
Cinta gue terbalaskan oleh waktu yang terbilang cukup cepat. Gue pikir, akan meluluhkan hati Zahra butuh waktu cukup lama.
Dengan segala sejurus gue lakukan.
Cinta gue terbalaskan dengan hadiah tidak terduga.
Niat gue, ingin menjaga Zahra layaknya wanita sempurna.
Gara-gara obat yang terbilang membuat gue hampir hilang kendali, dengan wajah Zahra berubah menjadi Cherly, terus sampai gue tidak bisa membedakan. Sekuat mungkin menahannya agar tidak menyentuh salah satu dari wajah itu.
Kesadaranku terlampau hampir hilang, dengan segala upaya gue menyadarkan diri. Zahra adalah cinta pertama dan terkahir gue, sebelum dirinya memberi hak yang gue tahan agar tidak melukai dirinya. Sampai-sampai gue mandi setiap malam, berendam di dalam bathtub saat melihat tubuh Zahra secara tidak langsung. Sampai gue jatuh sakit akibat sering berendam menurunkan panas di tubuh.
Gara-gara dosis obat begitu kuat gue tidak bisa menahan seperti bisa, di tambah Zahra datang dengan sendirinya dengan tampilan yang membuat gue tidak bisa menahannya lagi.
Malam itu gue benar-benar khilaf tidak bisa berhenti menggauli Zahra.
Rasanya gue ingin memiliki seutuhnya.
Inikah yang dinamakan cinta.
Rasa takut kehilangan dirinya membuat gue ingin selalu di sisinya.
Entah kenapa masa lalu gue datang di saat gue dan Zahra pulang dari Bogor. Cherly yang gue tau dirinya telah tiada itu, hidup kembali.
Berbagai cara dirinya ingin menemui gue, dengan alasan dirinya di culik oleh orang-orang yang ingin memisahkan gue dan Cherly.
Sampai gue tidak pulang kerumah mencari tau, apa sebenarnya yang terjadi saat insiden kecelakaan itu. Beberapa kali Cherly memelukku dan menangis ingin meminta gue kembali padanya. Tapi diri gue tidak menerima.
Sampai Fadel melemparkan semua foto di atas meja saat gue masih sibuk menyelesaikan pekerjaan.
Plass!
Semua gambar foto gue dan Cherly berhamburan di atas meja.
Mata gue melihat Fadel yang terbilang terlihat kesal.
"Apa maksud Mamas?" Fadel tanpa basa-basi bertanya.
"Maksudnya apa?" gue belum paham maksud dari Fadel yang bisa di bilang menduga gue selingkuh dengan Cherly.
"Mamas selingkuh?" pertanyaan yang sudah gue tebak.
Tiba Oma, Ayah Dameer, Falisha, Hanum, Mas Darman, Ibu, Idris dan Mika datang.
Gue semakin terpojokkan.
"Jika bukan Fadel yang memberitahukan kami, kamu pasti akan berbuat lebih jauh lagi, Mas." pekik Ayah dengan suara yang menggelegar di ruangan.
__ADS_1
"Maksud Ayah, apa?" puraku tidak tau apa-apa.
"Mamas tau nggak? Mamas itu telah menghancurkan hati Mbak Zahra, jika dirinya tau." pekik Falisha.
"Oma nggak menyangka kamu setega ini, Abyan." ucap Oma yang terlihat kesal.
"Mamas tau tidak? Cherly itu bukan di culik. Melainkan hamil anaknya Reyhan. Sekarang usia anaknya 6 tahun." ucap Fadel.
Apa? gue benar-benar terkejut dengan perihal itu.
"Maksudnya selama ini, gue di permainkan?" hanya pertanyaan itu yang keluar dari mulutku secara tidak langsung.
"Bukan itu saja, Zahra, Falisha, dan Mika hampir meregang nyawa. Gara-gara hasutan Cherly. Kalau bukan Siksa dan Nia menyesal dan mengakui sebelum mereka berdua gue buang ke negara Afrika." ucap Fadel terlihat emosi. "Sekarang elu tinggal pilih, Mas. Ingin Zahra atau Cherly." Fadel melihat Ayah. "Ingat Paman, dengan ucapanku. Jika Mas Abyan memilih Cherly, aku siap menjadi suami Zahra."
"Berhenti Fadel!" teriakku tidak bisa tinggal diam dengan pikiran Fadel yang selalu menguji kesabaranku. Gue tau, Fadel hanyalah bermain-main. Tapi sekali serius dirinya tidak akan melepaskan mangsanya.
"Kenapa, Mas? Elu sudah menentukan, bicaralah pada kami semua." Fadel bertanya seperti menantang gue.
"Gu-"
"Jika kamu memilih Cherly, mulai saat ini jangan anggap kami semua keluargamu. Sedangkan Zahra yang akan menggantikanmu. Pergilah dari sini, sebelum Ayah membuangmu dengan tangan Ayah sendiri." ucap Ayah Dameer membuat gue semakin tidak mengerti, dengan fitnah yang selalu mereka katakan.
"Ayah, Fadel, dan semuanya. Kalian hanya bisa berpikir, kalau selama ini gue menyukai Cherly."
"Bagaimana tidak kami berpikiran begitu Abyan? Sedangkan kamu, sampai gila 2 tahun di rumah sakit gara-gara Cherly. Sekarang ada Zahra yang terbilang sempurna untukmu, kamu masih berhubungan dengan wanita itu." tunjuk Ayah pada foto yang berserakan di atas meja.
"Maksudnya?"
"Reyhan yang sengaja memfoto dan membuat video untuk memisahkan elu dan Zahra. Agar elu bisa hancur kembali dan bangkrut. Sampai perusahaan perfilmannya yang akan berjaya. Elu taukan dirinya musuh dalam selimut." ucap Fadel membuat gue semakin kesal. "Elu lihat saja video yang hampir masuk ke dalam akun Zahra." Fadel membuka handphonenya.
Jelas sekali wajah gue dan wajah Cherly di dalam video itu, dengan berpose layaknya melakukan hubungan intim.
Gila! Gue nggak nyangka Cherly dan Reyhan mengedit wajah gue sampai asli begitu.
"Jika Zahra tau dan menduga itu adalah elu. Kata cerai akan keluar dari mulutnya, secepat itu elu bisa jadi duda." ucap Fadel lagi.
"Elu tau dari mana kalau ini bukan gue?" memastikan bahwa semuanya percaya bahwa itu bukan gue.
"Elu kira, gue nggak bisa melacak posisi elu dimana, dan sama siapa? Kalau bukan dengan istri ke-dua elu." tunjuk Fadel pada Aziz. "Sekarang elu taukan kenapa kami semua di sini?" sambung Fadel.
Dirinya terlihat lebih marah pada gue yang mewakili semuanya.
"Tapi foto ini bukan seperti yang kalian lihat." upayaku menjelaskan.
"kami semua tau, Abyan. Kami ingin kamu menjauhi Cherly dan berusaha jujur pada Zahra sebelum Cherly melakukan tindakan yang lebih parah lagi. Jika semua itu terjadi, kami semua hanya diam. Itu tergantung dengan masa depan yang ingin kamu jalani." ucap Oma terlihat menahan amarah.
"Pilih sekarang, Mas. Zahra atau Cherly. Kami semua ingin mendengar." ucap Fadel.
__ADS_1
"Iya istri guelah, Zahra. Jangan coba-coba elu mengambilnya."
"Elu bohongkan. Jujur, Mas. Agar aku cepat menikahi Zahra, sebelum hamil anakmu." ucap Fadel yang membuatku semakin kesal.
"Berhenti sebelum gue marah, Fadel. Zahra istriku, bukan mesin untuk mencetak keturunan angkasa earld group." jelasku.
"Emang elu nggak mau punya anak?" tanya Aziz.
"Mau hanya saja gue bisa apa?" jawabku yang benar adanya.
"Hahahaha..." semuanya tertawa.
"Sekarang kami legah, keputusanmu memilih Zahra. Tapi ingat, Mas! Jika sekali lagi gue kepergok elu menemuin Cherly. Detik itu juga gue bawa kabur Zahra." ancam Fadel yang membuat gue semakin waspada dengannya.
"Lu berani bawa kabur istri gue. Elu yang gue kubur."
"Gue nggak takut." jawab Fadel pelan.
"Lu serius nggak takut, dengan siksaan kubur." ucapku mengingati. "Lebih baik elu tobat, sebelum ajal menjemput." ingatku.
"Bi, Mamas mulai ceramah." bisik Fadel pada Ibu, dengan suara yang masih terdengar. "Untung Mamas udah tobat, kalau nggak! Sepertinya gue yang akan ceramahin dia." sambung Fadel lagi.
Dirinya selalu membuat gue teringat dengan masa lalu yang terbilang tersesat itu.
Membuat geng, untuk menyingkirkan musuh-musuh, melawan atau memberontak dalam dunia bisnis dengan cara yang salah.
"Ketua Mafia insyaf." bisik Idris menyindir gue.
"Lebih baik ini foto bakar, kalian semua bubar. Gue mau menyelesaikan pekerjaan menggunung ini." jelasku tidak mau melihat aura mereka memandangku sebelah mata demi membela malaikatku. Disisi lain gue suka dengan perhatian mereka.
"Jangan sering-sering meninggalkan istri di rumah. Entar hilang, gue curi." canda Fadel yang pergi keluar ruangan.
"Itu anak jahil banget." ucap Idris.
"Untung awet mudah dirinya, tidak terlihat tua dengan usianya." ucap Falisha.
"Bukannya usia Fadel 23 tahun." ucap Mika.
"31 tahun! Tua Mas Idris satu tahun." jelas Falisha.
"Belum juga nikah?"
"Belum insyaf, masih playboy." jawab Idris.
"Intinya kita harus hati-hati dengan Cherly, takut mencelakakan Abyan dan Zahra lebih jauh lagi." ucap Ayah Dameer. "Jika kamu Abyan, sudah mantap dengan Zahra, jelaskan dengan baik-baik, jika terjadi sesuatu saat nanti. Zahra bisa memperhitungkan sebelum meminta cerai darimu."
"Hmmm, baik Ayah."
__ADS_1
Bersambung...