Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos
Ch - 9 Acara


__ADS_3

"Sha, bangun shalat." gue yang sudah bangun membangunkan Falisha dengan mata yang masih ngantuk.


"Hmmm bentar lagi Ra, masih ngantuk nih." Falisha mengeratkan pelukannya ke bantal kaki.


"Sha, gue juga ngantuk tapi ini hari acara Mamas elu."


"Elu nggak sadar diri yang jadi pengantin wanitanya siapa?"


"Bisa nggak di ganti dengan yang lain." gue menguap, menahan kantuk berlebihan.


"Tidur lagi ajalah." tidur lagi.


Tok tok tok.


Tok tok tok.


Tok tok tok.


"Ah siapa sih?" Falisha berdiri berjalan.


Gue malah nyambung tidur.


"Ah Mas Abyan." sadarku saat sudah di angkat ke luar ruangan.


Hijab gue, sempatnya memegang kepala. Siapa yang masang?


"Mas, turunin." berontakku.


"Diam! Kamu nggak lihat ini sudah jam berapa?"


Gue melihat sekeliling. "Mana jamnya Mas?"


"Jam 7."


"Apa?"


Masuk ke dalam lift. "Mas lepasin. Aku bisa jalan."


"Kamu lambat jalan. Kita sudah telat." jalannya cepat, masih menggendongku.


Elu yang nggak apa-apa Mas, tapi gue yang jantungan di gendong elu. Untung berat tubuh gue ideal.


Merasa malu juga di perhatikan banyak orang, hanya bisa memeluk leher Mas Abyan. Wanginya Mas Abyan, membuatku rileks ada manis-manisnya gitu.


Mas Abyan menurunkanku setelah di depan pintu kamar, membukanya. "Masuklah." perintahnya.


"Iya, Mas. Oh ya, terimakasih."


"Hmmm!" jawabnya dengan wajah datar.


Gue masuk ke dalam kamar. "Ibu baru datang? Kita sudah terlambat." para pegawai MUA menghampirin.


"Maaf, tadi-"


"Masih tidur." jawab ketus Mas Abyan.


Gue hanya diam, mau jawab apa coba? Memang benar, ini aja belum shalat subuh sama mandi.


"Kalau begitu Ibu mandi, setelahnya kita baru berhias." perintah MUA cantik di hadapanku.


"Ah iya." langsung ke kamar mandi.


Tak lupa menguncinya. Secepat kilat gue mandi, takut Mas Abyan mengeluarkan taringnya.


Lima menit selesai keluar memakai pakaian tadi. Gimana mau ganti, pakaian gue di kamar Falisha.


"Ay, pakaian kamu di paper bag. Ganti dulu." perintah Mas Abyan.


"Ah iya."


"Ini Bu." bantu MUA mengambil paper bag memberikan padaku.


Masuk lagi ke kamar mandi, mengganti pakaian dalam. Nggak usah berpikiran aneh dulu saat ini, tentang ukuran yang pas, sat set selesai.


Keluar lagi. "Sini Bu, duduk."

__ADS_1


"Ah Iya." gue hanya mengikutin arahan saja.


Sekilas melihat Mas Abyan sedang memakai kain kebat dengan atasan masih memakai kaos berwarna putih, ini pertama kali gue melihat tubuh Mas Abyan yang begitu enak di pandang, terlihat jelas barisan roti sobek enam petak dengan lengan yang berotot.


Mas Abyan tersenyum melihatku, sambil membantu MUA laki-laki yang sibuk mengaitkan peniti di kainnya.


Polesan demi polesan mereka berikan pada wajahku. "Mbak, alisnya jangan di cukur ya?" requestku.


"Oh iya Bu." mengukir secara teliti membentuk alisku dengan rapi. Kameramen sibuk membuat video dan fotoku.


Gue nggak tau harus berkata apalagi, saat diri ini di hias begitu cantik di pantulkan oleh cermin besar.


"Ay, Mamas ke sebelah dulu ya?" tegurnya.


"Iya Mas." menjawab tanpa melihat Mas Abyan.


Gue akhirnya berada di posisi ini juga, dengan keputusan yang bulat bahwa seumur hidup akan melajang. Bahkan hanya ingin mengangkat seorang anak, jika usia sudah lima puluh tahun ke atas, agar ada pendamping di usia lanjut.


"Ayo Bu, kita ganti pakaian." ajaknya setelah gue di hias.


Berdiri mengikuti arahan, pintu kamar di kunci hanya ada MUA wanita saja membantuku memakai pakaian adat sumatera barat berwarna putih, tentu bermodifikasi sar'i.


"Ibu duduk kembali." tariknya mengajakku duduk.


Hijabku di lepas, kepalaku mulai di hias. Sekitar lima belas menit, semuanya selesai.


Di hitung-hitung mereka menghiasiku sekitar tiga puluh menit termasuk cepat, dimana gue yang datangnya terlambat jadi mereka mengejar jam tayang. Terlihat juga MUAnya profesional dalam pekerjaan.


Melihat lagi bentuk dan rupaku setelah di hias begini, dulu memang ada keinginanku suatu saat memakai pakaian seperti ini, dengan keadaan yang saling mencintai. Tidak terpikir, jika semua ini terjadi juga, namun dengan berbanding terbalik.


Gue hanya mengikuti skenario Tuhan, dimana itulah yang terbaik.


"Ibu duduk di kursi sofa, kami mau menghubungi pihak WO dulu."


"Iya, Mbak." hanya itu kata-kata yang dari tadiku ucapkan. Di bantu mereka duduk di kursi sofa. "Sebentar ya, Bu?"


"Hmmm!"


Mereka keluar kamar, tidak lupa menutup pintu.


Tok tok tok


Ceklek!


"Zahra..." suara Yayu Zainisa.


"Iya, Yu." jawabku langsung.


Ternyata tiga saudariku datang menghampiri dengan masing-masing memakai seragam kebaya putih.


"Sini duduk, Yu." ajakku.


Mereka bertiga duduk di kursi sofa bersamaku.


"Maafin kami ya, Ra. Ini demi kebaikanmu." air mata mulai berlinang di kelopak mata mereka masing-masing.


"Hmmm." anggukku dengan air mata yang di tahan, jangan sampai make-up yang susah payah di ukir itu luntur.


Yayu Diyah mengambil tisu untukku takut air mataku luruh.


"Yayu harap, kamu bahagia, Ra." ucap Yayu Dina. "Jangan sampai kamu sepertiku yang kamu tau, suamiku di ambil pelakor." air mata yang di tahan akhirnya luruh.


Mengusap bahu Yayu Dina sambil kami berpelukan. "Iya Yu, doain aku ngejalaninnya sampai ke jannah." itu yang hanya bisaku ucapkan.


Melepaskan pelukan, MUA datang melihat kami berempat menangis makeup pun bergeser. "Duh, Bu. Sedihnya nanti aja, acara mau di mulai." MUA terlihat syok melihat kami.


"Maaf Mbak, kami kelepasan." jawabku.


"Iya nggak apa-apa." sabarnya, mungkin mengerti dengan kondisiku yang menjadi pengantin.


Hiasan kami di perbaikin kembali. "Ayo Bu, kita mau memulai acara resminya." ajaknya saat kami telah selesai.


Gue di bantu MUA berdiri, Mas Abyan datang, dirinya hanya memandangiku cukup lama.


Apa gue aneh ya? Nggak pernah di hias berlebihan seperti ini.

__ADS_1


MUA memasangkan cadar putih ke wajahku, barulah Mas Abyan bereaksi dengan tersenyum.


Mas Abyan semakin ganteng banget, memakai pakaian adat sumatera barat yang cocok di kenakan.


Mas Abyan di apain aja tetap sempurna, terkesima gue dengan kegantengannya.


Mas WO mengambil tanganku yang di kaitkan di lengan Mas Abyan. Kami berjalan menggunakan lift turun ke gedung utama.


"Untuk semua para tamu undangan di harapkan berdiri. Ke-dua mempelai pengantin akan memasuki ruangan, oke! Silahkan para WO." pemandu acara memberikan arahan.


Pintu masuk di buka lebar, dengan musik instrumen dari Yovie dan Nuno berjudul janji suci.


Kami masuk berjalan pelan di atas karpet merah bertabur bunga mawar. Di ikuti Falisha, Ibu Sari, Ayah Dameer, Hanum, Mas Darman, Tama, Amel, Oma Farra, Yayu Dina, Yayu Zainisa, Yayu Diyah dan keluarga besar.


Sepanjang jalan para tamu undangan berdiri bertepuk tangan, ada juga yang membuat video menggunakan handphone.


Dengan nuansa serba putih itu, membuatku menyadari, hubunganku dengan Mas Abyan berawal dari hal yang benar-benar putih, seputih kertas tanpa coretan warna lain sebagai permulaan pertemuan kami berdua.


Entah gue hanya bisa tersenyum melihat Mas Abyan yang juga tersenyum melihat ke arahku. Kameramen sibuk menyoroti kami yang berjalan menuju atas panggung yang telah disediakan.


"Ibu dan Bapak mempelai laki-laki duduk di sebelah mempelai perempuan dan sebaliknya." WO mengatur tempat duduk kami saat telah di atas panggung.


Sebelah Mas Abyan ternyata Bi Rosida dan Uwa Sani, di samping kiriku Ibu Sari dan Ayah Dameer.


Para tamu mulai berdatangan menaikin panggung, bersalaman dengan kami yang berdiri di atas sana.


Masing-masing mengucapkan, selamat pada kami berdua. Gue yang hanya bisa tersenyum dan mengucapkan terima kasih.


"Selamat ya Abyan atas pernikahanmu. Entar kenali sama kita-kita pas kumpul nanti." salah satu laki-laki hampir seusia Mas Abyan dan tiga lainnya.


"Wih pilihan Abyan Ukhti ya bukan kunti yang seperti kemarin." mereka bersama-sama tertawa.


"Alah sama saja, jangan kalian kira yang tertutup itu baik." ketus seorang perempuan cantik berpakaian dress multi way dengan belahan dada sedikit terlihat berwarna biru awan.


"Ih elu kalau bicara nyakitin banget tau nggak?" lihat ke arahku. "Maaf ya, Ukhti." sambung teman laki-laki satunya.


Sih cewek melihatku seperti malas, ingin sekali bertanya, letak kesalahan gue dimana Mbak? Elu menyukai Mas Abyan tapi Mamas nggak mau sama elu, merasa elu di tolak gitu, imbasnya ke gue.


"Udah dulu, entar kita sambung lain hari. Di belakang tuh ramai pada antri." lelaki yang pertama tadi menengahi.


"Iya-ya." melihat kebelakang, setelahnya melihat ke arahku. "Yuk Mbak Yu, kami permisi, sekali lagi selamat ya?"


"Terimakasih." jawabku lemah lembut.


"Selamat ya, Mas?" datang wanita cantik berpakaian maxi mute berlengan pendek dengan warna pink muda memeluk dan cupika cupiki Mas Abyan, denganku hanya sedikit tersenyum dan salaman hampir tak terpaut tangan.


Nih cewek siapa lagi? Main cium suami orang. Peran antagonis mulai beranak kali ya?


Mas Abyan terlihat santai saja, masih menyalami orang-orang yang nggak gue kenal.


Saat barisan geng di rumah sakit yang mewakili menaiki panggung berdatangan mataku melebar, gawat kenal nggak ya, mereka? Jantungku seketika hampir lepas sekarang juga.


Mereka datang tersenyum-senyum. "Selamat menempuh hidup baru Bapak, Ibu." tanpa mengenaliku.


Bu karu tersenyum padaku. "Selamat ya Pak Abyan dan Bu Zahra?"


Gue hanya melihat ke arah lantai. "Iya Bu, terimakasih." balasku, melihat mereka yang turun, alhamdulillah nggak kenal, bagus juga nih makeup nutupi dosaku.


Nasi tumpeng di bawa naik oleh petugas WO setelah acara salaman selesai.


"Ini pisaunya." di berikan ke Mas Abyan. "Kita berfoto sebentar. Setelah itu, Bapak dan Ibu saling suap." kami berdua mengikuti arahan.


"Satu, dua, tiga."


Cekrek!


Kami berdua saling menyuapi satu sama lain, kameramen masih sibuk mengambil foto.


"Tepuk tangan para hadirin." MC kembali memberikan arahan, saat kami telah selesai menyuap makanan.


Mas Abyan tersenyum-senyum melihatku, mungkin aktingnya di depan semua orang.


Semua tamu undangan bertepuk tangan, tanda acara inti telah selesai, dan di lanjutkan sesi acara makan-makan bersama.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2