Mas Abyan duduk di dekatku, dengan dirinya yang memakai kaos oblong dan boxer tadi.


"Ay, capek nggak?" tanyanya yang melihatku seperti kelelahan.


Memang benar yang di rasain, leher nih rasanya mau lepas, bawa kepala berisi sanggul tambahan di dalam hijab, di tambah printilan lainnya.


"Nggak, Mas!" puraku agar tidak menyusahkan Mas Abyan takut membuatnya kepikiran.


"Jujur, Ay." paksanya.


"Iya Mas. Kepalaku sedikit berat." jawabku jujur.


"Bang, tolong buka yang di luar hijabnya aja. Istri saya kurang nyaman." ucap Mas Abyan terlihat khawatir.


"Oh iya, Pak." cepatnya melepas yang terpajang di atas kepalaku.


Mas Abyan memperhatikan ku terus, entah apa yang di lihatnya?


MUA wanitanya sudah kembali dengan tergesa-gesa. "Maaf Pak, Bu. Kami terlambat." ucapnya penuh penyesalan dengan nafas yang kurang beraturan.


"Nggak apa-apa. Bantulah istriku." ucap Mas Abyan ramah.


"Kami permisi dulu Pak, Bu." ucap MUA laki-laki.


Kami berdua hanya menganggukkan kepala saja.


"Duduk di sini, Bu." ajak MUA.


Gue mengikuti arahan lagi, sedangkan Mas Abyan duduk di ujung ranjang memainkan handphone, menghadap ke arahku.


Mulailah kepalaku di bongkar, hiasannya.


Aaah...


Akhirnya kepala gue nggak berat lagi. Mataku melihat MUA wanita di samping kiri dan kanan, melirik-lirik Mas Abyan dengan tersenyum-senyum.


Kalian berdua, sempat-sempatnya melirik suami orang. Jangan-jangan Mbak ni mau jadi pelakor kali ya? Gue kurang nyaman, dengan tingkah MUA yang gatel gini.


Bagian akhir hijab mulai terbuka, tangan Mbak MUA gue tahan. "Ada laki-laki, Mbak?" tanpa sadar jika laki-laki itu Mas Abyan.


"Nggak ada siapa-siapa Bu, hanya suami Ibu saja." ucapnya melihat ke arah Mas Abyan.


"Hanya ada Mamas Ay, nggak apa-apa." ucapnya lembut.


Jujur gue malu, takutnya rambut yang berantakan itu di lihat Mas Abyan.


"Iya Mas." mengikuti ucapan Mas Abyan.


Dari pada ada ucapan menyebar nggak enak oleh MUA di sini.


Mas Abyan dengan santai memperhatikanku. Malunya melihat rambutku yang habis di sasak tadi seperti Mak lampir.

__ADS_1


MUA mulai melepas pakaian dengan cepat gue berdiri. "Di kamar mandi saja, saya lepaskan." jalan cepat sebelum komentar yang masuk.


Emang gue lagi ngadain film biru apa, di lihat Mas Abyan? Mungkin Mas Abyan melihat, karena tadi gue maling-maling melihat Mas Abyan, jadi impas gitu. Enak aja, menang banyak dia ngelihatin gue, walau saja bukan itu juga maksudnya, tapi bisa jugakan begitu.


Melepas pakaian pengantin yang ribet saat di dalam kamar mandi, gue mengintip dari belakang pintu setelah semuanya terlepas.


"Mbak, minta tolong ambilkan pakaian ganti saya. Ini pakaian pengantinnya." sekalian menyerahkan pakaian tadi.


"Oh iya Bu, sebentar." mengambil pakaian yang di gantung rapi, dan mengambil pakaian yang gue pegang. "Ini Bu." menyerahkan ke gue.


"Terimakasih." saat pakaian itu sudah di tanganku.


"Iya Bu, sama-sama." senyumnya.


Kembali menutup pintu dan menguncinya, sat, set gue pasang, setelah itu langsung mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat Zuhur.


Setelahnya memakai hijab kembali.


Keluar dari kamar mandi, melihat MUA pada nggak ada. "Mana penata rias tadi Mas?" tanyaku melihat Mas Abyan masih sama duduk di pinggir ranjang melihatku, saat bertanya padanya.


"Keluar shalat, Ay. Kamu udah ambil wudhu?" berdirinya meletakkan handphone di atas meja.


"Iya Mas, udah." mengambil alat shalat.


"Tunggu Mas, Ay. Kita shalat berjamaah." Mas Abyan berjalan cepat ke kamar mandi mengambil wudhu.


"Iya, Mas." menyiapkan sajadah kami.


"Allahuakbar." kami berdua melaksanakan shalat yang ke-dua kalinya. Mencium punggung tangan Mas Abyan, tanda kami selesai shalat dan berdoa.


Gue merapikan kembali alat shalat.


Tok tok tok.


Mas Abyan langsung membuka pintu. "Makanan siang, Pak." ucap pelayan yang datang.


"Oh, silahkan masuk." Mas Abyan menyuruh pelayan masuk membawa makanan siang kami.


"Ay, makan dulu." ajaknya saat pelayan telah keluar.


"Capek nggak, Ay?" tanyanya saat kami berdua sedang makan.


"Nggak, Mas." jawabku jujur.


"Kalau capek, di kamar aja. Biar Mamas yang kembali ke gedung utama."


"Nggak capek kok, Mas. Aku ikut Mamas ke sana."


"Hmmm, Iya sudah kalau gitu."


Lanjut lagi kami makan sekitar kurang lebih sepuluh menit.


"Mas, kami berdua telah selesai." menelepon karyawan tadi, entah itu MUA, WO atau pelayan.


Tok tok tok.


Kembali Mas Abyan membukakan pintu. Ternyata pelayan sekaligus MUAnya datang.


"Mari Bu, Pak. Kita berhias lagi." ucap mereka.


Gue dan Mas Abyan lagi-lagi mengikuti arahan.


Mas Abyan memakai pakaian kasual, dengan kaos oblong berwarna putih, memakai blazer setengah lengan, dan celana dasar berwarna peach, mirip banget seperti artis Korea. Tapi gantengnya Mas Abyan.


Gue memakai pakaian sar'i yang sama warnanya dengan Mas Abyan, dengan polesan make-up dan cadar.


Kali ini kami keluar dengan santai.


Saat memasuki ruangan, kami berjalan menyapa tamu undangan, dan toko-toko penting di sana.


Sampailah acara selesai jam sepuluh malam.

__ADS_1


Gue dan Mas Abyan menaiki lift ke lantai paling atas, ini hotel ke-dua kami datangi.


Di lorong tersebut ada beberapa kamar, kami paling ujung sekali dengan nomor empat ratus sepuluh.


Pintu kamar telah di buka oleh Mas Abyan. "Yuk, masuk, Ay." ajaknya ke dalam kamar.


Pandangan pertama yang gue lihat tak jauh dari kamar pengantin sebelumnya, namun kamar ini sedikit lebih luas dan balkonnya terlihat menarik.


Jalan ke arah balkon, di sana gue bisa melihat seluruh alam rasanya dari atas sini.


"Ay, masuk sudah malam. Nggak baik angin malam begini untuk kesehatanmu." perintah Mas Abyan.


"Iya, Mas." berjalan ke dalam kamar, tak lupa juga menutup pintu.


"Mandilah duluan, air hangat sudah di siapkan di sana."


"Hmmm iya, Mas." melepaskan cadar masuk ke dalam kamar mandi yang luas, dengan bathtub berisi air yang bertaburan bunga mawar merah.


Dengan senang hati menikmati bathub ini, membuka pakaian setelah mengunci pintu dari dalam masuk ke dalam bathub, Hmmm enaknya, rasa tubuh gue di pijit-pijit oleh hangatnya air ini, menyender sambil membersihkan tubuh. Menutup mata sebentar, nggak apa-apa kali ya.


Tok tok tok.


"Ay, jangan lama-lama mandinya, nanti masuk angin." suara Mas Abyan memanggil dengan penuh perhatian, gue tidak menghitung berapa lama di dalam bathub ini.


Berdiri, memakai handuk kimono lengan panjang, lupa mengambil pakaian bersih dengan hijab menutupin kepala.


Mas Abyan melihatku saat keluar kamar mandi. "Pakaian kamu di atas meja." tunjuknya.


"Iya, Mas." mengambil cepat, kembali lagi ke dalam kamar mandi.


Seperti biasa ukurannya pas. Sudahlah, mungkin Falisha yang ngasih tau, bisa jadi begitu.


Gue keluar kamar mandi, Mas Abyan melihatku dengan wajah datar. "Ay, kamu pakai hijab, kalau nggak ada siapa-siapa?" tanyanya saatku berdiri di depan kamar mandi.


"Nggak, Mas." jawabku jujur.


"Terus kenapa di pakai, Ay? Apa ada, Mamas?" Mas Abyan berjalan mendekat dan berhenti di hadapanku setengah meter lagi, dengan nada yang sedikit dingin.


Iya iyalah ada lu, masa ada orang lain di sini.


Gue hanya tersenyum kurang nyaman, menganggukkan kepala ucapku iya.


"Ay, Mamaskan suamimu, masa lupa lagi siapa Mamas? Atau Mamas perlu membuka kitab kita menjelaskan padamu, Ay. Walau kita belum mencintai setidaknya kitakan teman halal. Apa yang kamu punya sudah menjadi milikku dan sebaliknya." jelas Mas Abyan panjang kali lebar.


"Iya, Mas. Maaf."


"Terus."


"Apa, Mas?"


Mas Abyan menggaruk kepalanya. Banyak ketombe ya Mas? Belum mandi sih.


Mas Abyan mendekat, gue mundur, Mas Abyan tambah mendekat, gue tambah mundur.


Gila ni orang, kenapa mau dekat-dekat gue. Berhenti menyentuh dinding.


Memejamkan mata. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, banyaklah pahalaku serta ucapan lainnya. Bulu kudukku merinding dengan hebat, hantu aja lewat.


Mas Abyan memegang daguku dengan lembut, apa dia mau?


Sreet!


Resleting yang mengaitkan hijab, pengganti jarum terbuka. Hijabku juga di buka Mas Abyan, dengan rambut yang masih basah.


Mas Abyan memandangiku tanpa berkedip lagi.


Apa rambut gue jelek atau ada ubannya?


"Ay, kenapa nggak di keringkan?"


"Pakai apa, Mas?" tanyaku jujur, handuk mana bisa cepat kering.

__ADS_1


Mas Abyan memegang tanganku untuk kesekian kalinya, membawaku untuk duduk di kursi depan cermin minimalis. Mengambil hair dryer, mengerikan rambutku.


Bersambung...


__ADS_2