Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 51 Bingung


__ADS_3

"Oh ya Sha, elu bisa nggak bilangin sama Mamas elu, kalau pakaian pegawai di kantornya tuh jangan terlihat jadi pelakor semua."


"Kenapa nggak elu aja yang bilang?"


"Beda Sha kalau elu yang turun ngasih tau sebagai general manager di perusahaan, kalau gue yang bilang entar Mamas elu nilai gue ini cemburu atau apalah membuat perusahaan hancur gitu."


"Enggak mungkinlah Ra, Mamas gue berpikiran begitu! Sebenarnya memang gue risih dengan pakaian pegawai di sana, hanya saja melihat Mamas gue masih jomblo gitu, gue biarin aja siapa tau mau salah satu dari mereka. Soalnya Mamas gue semenjak pacarnya meninggal udah nggak mau lagi lihat wanita."


"Cinta banget sepertinya Mamas elu sama sang pujaan hati." entah kenapa hati gue sakit?


"Itukan dulu, semenjak Mamas ngajak nikah ada titik terangnya berarti Mamas gue maunya seperti elu bukan wanita yang mudah di dapatkan."


"Masa?" sedikit terhibur dengan ucapan Falisha.


"Iya percaya deh sama gue. Soal yang tadi elu bilang, entar gue sampaikan sama Mamas dan lainnya yang bertanggung jawab sebagai mengatur karyawan yang bekerja."


"Sip, makasih ya sayang." memeluk Falisha.


"Hmmm!"


Tok tok tok.


"Eh bentar gue buka dulu pintunya." ucap Falisha melepas pelukan, berjalan cepat ke arah pintu.


"Kenapa, Bi?" ternyata Bi Tanti yang mengetuk pintu.


"Itu Non, Oma menyuruh kumpul sarapan pagi." jelas Bi Tanti maksud mengetuk pintu.


"Iya Bi." Falisha melihatku. "Yuk Ra."


"Hmmm."" menganggukkan kepala pelan, berjalan menghampirin Falisha, pergi keruang makan.


Melihat sudah pada kumpul dan makan, termasuk Mas Abyan.


"Dari mana aja kalian?" tanya Oma Farra.


"Biasa Oma ,curhat sama kakak ipar." balas Falisha langsung.


"Bahas tadi malam."


Uhuk uhuk uhuk.


Mas Abyan tibanya terbatuk, langsungnya minum.


Kami semua melihat ke arahnya.


"Pelan-pelan Mas makannya." ucap Ibu Sari.


"Iya Bu." salah tingkahnya.


"Jangan di masukkan ke dalam hati. Itu bukan salah kamu Abyan." peka Oma pada reaksi Mas Abyan.

__ADS_1


"Kita bahas nanti saja, setelah makan." ucap tegas Ayah Dameer langsung.


Semuanya terdiam tanpa satu kata pun, mengikuti arahan Ayah Dameer.


Gue penasaran apa yang terjadi nanti?


***


"Ayah ini bukan salah Abyan." jelas Mas Abyan.


"Kamu tetap salah Abyan! Seharusnya kamu peka pada keadaan. Kamu itu CEO di perusahaan terbesar." marah Ayah Dameer.


"Suasananya begitu gelap Ayah, Abyan kira itu Zahra."


"Apa kamu lupa pada fisik tubuh Zahra?" Mas Abyan terdiam, mengepalkan ke-dua tangan di atas paha melihat lantai mencari jawaban.


"Maaf, Ayah." ucapnya terdengar berat.


"Bagaimana dengan istrimu, melihat kamu mempermalukan kami semua termasuk kamu sebagai suami?" pedulinya Ayah Dameer padaku.


"Aku telah meminta maaf pada Zahra, Ayah. Menjelaskan semuanya."


"Bagaimana denganmu, Nak?" tanya Ayah Dameer padaku.


"Aku nggak marah kok Ayah, ini semua salah paham." nggak tau hati nih panas banget, mengingat kejadian semalam.


"Kenapa kamu baik banget sih Mbak? Seharusnya-"


Elu Sha bisa aja membangunkan singa tidur.


"Kalau jadi aku di posisi Mbak Zahra, udah-" Hanum menyambung memanasi situasi.


"Udah apa? Jangan kalian berpikir untuk memisahkan aku dan Zahra." tegas Mas Abyan membuatku terkejut. Sebenarnya elu tuh mencintai gue atau gimana sih Mas?


"Nggak apa-apa kok Sha, Hanum. Ini semua salah paham." aktingku terlihat bagus, semacam istri yang mudah sekali menerima sebuah kenyataan.


"Ayah hukum kamu!" tunjuk Ayah Dameer pada Mas Abyan.


"Hukuman apa maksud Ayah?" tanya Mas Abyan langsung.


"Zahra akan tidur di sini, sedangkan kamu pulang kerumah." putus Ayah Dameer.


"Ayah, jangan seperti ini. Zahra istriku Yah, aku nggak bisa pisah dengannya." jelas Mas Abyan semakin membuatku bingung.


Kenapa ya Mas Abyan seperti ini? Apa aktingnya aja?


"Itu hukuman kamu Abyan. Ayah benar-benar malu pada teman Ibumu. Bagaimana kamu bertanggung jawab pada anaknya?"


"Tapi Dam itu semua salah Siska." Oma akhirnya bersuara, sepertinya tidak setuju.


"Tapi Ma, Abyan telah menodainya."

__ADS_1


"Nodai apa Yah? Abyan nggak ngapa-ngapain." langsung Mas Abyan membantah tuduhan itu.


"Siska sendiri yang bilang kamu telah menikmati semuanya." jelas ayah Dameer terlihat kesal.


"Ayah aku kira itu Zahra." terus Mas Abyan membela dirinya. "Ay, kamu percayakan?" seperti meminta bantuan.


"Iya Ayah, Ini salah paham. Seharusnya Ayah, memercayai Mas Abyan. Aku sebagai istri percaya kok, Yah." sedihnya nasib gue kalau di lihat.


"Oma juga berpikiran sama dengan Zahra. Ini semua salah Siska, jika dia tidak masuk ke kamar Abyan tanpa izin. Ini semua tidak akan terjadi, sebagai makhluk yang normal cucuku yang ganteng ini pasti akan melakukannya. Iya ‘kan, Zahra?" Oma Farra tibanya mendukungku dan bertanya ke pastian.


"Ah iya Oma! Mas Abyan memang seperti itu orangnya, nggak sabaran." ucapku asal-asalan.


"Lihatkan Ayah, Zahra saja mengerti masa Ayah mau memisahkan aku dengannya." mohon Mas Abyan.


"Sudah cukup Abyan, itu sudah jadi keputusan Ayah. Siska telah Ayah pindahkan ke perusahaan lain, mau memberhentikannya langsung tidak mungkin dirinya mempunyai potensi yang bagus dalam bekerja, hanya saja tingkah lakunya membuatku tidak menyukainya lagi." Ayah Dameer benar-benar marah.


"Baguslah kalau Ayah telah memindahkannya." sambung Falisha.


"Seharusnya di berhentikan secara tidak hormat." sambung Hanum.


"Nggak bisa Yang kita seperti itu, Siska juga sudah membuat perusahaan kita maju, setidaknya kita masih menghargai dia sebagai karyawan maupun anak angkat Ibu." Mas Darman menengahi.


"Mas jangan bilang kamu juga terpancing dengan Siska, jujur Mas?" langsungnya Hanum berpikir demikian.


"Enggak, Yang! Aku aja sama kamu terus."


"Tapikan kamu di perusahaan sedangkan aku di rumah."


"Hanum benar apa kata Darman, jangan menambah suasana menjadi semakin rumit." Ayah Dameer menengahi.


"Lagian aku juga nggak seperti itu." Mas Abyan menambahi. "Ay, kamu percaya sama Mamas?" wajah Mas Abyan benar-benar terlihat kusut, nggak beraturan. Entah rasa kasihan itu timbul dengan sendirinya. Jika aku di posisi Mas Abyan, apakah aku bisa di percayai?


"Iya Mas, aku percaya sama kamu." jawabku langsung membela.


"Udah keputusan Ayah bulat Zahra akan tinggal di rumah ini, kamu pulang sendirian ke apartemen." Ayah Dameer masih dalam pendiriannya.


"Nggak bisa Ayah!" berdiri Mas Abyan.


"Duduk Abyan." perintah Oma, Mas Abyan duduk. "Dam, kamu jangan keras kepala, Abyan dan Zahra baru menikah, bagaimana bisa mereka lagi musim produksi kamu pisahkan?"


Ayah Dameer diam, seperti sedang berpikir.


"Di tambah Zahra dan Abyan belum sempat bulan madu." sambung Oma seperti menengahi, gue bingung maunya Oma Farra tuh apa?


"Baiklah, Ayah cabut hukuman, tapi ingat Abyan tidak ada lain kali!" ancam Ayah menyetujui dengan syarat.


"Hmmm, aku janji Ayah." Mas Abyan terlihat legah, ketikan keputusan Ayah di cabut.


Terus saja di buat bingung dengan Mas Abyan, kalau dirinya tidak mencintaiku, kenapa masih mempertahankan agar kami tidak pisah? Kalau cinta dirinya juga biasa-biasa saja sama gue, hanya sayang aja. Bisa jadi sayang itu kepada seorang adik, teman atau sahabat.


Dah pusing kepala gue, turutin ajalah maunya apa, mau cinta ayo enggak juga ayo gue terima.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2