Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Chapter 93 Setuju


__ADS_3

Hari ini gue tidurnya di rumah Oma. Setelah acara ulang tahun, Mamas langsung berangkat ke Malaysia, Singapura, Thailand dan sisanya gue nggak tau lagi. Sampailah sekarang.


Huuuf!


Jangan aja, Mas Abyan jadi Bang Toyib. Pulang-pulang bawa istri ke-dua, ke-tiga dan selanjutnya. Gue nggak akan tinggal diam. Serius banget dengan ancaman waktu itu.


Tok tok tok.


Siapa ya?


Tok tok tok.


Ceklek!


"Ayo turun, kita kumpul di kamar Oma." ajak Falisha.


"Ngapain?" baru kali ini gue di ajak ke sana.


"Lu lupa? Kalau hari ini, menentukan siapa yang paling tertinggi peminat penontonnya."


"Hari ini ya? Gue kira besok."


"Udah yuk, ke kamar Oma. Mika juga ada di situ."


Dup!


Gue menutup pintu.


"Mika tidur di sini?" jalanku mengikuti Falisha.


"Pulang entar, di jemput Mas Idris."


"Oh! Sha, Mamas kapan pulang?" gue belum juga di kasih kabar sampai sekarang.


"Katanya sih udah di perusahaan. Tapi nggak tau pulang ke rumah nggak? Lu kangen ya? Sama, gue juga! Rasanya gue seperti belum punya suami deh."


"Sama gue juga. Kemana-mana sama elu dan Mika. Yah, seperti biasalah. Rasanya percuma kita nikah."


"Jangan aja Mas Abyan dan Mas Aziz bawa istri lagi."


"Kenapa emangnya?" gue mulai mau bercanda.


"Gue mutilasi mereka." kesalnya Falisha membuat gue tertawa.


"Hahaha... Mau di potong jadi berapa bagian, Sha?"


"Gue potong kecil-kecil. Terus gue buang ke laut, kasih ikan makan."


"Takut gue sama elu."


"Buat apa takut? Kita sebagai Ibu rumah tangga harus kuat. Jangan mau di permainkan."


"Tapi nggak juga di mutilasi kali."


"Nggaklah, Ra. Gue hanya bercanda. Sayang gue sama suami yang jarang pulang. Paling jatahnya aja gue stop."


"Kalau elu stop, kan ada pengganti." candaku


"Iya sih. Paling gue serahin ajalah sama yang lain, yang penting bahagia."


"Sabar."


"Itukan tapi! Jangan sampai terjadi."


"Hmmm!"


Ceklek!


Kami masuk ke kamar Oma. Ternyata ada Ibu Sari dan Hanum juga.

__ADS_1


"Sini, Nak. Dekat Ibu." perintah Ibu Sari yang sudah duduk di atas karpet berbulu halus berwarna hitam.


Gue melihat kamar Oma ternyata lebih besar.


"Di sinilah tempat kami nonton bersama, Ra." ucap Oma Farra tersenyum melihat gue.


"Enak ya, Oma." melihat ruangan yang terlihat nyaman untuk nonton.


"Ini kamar di buat khusus buat kita kumpul. Karena kalau nontonnya di luar, pasti nggak bisa fokus." jelas Ibu Sari.


"Hmmm! Amel dan Tama mana, Num?"


"Udah pada tidur, Mbak. Kecapean main di kolam berenang." jawab Hanum.


Masa anak-anak seperti Amel dan Tama, emang lagi fase mau main-main terus. Jadi ingat lagi, masa gue masih kecil. Nggak memikirkan masalah hidup. Intinya bahagia aja.


"Eh bentar lagi mulai penentuan." ucap Falisha.


Kami berlima fokus melihat televisi yang ukurannya lumayan besar.


Duh jantung gue main zumba, melihat hasilnya.


Kira-kira masuk nggak ya?


Gue menutup mata dengan tangan. Kalau kalah, gue akan keluar dari perusahaan.


"Mari kita hitung view penonton dari 10 perusahaan yang bersaing." ucap presenter artis terkenal. "Angka mulai terus bertambah." ucapnya lagi.


Gue hanya bisa mendengar. Nggak sanggup lihatnya.


"Mari kita hitung mundur. 3, 2, 1."


Jeng jeng jeng.


"Perusahaan perfilman Angkasa earld group." ucap presenter lantang.


"Alhamdulillah..." suara Falisha, Mika, Oma, Ibu sambil menepuk tangan.


"Ra, elu kenapa nutupin wajah gitu?" Falisha membuka tangan gue.


"Gue deg deg deg, kan dengan hasilnya." ucapku pelan.


"Hahaha..." semuanya tertawa bahagia.


Satu persatu saling berpelukan.


"Ini berkat Zahra." ucap Oma masih memelukku.


"Terimakasih ya, Nak." Ibu Sari juga memelukku.


"Kita harus merayakan." ucap Falisha.


Oma dan Ibu melepaskan pelukan. "Iya harus, itu." Oma menyetujui. "Bentar!" sambung Oma berlarian ke ruang lainnya.


"Oma kenapa?" tanya Mika.


"Siap-siap aja elu tanda tangan, Ra." ucap Falisha ke gue.


Apa? Jangan bilang Oma minta tanda tangan pakai semua pulpen koleksiannya.


"Zahra..." Oma membawa kotak kecil.


Gue melihat yang di bawa Oma. Inikan kotak kecil yang gue kasih buat Oma sebagai kado ulang tahunnya kemarin.


"Tolong tanda tangan di sini." ucap Oma menyerahkan sebuah dokumen.


"Apa ini, Oma?" terkejutku dengan tulisan yang jelas di awali saham 50 persen dari yang di miliki Oma.


"Ini saham yang dimiliki Oma untukmu, Ra. Sebagai terimakasih atas usaha kamu yang mengembangkan perusahaan menjadi banyak peluang dalam bisnis." jelas Oma membuat gue kurang nyaman.

__ADS_1


"Bukan mau gimana ya, Oma? Aku benar-benar menolak. Kasih ke yang lain aja, Oma. Aku ingin hidup sederhana aja, tanpa beban." jujurku. Memang aku ingin jadi orang kaya raya. Tapi hanya keinginan, hayalan semata. Rumah dan sawah yang di beri Mas Abyan, di tambah kartu eliminate tanpa batas. udah buat gue kaya. Di tambah saham ini, buat apa coba?


"Tapi, Ra. Yang lain sudah di bagi semua. Ini khusus kamu." jelas Oma.


"Iya, Ra. Setiap keluarga angkasa, mau menantu atau keluarga. Semua mempunyai saham." sambung Ibu Sari.


"Terima aja, Ra." ucap Falisha.


"Gue juga ada di kasih Mas Idris." sambung Mika.


"Maaf semua. Jujur aku tetap menolak." jelasku yang benar-benar nggak mau, serius. Bisa-bisa gue nggak sadar diri lagi, gara-gara harus menerima kenyataan menjadi orang kaya mendadak.


Oma mengeluarkan pulpen dan tanda tangan. "Kalian menjadi saksi ya. Zahra tidak mau menerima saham dari, Oma. Tapi anak yang dilahirkan Zahra akan menjadi CEO perusahaan. Titik." ucap Oma membuat gue nggak bisa bernafas.


"Gimana kalau aku nggak punya anak, Oma?" siapa taukan gitu.


"Nggak mungkin. Jika satu tahun kamu nggak hamil, kita berangkat keluar negeri program." paksa Oma.


Gue bisa apa, kalau Oma sudah berbicara begitu.


Mau nolak gimana lagi coba?


"Oma, Zahra ingin ke pulau Bali." ucap Falisha.


"Iya berangkat, Ra." ucap Oma.


"Tapi habis acara nominasi, Oma." sambung lagi Falisha.


"Iya udah berangkat." ucap Oma.


"Mas Abyan dan Mas Azizkan pasti sibuk, Oma. Rencananya aku, Mika, Zahra dan Hanum. Oma sama Ibu mau ikut nggak? Lagian para lelaki sibuk." jelas Falisha kembali.


"Boleh juga itu." ucap Ibu Sari.


"Tapi Ibu. Mas Abyan kira-kira ngizinin nggak, ya?" gue takut Mas Abyan nggak setuju.


"Nanti Oma yang bilangin, Abyan." ucapan Oma membuat gue bahagia.


Kalau Oma udah turun tangan, Mas Abyan pasti setuju.


"Terimakasih, Oma." gue memeluk Oma.


"Sama-sama, Ra."


"Kalau begitu besok sudah acara, kita langsung belanja keperluan untuk liburan selama satu minggu di Bali." solusi Ibu Sari.


"Belanja di Bali aja, Bu." ucap Falisha. "Lagian pakaian banyak. Di sanakan banyak juga yang bagus. Khas pulau Bali. Sekalian jalan-jalan, sekalian shopping kita." ucap Falisha.


"Iya juga, ya. Apalagi perawatan kecantikan lulur Bali yang terkenal itu. Udah kita pergi kalau gitu. Ibu setuju dengan solusi Zahra." ucap Ibu Sari terlihat bahagia sambil memegang bahuku.


"Nanti biar aku yang mencari tempat, untuk kita menginap selama 2 minggu di Bali." jelas Falisha.


"2 Minggu." ucap Mika.


"Iya sekalianlah. Lagian kita bertiga belum liburan apalagi honey moon. Ibaratnya ini ganti, semua itu."


"Nah setuju, Oma. Biar suami kalian tau rasa, gimana istrinya nggak di rumah?" Oma ikut memanasi.


Gue juga setuju. Lagian Mas Abyan juga nggak pulang-pulang.


"Oke setuju ya, semua?" tanya Falisha.


"Setuju." ucap serentak Oma, Ibu, Hanum, dan Mika.


"Amel dan Tama, gimana?" ingatku pada ke-dua ponakanku yang lucu.


"Ikutlah, urusan sekolah bisa di atur." ucap Hanum.


"Aman berarti." gue merasa legah, semoga Mas Abyan memberi izin.

__ADS_1


"Aman." ucap Hanum.


Bersambung...


__ADS_2