Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 84 Mengganggu


__ADS_3

Berjalan melewati lorong masuk ke dalam kamar yang telah di siapkan, hari juga sudah jam sembilan malam. Semua keluarga masih di bawah, hanya saja Mika, Dokter Idris, Pak Aziz, Falisha, Mas Darman, Oma Farra, dan Ibu telah duluan masuk ke kamar, Ayah Dameer masih di bawah berbicara pada klien.


Mas Abyan tadinya masih sibuk berbicara, berhubung gue udah capek mau pulang ke kamar, Mas Abyan jadinya mengikutiku.


Mas Abyan membuka pintu.


Kami berdua berhenti sebentar melihat ruangan yang terbilang sudah di siapkan untuk pasangan pengantin baru. "Sepertinya kita salah kamar, Mas?" ucapku melihat Mas Abyan.


"Tapi tadi, pegawai memberi kunci untuk kamar ini, Ay." Mas Abyan melihatku.


"Salah mungkin. Coba Mamas telepon Pak Aziz tanyain, mereka salah nggak dapat kamar?" perintahku siapa tau pegawai salah memberi kamar.


"Bentar," Mas Abyan mengambil handphone di dalam saku celana, menekan layar handphone, lanjut meletakkan di telinganya.


Beberapa detik Mas Abyan menjauhi handphone, kembali dirinya menelepon, menunggu jawaban, Mas Abyan kembali menjauhi handphone dari telinganya.


"Nggak di angkat, Ay." ucap Mas Abyan meletakkan handphone kembali ke dalam saku celananya.


"Dokter Idris, gimana?"


"Sama nggak angkat juga. Apa kita ke kamar mereka aja, tanyain?" solusi Mas Abyan.


"Iya Mas, kita tanya dulu." menyetujui solusi Mas Abyan, sayang, kan kamar pengantin yang sudah di hias itu nggak di pakai, malahan kami berdua yang pakai, buat apa coba?


"Mamas tau nggak kamarnya dimana?" tanyaku saat keluar kamar, mencari kamar Falisha dan Pak Aziz.


"Katanya sih empat ratus tujuh, Ay. Di lorong inilah."


Kami berdua mencari nomor empat ratus tujuh. "Ini, Ay." tunjuk Mas Abyan di sebelah kirinya.


"Coba dulu, Mas?"


"Hmmm," mulai Mas Abyan mengangkat tangan kanannya untuk mengetuk pintu.


Tok tok tok.


Kami berdua menunggu.


"Nggak di buka, Ay?"


Tok tok tok.


Kembali Mas Abyan mengetuk pintu, kami berdua menunggu beberapa detik. Masih juga nggak di buka.


"Apa udah tidur ya, Mas?" kami berdua saling melihat satu sama lain.


"Apa benar, Ay?" Mas Abyan terlihat berpikiran ke arah lain.


"Siapa tau aja, Ma-"


Ceklek!


Pak Aziz membuka pintu, dengan memakai handuk kimono dengan nafas kurang beraturan. "Hmmm, ada apa kalian ke sini?" ucapnya berdiri di belakang pintu.


Mas Abyan tersenyum-senyum. "Maaf gue mengganggu elu," ucap Mas Abyan terlihat kurang nyaman.


"Ah, nggak apa-apa. Ada apa?"

__ADS_1


"Ini kamar elu sama Falisha?" tanya Mas Abyan.


"Hmmm, benar emang kenapa?" Pak Aziz terlihat mulai bernapas santai.


"Kamar elu di hias?"


"Iya, di hias. Kenapa sih?" Pak Aziz terlihat semakin penasaran.


"Gue dapat kamar, tapi sudah di hias, di kira kamar elu sama Idris." jelas Mas Abyan.


"Coba elu tanya Idris." perintah Pak Aziz.


"Hmmm, oke! Maaf ganggu." senyum Mas Abyan.


"Ganggu apanya?" Pak Aziz terlihat menutupi sesuatu.


"Nggak apa-apa, gue ke kamar Idris dulu." ingin berbalik, Mas Abyan kembali melihat Pak Aziz. "Eh tunggu Ziz." Mas Abyan menghentikan Paka Aziz yang ingin menutup pintu.


"Kenapa lagi?" Pak Aziz terlihat kesal.


"Maaf, bukan mau menunda. Gue lupa kamar Idris nomor berapa?"


"Nggak salah nomor empat ratus sembilan." jelas Pak Aziz.


"Entar salah."


"Kalau salah, elu tinggal tanya sama resepsionis di bawah." Pak Aziz terlihat semakin kesal.


"Lu kenapa sih, seperti terganggu aj-"


"Mas, udah." putusku jangan sampai mengganggu yang lagi panas-panasnya.


Mas Abyan mengulum senyum. "Hmmm, tutuplah pintu." perintah Mas Abyan berjalan kembali, mengikutinya dari belakang.


"Mamas, ganggu aja." ucapku menyindir Mas Abyan. "Coba Mamas di ganggu pasti mau marah."


Mas Abyan berhenti melihatku. "Mamas nggak salah, hanya nanya aja." membela nggak mau di salahkan.


"Hmmm, terserah Mamaslah." jalanku mencari kamar Mika dan Dokter Idris.


"Nah ini, Mas." melihat kamar empat ratus sembilan di sebelah kanan Mas Abyan.


"Iya, Ay." tangan Mas Abyan ingin mengetuk pintu, tapi berhenti.


"Aaaaah... Aaaah.... Aaaah." terdengar jelas di dalam kamar.


Kami berdua hanya memejamkan mata, sepertinya kami berdua salah waktu untuk bertanya.


"Kita tanya ke resepsionis aja Mas." memberi solusi.


"Hmmm, iya Ay."


Kami berjalan ingin ke arah lift. "Abyan, Zahra." suara Oma terdengar jelas memanggil kami.


Kami berdua mencari sumber suara, benar nyatanya Oma berdiri di depan kamar.


"Kalian berdua mau kemana?" Oma mendekat.

__ADS_1


"Ke bawah Oma, mau tanya kamar." jawab Mas Abyan.


"Emang kamar kamu berapa?" Oma terlihat menahan.


"Ujung sekali, Oma." tunjuk Mas Abyan, ke ujung lorong.


"Benar itu kamar kamu?" jelas Oma.


"Tapi, kamarnya kenapa di hias, yang pengantin Idris dan Falisha." jelas Mas Abyan.


"Oma yang minta, sekalian kalian berdua yang masih pengantin baru menikmati masa-masa kalian." ucap Oma tersenyum-senyum.


Melihat tingkah Oma merasa gimana gitu?


Mas Abyan mengeluarkan nafas kasar. "Iya udah, Ay. Kita kembali ke kamar." ajak Mas Abyan.


"Hmmm, iya Mas."


"Kami kemar dulu, Oma." ucapku.


"Iya, Ra." senyum Oma.


Kami berdua kembali ke dalam kamar.


Mas Abyan menutup pintu, sedangkanku teringat pada saat kami berdua pertama bertemu.


"Kenapa, Ay?" tanya Mas Abyan mendekatiku.


"Mamas ingat nggak, waktu pertama kali kita masuk kamar yang tak jauh seperti ini?" jelasku mengingati Mas Abyan.


Mas Abyan tersenyum-senyum. "Waktu itu kamu takut melihat, Mamas. Kamu mau tidur di sofa Mamas larang, terus kamu buat sekat agar Mamas nggak berbuat mesum." Mas Abyan mengingat ke jadian hal itu.


Tersenyum-senyum mengingat hal itu. "Wajarlah Mas, siapa yang mau nikah gitu. Walau Mamas terlihat mempesona." jawabku jujur.


Kuping Mas Abyan memerah gue puji. "Tapi Mamas memaklumi itu." jelas Mas Abyan.


"Memaklumi apa, Mas?" candaku yang pura-pura nggak tau.


"Udahlah mandi sana, duluan. Mamas mau nyelesain pekerjaan sebentar." perintah Mas Abyan mengalihkan ke pembahasan lainnya.


Malu ya, Mas. Mau jelasinnya gimana?


"Hmmm, iya Mas." mulaiku melangkah, ke kamar mandi


"Tunggu, Ay!" Mas Abyan menghentikan langkahku.


"Kenapa Mas?" kembali melihat Mas Abyan.


"Besok pagi kita mau ke Bogor melihat sawah kemarin yang Mamas janjikan, sekalian Mamas mau lihat proyek yang sedang di bangun."


"Pak Aziz ikut, Mas?"


"Nggak, Mamas aja. Lagian di sana udah ada general managernya."


"Hmmm, iya Mas."


Jalan kembali masuk ke dalam kamar mandi, tanpa mengunci pintu pasrah ajalah sekarang. Melihat bathtub yang berisi kembang mawar lagi, gue suka ini. Melepaskan semua pakaian, langsung aja masuk dan berendam, apalagi ini air di campur susu membuat kulit semakin bagus.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2